EPISODE DELAPAN BELAS

1196 Words
Jika pasien tidak melewati masa kritisnya, maka Yuni akan menanggung kesalahan yang tidak dilakukannya. Yuni akan dituduh melakukan malpraktik medis lalu dimasukan ke dalam penjara dan surat izin praktiknya akan dicabut.  Sebelum pulang Yuni mengecek keadaan pasien yang masih belum melewati masa kritisnya.  Dalam perjalanan pulang kerumah Yuni memikirkan apa yang harus dilakukan kedepannya. Yuni hanya bisa menatap keluar melalui jendela bus yang dinaikinya. Yuni melihat gemerlap bangunan-bangunan tinggi lalu melewati Sungai Han dengan pemandangan indah di malam hari. Yuni pun menyadari kalau ini pertama kalinya Yuni melihat sekitarnya saat pulang kerumah karena biasanya Yuni hanya melihat tesis atau makalah penelitian dalam bus. Melihat Sungai Han pun menyadarkan Yuni bahwa sudah 6 bulan dirinya di Korea namun belum pernah bersantai atau berjalan-jalan di Korea untuk menikmati waktu luang atau beristirahat. Yuni menghentikan bus nya di tempat yang asing baginya, di depan pantai Eurwangni. Di sepanjang pantai Yuni pun berjalan, berjalan dan terus berjalan tanpa tujuan. Yuni melihat ada supermarket yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Yuni pun langsung menuju kesana dan membeli ramyeon untuk perutnya yang sedang keroncongan karena belum makan seharian. Setelah menyelesaikan makan malam yang seadanya. Yuni pun ingin menelpon orang yang paling berharga dalam hidupnya. Namun karena masih terlalu pagi di Indonesia, baik ibu atau sepupu Yuni, Nisa pun tidak mengangkatnya. Padahal malam ini Yuni ingin menceritakan semua rasa sakit, pedih, frustasi dan keluh kesah yang telah dipendam dan ditahan oleh Yuni selama hampir sepuluh tahun terakhir ini. Yuni ingin menyerah dengan segala hal yang selalu diperjuangkannya hingga saat ini. Yuni berpikir jika Yuni berusaha keras menjalani hidupnya dengan lebih baik lagi kedepannya maka perlahan hidupnya pun akan berubah menjadi lebih baik lagi namun semuanya sama saja, tidak ada yang berubah bahkan setelah 10 tahun berlalu. Baik dulu sampai sekarang, Yuni tidak pernah bahagia. Bahkan Yuni sudah lupa apa arti bahagia untuknya. Walaupun selama ini Yuni selalu bahagia saat melihat ibunya tersenyum bahagia namun Yuni tak pernah lagi membahagiakan hidupnya sejak 10 tahun terakhir. Yuni tak pernah lagi beristirahat atau menikmati hidupnya. "Bu, Maafin Yuni Bu. Yuni sudah berusaha menanggungnya sampai sekarang dengan harapan semuanya akan lebih baik lagi. Namun tidak ada perubahan Bu, Yuni sudah lelah menjalani hidup seperti ini selama hampir 10 tahun Bu. Yuni juga ingin beristirahat dan melepaskan semua beban ini Bu.  Yuni minta maaf karena belum bisa menjadi putri yang baik buat Ibu. Yuni minta maaf karena harus menyerah seperti kakak dulu Bu. Padahal Yuni sudah berjanji akan terus berjuang dan bertahan serta tidak menyerah. Maafin Yuni Bu karena mengingkari janji Yuni. Yuni harap Ibu bisa bahagia bersama Nisa. Yuni minta maaf karena pergi menyusul Ayah, Kakak dan meninggalkan Ibu sendiri.  Yuni merasa kalau ini adalah batas Yuni bisa bertahan Bu. Tolong jaga diri dan kesehatan Ibu. Yuni sangat menyayangi Ibu." Ujar Yuni sambil menangis terisak mematikan pesan suara yang terakhir untuk Ibunya. Tak lama panggilan masuk dari Kepala Woo yang mengubungi Yuni untuk meminta pertanggung jawabannya. "Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Bagaimana kamu akan bertanggung jawab WANITA BODOH?" Teriak Kepala Woo diseberang panggilan telpon itu. "Tolong berhentilah memanggil saya WANITA BODOH. Saya cukup pintar karena selama ini selalu bisa menyelesaikan semua kekacauan-kekacauan yang dilakukan Dr. Kim, keponakan tersayang anda. Saya pun juga lelah meminta maaf dan bertanggung jawab untuk hal yang tidak saya lakukan.  Jika keponakan anda tidak bisa menjadi dokter, maka carilah pekerjaan lain. Jangan hanya menimpakan kesalahannya pada saya. Apakah anda pikir mudah bagi saya untuk mendapat gelar dokter ini? Hah? Lulus ujian kedokteran dengan mengandalkan wajah saya? Memang menurut anda wajah saya sangat cantik sampai bis membuat saya mendapat gelar dokter begitu saja? Padahal menurut saya wajah saya biasa aja. Apakah anda tau apa yang saya lalui hingga bisa menjadi dokter seperti sekarang? Apakah anda tau semua masalah saya selama ini sampai anda menghina saya seperti ini karena kesalahan keponakan anda?  Saya bukanlah wanita manja seperti keponakan anda yang membeli izin praktiknya. Saya bekerja paruh waktu di dua tempat lalu berniaga olshop untuk menyelesaikan kuliah saya dan membayar hutang keluarga saya. Tidak seperti keponakan tersayang anda yang semuanya sudah disediakan untuknya, saya adalah kepala keluarga dan tulang punggung keluarga saya yang menanggung semuanya sendirian.  Saya bekerja sambil belajar keras menjadi dokter untuk menyelamatkan dan menolong orang lain bukan untuk membersihkan semua kesalahan keponakan anda itu.  Saya sudah lelah menghadapinya jadi mulai sekarang bersihkanlah kesalahan keponakan anda sendiri dan berhentilah menghina saya. Karena orang seperti anda tidak pantas mengina saya, brengsek." Ucap Yuni meledak-ledak melampiaskan semua emosi dan kekesalan yang selama ini dipendamnya lalu memutuskan panggilan dari orang yang paling dibencinya setelah pria itu. Setelah menutup telepon, Yuni menenangkan dirinya, Yuni pun menatap gambar keluarganya yang lengkap tanpa disadari air mata Yuni pun menetes. Ada Yuni, Ayah, Ibu dan Kakaknya. Tak lama Yuni pun kembali menangis sedih karena berniat menyusul ayah dan kakaknya lalu meninggalkan ibunya sendiri. Sambil menghapus air matanya, Yuni pun berdiri meninggalkan supermarket itu menuju tepi pantai Eurwangni. Yah, pantai Pantai selalu menjadi tempat terfavorit Yuni. Daripada pergi ke mall shopping atau ke salon untuk perawatan, Yuni lebih suka pergi ke Pantai yang bisa membuat pikirannya tenang. Di tengah perjalanan menuju tepi pantai, Yuni melihat seorang nenek pemulung yang hampir tertabrak saat sedang mengumpulkan koran bekas. Yuni pun berlari lalu menarik sang nenek agar tidak tertabrak sepeda motor yang ugal-ugalan. "Nenek tidak pa-pa?" Tanya Yuni khawatir. "Ya cu, nenek gak pa-pa. Kamu terluka cu!" Ucap sang nenek sambil menunjukkan lutut dan siku Yuni yang berdarah. "Saya gak pa-pa nek. Tangan nenek pun terluka." Ucap Yuni sambil menunjuk punggung tangan sang nenek yang tak terlihat parah. Yuni pun langsung mengobati luka nenek dengan lembut menggunakan alhokol, betadine dan handsaplast. "Terima kasih cu, lukamu pun juga diobati cu." Ujar sang nenek khawatir. "Ahh luka saya gak pa-pa nek, saya akan mengobatinya nanti karena handplast nya tinggal satu nek." Jawab Yuni sambil tersenyum. Luka nya saat ini tidak sebanding dengan luka yang Yuni alami selama 10 tahun terakhir. "Jadi kamu memberikannya pada nenek? Bagaimana dengan lukamu?" Tanya nenek khawatir pada Yuni. "Luka saya bentar lagi juga sembuh nek. Ini hal yang biasa bagi saya nek. Apakah nenek bisa bangun?" Tanya Yuni sambil menjulurkan tangannya ingin menolong nenek berdiri. "Bisa cu, terima kasih ya cu. Baik sekali hatimu ci." Ujar sang nenek sambil menerima uluran tangan Yuni. Sang nenek pun pergi setelah mengucapkan rasa terima kasihnya pada Yuni. Yuni pun membalas dengan senyuman hangatnya dan melanjutkan perjalanan menuju tepi pantai Eurwangni. Sesampainya di tepi pantai, Yuni memandang laut lepas di depannya. Yuni pun berharap agar tubuhnya bisa ditemukan dan dikuburkan bersama ayah dan kakaknya. "Kak, maafin Yuni yang gak bisa nepatin janji Yuni untuk bertahan sampai akhir. Ini adalah batas Yuni. Yuni sudah mengikhlaskan semua yang terjadi di masa lalu jadi kakak juga jangan terlalu merasa bersalah atas semua yang terjadi. Yuni senang bisa bertahan sampai sekarang dan akan menyusul kalian sebentar lagi tapi Yuni merasa bersalah sama Ibu yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semoga Nisa bisa menjaga Ibu dengan baik. Yuni, kakak dan ayah akan menunggu Ibu diatas sana. Yuni sangat menyayangi Ibu." Batin Yuni terakhir kalinya sebelum Yuni melepaskan tas dan sepatunya. Setelah bersiap-siap, Yuni pun berjalan menuju laut lepas didepannya. Saat Yuni sudah memasuki laut dan air sampai ke pinggangnya, Yuni mendengar suara teriakan di belakangnya. "Hei, kamu yang disana." Teriak pemuda memanggil-manggil Yuni. "Hei, keluar lah dari sana" Teriak pemuda itu lagi. Yuni pun berbalik dan melihat seorang pemuda tampan sedang berlari kearahnya. Saat melihat pemuda itu sudah memasuki laut untuk menolongnya, kaki Yuni tiba-tiba keram dan Yuni pun tenggelam. "Bu, maafin Yuni. Yuni sangat menyayangi Ibu." Batin Yuni sebelum kesadaran nya hilang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD