Bab 3

1092 Words
Joni kembali melajukan motornya, meski pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Sosok Ki Jalapada, istilah “transporter”, kata-kata tentang pensiun… bahkan mati—semuanya berputar-putar di kepalanya tanpa jawaban yang jelas. Namun sampai saat ini, ia masih berusaha menganggap semua itu hanyalah omong kosong. Hingga tiba-tiba— “Ada dua orang mengikuti kita. Kita harus lolos dari mereka. Kalau tidak… kita berdua akan celaka,” ucap Bu Lisa mendadak. Joni refleks melirik kaca spion. Dan benar saja. Dua motor berada di belakang mereka. Awalnya terlihat biasa. Namun setelah Joni beberapa kali berbelok, masuk ke gang sempit, bahkan memutar arah—kedua motor itu tetap mengikuti. Perasaan Joni langsung berubah tegang. “Maaf, Bu… saya nggak bisa ikut permainan seperti ini. Saya cuma ojol,” ucapnya gugup. “Kalau Ibu punya masalah dengan orang lain, sebaiknya diselesaikan baik-baik saja. Saya mau berhenti di sini.” “Joni,” suara Bu Lisa terdengar lebih tegas dari sebelumnya. “Kamu sudah terlanjur masuk ke dalam permainan ini. Sejak Ki Jalapada memilihmu… kamu tidak bisa mundur lagi.” Joni terdiam sesaat. “Kalau kamu masih tidak percaya… lihat lagi ke spionmu,” lanjutnya pelan. Dengan ragu, Joni kembali melirik ke belakang. Dan kali ini— Napasnya tercekat. Dua pengendara itu kini jelas terlihat menggenggam sesuatu di tangan mereka. Golok. “Gila…!” seru Joni spontan. Detik itu juga, tanpa berpikir panjang, ia langsung menarik gas motornya dalam-dalam. Mesin meraung. Motor melesat menembus jalanan sempit. Kejar-kejaran pun dimulai. Joni memacu motornya melewati gang-gang kecil yang berliku. Ia hafal betul jalur-jalur seperti ini—hasil dari bertahun-tahun menjadi ojol. Ia meliuk di antara tikungan tajam, melewati jalanan sempit yang hanya cukup untuk satu motor. Namun di belakang. Mereka masih mengejar. Suara knalpot menggema, semakin dekat. “Mas, hati-hati!” seru Bu Lisa saat Joni hampir menyerempet gerobak di pinggir jalan. Joni mengerem mendadak, lalu membanting setang ke kiri, masuk ke gang yang lebih sempit lagi. Ban motornya sedikit selip, tapi ia berhasil menstabilkan. “Pegangan yang kuat, Bu!” teriaknya. Angin menerpa wajahnya, napasnya mulai memburu. Di kaca spion, bayangan kedua pengejar itu masih terlihat—tak menyerah sedikit pun. Joni menggertakkan gigi. “Kalau lurus terus… mereka bakal nyusul…” Dengan cepat, ia mengambil keputusan. Di depan, ada persimpangan sempit yang hanya diketahui warga sekitar. Tanpa ragu, ia langsung membelok tajam ke kanan, lalu masuk ke jalur kecil di antara rumah-rumah. Motor bergetar hebat melewati jalan rusak. Namun justru di situlah keunggulan Joni. Ia hafal medan seperti telapak tangannya. Sementara para pengejar— Sedikit tertinggal. “Sekarang!” gumam Joni. Ia langsung memutar arah secara tiba-tiba, masuk ke gang lain yang berlawanan arah, lalu keluar ke jalan utama. Motor melesat cepat. Beberapa detik kemudian… Ia melirik spion lagi. Kosong. Tak ada lagi motor yang mengikuti. Joni memperlambat laju kendaraannya. Napasnya masih terengah, jantungnya berdegup kencang. “Mereka… hilang?” gumamnya tak percaya. Bu Lisa di belakang hanya tersenyum tipis. “Kamu lulus untuk kali ini, Joni.” Joni terdiam. Tangannya masih gemetar di setang. Apa yang barusan terjadi… benar-benar di luar nalar. Untungnya, Joni adalah pengemudi dengan kemampuan di atas rata-rata. Dulu, ia bahkan pernah meraih juara satu balap motor tingkat kecamatan. SIM yang dimilikinya pun didapat dengan cara yang benar—ia mengikuti seluruh tes tanpa menyogok sedikit pun. Setelah lolos dari kejaran, jantung Joni masih berdegup kencang. Napasnya belum sepenuhnya stabil, namun ia tetap mampu menguasai diri dan menjaga fokus saat mengendarai motor. Perjalanan pun berlanjut tanpa gangguan. Hingga akhirnya, mereka tiba di kawasan EJIP, Cikarang—tepat di depan sebuah pabrik elektronik besar. Joni menghentikan motornya di depan kantor utama. Saat Bu Lisa turun, beberapa karyawan yang kebetulan keluar langsung menyapanya dengan hormat. “Selamat pagi, Bu Manajer,” ucap salah seorang dari mereka. “Selamat pagi,” jawab Bu Lisa singkat. Joni sedikit terkejut. Ternyata… wanita yang ia antar bukan orang biasa. Bu Lisa kemudian membuka tasnya, mengambil beberapa lembar uang, lalu menyerahkannya kepada Joni. “Ini ongkosnya, sekaligus tip untukmu,” ujarnya. Joni melihat nominalnya. Tiga ratus ribu rupiah. Matanya sedikit membesar. “Terima kasih, Mas Joni. Kau sudah mengantarkanku… dan menyelamatkanku kali ini. Mungkin lain waktu, aku akan membutuhkan jasamu lagi,” lanjut Bu Lisa. Joni, yang masih tampak pucat dan berkeringat, menerima uang itu dengan ragu. “Tapi… ini kebanyakan, Bu,” ucapnya. Bu Lisa tersenyum tipis. “Setelah apa yang kau lakukan tadi? Itu tidak seberapa, Joni. Terimalah. Dan mungkin… lain kali, kau akan menerima lebih banyak lagi. Entah dariku, atau dari pelanggan JalapadaJek lainnya.” Joni terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk dan menyimpan uang itu ke dalam sakunya. “Ngomong-ngomong, Bu… sebenarnya siapa orang-orang tadi? Dan… kenapa seorang manajer seperti Ibu malah naik ojek?” tanya Joni, masih diliputi rasa penasaran. Bu Lisa menatapnya sebentar, lalu tersenyum samar. “Karena Ki Jalapada tidak pernah memilih orang yang salah. Aku percaya padanya,” jawabnya tenang. “Dan soal orang-orang yang mengejar kita… dalam dunia bisnis, musuh itu hal biasa, Joni.” Ia berbalik, melangkah menuju gedung kantor. “Sementara itu, nikmati saja hasil kerjamu hari ini,” tambahnya tanpa menoleh. “Sampai jumpa lagi.” Joni hanya bisa berdiri diam di samping motornya, memandangi sosok Bu Lisa yang perlahan menghilang di balik pintu kantor. Di tangannya uang terasa nyata.Tapi di kepalanya. semuanya masih terasa seperti mimpi. Joni mengucapkan terima kasih kepada Bu Lisa, meski di dalam pikirannya masih dipenuhi berbagai pertanyaan yang belum terjawab. Setelah itu, ia kembali menatap layar ponselnya. Dengan ragu, ia menggeser tombol “Selesaikan Order” pada aplikasi JalapadaJek. Sesaat kemudian— Tet… tet… tet… Sebuah notifikasi muncul. ╔════════════════════╗ ║ JALAPADAJEK SYSTEM ║ ╠════════════════════╣ ║ ID : 007 ║ Status : Transporter Aktif ║ Level : 3 ↑ ║ Reward : +Rp200.000 ╠════════════════════╣ ║ Keterangan: ║ - Misi berhasil diselesaikan ║ - Peningkatan kekuatan tubuh ║ - Sinkronisasi sistem meningkat ╚════════════════════╝ Belum sempat Joni mencerna semuanya— Tiba-tiba… Ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya. Seperti ada aliran hangat yang menjalar melalui saraf-sarafnya. Dari ujung kaki hingga ke kepala, energi itu bergerak cepat, menyebar ke seluruh tubuhnya. Joni spontan menahan napas. “Ah—ini apa…?” Tubuhnya terasa jauh lebih ringan. Otot-ototnya seperti dipenuhi tenaga baru. Penglihatannya menjadi lebih tajam, bahkan detail kecil di sekitarnya tampak jelas. Suara-suara yang tadinya samar kini terdengar begitu nyata. Pikirannya terasa segar. Napasnya panjang dan lega… seolah ia sedang berdiri di puncak pegunungan, menghirup udara bersih tanpa beban. Joni menatap kedua tangannya sendiri, membuka dan mengepalkan jari-jarinya perlahan. “Wah… apa yang terjadi sama tubuh gue…?” gumamnya tak percaya. “Ini… gila sih… hebat banget…”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD