Bab 11

1230 Words
Pagi itu, sinar matahari menyusup lewat celah gorden kain tipis di kamar Joni. Ia bangun lebih lambat dari biasanya, tubuhnya terasa pegal tapi ringan berkat peningkatan stat kemarin. Bau nasi goreng dan kopi instan sudah menyeruak dari dapur kecil. Joni menguap panjang, menggosok matanya, lalu keluar kamar. Ibunya sedang sibuk di depan kompor, mengaduk nasi goreng dengan spatula kayu. Kali ini bukan wajah masam yang menyambutnya, melainkan senyum kecil yang jarang ia lihat. “Bangun juga akhirnya, Jon. Mandi dulu sana, terus makan. Emak masak nasi goreng spesial hari ini—pake telor ceplok sama kerupuk yang kamu suka,” kata ibunya tanpa menoleh, tapi nada suaranya lebih lembut. Joni tersenyum lebar. “Wah, spesial banget. Kemarin kan Joni setor banyak. Emak seneng ya?” Ibunya mendengus pelan, tapi sudut bibirnya naik. “Seneng sih seneng. Tapi jangan ge-er dulu. Emak cuma takut kamu kecapekan aja semalam pulang pagi. Kerja ojol emang gitu ya, kadang malam-malam baru pulang?” Joni duduk di kursi plastik, mengambil piring yang sudah disiapkan. “Iya, Mak. Orderan jauh. Tapi untungnya lumayan. Besok-besok Joni janji pulang lebih awal kalau bisa.” Mereka makan bersama di meja kecil itu. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, tak ada ocehan panjang tentang “pemalas” atau “kapan sukses”. Ibunya malah bertanya tentang hari-harinya—berapa orderan, rute mana yang ramai, bahkan sempat mengeluh soal harga bensin yang naik. “Emak dulu juga pernah mikir kamu harus cari kerja kantoran. Tapi liat sekarang… ya sudahlah. Asal halal dan kamu sehat, emak udah syukur,” kata ibunya sambil menuang kopi untuk Joni. Joni merasa d**a hangat. “Mak… makasih ya. Joni usaha yang terbaik. Suatu hari nanti, Joni pengen beliin emak rumah yang lebih bagus. Nggak bocor atapnya lagi pas hujan.” Ibunya tertawa kecil, mata sedikit berkaca-kaca. “Udah, nggak usah muluk-muluk. Yang penting kamu pulang setiap hari dengan selamat. Itu aja udah bikin emak seneng.” Suasana rumah terasa lebih ringan. Joni membantu cuci piring setelah makan, sesuatu yang jarang ia lakukan sebelumnya. Ibunya tak mengomel, malah ikut menyeka meja sambil bercerita tentang tetangga yang baru dapat order ojol besar. Saat Joni hendak berangkat, ibunya menyelipkan uang kecil ke sakunya. “Ini buat bensin tambahan. Jangan ditolak. Dan hati-hati di jalan, Jon.” Joni memeluk ibunya sebentar—pelukan yang canggung tapi tulus. “Iya, Mak. Joni sayang emak.” Ibunya mendorong pelan sambil tersipu. “Udah ah, lebay. Pergi sana sebelum orderan hilang.” Joni tersenyum sepanjang jalan keluar rumah. Hari ini rasanya berbeda. Bukan hanya karena kekuatan baru di tubuhnya, tapi karena rumah terasa seperti rumah lagi. Siang itu, Joni menyalakan aplikasi SnapJek seperti biasa. JalapadaJek belum muncul notifikasi apa pun, jadi ia memutuskan mengambil order biasa dulu. Motornya melaju pelan menyusuri jalanan UI Depok yang ramai mahasiswa. Notifikasi masuk. SnapJek Order Penjemputan: Depan Perpustakaan Pusat UI Tujuan: Stasiun Depok Baru Penumpang: 1 orang Tarif: Rp35.000 Joni langsung ambil. Tak butuh waktu lama, ia sudah sampai di depan perpustakaan yang megah itu. Ia parkir motor, memakai helm, dan menunggu. Tak lama, seorang gadis muncul dari arah tangga perpustakaan. Rambutnya panjang sebahu, memakai kemeja putih longgar dan celana jeans sederhana. Tas ransel besar tergantung di punggungnya. Wajahnya fresh, kulit cerah, dan ada kacamata tipis yang membuatnya terlihat pintar tapi tidak sombong. Ia mendekat sambil mengecek ponsel. “Mas Joni ya? Saya ke Stasiun Depok Baru.” “Iya, Mbak. Naik aja,” jawab Joni sambil membuka jok belakang. Gadis itu naik dengan hati-hati, tangannya memegang bahu Joni sebentar untuk keseimbangan. Sentuhan itu ringan, tapi Joni merasa sedikit aneh—hangat dan canggung sekaligus. Motor mulai melaju. Angin siang berhembus sejuk. Untuk beberapa menit pertama, mereka diam. Hanya suara mesin dan klakson kendaraan lain yang terdengar. Joni mencoba memecah keheningan. “Mbak kuliah di UI ya? Jurusan apa?” Gadis itu menjawab pelan, suaranya lembut tapi jelas. “Iya, Mas. Jurusan Psikologi semester 5. Namaku Rina.” “Rina… oke. Saya Joni, biasa aja. Ojol biasa,” balas Joni sambil tersenyum di balik helm, meski Rina tak bisa melihat. Rina terkekeh kecil. “Ojol biasa tapi helmnya keren. Ada stiker balap motor gitu.” Joni melirik spion. “Haha, iya. Dulu suka balap liar waktu SMA. Sekarang cuma buat hiasan doang.” Percakapan mulai mengalir pelan. Rina bercerita tentang tugas kuliah yang numpuk, deadline paper, dan betapa capeknya naik angkot tiap hari. Joni balas dengan cerita lucu soal orderan aneh—ada yang minta diantar ke warung makan tapi bayarnya pakai e-wallet yang error, atau penumpang yang ketiduran di jok belakang. Tawa Rina terdengar renyah. “Mas Joni lucu juga ya. Kebanyakan ojol yang saya naik diem aja atau malah nanya-nanya pribadi yang awkward.” Joni merasa pipinya sedikit panas. “Ya… saya biasanya juga diem. Tapi hari ini… entah kenapa enak ngobrolnya.” Motor melewati lampu merah. Joni mengerem pelan. Rina bergeser sedikit lebih dekat agar tidak oleng. Bahu mereka hampir bersentuhan. Joni bisa mencium samar aroma sabun mandi dan parfum ringan dari Rina—wangi segar seperti citrus. Canggung mulai muncul. Joni tiba-tiba sadar betapa dekat mereka. Ia yang biasanya cuek dengan penumpang perempuan, kali ini merasa jantungnya sedikit lebih cepat. Rina juga diam sejenak, tangannya memegang jaket Joni lebih erat dari sebelumnya. “Mas… hati-hati ya di tikungan,” kata Rina pelan, suaranya agak malu-malu. “Iya, Mbak. Aman kok,” jawab Joni, suaranya juga sedikit gugup. Sesampainya di Stasiun Depok Baru, Joni menghentikan motor di depan pintu masuk. Rina turun dengan anggun, merapikan rambut yang acak-acakan karena angin. “Terima kasih, Mas Joni. Tadi enak ngobrolnya. Jarang ketemu ojol yang bisa diajak ngobrol santai gini,” kata Rina sambil tersenyum tipis. Pipinya sedikit merona. Joni melepas helm sebentar, menggaruk kepalanya yang gatal karena canggung. “Sama-sama, Mbak Rina. Kalau butuh ojol lagi, langsung chat aja. Nomor saya di aplikasi.” Rina mengangguk. “Iya. Mungkin lain kali saya pesan lagi. Hati-hati di jalan ya, Mas.” Ia melambai kecil sebelum berbalik masuk ke stasiun. Joni masih berdiri di situ beberapa detik, memandangi punggung Rina yang menghilang di kerumunan. “Wah… ceweknya asik banget,” gumamnya sendiri sambil tersenyum kecil. “Tapi kok gue jadi grogi gini ya…” Ia menggelengkan kepala, mencoba menepis perasaan aneh itu. Tapi saat menyalakan motor lagi, senyumnya tak kunjung hilang. Di aplikasi SnapJek, rating dari Rina langsung masuk: 5.0 dengan komentar singkat: “Driver ramah dan asik diajak ngobrol. Recommended!” Joni tertawa kecil. “Rekomended katanya…” Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu ini baru permulaan. Ikatan rasa yang mulai muncul itu masih sangat tipis, canggung, dan penuh tanda tanya—terutama karena dunia JalapadaJek yang semakin gelap di belakangnya. Sore harinya, Joni pulang lebih awal. Ibunya sudah menyiapkan teh manis dingin di meja. Mereka duduk di teras kecil sambil nonton sinetron bareng. Ibunya sesekali tertawa, dan Joni ikut cerita soal mahasiswi tadi tanpa detail berlebihan. “Wah, ketemu cewek kampus ya? Jangan-jangan nanti bawa pulang calon mantu,” goda ibunya sambil nyengir. “Mak… baru kenal doang. Jangan buru-buru,” jawab Joni sambil tersipu, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Ibunya menepuk bahu Joni pelan. “Pokoknya yang penting baik. Emak seneng liat kamu pulang dengan muka cerah gini.” Malam itu, rumah terasa lebih hangat. Joni tidur dengan pikiran yang campur aduk—antara senang karena hubungan dengan ibu membaik, canggung karena Rina, dan was-was karena misi JalapadaJek yang kapan saja bisa muncul lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD