Kamasean Ranu

1022 Words
"Menyingkir sebelum aku berteriak," ancam Anne dengan wajah penuh keseriusan. Ia telah mengingat semuanya. Mengingat kejadian sebulan yang lalu dan ternyata pria itu adalah Sean. Sean segera menjauh menciptakan jarak terlebih saat cahaya silau mengarah pada mobilnya. "Anne? Kau kah itu?" Seseorang dari dalam rumah Anne mengarahkan senter pada mobil Sean. "Iya, Ayah," teriak Anne sembari membuka pintu mobil. "Terima kasih tumpanganmu. Kuharap kita tak akan pernah bertemu lagi!" ucap Anne dengan tersenyum manis. Sayangnya senyum manisnya sarat akan senyum palsu. Ia tidak ingin ayahnya curiga jika melihatnya menatap marah atau berteriak pada Sean. Ia takut ayahnya akan salah paham, tentu bukan masalah karena ayahnya pasti akan melindunginya, tapi, ia tidak ingin Sean mengatakan kejadian sebulan yang lalu. Jika ayahnya tahu, pasti ia akan dikurung dalam kamar selamanya. "Baiklah, sampai jumpa besok. Kau tak ingin aku turun dan menyapa ayahmu?" kata Sean dengan berusaha menahan senyumnya. "Apa kau bersedia? Dan ayahku akan membawa katana miliknya untuk membunuhmu," kata Anne dengan mata memincing tajam sarat akan ancaman. "Benarkah? Bagaimana jika sebaliknya?" Tiba-tiba Sean turun dari mobil menghampiri ayah Anne yang sudah bersedekap menunggu di teras rumah. "Hei … apa kau gila?!" teriak Anne. Ia terkejut karena Sean justru turun dari mobil bukannya segera pergi. "Selamat malam Paman, maaf mengantar putri anda terlalu larut." Sean mengulurkan tangan pada ayah Anne yang menatapnya penuh curiga. "Siapa kau?" tanya ayah Anne dengan sorot mata tajam. "Namaku, Kamasean Ranu. Saya rekan kerja putri anda," jawab Sean dengan mengukir kurva lengkung di bibirnya meski jabatan tangannya diabaikan ayah Anne. "Rekan kerja? Tidakkah kau lihat jam di tanganmu? Apa pantas seorang pria mengantar anak gadis di malam yang sudah larut?" hardik ayah Anne. Suaranya yang berat sarat akan nada tak suka. "Maaf Paman, lain kali aku akan mengantarkannya sebelum jam 21.00," jawab Sean penuh kesungguhan. "Anne! Masuk." Handika Pramulya, nama ayah Anne menyuruh anak semata wayangnya segera masuk ke dalam rumah dengan tak mengalihkan pandangan mengintimidasi pada Sean. "Dan kau! Kuingatkan padamu. Jika kau serius dengan putriku aku memberimu lampu hijau. Jika tidak jangan pernah menemui anakku lagi. Atau jika kau berani menyakitinya, aku akan memotongmu menjadi potongan kecil dengan pisau panjangku," ancam tuan Handika dengan menatap serius dan tajam pada Sean kemudian masuk ke dalam rumah. Glek .... Sean menelan ludah kasar dan tersenyum kecut saat ayah Anne juga Anne telah masuk ke dalam rumah. "Fiuu .... menarik." Sean bersiul dan tersenyum miring kemudian berbalik saat pintu rumah Anne telah tertutup rapat. Kemudian ia berbalik dan melangkah berjalan menuju mobilnya. Di kantor Sean tak memperkenalkan sebagai salah satu anggota keluarga Ranu. Namun pengecualian saat bertemu ayah Anne. Tidak ada siapapun di kota ini yang tak mengetahui siapa itu keluarga Ranu. Dan ayah Anne seakan tak peduli meski Sean memperkenalkan diri sebagai seorang dirinya yang sebenarnya. Sean menghidupkan mobil, kemudian melajukan mobil hitam itu dengan kecepatan sedang. Yang ada di pikirannya saat ini adalah, Anne. Pertemuannya dengan Anne sebulan yang lalu mengantarkannya hingga ia berada disini sekarang. "Anne Haruna," gumamnya dengan berdecak kecil mengingat awal pertemuannya dan sikap Anne sekarang saat bertemu dan mengingat kejadian itu. *** "Siapa pria tadi Ann? Kekasihmu?" tanya ayah Anne menuntut jawaban. "Tidak. Bukan Ayah, dia rekan kerja baruku. Dia baru masuk tadi pagi," jawab Anne dengan memijit kecil kepalanya yang pening. "Dari mana kalian? Kenapa baru pulang?" Lagi, ayah Anne mencercanya dengan banyak pertanyaan. "Aku makan malam bersama Rosa dan Al. Dan tunangan Rosa itu mengajak Sean," jelas Anne sebelum mencapai tangga menuju kamarnya. "Kau tahu siapa pria tadi?" Lagi dan lagi, ayah Ane terus saja memberi Anne pertanyaan yang sudah ia jawab sebelumnya. "Bukankah sudah kukatakan dia rekan kerjaku?" Anne sudah mulai jengah. Ia masih memikirkan Sean dan sekarang ayahnya terus saja mengungkit nama pria itu. "Maksud ayah, dia berasal dari keluarga apa?!" "Apa itu penting? Tidak, Ayah. Dia baru pindah dari Singapore, dan dari keluarga siapa dia berasal, itu tidak penting bagiku. Apakah sekarang aku boleh istirahat? Aku lelah, Ayah." Anne mendesah berat, ia benar-benar butuh istirahat. Ia masih berdiri di tangga menunggu ayahnya menyelesaikan pembicaraan. "Di mana Popon?" "Seperti biasa Popon masuk bengkel lagi tadi pagi," jawab Anne memberitahu. Ia hendak melangkah namun teringat akan sesuatu. "Apa ibu sudah tidur?" tanyanya. "Ya. Dia menunggu anak semata wayangnya yang tak juga pulang ke rumah dan akhirnya tertidur," kata ayah Anne yang mengunci pintu. Anne segera turun dan menuju kamar orang tuanya. Disana, ia mendapati ibunya telah tertidur pulas. "Maaf, Bu." Dikecup kening ibunya penuh kasih dan rasa bersalah. Meski sudah sedewasa ini, tapi ibunya selalu mengkhawatirkannya jika ia pulang terlambat. "Apa kau menyukai pria tadi?" Ayah Anne berdiri di ambang pintu dan kembali mengungkit masalah yang sama. Sama seperti ibunya, ayahnya juga overprotective padanya. "Ya Tuhan … Ayah, bisakah kita berhenti membahasnya? Itu tidak mungkin ayah, kami baru saling mengenal." Anne mulai jengkel karena ayahnya terus membahas Sean. Anne kembali berjalan menuju kamarnya di lantai atas. "Ayah tidak keberatan selama kau bahagia, jika dia berani menyakitimu katakan pada ayah maka ayah akan memotong tubuhnya dan kujadikan makanan Ling-ling." Ling-ling adalah ikan louhan peliharaan ayah Anne. Bukan bermaksud mencampuri urusan anaknya, hanya saja, ini kali pertama melihat putrinya diantar seorang pria. Sesampainya di kamarnya, Anne melempar tas selempangnya asal dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur empuknya kemudian menatap langit-langit kamarnya dan menutup wajahnya dengan bantal. "Ya Tuhan, Anne ... hidupmu akan kacau sebentar lagi," ucap Anne dengan pikirannya yang masih berpusat pada Sean. Pria yang hampir saja menikmati tubuhnya, ah, tidak, Anne lupa, pria itu pasti sudah melihat setiap inci tubuhnya. Meski mereka tak melakukannya tapi Anne sudah telanjang bulat dan itu artinya tubuhnya telah dinodai oleh mata pria itu. "Kyaaa ...." Anne berteriak. Wajahnya sudah memerah sampai telinga mengingat kejadian memalukan itu dan sekarang pria itu justru berada dalam kehidupannya. Selain itu, bagaimana bisa pria itu dengan mudah mengambil ciuman dari bibir perawannya? Anne mengusap bibirnya dengan kasar berharap jejak bibir Sean menghilang, sayangnya, jejak apa yang Sean lakukan tadi terus berputar-putar dalam ingatan. *** Dalam perjalanan pulang, Sean tak berhenti menyunggingkan senyum tipis mengingat sikap lucu Anne tadi. Ia juga tak bisa berhenti mengingat bahwa bibirnya telah bertemu dengan bibir Anne. Dan rasanya, ia ingin mengulanginya lagi bahkan melakukan lebih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD