Sebagai seorang istri yang dibesarkan dengan nilai kesopanan dan kehormatan, Natalia tahu betul batas dirinya. Ia diajarkan untuk menjaga harga diri, menjaga kesetiaan, dan tidak pernah sekalipun membiarkan ada noda yang mencoreng nama baik keluarga. Bercinta dengan laki-laki lain yang bukan suami adalah hal yang paling hina dalam pandangannya. Namun, ironinya justru datang dari suaminya sendiri. Pria yang seharusnya menjadi pelindung dan penjaga, malah ingin menjerumuskannya ke dalam kubangan dosa. Hatinya perih—bagaimana mungkin ia diminta mengkhianati diri sendiri demi ambisi orang lain? Natalia merasa seakan seluruh dunianya runtuh. “Natalia, apa kamu mendengarku?” Natalia meneguk ludah dengan sulit, seolah ada gumpalan besar menyumbat kerongkongannya. Tenggorokannya kering, sementa

