Suatu hari, seorang pengemudi ojol duduk di pinggir jalan, menunggu notifikasi yang tak kunjung datang. Sudah tiga jam berlalu, namun aplikasi di ponselnya tetap sunyi, seolah lupa akan keberadaannya. Wajahnya tampak kusut, rambutnya awut-awutan akibat berkali-kali digaruk tanpa sadar. Matanya memerah, bukan hanya karena lelah, tapi juga akibat asap rokok yang sudah tiga batang ia habiskan. Angin jalanan yang bercampur debu membuat hidungnya meler, menambah kesan lelah yang tak bisa disembunyikan.
Namanya Joni. Sudah tiga tahun ia menjalani profesi sebagai pengemudi ojol. Kadang hari terasa ramai dengan order yang tak putus, namun lebih sering justru sepi. Persaingan semakin ketat, jumlah pengemudi terus bertambah dari waktu ke waktu. Beginilah potret kehidupan di Jakarta—dalam satu RT saja, hampir delapan puluh persen warganya menjadi ojol.
Entah bagaimana nasib ke depan. Bukan tidak mungkin, suatu hari nanti hampir semua orang menjadi pengemudi ojol, sementara pelanggannya… ya, tetap orang-orang yang sama—tetangga sendiri.
Karena sudah bosan menunggu, akhirnya Joni memutuskan pulang. Namun, seperti biasa, baru saja sampai di rumah, ia langsung disambut ocehan ibunya.
“Lah, kok sudah pulang?” tanya ibunya sambil menatap heran.
“Iya, Mak… sepi. Sudah tiga jam nunggu, nggak ada orderan masuk. Mending nunggu di rumah aja. Daripada di luar, nanti masuk angin,” jawab Joni sambil melepas jaketnya.
“Jadi orang itu jangan gampang nyerah! Baru bentar sudah pulang. Kapan mau sukses kalau mental juang saja nggak ada?” oceh ibunya, nada suaranya mulai meninggi.
“Siapa yang nyerah, Mak? Aplikasinya juga masih nyala. Kalau dapat orderan, ya tetap jalan,” balas Joni, mencoba bertahan.
“Tapi kalau di rumah, yang ada malah molor! Nanti ada orderan masuk, kamu nggak dengar lagi. Huh! Punya anak laki-laki kok pemalas banget. Emang kamu kira nasi sama lauk itu beli pakai daun, hah? Mikir, Joni… mikir!” bentak ibunya.
Joni hanya bisa terdiam, menahan napas panjang. Sudah biasa baginya menghadapi omelan seperti itu, tapi tetap saja, setiap kata terasa menekan dadanya.
“Lihat itu, beras sudah mau habis. Mau makan pakai batu, hah? Dari kemarin kamu belum nyetor ke emak. Mana uangnya?” omel ibunya lagi.
“Belum ada, Mak… Uang kemarin habis buat ganti ban,” jawab Joni pelan.
“Alasan saja kamu, Jon! Duit narik habis buat kamu sama motor kamu doang. Mau terus begini tiap hari, hah? Kapan kamu bisa nyenengin emak?” suara ibunya semakin meninggi, penuh kekecewaan.
Mendengar itu, Joni hanya terdiam. Ia bingung harus bagaimana. Sudah berkali-kali ia melamar pekerjaan ke sana-sini, tapi belum juga mendapat panggilan. Sekalinya dipanggil pun, saingannya puluhan ribu orang hanya untuk posisi kasir minimarket—dan tetap saja belum jadi rezekinya.
Akhirnya, ia terpaksa bertahan sebagai ojol. Itu pun penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, bahkan sering kali pas-pasan.
Joni hidup berdua saja dengan ibunya. Ia anak semata wayang. Sejak lulus SMA tiga tahun lalu, pekerjaannya tak jauh dari ngojol. Sebenarnya Joni tergolong rajin—hampir setiap hari ia turun ke jalan, menyalakan aplikasi, dan menunggu orderan masuk.
Namun, persaingan yang semakin ketat membuat segalanya tidak mudah. Jumlah pengemudi yang terus bertambah, ditambah algoritma aplikasi yang seolah kewalahan membagi orderan, membuat akun Joni sering kali sepi. Berbagai cara sudah ia coba untuk “menyembuhkan” akunnya—ganti titik mangkal, reset aplikasi, bahkan ikut saran-saran dari sesama ojol. Tapi hasilnya hanya bertahan sementara.
Karena tak tahan dengan ocehan ibunya, akhirnya Joni memilih keluar rumah lagi. Ia melangkah tanpa tujuan yang jelas—yang penting bukan di rumah, bukan di tempat di mana ia terus merasa disalahkan.
Terkadang Joni sempat terpikir untuk menggunakan mod—aplikasi tidak resmi yang konon bisa membuat akun menjadi “gacor”. Godaan itu cukup besar, apalagi saat orderan sepi seperti sekarang. Namun, Joni masih bisa menepisnya. Ia tahu risikonya. Menggunakan aplikasi ilegal hanya akan membuat akunnya tak bertahan lama. Ia sudah melihat sendiri bagaimana teman-temannya berakhir—akun mereka disuspensi permanen karena ketahuan memakai cara curang.
Akhirnya, Joni memilih tetap bertahan dengan cara yang benar.
Ia pun kembali nongkrong, kali ini di sebuah taman. Tubuhnya direbahkan di bangku panjang, satu tangan menutupi wajah, sementara ponselnya tetap tergenggam, berharap ada notifikasi masuk. Namun hingga satu jam berlalu, layar ponselnya tetap sunyi.
Tak ada satu pun orderan.
Pikirannya mulai melayang ke mana-mana, dipenuhi kegelisahan dan kebingungan tentang masa depan. Hingga tiba-tiba—
Puk!
Kakinya ditepuk seseorang.
“Hei, bangunlah, anak muda. Jangan bermalasan,” tegur suara itu.
Joni terkejut dan langsung bangkit. Di hadapannya berdiri seorang lelaki tua renta. Ia mengenakan peci hitam, dengan jenggot putih panjang yang menjuntai hingga d**a. Kerutan di wajahnya begitu dalam, menandakan usia yang tak lagi muda. Namun sorot matanya tajam… seolah menyimpan sesuatu yang tak biasa.
Joni pun terbangun dan memandang kakek itu dengan wajah heran.
“Ada apa, Kek? Kakek mau duduk atau tidur di bangku ini?” tanya Joni.
“Ah, aku sudah cukup tidur. Masa disuruh tidur lagi,” jawab si kakek santai.
“Oh… jadi kakek mau apa?” Joni kembali bertanya, masih bingung.
“Aku ingin membantumu, Joni,” ucap si kakek tiba-tiba, seolah sudah mengenalnya sejak lama.
Joni langsung terkejut. Alisnya mengernyit.
“Loh, kok kakek tahu nama saya?”
Si kakek tersenyum tipis, matanya tampak penuh misteri.
“Setiap pemuda yang sedang kesusahan… aku selalu tahu namanya. Hanya saja, aku memilih siapa yang ingin kutemui. Dan jika sudah kupilih, pasti akan kudatangi,” ujar si kakek dengan tenang.
Joni menatap kakek itu dengan saksama. Ia mencoba mengingat-ingat wajahnya, menelusuri satu per satu kerabat dari pihak ibunya, lalu dari pihak ayahnya yang telah lama meninggal. Namun, sekeras apa pun ia berpikir, tetap saja ia tak mengenali sosok di hadapannya.
“Hei, Joni… aku bukan siapa-siapa bagimu. Kau tak akan mengenaliku. Aku juga bukan kerabat dari pihak ibumu ataupun ayahmu,” ucap si kakek tenang.
Joni kembali terkejut. Dadanya berdegup lebih cepat. Bagaimana mungkin orang ini bisa mengetahui apa yang sedang ia pikirkan?
“Hehehe… kau pasti kaget, ya? Wajar saja. Kau memang belum tahu siapa aku,” lanjut si kakek sambil tersenyum samar.
“Baiklah, aku akan memperkenalkan diri. Namaku Ki Jalapada. Aku ingin membantumu agar hidupmu menjadi lebih baik. Aku akan memberimu ujian. Setiap ujian yang berhasil kau lalui, kau akan naik level.”
Ia berhenti sejenak, menatap lurus ke mata Joni.
“Aku berada di tingkat tertinggi. Itulah sebabnya aku bisa membaca pikiranmu. Bagaimana? Apa kau mau kuajari dan ku beri ujian?”
Joni menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan.
“Aduh, Kek… zaman sekarang masih ada yang ngomong begitu? Sudahlah, Kek. Mending kakek pulang saja. Nanti masuk angin,” jawab Joni, setengah tak percaya.