Dongeng Masa Lalu

2411 Words
Daddy menatap manik mataku dalam. Entah apa ada yang salah denganku. Aku juga tidak tau. Daddy tetap menatapku. Tangan kanannya mencekal daguku, lalu ia mulai mendekatkan bibirnya dengan bibirku, aku terkejut, mataku terbelak melihat perlakuan Daddy padaku. Aku menggelengkan kepalaku memberikan respon penolakan, namun sedikitpun tidak digubris oleh Daddy. Semakin lama bibirnya dengan bibirku semakin menyatu tanpa sekat sedikitpun. Penyatuan itu lama-lama berubah menjadi lumatan dan paksaan. Tubuhku mulai terodorong kebelakang dan kepalaku sedikit terbentur jendela mobil tepat dibelakangku. Lumatan Daddy semakin dalam, giginya menggigit bibirku dan itu memberikan rasa perih pada bibirku, sehingga reflek aku membuka mulutku, memberikan akses Daddy untuk menikmati setiap inci bibir dan  mulut. Lumatannya semakin dalam memasuki mulutku dan lidahnya mulai dimainkan, seakan-akan mencari akses untuk menyatukan lidahku dengan lidahnya. Sungguh aneh rasanya yang aku rasakan. Rasa sesak menggelayar di dadaku. Jantungku berdetak kencang tak karuan serasa ingin keluar dari tempatnya. Perasaan aneh apa ini yang sedang menjalar ditubuhku?.  Awalnya akal kotorku mengajakku untuk mulai menikmati permainannya, namun berlainan dengan hatiku yang menolak. Dan perlahan aku tersadar dengan akal sehatku yang mulai menyadarkanku. "Daddy. Apa yang Dad lakukan kepadaku?" Aku mendorong tubuh Daddy menjauh dariku. Daddy hanya tersenyum menatapku, seperti orang gila yang kehilangan akal sehatnya. "Aku mencintaimu Gabby, aku mencintaimu." Aku terkejut mendengar perkataan Daddy. Disisi lain dalam diriku, enatah kenapa aku merasa bahagia mendengarnya. Namun perasaan itu aku tepis jauh-jauh. Daddy mendekatkan kembali tubuhnya denganku. Ia kembali meraih daguku, mungkin akan menciumku lagi. Entah kenapa Daddy bisa seagreaif ini? Apa yang terjadi pada Daddy? Apakah karena pekerjaannya di kantor yang begitu berat, sehingga membuatnya mabuk seperti ini? Dan dia menyatakan cinta kepadaku? Apa maksudnya? Apa sebenarnya yang terjadi padanya?. Berbagai pertanyaan-pertanyaan tentang Daddy telah bermunculan di otakku. Aku penasaran apa penyebab Daddy menjadi seperti ini.  Dad sedang mabuk, mungkin dia saat ini sedang mabuk berat saat menyiumku dan ngelantur saat menyatakan cinta padaku. Batinku "Apa maksud Daddy mengatakan itu padaku? Sadar Dad aku putrimu!" Ucapku dengan nada tinggi hingga membuat Daddy tersentak. Kedua tanganku dibelakang tubuhku, menyangga beban tubuhku dan sedikit memundurkan tubuhku untuk menjauhi Daddyku yang sedang gila ini. Tak lama setelah Daddy akan mendekatiku lagi. Dengan kondisinya yang duduk lemas dengan menundukkan kepala.  "Sepertinya Daddy sedang pingsan." Gumamku. "Tanganku menyentuh pipi kiri Daddy. Mencoba untuk membangunkan Daddy. Namun nihil, Daddy masih tetap pingsan. Aku khawatir melihatnya. Lalu aku memindahkan tubuh Daddy dikursi penumpang yang aku tempati saar ini dan menggantikan posisi Daddy untuk menyetir mobil. *** Jam menunjukkan pukul 22.30 pm. Berjarak 2 jam setelah Gabby pulang kerumah bersama Kyenan dengan kondisinya yang mabuk tadi. Gabby masih belum bisa tidur. Ia menatap kearah luar jendela kamarnya. Hujan belum henti-hentinya turun ke bumi. Suara gemuruh dari langit menggelegar sampai ke telinganya. Gabby duduk termenung diatas tempat tidurnya. Ia masih memikirkan kembali kejadian yang berlangsung 2 jam yang lalu. Begitu pula pernyataan cinta Keynan yang membuatnya semakin bingung. Gabby menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikirannya dari kejadian tadi. "Ah, mungkin karena efek mabuk Daddy yang berat. Makanya dia berbuat itu padaku dan ngelantur." Gumam Gabby mencoba berpikir positif. Tok...tok...tok...tok...tok. Suara ketukan pintu mengagetkan Gabby. Mengembalikan seluruh pikirannya dari yang mulanya memikirkan Keynan. Ia berdiri dari duduknya menuju pintu kamarnya. Ia memegang knop pintu kamarnya dan kemudian membukanya. Di depan pintu terlihat Keynan yang sedang berdiri mematung menatap Gabby. "Ngapain Daddy kesini?" Tanya Gabby dengan nada ketus. "Daddy kesini hanya memastikan bahwa putri Daddy baik-baik saja." Sebenarnya tujuan Keynan ke kamar Gabby bukan untuk itu, melainkan adalah untuk meminta maaf dan meluruskan kembali tentang kejadian tadi. Keynan mendekati Gabby, namun ia memundurkan tubunnya kebelakang. "Apa yang akan Daddy lakukan?." "Dad nggak mau ngapa-ngapain sayang. Daddy hanya ingin minta maaf saja." Jawab Keynan. "Maaf soal apa?" Tanya Gabby dengan tubunnya membelakangi Keynan dan melipatkan tangannya diatas d**a. "Maa...maafkan Daddy, tadi bukan bermaksud untuk melakukan itu. Maaf Daddy khilaf, tadi Daddy sedang mabuk berat." Jawab Keynan gugup. Ia takut jika Gabby akan marah padanya. "Hemm." Jawab Gabby singkat. "Kamu marah ya sama Daddy?" Gabby hanya menggelengkan kepalanya. "Benarkah?" Tanya Keynan dengan nada meyakinkan. "Hemm...Iya Dad." Jawab Gabby ketus. Sebenarnya Gabby masih sedikit marah, karena tadi Keynan menciumnya dengan paksa. Namun Gabby mencoba memakluminya, mungkin karena mabuk. *** Hari berganti dengan cepat. Sang mentari sudah terbit menerangi bumi. Cahaya hangatnya yang menyilaukan, memaksa gadis bernetra bulat hitam pekat itu bangun dari tidurnya. Hari ini adalah hari sabtu. Hari dimana orang yang sibuk bekerja sedang libur menikmati weekend-nya. Begitu pula gadis yang berparas cantik, wajah mungil, mata bulat dan tajam dengan tahi lalat kecil di pipi tepat dibawah mata sebelah kanan, hidung kecil dan mancung, dan bibirnya yang kecil dan penuh itu. Hari ini juga hari liburnya. Ia tidak memiliki jadwal apapun, entah kuliah, ataupun keluar kemana, ia tak memiliki janji dengan siapa pun. Gadis itu hanya duduk diatas tempat tidurnya, ia belum memiliki niat untuk berdiri dari tempat tidurnya. Ia masih mengumpulkan nyawanya yang masih berada dialam mimpi dan mengumpulkan niatnya untuk berdiri. Ia duduk dengan tatapan kosong, bukan karena sedang berpikir, tetapi karena matanya yang masih mengantuk ingin dipejamkan kembali. Ceklek...Suara pintu terbuka. Gadis itu tersadar dari lamunan kosongnya. Tatapannya berpaling kearah sumber suara. "Sayang. Kamu masih belum mandi?" Tanya Daddy-nya gadis itu. "Males." Jawab gadis itu ketus dengan suaranya yang serak khas bangun tidur. Suara serakmu itu mennggodaku untuk melakukannya lagi, Gabby. Batin Keynan. Semenjak kejadian semalam, Keynan menjadi b*******h jika melihat Gabby. "Ayo cepat mandilah Gabby! Setelah itu ikut Daddy ke suatu tempat." "Mau kemana?" Tanya Gabby dengan tataoan datarnya. "Nanti kamu juga tau sendiri sayang." Jawab Keynan. "Hemm."Guamam Gabby. Lalu ia beranjak berdiri dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi, tanpa mengiraukan Keynan yang masih menatapnya. "15 menit kemudian, Gabby sudah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kimono. "Daddy ngapain masih disini?" Tanya Gabby, ia terkejut melihat Keynan masih didalam kamarnya duduk diatas tempat tidurnya dengan menatap Gabby dengan tatapan anehnya. Tenyata kamu sexy juga Gabby. Batin Keynan. Lalu ia menggelengkan kepalanya, membuang jauh-jauh pikiran kotornya. Belum saatnya Keynan. Batinnya lagi. "Emm...Tak apa, Daddy hanya menunggumu saja." Jawab Keynan. "Keluar tidak!" Pinta Gabby dengan nada ketus. "Apakah Daddy ingin melihatku sedang telanjang dan ganti baju didepanmu?" Lanjut Gabby dengan nada penuh penekanan. "Dasar Daddy mesum." Gumamnya lagi. "Maaf sayang, bukan maksud Daddy untuk itu. Daddy hanya merasa bersalah saja, karena tadi malam...arrkkhh...tak usah dibahas lagi. Dad keluar dulu. Aku tunggu didepan." Jawab Keynan lallu Keynan berdiri dari duduknya dan beranjak pergi keluar dari kamar Gabby. Sedangkan Gabby melihat tingkah Daddy-nya itu heran. Laku ia berjalan menuju walk in closet untuk memakai bajunya. gabby membuka lemari bajunya. Ia mekihat setiap bajuny satu persatu. Ia bingung harua memakai baju apa. Sedangkan ia saja tidak tau Daddy-nya mau mengajaknya pergi kemana. "Emm, apa ini saja ya? Tampaknya tidak buruk jika aku pakai." Gumam Gabby. Lalu ia memakai bajunya pada tubunya yang mungil nan tinggi. Ia berjalan menuju kaca yang ada disebelah lemari bajunya. Saat ini Gabby menggunakan dress berkain kasa transparan berwarna dusty pink dengan panjang sampai bawah lutut, namun didalamnya terdapat dress seperti tanktop dengan panjang selutut berwarna hitam. Gabby menatap tubunya sendiri kagum. Ia tersenyum sendiri menatapnya. Seperti orang gila bukan?. Setelah Gabby memakai bajunya ia berjalan menuju meja riasnya. Memakaikan riasan di wajahnya tipis-tipis dengan lipstik warna nude. Setelah ritual make up nya selama 15 menit. Gabby mengambil tas slempang berukuran kecil dengan warna hitam. Lalu ia bergegas pergi kedepan untuk menemui Daddy nya yang sudah menunggu di dalam mobilnya. "Masuk!" Perintah Keynan dengan raut muka datar yang dapat membuat Gabby takut dan hanya terdiam menjawabnya dan mengangguk. Lalu ia membuka mobil sport merah Daddy nya dan masuk kedalamnya. "Sebenarnya kita mau kemana Dad?" Tanya Gabby penasaran. "Nanti kamu tau sendiri." Jawab Keynan dengan nada datar, namun tatapannya masih fokus kedepan. Setelah percakapan yang singkat itu, suasana hening. Gabby hanya diam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tatapannya menuju ke samping kiri tepat disamping kursi penumpang yang ia tempati saat ini.Melihat pemandangan jalanan kota. Sedangkan Keynan masih fokus dengan mengemudinya. 10 menit perjalanan, akhirnya mereka berdua telah tiba diparkiran dekat taman kota. "Ayo turun!" Perintah Keynan, Lalu ia dan Gabby turun dari mobil merahnya itu. "Ikut aku!" Tangan Keynan meraih tangan milik Gabby dan menariknya, Gabby hanya diam dan menurut mengikuti langkah kaki Keynan. Setelah mereka berdua berjalan mengelilingi taman kota, akhirnya Keynan menemukan tempat yang tepat untuk mereka berdua duduk disana. "Duduklah!" Perintah Keynan dengan nada lembut tidak seperti tadi. Gabby hanya menuruti perkataan Keynan, ia mendudukkan dirinya di tempat duduk yang terbuat dari beton dan terlihat sudah tua. Dipinggir-pinggir kursi itu sudah terdapat lumut yang menjalar. Raut wajah Gabby masih terlihat sangat bingung, ia bingung dengan perlakuan Daddynya. Namun ia hanya menurutinya saja. "Mau aku ceritakan sesuatu?" Tanya Keynan dengan setengah senyum. "Hmmm." Jawab Gabby dengan menganggukan kepalanya. Gabby masih bingung, ia tidak tau kenapa Daddynya menjadi begitu. Padahal tadi pagi ia masih ceria. Apa maksud Daddy? Haaahh...Dad mengajakku ke taman kota ini hanya untuk bercerita.Aku sudah berdandan secantik ini ternyata Dad hanya mengajakku ke sini dan ya hanya untuk bercerita.Cerita seperti apa yang akan Dad ceritakan?" huffhh... "Dengarkan cerita Daddy!" "Dahulu kala, ada seorang putri kecil cantik yang sedang menangis di sebuah taman." "Siapa nama putri kecil itu Dad?" Gabby bertanya, sepertinya ia sudah mulai tertarik dengan ceritanya. "Emmm...Layla... ya Layla." Jawab Keynan asal. "Ohhh.." Jawab Gabby dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Okay, Dad lanjut ya." "Di tempat lain seorang pangeran sedang pergi ke minimarket untuk membeli keperluannya. Saat pangeran itu berjalan akan pulang, sang pangeran mendengar suara tangisan putri cantik itu. Pangeran mendekati, mencari asal suara itu. Hingga akhirnya pangeran menemukannya, putri kecil dan cantik yang duduk diatas kursi sedang menangis. Penampilannya acak-acakan, pakaiannya kotor. Itu yang terlihat dari penampilan putri cantik itu. Dan ankhirnya Sang pangeran mendekati putri cantik itu. ia menayapa putri cantik itu. 'Haii...'Sapa pangeran itu mencoba menjajarkan tingginya dengan putri kecil itu. Lalu pangeran menghapus air mata yang mengalir di pipi putri kecil itu. Putri kecil itu hanya menjawabnya dengan tatapan sendunya. Saat putri kecil itu menatap mata sang pangeran, entah kenapa jantungnya sang pangeran berdegup kencang. Rasanya seperti ada hal aneh yang terjadi pada jantungnya. 'Kenapa jantungku berdegup kencang, apa yang terjadi padaku' kata sang pangeran dalam hatinya. 'Nama kamu siapa?' lanjut sang pangeran bertanya . 'Putri Layla.' Jawab putri kecil itu. 'Kamu kenapa kok disini putri Layla?' tanya pangeran lagi. 'Diculik.' Jawab putri kecil sambil menangis. 'Kok bisa? Dimana orang tuamu? Dimana rumah kamu putri Layla?' Tanya pangeran dengan nada lembutnya. 'aku tidak tau.'dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Yaudah ayo ikut pangeran pulang!' Tawar sang pangeran itu lalu tangan pangeran itu meraih putri kecil itu dan menggendongnya. 'Apakah pangeran baik?'Tanya putri kecil itu dengan wajah polosnya, namun air mata nya tetap mengalir keluar membasahi pipinya. 'Iya pangeran baik kok nggak jahat.Perkenalkan nama ku adalah pangeran Eric.' Kata pangeran memperkenalkan dirinya." Keynan menghentikan ceritanya, lalu ia menatap Gabby yang tengah menikmati ceritanya. Mata Keynan berkaca-kaca mengingat kembali kenangan indah masa kecil Gabby. Jika waktu bisa diputar kembali aku ingin mengulang waktu-waktu itu. Batin Keynan. Aku seperti pernah mendengar cerita itu, tapi kapan ya, dan dimana?. Cerita itu tampaknya tidak asing terdengar di telingaku. Batin Gabby. Ia mencoba mengingat-ingatnya namun tidak kunjung teringat di otak nya itu. "Kenapa Daddy berhenti bercerita? apakah sudah tamat?" Tanya Gabby penasaran. "Emmm...belum.Okay, Dad lanjut ya?" Gabby menjawabnya dengan anggukan dan tersenyum. "Eh, sebentar Dad. Usia putri Layla dan pangeran Eric itu berapa sih?" Tanya Gabby penasaran. "Putri Layla saat itu berusia 3 tahun, sedangkan pangeran Eric berusia 18 tahun." "Haaah..." Jawab Gabby terkejut. "Bagaimana jarak usia putri Layla dengan pangeran Eric begitu jauh. Dan apakah mereka hidup bahagia?" "Kamu dengarkan cerita Daddy dulu!. Nanti kamu baru tau." Gabby menganggukan kepalanya. "Lalu pangeran Eric membawa putri Layla ke rumahnya....." "Emm...maaf Dad sebelumnya Gabby mencela, tapi Gabby mau tanya. Apakah pangeran Eric tidak mencari tau asal usul, rumahnya dan orang tuanya putri Layla?" Tanya Gabby dengan mengerutkan sedikit keningnya. Keynan tersenyum mendengar pertanyaan Gabby. Lalu menjawabnya "Iya, pangeran Eric sudah mencari taunya mengerahkan seluruh pengawalnya dan detektifnya untuk mencari tau tempat tinggalnya dan termasuk orang tuanya. Akan tetapi pangeran Eric tidak berhasil menemukannya karena tempat tinggal keluarga putri Layla sangatlah tertutup dan tidak dapat diakses dan dimasuki oleh siapapun selain orang terpenting yang mengenal keluarganya, itu kata dari detektif yang sudah di perintahkan oleh pangeran Eric untuk mencarinya. Namun, pangeran Eric berhasil mengetahui nama dari orang tua putri Layla." Jawab Keynan menjelaskan. "Siapa nama orang tua putri Layla Dad?" "Ibunya Kellyne Gween Matthew dan ayahnya Marcellio Williams." Jawab Keynan. Nama yang disebutkan Keynan adalah nama orang tua kandung dari Gabby Ya, dari awal Keynan membuat bingung Gabby, akan tetapi tujuan utama Keynan menceritakan masa lalu Gabby menyerupai dongeng adalah supaya Gabby cepat mengingatnya. Walaupun tidak sepenuhnya, yang terpenting dengan ini Keynan akan sedikit terbebas dari bebannya selama ini. "Dad lanjut ya." "Saat usia putri Layla menginjak 6 tahun, putri Layla mengalami insiden yang mengerikan. Ia mengalami kecelakaan dan kecelakaan itu membuat putri Layla koma, hingga akhirnya putri Layla kehilangan ingatannya." "Lalu bagaimana yang terjadi dengan pangeran Eric?" "Ia khawatir mendengar kabar kalau putri Layla mengalami kecelakaan. Ia takut jika wanita yang di cintainya meninggalkannya." "Wanita yang di cintai pangeran Eric? Maksudnya putri Layla?" Tanya Gabby terkejut dan penasaran. "Iya, pangeran Eric mencintai putri Layla. Mungkin itu terdengar gila. Namun kenyataannya pangeran Eric mencintai putri Layla dan semakin ia menepisnya, melupakan perasaan itu. Semakin besar rasa cintanya pada putri Layla." "Terus bagaimana dengan putri Layla, apakah juga mencintai pangeran Eric? Dan apakah akhirnya saat putri Layna sudah dewasa pangeran Eric menikahinya dan hidup bahagia?" Tanya Gabby. Dari raut wajahnya ia terlihat penasaran dan tertarik medengar ceritanya. "Kalau kelanjutan ceritanya setelah itu Dad belum tau. Karena Dad belum mencarinya, cerira itu masih bergantung begitu saja, belum tau endingnya bagaimana. Tapi lain kali Daddy akan mencari tau dan memberitahukannya kepadamu." Jawab Keynan menjelaskan. Sebentar lagi kamu akan tau Gabby, bahwasannya yang aku ceritakan padamu saat ini adalah cerita masa lalu dan fakta. Batin Keynan. "Benar ya Dad?, Dad harus mencari tau endingnya. Gabby penasaran. Kasihan sekali putri Layla, masih kecil diculik, kehilangan orang tuanya, mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatan. Akan tetapi beruntung sekali dia, dirawat oleh pangeran Eric yang tulus dan sebenarnya mencintainya." Ujar Gabby menyimpulkan cerita yang didengarnya dari Keynan. "Hemm, iya. Sekatang kamu ikut Daddy!" "Kita mau kemana lagi Dad?" Tanya Gabby penasaran. "Mengabulkan permintaanmu." Jawab Keynan singkat. Llu langsung menarik tangan Gabby. Gabby mengikuti langka Keynan mengokori dibelakangnya. "Permintaanku yang mana Dad?, sepertinya aku tidak memiliki permintaan apa-apa kepada Daddy."  Keynan tak menjawab pertanyaan Gabby, ia hanya fokus berjalan memandang kedepan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD