Hati Ran terasa melayang ke atas awan, bersatu dengan burung-burung yang terbang. Dibonceng Okis bagaikan perjalanan ke surga. Setelah ini Ran tidak ingin mandi supaya aroma Okis tetap melekat. Meskipun cowok incarannya ini suka dengan anak kelas satu, tetapi mereka belum pacaran. Setajam apapun tikungannya, masih ada kesempatan. Ia merekatkan tangannya di tubuh Okis, menyukai aroma punggung cowok pujaan. Namun, motor malah menepi, Okis menaikkan kaca helmnya. Menoleh ke belakang. "Jangan remesin p****l gue, anjir!" Ran segera melepaskan tangannya dari d**a Okis. Hilaf. Terlalu senang meraba tubuh Okis yang kekar. Tanpa sadar malah meremas p****l kecil. "Hehe, maaf. Nggak sengaja." Sekarang Kirana pegangan dengan benar, tanpa meraba lagi. Perjalanan dilanjutkan menuju Depok. Ran

