triple dating

1727 Words
warna jingga memancar begitu indah nya, sungguh luar biasa ciptaan sang kuasa. banyak para muda mudi yang rela mengabadikan momen kebersamaan nya di dekat pantai bersama pasangan. atau keluarga tercinta. tapi tidak dengan ke empat muda mudi yang tengah berboncengan motor. Arif dengan Riri, sedangkan Elin dengan Rio. mereka akan menjenguk Bian sekalian mampir ke tempat salsa. kakak Arif, yang memang tempat nya bersebelahan dengan tempat tinggal Bian. beberapa menit kemudian, mereka sampai tujuan. mereka turun dari motor masing masing... Elin menunggu Rio dan Arif memakirkan motornya. setelah motor parkir dengan sempurna. mereka bergegas masuk kedalam rumah Bian. " assalamualaikum..." ucap mereka serentak. mendengar salam serentak dari ke empat teman nya. Bian bangkit dari berbaring nya. " wa alaikum salam..." ucap Bian sambil membuka pintu. " eh... kalian, ya alloh... masuk masuk. maaf yah kalau tempat nya kurang nyaman..." Bian berucap dengan merendah. " ngga kok Bi, ini terlihat nyaman kali. tempat apapun itu, kalau kita tinggal dengan pasangan yang kita kasihi pasti terlihat nyaman..." Elin berucap tanpa beban, seketika hati Bian menghangat mendengar kata yang di lontarkan Elin. " cie... cie... kode tuh Bi..." kini Arif dan Rio yang berucap. mereka emang seneng menggoda Elin. " apaan sih... kode kode, emang brangkas pake kode...?" Elin membalas candaan Arif dan Rio. Riri terlihat diam di sisi Arif, kini Riri tak berani untuk berharap. karena Riri selalu mendapat teror dari makhluk. semenjak Riri pasrah kini Riri sudah mulai tak mendapat teror lagi. " eh... jangan salah El, hati Bian udah mirip brangkas kali... harus pake kode. dan kayak nya cuma kode loe deh El yang masuk..." Arif mencoba bercanda dengan tepat. " au ah... oh iya Bi, kok kamu ngga ngabarin sih... kalau mau kemakam Alin?" " emang loe kenal dengan Alin?" tanya Rio " kenal dong, makanya gue penasaran sama makam nya. lain kali kalau mau ke makam Alin kabarin gue yah...?" ucap Elin dengan memandang wajah sayu Bian. Bian hanya menanggapi celotehan Elin dengan anggukan. Bian merasa Elin ada hubungan nya dengan Alin. " Bi... pakde kemana? kok ngga keliatan sih..." Arif terlihat celingukan mencari sosok pak yanto. " papa gue kerja sif malem rif, jadi gue sendirian di rumah. oh iya... kalian mau minum apa. biar gue pesenin..." Bian terlihat mengambil ponsel yang tak jauh dari tempat duduk nya. " ngga usah rif, biar gue aja yang minta tolong kak salsa..." Arif berucap sambil melirik Rio. mendengar nama salsa, Rio jadi salah tingkah. terlihat jelas dengan tingkah Rio yang duduk dengan tak tenang. " kak Rio kenapa? kok jadi gelisah gitu denger nama salsa... cie... yang mau ketemuan...?" Elin balik menggoda Rio. " eh... enggak lah, mana ada kayak gitu. gue cuma... eee... itu... eee..." Rio tak bisa menutupi kegugupan nya di depan teman temannya. mereka yang melihat tingkah Rio pun tertawa... " Rio... Rio... semakin loe gugup. udah pasti semakin loe ngga bisa berucap... hahaha..." Bian akhirnya berucap lalu tertawa terbahak melihat raut wajah Rio yang merah menahan malu. " iya Rio... ngga usah di tutupin juga udah keliatan kalau loe lagi gugup Rio...?" Riri pun menggoda Rio " hmmm... pada kompak nih godain gue, oke... ntar tinggal kalian yah yang gue godain..." mereka bercanda dengan Rio sebagai candaan nya. tiga puluh menit kemudian... Arif masuk membawa minum. di susul dengan salsa yang membawa cemilan. Rio semakin salah tingkah melihat salsa yang terlihat anggun dengan memakai hijab pasmina instan. " ekhem... ekhem... wah... ada yang beda nih..." Elin mengedipkan matanya mengarah ke Rio yang tengah menatap salsa. " udah kali woy...jangan lama lama menatap nya..." Arif mengusapkan tangan nya ke muka Rio. " mbuah... ish... tangan loe bau terasi Rif. jorok banget sih loe...mbuah..." terlihat Rio keluar menuju keran yang ada di luar. melihat Rio yang cuci muka, salsa bergegas menyusul Rio dengan memberi handuk kecil untuk mengelap wajah nya yang basah. Salsa mengulurkan handuk kepada Rio. Rio yang tak melihat hanya menarik handuk lalu dengan segera mengusap kan handuk kecil ke mukanya yang basah. " ma ka sih... Salsa..." Rio terbata mengucap makasih kepada salsa. " sama sama... kalau udah yuk masuk, di minum dulu teh nya..." Salsa beranjak dari jongkok nya. " tunggu sa... boleh bicara empat mata saja ngga di deket taman situ..." Rio tiba tiba mendapatkan keberanian untuk mengajak Salsa ke taman dekat rumah. " eeemmm... emang ngga bisa di sini aja Rio..." " ngga bisa, entar ada yang denger bahaya...mereka yang di dalem masih di bawah umur..." canda Rio, tapi... candaan nya di anggap serius oleh Salsa. Salsa memandang aneh terhadap Rio. melihat respon Salsa, Rio menarik paksa tangan Salsa menuju taman depan rumah Bian. Salsa berusaha melepaskan genggaman tangan Rio. sesampai nya di taman, terlihat salsa melepas pegangan tangan Rio. " lain kali ngga boleh pegang tangan segala... kita kan bukan mukhrim..." salsa berucap dengan nada tak suka pada Rio. " oke... oke... gue minta maaf, jujur gue mau ngomong penting sama kamu..." karena saking gugup nya, Rio pun berbicara dengan tak tenang. melihat gelagat Rio yang tengah tak tenang... salsa memahami situasi nya. " iya... ya udah, kita duduk di bangku situ dulu. ngga enak ngobrol nya kalau berdiri begini..." salsa duduk terlebih dulu di bangku taman. Rio mengikuti duduk di sebelah salsa. Rio menjaga jarak duduk nya. karena Rio sedikit tau kalau perempuan berhijab tak bisa sembarangan untuk di dekati. apalagi tadi salsa sempat marah gara gara di genggam tangan nya. melihat reaksi salsa yang tidak suka di pegang tangan nya. membuat Rio semakin yakin kalau salsa gadis yang tepat untuk di jadikan calon istri. " salsa... sebelum nya gue minta maaf, karena jujur saja gue mau ngajakin kamu ke rumah. ayah sama bunda ngajak kita dateng malam ini buat makan malam. apa kamu berkenan...?" ucap Rio tanpa basa basi. " HAH... ngajakin ke rumah buat makan malam? kan kita baru kenal kemarin... kenapa kamu jadi ngajak aku ke rumah kamu...?" salsa terkejut mendengar ajakan Rio yang tiba tiba. " jangan salah paham dulu, gue emang udah cerita sama ayah bunda. kalau malem ini bakalan ajak salsa ke rumah. ngga usah takut, mereka hanya mau kenal lebih dekat kok sama kamu...?" Rio sedikit berkilah, tujuan Rio berkilah agar salsa mau dengan ajakan nya. " kok... rasanya ada yang aneh...? jujur gue bisa liat dari sorot mata dan gelagat kamu. seprtinya kamu sedang merahasiakan sesuatu...?" salsa memandang Rio dengan penilaian nya. " waduh... kenapa bisa tepat sekali perkiraan nya, udah seperti psikolog aja nih salsa... apa lebih baik gue jujur saja yah...?" dalam hati Rio pun berkata demikian. " kok bengong, berarti bener ada yang di sembunyiin dari aku yah...?" " eeemmm... oke, gue mau jujur sama kamu. sebenarnya gue mau kenalin kamu ke orang tua gue sebagai calon istri gue sa..." " APA... kok bisa...? kamu kan ngga kenal aku. dan juga aku ngga kenal kamu...? kok bisa mau bawa aku kenalin sama orang tua kamu...?" terlihat salsa begitu terkejut dengan penuturan yang di sampaikan Rio. " sa... jujur, aku pertama kali melihat kamu udah merasa kalau kamu beda. kamu dewasa, udah gitu kamu juga benar benar bisa jaga diri. aku salut sama kamu. makanya aku mengatakan seprti ini tu... udah bener bener bepikir semalaman... walau kamu lebih tua dari aku...tapi aku yakin sama kamu..." ucap Rio dengan wajah serius nya, sambil menatap ke jalan.ia nampak serius berkata dari hati. " dan...aku minta tolong banget sama kamu sa. mau yah... kita kan bisa kenal dulu. dan aku ngga maksa kamu buat nikah sama aku kok. karena aku juga mau lulusin kuliah dulu..." mohon Rio, kini wajah nya menatap lekat wajah salsa. kali ini, salsa melihat dalam sorot mata Rio ada keseriusan. " aduh... gimana yah Rio, aku juga bingung..." kini salsa yang merasa kebingungan akan ngasih jawaban apa. " kenapa bingung, kamu ragu sama aku...? oke aku bakalan buktikan sama kamu. kalau aku ini lagi ngga bercanda..." Rio bangkit dari duduk nya, lalu bergegas mengajak salsa untuk kembali ke rumah. Rindy dan Arif tengah berbicara di teras rumah Bian. sedangkan Bian dengan Elin masih asik bercengkrama di ruang tamu Bian. dengan di temani teh hangat yang di buat kakak Arif salsa. " rif... itu Rio sama kak salsa dari mana?" tanya Rindy yang melihat Rio berjalan beriringan dengan salsa. " gue juga ngga tau, kan dari tadi di sini sama loe Ri. wah... gercep juga nih Rio..." ucap Arif sambil geleng kepala melihat tingkah teman kerja sekaligus kuliah nya. Arif sudah tak lagi khawatir mengenai perjalanan asmara sang kakak dengan Rio. Arif percaya kalau salsa pasti bijak dalam menangani masalah yang ia hadapi. " Bi... sudah sore nih, gue balik yah... ngga enak sama Rindy..." Elin beranjak dari duduk lesehan nya, ia merapikan bajunya sebelum melangkah keluar rumah. " terus kamu pulang bareng siapa El? kan Rio udah sama salsa... sedangkan Arif sama Riri...?" pancing Bian, agar tau apa yang akan Elin jawab. " tenang... gue bisa pake Gojek, nih mau pesen buat pulang ke rumah..." jawab Elin sambil mengambil handphone nya. " jangan El... gue anterin yah? gue juga jenuh udah tiga hari di rumah mulu. pengin cari angin di luar..." " tapi kan Bi...?" " udah yuk... aku udah sehat kok, ayo... ntar keburu malem loh... aku kabarin papa dulu yah...?" Potong Bian kala Elin akan menolak ajakan Bian. Elin pun mengangguk pasrah lalu tersenyum memandang Bian yang tengah mendial nomer papa nya. setelah berpamitan dengan papa Bian. Elin dan Bian keluar bersama. Elin terlebih dulu membereskan gelas bekas mereka minum yang masih di nampan ke belakang. ketika mereka keluar, ada Arif dan Rindy sudah berada di atas motor sedang menunggu Rio dan salsa yang tengah meminta izin akan membawa salsa ke rumah Rio. Rio keluar dengan muka yang masih tegang, tapi... ada senyum bahagia mengembang di bibir nya. " eh... Bi, loe mau kemana?" tanya Rio " gue mau nganterin Elin, kasian dia ngga ada yang nganterin..." jawab Bian sambil membawa helm untuk Elin. " oh... iya yah, gue lupa... Elin kan tadi bareng gue. sorry ya Bi... gara gara gue loe jadi repot..." " ngga apa apa kok Rio, gue juga suntuk di dalem rumah mulu. rasanya pengin jalan jalan bentar keluar..." Bian tersenyum ramah, karena melihat raut muka Rio yang merasa bersalah. " ya udah yuk... kita jalan...kita udah seperti sedang ngedate bertiga nih kalau gini..." mendengar penuturan Arif seketika mereka tertawa. memang benar yang Arif katakan karena mereka bertiga berpasangan. Elin dengan Bian, Arif dengan Rindy. dan Rio dengan salsa...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD