Bab 2. BELALANG KUPU KUPU

1161 Words
    Kemenangan tim MU vs ARSENAL adalah kado terindah untuk ulang tahun Ghazi yang ke sepuluh. Sang kapten pun mencetak hattrick. Tiga kali melesakkan bola ke gawang ARSENAL tanpa balas. ARSENAL yang digadang-gadang sebagai tim tak terkalahkan langsung keok di tangan sebelas anak kampung tanpa pemain cadangan yang penuh tekad ingin menang demi sepetak kebun tebu yang akan jadi lapangan baru.     Sejak itu pula Ghazi semakin gila. Lagaknya seolah sudah menyamai Christiano Ronaldo, pemain sepakbola idolanya. Meski sampai sekarang, saat usianya sudah tujuh belas tahun dan memasuki tahun terakhir masa SMA nya, Ghazi tetap saja sering membuat ulah dengan bolanya.     Tak hanya ikan salai yang tengah dijemur ibu yang terkena pantulan bolanya, tapi juga rengginang, kerupuk ikan, cabe kering, dan semua yang tengah dijemur di atap tetangga pernah berjatuhan terkena bola Ghazi. Seolah lapangan tebu tak cukup untuknya.     Untungnya, prestasi Ghazi berbanding lurus dengan kemampuannya di bidang sepakbola. Ghazi selalu meraih juara umum di sekolahnya. Latihan sepakbola tak membuat otaknya tumpul. Kata ayah, kalau diibaratkan hewan, Ghazi itu belalang kupu-kupu. Siang main bola kalau malam baca buku. Ghazi dan ibu tergelak mendengar celoteh ayah yang meniru lagu pok ame ame itu.     Menurut Ghazi, ayahpun belalang kupu kupu. Siang cari uang kalau malam cari ilmu. Ghazi sungguh kagum dengan ayahnya, meski sang ayah tidak kaya, tapi ayah sangat pintar dan bijaksana di mata Ghazi.     Ayahnya adalah wartawan senior di salah satu surat kabar terbesar negara ini. Teman-teman kuliah ayah yang seangkatan, bahkan yang usianya jauh di bawah ayah, rata-rata sudah punya harta berlimpah. Tapi ayah hanya tinggal di rumah sederhana ini, lokasinya di kawasan padat penduduk, dan satu-satunya kendaraan yang ayah punya hanyalah sepeda motor keluaran akhir tahun sembilan puluhan.     “Yah, kenapa gaji ayah kecil? Sementara Om Fajar dan Om Sigit gajinya besar?” tanya Ghazi suatu ketika.     “Ghazi, gaji ayah jangan dinilai besar kecilnya, yang penting cukup untuk kita sekeluarga.” sahut Ayah sambal tetap menunduk. Matanya masih fokus menekuri buku yang tengah ia baca.     “Iya sih, Yah. Ghazi bersyukur. Tapi Om Fajar dan Om Sigit rumahnya bagus dan besar Yah, di dalam kompleks, mobil mereka juga bagus-bagus. Kok Ayah nggak punya harta yang banyak seperti mereka?”     “Ya berarti itu rezeki mereka. Kalau rezeki ayah, ya diberikan istri yang cantik seperti ibumu, dan anak-anak yang sehat dan pintar, dan berakhlak baik seperti kalian bertiga.” jawab Ayah diplomatis.     Ghazi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Maksud Ghazi bukan itu. Yang Ghazi maksudkan adalah kenapa ayahnya berpenghasilan lebih kecil daripada kedua teman seangkatannya itu? Padahal Ayah jauh lebih pintar dibandingkan mereka. Ghazi tau betul hal itu lantaran kedua rekan ayah itu seringkali datang dan meminta pendapat tentang berbagai persoalan di bidang jurnalisme yang tengah mereka tekuni.     Namun Ghazi tak tau, ayahnya menyembunyikan fakta bahwa sangat mudah menjadi kaya meski hanya berprofesi sebagai wartawan. Banyak rekannya yang rela menggadaikan ilmu dan akhlaknya untuk menerima suap dari berbagai pihak untuk bermacam kepentingan melalui penyebaran berita. Mulai dari menggiring opini dengan tujuan memutar balikkan fakta, pencitraan menjelang masa pemilihan kepala daerah, sampai dengan pemberitaan yang berat sebelah tergantung pihak mana yang menggelontorkan dana lebih besar agar para wartawan memihaknya dan memberitakan yang baik untuk dirinya serta yang buruk untuk lawannya.     Begitulah kotornya permainan media. Namun ayahnya bersikeras tak mau terbawa arus. Ia dan Herdi, sahabatnya sejak kuliah memutuskan untuk tetap menjunjung tinggi kejujuran dalam pemberitaan. Meski akibatnya, Ayah dan Pak Herdi selalu berseberangan pendapat dengan pemimpin redaksi dan berujung karir keduanya yang seolah jalan ditempat, tak kunjung mendapatkan promosi.     Tapi ayah tak ingin menceritakan hal itu pada Ghazi. Ia masih terlalu muda. Mungkin nanti, saat usianya sudah cukup, dengan sendirinya ia bisa memilah, mana yang baik, dan mana perbuatan tercela yang tak boleh ditiru.     “Ghazi ingin kuliah jurusan apa?” tanya Ayah mencoba mengalihkan pembicaraan. Ayah tak perlu bertanya letak universitasnya, karena sejauh ini, Ghazi sudah ditawari tiga beasiswa untuk masuk ke universitas ternama.     “Yah.. Mmmm.. sebenarnya Ghazi ingin menjadi pemain sepakbola profesional. Boleh, Yah?”     “Boleh. Ayah izinkan. Tapi harus berimbang antara pendidikan dan karir sepakbolamu, sanggup?”     “In Syaa Allah sanggup, Yah.” jawab Ghazi sumringah. Terbayang sudah seleksi sepakbola yang akan diikutinya bulan depan. Ghazi terus-terusan minta ibu dan ayah untuk mendoakannya agar lolos.     Tiba-tiba ponsel ayah berdering. Ghazi tak bisa melihat jelas nama yang tertera di layar blackberry milik ayahnya. Blackberry warna hitam itu adalah hadiah pemberian Ghazi dua bulan yang lalu. Saat dirinya dinobatkan sebagai pemain terbaik dalam kompetisi sepakbola antar pelajar tingkat provinsi. Hadiah uang tunai yang Ghazi dapat langsung ia belikan blackberry untuk ayah.     Ghazi tak tega melihat nokia ayah yang kondisinya sudah mengenaskan. Bodynya terikat karet agar tak lepas, lantaran bagian pengunci sudah patah dan terpelanting entah kemana. Bukan main senangnya ayah menerima gadget barunya. Disayang-sayang, dilap setiap kali selesai digunakan, dan disimpan baik-baik agar tidak jatuh tergores.     “Bu.. Ke sini sebentar..” Ayah memanggil ibu ke kamar setelah menutup panggilan telepon. Ghazi tau, pasti ada hal penting yang ingin ayah sampaikan pada ibu terkait panggilan telepon barusan.     Ayah mengeluarkan tujuh buah buku pada ibu. Buku-buku tulis biasa, seperti yang sering Ghazi gunakan untuk mencatat pelajaran di sekolah. Hanya saja, milik ayah jauh lebih tebal.     “Bu, ayah harus pergi liputan malam ini juga. Kalau ayah tidak pulang atau terjadi sesuatu pada ayah, tolong berikan buku-buku ini pada Herdi. Jaga baik-baik. Tidak ada yang boleh mengambilnya kecuali Herdi.” pinta Ayah. Ibu mengangguk dengan perasaan khawatir. Entah kenapa.     Padahal Ayah sudah sering liputan ke tempat berbahaya. Meliput saat bencana, meliput di tengah amukan massa saat demonstrasi, meliput di berbagai daerah konflik, bahkan, saat ibu hamil Ghazi, Ayah tengah berada jalur Gaza di Palestina. Tapi ibu tak pernah secemas ini.     Baik ibu maupun Ghazi dan adik-adiknya tak pernah bertanya berita apa yang tengah ayah liput akhir-akhir ini. Ayah beberapa bulan terakhir terlihat sangat sibuk. Berdiskusi dengan Pak Herdi sampai larut malam, berangkat liputan di jam jam yang tak lazim, tidak pulang selama beberapa hari, dan sering menerima telepon di tengah malam. Seperti saat ini, Ayah bersiap berangkat liputan saat waktu menunjukkan hampir pukul sebelas malam.        Ayah mengenakan jaketnya, mempersiapkan tas kerjannya, lalu memeluk Ghazi. Ia juga mencium kening ibu. Anaya dan Sevilla, kedua adik Ghazi yang sedang tertidur pulas dipandangi ayah dengan mata berkaca-kaca. Makin menambah rasa waswas di hati ibu.     “Ghazi, Ibu.. Ayah berangkat dulu ya..” pamit Ayah sebelum naik ke motornya.     “Hati-hati, Yah..” ujar Ghazi dan Ibu nyaris bersamaan.     Dan malam itu, sampai pukul setengah dua dini hari, Ibu tidak mampu memejamkan mata. Padahal ayah sudah biasa liputan malam. Tapi entah kenapa malam ini Ibu sangat khawatir.     Dan tepat pukul dua dini hari, ponsel ibu berdering.     “Halo?”     “Apakah betul ini nomor keluarga Bapak Syarvan?”     “Iya betul, saya istrinya..”     Tiba-tiba ibu terduduk lemas saat mendengar kalimat lanjutan dari lawan bicaranya di seberang sana. Ibu menangis sejadi-jadinya sambal membangunkan Ghazi.     Yang menelepon barusan adalah kepala polisi. Mengabarkan bahwa terjadi sesuatu pada Ayah.     Ibu merasa pandangannya semakin buram. Dan ia pingsan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD