semenjak mengingat kembali masa lalu bersama Mona. mbok parmi hanya bersandiwara saja mengurus sang majikan. terutama hanum, yang memang sengaja ia buat depresi persis seperti anak nya Alin.
" pak bowo, saya mau ke pasar yah...? nanti kalau tuan nyariin... bilang aja ke pasar..."
pamit mbok parmi kepada pak bowo
" siap mba... ngga di anter supir mba...?"
" ngga pak, nanti saya ngojek aja..."
ucap mbok parmi
" ya sudah hati hati yah mba...?"
mbok parmi mengangguk menanggapi ucapan bowo sang satpam penjaga pintu itu.
suasana di rumah johan widjaya kembali hangat setelah adanya Elin sebagai pengganti Alin. Elin hari ini kerja masuk pagi. ia sudah siap dengan berpakaian rapi. hari ini Alin tidak berdebat lagi masalah baju yang akan di kenakan Elin.
" tumben banget sepi, pada kemana yah penghuni nya..."
Elin celingukan meneliti tiap ruangan. Alin yang selalu ikut dengan Elin hanya ikut saja mencari.
" kamu kenapa malah ngikutin aku..."
" ya... abis nya mau ngapain, kan cuma kamu yang lihat keberadaan ku..."
" iya juga sih, oh iya... kamar bunda yang mana sih lin. aku pengin jengukin bunda..."
" yang itu loh, pintu warna putih yang deket kamar tamu... masa kamu ngga tau sih. emang kak Arka ngga ngasih tau yah...?"
" kalau kak Arka ngasih tau ngapain aku nanya sama kamu...?"
ucap Elin sambil nonyor kepala Alin.
" iya juga yah...hihihi..."
" tawa nya jangan kek gitu sih, takut aku..."
canda Elin
mereka pun melangkah menuju kamar sang bunda.
tok... tok... tok...
" bunda... boleh Elin masuk...?"
ceklek...
" boleh dong sayang, ayah sudah jelasin sama bunda. ayo masuk..."
sang ayah membuka pintunya ia pun mengajak Elin masuk untuk melihat bundanya.
" assalamualaikum bunda..."
ucap Elin memberi salam
" wa alaikum salam..."
jawab sang ayah
" bunda hanum belum bisa berinteraksi seperti orang pada umumnya. ayah keluar dulu bentar yah... mau ambil sarapan buat bunda."
" iya ayah..."
Elin bergeming melihat sang bunda yang seolah tak tau akan keberadaan nya. Elin mencoba mendekat di sisi bunda hanum. tatapan mata bunda hanum terlihat kosong. sebenarnya, bunda hanum tidak depresi. itu hanya pengaruh obat yang sering di kasih oleh mbok parmi.
" bunda..."
ucap Elin menggenggam tangan hangat sang bunda.
" Alin... ya alloh Alin anak bunda... huhuhu... hiks... hiks...Alin... akhirnya kamu kembali. tolong bunda lin, tolong bunda..."
bunda hanum menangis di pelukan Elin. ia belum tau kalau Elin sudah kembali.
" bunda... kenapa bunda minta tolong, ada apa sebenarnya..."
saat akan menjelaskan tentang yang di ketahui bunda hanum. tiba tiba, bunda hanum melihat sosok Alin di belakang Elin.
" di belakang kamu siapa lin... kenapa wajah kalian sama...?"
tanya bunda hanum yang melihat kembaran Elin.
" bunda bisa liat Alin...?"
" jadi... dia Alin? kalau dia Alin... lalu, kamu siapa...?"
sang bunda hanum terlihat kebingungan. Elin juga merasa bingung, ketika bunda hanum melihat juga keberadaan Alin.
" sini... biar Alin yang jelaskan..."
Alin mendekati bunda nya, lalu ia menjelaskan siapa sebenarnya Elin. begitu di jelaskan, sang bunda terkejut. karena tidak sengaja mata batin nya kembali terbuka.
" jadi... kamu Alin, dan ini kembaran kamu Elin..."
" iya bunda... kami anak bunda, tapi... Alin sudah berbeda alam..."
" bunda tau... karena bunda tak sengaja membuka mata batin bunda..."
ucap bunda hanum menjelaskan.
" lin... katanya bunda terlihat depresi. mana... ini bunda terlihat baik baik saja kok..."
" memang bunda depresi...? kata siapa...? bunda memang merasa kehilangan Alin. tapi bunda masih waras, tapi... semenjak mbok parmi memberikan obat yang rutin bunda minum? entah kenapa bunda merasa seperti bukan bunda..."
bunda hanum menjelaskan selama ini yang memberikan obat ialah mbok parmi. tapi bunda hanum tak tahu obat apa itu.
" jadi... mbok parmi yang nyuruh bunda minum obat...? di mana obat nya bunda, biar Elin cek. obat apa itu sebenarnya."
Elin geram mendengar cerita kalau mbok parmi yang menyuruh hanum meminum obat.
" sepertinya di bawa sama mbok parmi. tolong bunda nak, tolong..."
mohon sang bunda pada Elin sambil menggoyang goyang kan lengan Elin.
Elin berpikir sejenak untuk membantu bundanya. seketika ide terlintas di pikiran Elin.
" Elin ada ide bunda, gimana kalau bunda pura pura meminum obat yang di kasih mbok parmi...biar entar Elin yang bakalan periksa obat itu..."
" iya tuh bunda... lebih baik gitu, tapi... gimana dengan ayah...?"
Alin setuju dengan ide yang di berikan Elin. tapi ia juga bingung dengan ayah nya. karena pak johan begitu percaya kepadanya.
" jangan sampe ketahuan ayah dulu deh. ntar kalau udah ada bukti baru kita kasih tau ayah..."
bunda dan Alin mengangguk anggukan kepalanya. beberapa menit kemudian, sang ayah masuk membawa sarapan buat bunda hanum.
" maaf yah lama, mbok parmi kepasar soalnya. jadi ayah bikin roti isi sama s**u nya sendiri..."
sang ayah menjelaskan dengan senyum.
" ngga apa apa yah, bunda merespon dengan baik kok obrolan Elin. kalau begitu Elin pamit yah... bunda. hari ini Elin kerja masuk pagi.lanjut kuliah deh..."
pamit Elin sambil mencium punggung tangan ayah bundanya.
********
" APA... jadi Alin sudah meninggal?"
ucap Riri terkejut mendengar kabar Alin kekasih Bian yang meninggal setahun lalu.
" sssttt... kenapa kamu kenceng banget sih ngomong nya. kalau kedengeran Bian bisa berabe tau...?"
telunjuk Arif di tempelkan ke bibir Riri agar tidak berisik.
" iya iya... maaf, emang Bian sampe sekarang belum tau kalau Alin sudah tiada...?"
" APA... maksud loe apa Ri... oh ada Arif juga ternyata. sebenarnya apa yang kalian sembunyikan...? selama ini gue sangat percaya sama loe rif... tapi... loe malah merahasiakan kabar yang harus nya gue tau...?"
seketika Bian langsung masuk di mana ada Riri dan Arif yang tengah membicarakan Alin.
Bian terlihat sedih, ia menitikan air mata sedih nya. kala mendengar kabar Alin sudah tiada. satu tahun... ia tak di beri tahu tentang kematian Alin.
" kenapa loe tega banget rif sama gue...? gue mengira kalau Alin sedang kuliah di luar negeri bersama kakak nya. pantas saja tiap gue telfon nomer nya ngga aktif...gue pikir Alin sedang fokus belajar...hiks..."
Bian terlihat sangat kecewa dengan Arif sahabat yang sudah seperti saudara itu.
" maaf Bi... jujur gue juga bingung waktu itu buat membiarkan loe tau sendiri. dan... benar saja, loe tau dengan sendirinya. setidak nya itulah yang di bicarakan papa loe saat loe masih terbaring di rumah sakit..."
Arif menjelaskan tentang dirinya yang menyembunyikan tentang kebenaran mengenai kabar Alin.
" jujur... gue kecewa sama loe rif, harus nya loe tau. kalau gue itu udah percaya sama loe. tapi... loe malah hancurin kepercayaan gue..."
Bian terlihat emosi, ia pun melangkah meninggalkan Arif dan Riri.
" rif... kamu yang sabar yah, mungkin Bian sangat shock mendengar kabar kekasih nya yang sudah tiada. mana satu tahun lagi. nanti kalau Bian sudah sedikit tenang. kamu coba jelaskan secara perlahan..."
Riri mencoba menasehati Arif yang terlihat sedih. saat Bian memakinya dengan rasa kecewa nya.
saking buru buru ia setengah berlari, ia tak sengaja menabrak tubuh Elin.
" aduh...ssshhh..."
Elin mengaduh kesakitan, terlihat lutut nya lecet karena tergores jalanan yang sedikit berkerikil.
" maaf maaf... gue ngga sengaja..."
Bian membantu Elin bangun dari jatuh nya.
" kamu Bi..."
" eh... Elin, ya alloh... maaf yah El. kaki kamu ngga apa apa...?"
" ngga apa apa kok, cuma lecet dikit..."
ucap Elin sambil membersihkan sisa kotoran tanah yang menempel di baju Elin. terlihat Elin berjalan pincang...
" loh... katanya ngga apa apa, tapi kenapa jalan nya pincang gitu El...?"
" sshh... aduh... sepetinya kaki ku terkilir Bi... ssshhh..."
" ya udah... sini aku bantu obati kakinya..."
Bian menuntun Elin untuk duduk di kursi yang tersedia.
" emang kamu bisa Bi..."
" insya alloh..."
jawab Bian, sambil memegang kaki yang memerah akibat terjatuh tadi. perlahan Bian mengurut kaki Elin perlahan.
" kamu tahan bentar yah lin, ini bakalan sakit. tapi abis ini kamu ngga bakalan ngerasain sakit lagi."
Elin mengangguk, Bian pun sedikit menekan kaki yang terkilir, dan memutar kaki Elin hingga berbunyi klik...
" aaakkkhhh... sss... hhhmmmppp..."
suara Elin tertahan, ia meraskan sakit akibat gerakan yang di lakukan Bian. Elin menutup mulut nya, agar tidak terjadi keributan.
" maaf maaf... sakit banget yah, coba deh kamu berdiri. sini pegang tangan aku ngga apa apa..."
Elin berpegangan tangan Bian, ia mencoba bangun perlahan. dan berjalan...