Bab 12. TUJUH KURCACI

1126 Words
"Linda! Kamu kemarin muterin dongeng Puteri Salju ya sama pasien?" seorang perawat tiba tiba berteriak panik. "Hah? Iya, di lantai dua, yang nenek Tuti itu. Kan udah biasa? Tiap hari kan?" tanya Linda. "Tapi pasien kamar tujuh belas nonton juga nggak?" "Pasien kamar tujuh belas yang pake kursi roda itu? Ya nggak lah. Kan itu di lantai dua. Bapak itu kan di bawah. Di taman terus. Emangnya kenapa sih?" "Bapak kamar tujuh belas itu ngamuk di depan Mentri." "Iya aku tau, bikin heboh semua orang. Terus apa hubungannya sama dongeng putri salju yang aku puterin di lantai dua?" "Pasien itu ngamuk sambil teriak teriak tujuh kurcaci! Makanya aku nanya, mungkin dia takut atau trauma sama tujuh kurcaci." "Hah? Serius?" "Iya, serius, mana tadi ngamuknya pas di depan mentri lagi. Aduuh.. Bakal diomelin nih kita semua." "Masalahnya aku juga heran, apa sih pemicunya? Pasien itu kan selalu tenang dan nggak pernah ada masalah selama ini." "Makanya itu, karena dia selalu tenang, makanya nggak ketat pengawalannya. Eh, malah ngamuk paaas banget lagi ada kunjungan menteri. Haduuuh.." Ghazi masih sempat mendengar dialog dua perawat itu saaat tergopoh gopoh berlari ke arah kamar Ayah. Tujuh kurcaci? Apa maksudnya? Kenapa ayah tiba tiba menyebutkan tujuh kurcaci? Ghazi membuka pintu kamar Ayah perlahan lahan. Tadi dokter sudah berpesan pada Ghazi untuk berhati hati dan sepelan mungkin agar tidak membangunkan Ayah. Obat Ayah sedang bekerja, itu sebabnya Ghazi harus tenang dan tak boleh sampai membuat Ayah terjaga. Ghazi menatap tubuh Ayah yang kurus kering dan terlihat sangat tua. Ia menghela nafas dan duduk di samping Ayah dengan mata berkaca kaca. Ada apa dengan Ayah hari ini? Apa yang membuatnya mengamuk? Apa itu tujuh kurcaci? Benak Ghazi tumpang tindih dengan pertanyaan pertanyaan yang tak terjawab. Darimana ia bisa mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya ini? Ayah tidak mungkin bisa menjelaskannya. Ibu? Ghazi sudah menyerah bertanya pada Ibu. Karena jawaban ibu selalu tidak tau. Begitu juga dengan Om Dzikri. Bahkan Ghazi pernah bertanya pada istri almarhum Om Herdi, tapi jawaban beliaupun sama dengan Ibu. Ia tak pernah tau, Om Herdi tidak pernah menceritakan secara detail tentang apa yang sedang mereka liput pada saat itu. Menurut istri Om Herdi, itu karena ayah dan Om Herdi tidak ingin keluarga mereka terlibat dan ikut berada dalam bahaya. Ghazi sungguh ingin tau. Bahaya apa? Siapa yang membuat mereka dalam bahaya? Kepada siapa lagi Ghazi bisa menanyakan semua ini dan menuntaskan rasa penasarannya? Ghazi menatap Ayah yang tengah terlelap dengan mata berkaca kaca. Tangan dan kakinya terikat, mencegah Ayah melakukan hal yang bisa membahayakan dirinya sendiri dan orang lain. Dan itu membuat hati Ghazi terasayat sayat. Ayah yang ia cintai harus diikat seperti ini. Sungguh menyakitkan. Hampir tiga jam lamanya Ghazi menunggu, tapi Ayah belum bangun. Menurut dokter karena memang Ayah sedang dalam pengaruh obat. Ghazi memutuskan untuk pulang saja dan kembali mengunjungi Ayah lagi besok pagi. Toh, rumah juga tidak terlalu jauh. Tapi baru saja Ghazi berdiri dari duduknya dan bersiap pulang, tiba tiba Ayah sadar. Ghazi langsung duduk lagi. "Yah? Ayah? Ayah sudah bangun?" panggil Ghazi perlahan sambil menyentuh tangan Ayah. Tiba tiba Ayah langsung membelalak dan menepis tangan Ghazi seolah sentuhan Ghazi tadi membuatnya tersambar aliran listrik ribuan voltase. Ayah langsung memberontak dan berteriak teriak. "GHAZIIII!! GHAZIIII! SELAMATKAN GHAZIII!! ADA KURCACI!! KURCACIIIII!! KAKIKUUUUU!!!" "Ayah! Ya Allah, ayaaah... ini Ghazi yah. Iya ini Ghazi yah.. Ghazi di sini Ayaaah.." "ADA TUJUH KURCACIIII!! GHAZI DALAM BAHAYAAA!! KAKIKUUU! SAKIIIIT!! JANGAAAN!! JANGAAANN!! AMPUUUUUNNN!! KAKIKUUUU!!!" "Dokter! Dokteerr!" Ghazi langsung menghambur keluar, mencari dokter. Sementara Ayah dalam keadaan terikat masih meronta ronta dan berteriak teriak keras. Matanya terbelalak sambil melihat ke sekeliling ruangan. Sorot matanya penuh rasa takut dan was was, seolah ada seseorang yang akan mencelakainya. Tak lama kemudian, tim medis langsung datang ke ruangan Ayah, menenangkannya. Ayah masih meronta ronta. Dokter melihat jam di pergelangan tangannya, lalu menginstruksikan sesuatu pada perawat. Tiga orang petugas medis lainnya tampak berjaga di dekat Ayah. Ghazi menatap mereka semua dengan rasa khawatir. "PANGGIL POLISI! HERDI!! HERDI DAN GHAZI DALAM BAHAYAAA!! ADA TUJUH KURCACI!!" Ayah berteriak teriak penuh ketakutan. Dokter terus menenangkannya. Ghazi hanya menatap dari jauh. Tiba tiba, mata Ayah beradu pandang dengannya. Ayah langsung menangis dan meronta. "GHAZIII! NAAAK! GHAZIII KAMU NGGAK APA APA NAAK?" Ayah berteriak sambil menatap Ghazi, tangannya terikat, tapi ia menunjukkan gesture ingin merengkuh Ghazi. Ghazi tersentak. Ayah mengenalinya!! "Dokter! Tunggu! Jangan disuntik dulu dokter! Saya Ghazi! Saya Ghazi dokter!! Ayah saya mengenali sayaaa!!" Ghazi langsung berteriak pada dokter yang hampir menginjeksikan obat penenang pada Ayah. "Ayahh.. Ayah.. Ini Ghazi yah.. Ini Ghaziii.." "Ghazi? Ghaziii! Kamu nggak apa apa Ghazi?" "Ya Allah Ayaaah.. Iya Ghazi nggak apa apa Yah.. Ini Ghazii Ya Allahh..." Ghazi langsung memeluk Ayah. Ia meminta dokter melepas ikatan tangan Ayah agar Ayah bisa balas memeluknya. Dokter mengabulkan permintaan Ghazi. Dan benar, saat ikatan tangannya terbuka, Ayah langsung menangis dan memeluk Ghazi. "Kamu nggak apa apa? Sudah pulang sekolah? Jangan main bola dulu. Bahaya. Tolong sampaikan sama Om Herdi, Ayah diincar! Ayah, Om Herdi, dan kamu sedang diincar tujuh kurcaci Ghazi!" teriak Ayah sambil memegang erat tangan Ghazi. Ghazi sadar ia harus mengabadikan ini. Ia meminta tolong salah seorang perawat untuk mengambil video mereka melalui ponselnya. Tadinya dokter tidak mengizinkannya, tapi Ghazi memohon, ia bersikeras memohon pada dokter untuk mengizinkannya. Karena iba, dokter mengizinkan. "Ghazi! Kamu ingat baik baik, pulang sekolah langsung pulang! Dan bilang ke Om Herdi, Ayah diincar! Tadi Ayah melihat Herman Rustandi! Dia mengincar Ayah! Dia mencari Ayah sampai ke sini!" teriak Ayah. Nama yang diucapkan Ayah tadi membuat tim dokter saling pandang. Herman Rustandi? Herman Rustandi adalah nama Mentri yang tadi pagi baru mengunjungi tempat ini. Kenapa Ayah tiba berkata kalau ia diincar Herman Rustandi? "Kamu tau Ghazi? Kemarin Ayah dipukuli orang orangnya Rudi Nugroho! Dia ingin membunuh Ayah dan Om Herdi bersama dengan Hendra Setiawan dan Bahar Junaidi!" Ayah mengatakan itu sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Seolah khawatir kalimat kalimat yang meluncur dari bibirnya itu bisa terdengar sampai ke telinga yang bersangkutan. Ghazi maupun tim dokter langsung terkejut. Apa apaan ini? Kenapa Ayah menyebutkan nama nama orang penting? Terhitung sudah empat nama yang di dengar Ghazi. Mentri Sosial Herman Rustandi, Mentri pertahanan Hendra Setiawan, dan dua orang anggota dewan yang juga ketua umum dua partai besar di negeri ini : Rudi Nugroho, dan Bahar Junaidi. Kenapa Ayah menyebut mereka semua? "Ghazi! Dengar Ayah! Bilang Om Herdi, semua catatan itu ada pada Ayah, kamu cari di lemari jati, laci kedua, ada catatan tentang mereka dan juga tentang Gerry Hartono, Ari Suhardi, dan Leo Fernando! Catatan tentang tujuh kurcaci itu ada semua di lemari jati laci kedua! Ingat itu Ghazi!" Ayah menggenggam erat tangan Ghazi sambil menyebutan tujuh nama pejabat penting negara ini. Ghazi tak mengerti, ada apa dengan mereka? Apa mereka tujuh kurcaci yang ayah maksud? Tapi apa hubungan mereka dengan Ayah?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD