" assalamualaikum pah... "
ucap bian sambil mengulurkan tangan nya untuk bersalaman dengan sang papa.
" waalaikum salam Bian... ya alloh Bi... ada apa lagi ini Bi. semenjak kamu mengenal Alin, kamu sering banget pulang dalam keadaan bonyok begitu Bi... "
jawab pak yanto papa Bian sambil bertanya.pak yanto begitu sedih melihat anak satu satunya pulang dengan keadaan terluka.
pak yanto menerima uluran tangan Bian. di elus nya rambut sang anak yang sudah tak serapi pada pagi hari. lalu pak yanto pun memeluk sambil menangis tergugu dalam pelukan Bian
" pah... Bian tidak apa apa kok pah, ini semua tidak ada kaitan nya dengan Alin pah. jadi tolong jangan bawa bawa nama Alin di sini... "
Bian pun mencoba menjelaskan
" iya pakde... itu tadi Bian di keroyok sama pereman. jadi nggak ada sangkut paut nya dengan Alin... "
Arif yang sedari tadi memperhatikan interaksi anak dan papa nya itu pun, ikut membantu menjelaskan.
" kalian mungkin belum paham, tapi... saya sebagai orang tua tahu betul bagaimana rasanya tak di restui. orang tua Alin menginginkan Alin mendapat jodoh yang sejajar dengan keluarga nya Bi. kita hanya kalangan bawahan, yang tidak mungkin bisa menggapai seorang putri bangsawan. istilah nya seperti itu, Arif, Bian... kalian paham tidak...? "
pak yanto pun menjelaskan sedikit yang pak yanto tau.
" enggak...? "
jawab mereka berbarengan
" ya sudah lah... susah ngomong sama anak yang belum tau wawasan luas. ayok Bi... masuk obatin luka luka mu. Arif... tadi papa mu bilang, kalau mau makan? goreng telor aja rif..."
pak yanto pun pasrah,karena mereka tak paham dengan yang di jelaskan.
papa Arif bekerja sebagai tukang ojeg.sedangkan mamanya bekerja sebagai tukang cuci dari rumah ke rumah.papa nya berpesan demikian kepada pak yanto.Arif hanya mengangguk sebagai jawaban iya...
di kediaman Alin...
" gimana kerja nya hari ini lancar kan?"
ucap ayah Alin dalam sambungan telepon seluler nya.
tak lama Alin sampai di rumah nya.kebetulan hanya ada ayah nya saja yang di rumah.karena bunda Alin sedang ada keperluan di luar.
" assalamualaikum..."
ucap Alin memberi salam, sambil menghampiri sang ayah yang sedang duduk di sofa. Alin mengulurkan tangannya, lalu mencium punggung tangan ayah nya.
saat Alin hendak naik ke lantai Atas. ayah nya mengehentikan langkah Alin. untuk duduk di depan ayah nya.
" Alin... tunggu, duduk sini bentar ayah mau bicara... "
ucap sang ayah
" gimana dengan sekolah mu lin...?"
tanya sang ayah Alin
" baik yah... semua berjalan semestinya. emang ada apa ya yah? nggak biasanya ayah nanya kayak gitu... "
jawab Alin dengan balik bertanya kepada ayah nya.
" Alin... apa kamu lupa, kalau kamu sudah janji sama ayah. tak akan dekat dekat lagi dengan Bian?"
ayah Alin pun menjelaskan
Deg...
" ya alloh... apa mungkin ayah tau kalau aku berbicara dan saling bercerita dalam kelas? tapi... ish... stupid... kenapa aku bisa lupa. kalau ayah bisa membayar mata mata untuk sekedar memata matai ku... "
Alin berkata dalam hati
terlihat Alin gelisah dalam pandangan ayahnya.lalu ayah nya tersenyum smirk. sebuah senyuman yang membuat orang tak bisa menebak. senyuman gembira kah? atau senyuman ancaman.
" kenapa lin... kamu masih ingat kan? kalau kamu masih saja bertemu dengan Bian. maka kejadian seperti tadi siang akan terulang... "
" maksud ayah apa...? "
Alin terkejut dengan pernyataan ayah nya. sontak Alin bangkit dari duduk nya.
" coba kamu liat video ini... kamu pasti tau... "
sang ayah menyerahkan handphone smart nya.
Alin menerima uluran tangan ayahnya dan mengambil handphone sang ayah.
Alin pun memencet video itu. Alin menutup mulut nya terkejut melihat adegan,dimana Bian tengah di pukul di bagian wajah dan perut nya.
Alin menghentikan video yang masih berputar itu. Alin menangis terisak sambil terduduk di lantai.
" sekarang kamu tau kan lin... ayah tidak main main dengan ucapan ayah. kalau kamu masih saja diam diam bertemu dengan Bian. maka... kejadian seperti tadi akan berulang... "
ucap sang ayah tegas depan Alin,yang sedang menangis.
" kenapa ayah tega yah... KENAPA...? "
Alin pun berteriak sambil menekankan kata kenapa
" semua orang tua itu ingin yang terbaik untuk anaknya lin... begitu pun ayah...
ayah ingin yang terbaik buat kamu... "
" apa yang terbaik buat Alin yah? Alin tak butuh semua ini... Alin hanya ingin Alin bahagia dengan pilihan Alin yah... apa salah nya? "
" bahagia katamu? mungkin untuk saat ini kamu bahagia. tapi ntar kalau kamu sudah bersamanya dengan hidup sederhana... kamu akan tau. bahwa harta adalah segalanya... "
sang ayah pun menjelaskan dengan penuh rasa percaya diri nya.
" itu menurut ayah... tapi tidak menurut ku yah? tolong yah, ijinkan Alin bahagia bersama Bian yah. Alin cuma ingin bersama Bian... Alin janji... apapun yang ayah perintahkan Alin akan turuti. asal Alin bisa hidup bersamanya... "
akhirnya Alin memohon pada ayah nya. agar mendapat restu dari ayah nya.
" sudah tak ada tawar menawar, mau tidak mau... suka tidak suka... kamu harus menjauhi Bian. kalau kamu masih melawan ayah. maka kamu akan melihat langsung bagaimana penyiksaan para pereman ayah menyiksa Bian... "
ayah pun membantak Alin dan mengancam nya.
Alin menangis sesenggukan sendiri dalam rumah. sepeninggalan ayah nya pergi. sungguh Alin merasa bingung, Alin tidak tahu harus berbuat apa...
Alin bangkit dari duduk nya yang sedari tadi duduk di lantai. ia menuju kamar nya yang terletak di lantai dua. ia berjalan dengan lesu maniki anak tangga.
ceklek...
pintu kamar Alin terbuka, ia langsung masuk dan menutup pintu kamar tak lupa menguncinya dari dalam. Alin rebahan di atas kasur empuk nya. ia masih teringat dengan ancaman ayah nya. lalu... ia menangis kembali. air matanya seolah tak bisa mengering.
Alin teringat akan kakak nya yang di luar negeri. Alin mencoba menghubungi kakak nya. untuk menceritakan ancaman sang ayah.
tut... tut... tut...
bunyi sambungan telfon dari handfhone Alin. lama tak ada jawaban dari kakak nya.
" halo... "
terdengar sautan dari kakak Alin dengan suara khas orang bangun tidur.
" halo kak... kakak baru bangun? "
" eh... Alin, iya dek... di sini masih jam 3 pagi. kalau di sana jam berapa?"
" masa sih kak, di sini udah jam 1 siang kak... maaf yah kak kalau Alin ganggu... "
ucap Alin tak enak hati
" emang ada apa sih dek, seperti nya kamu sedang ada masalah... "
" iya kak, tadi nya Alin mau cerita. tapi entar deh kak. sepertinya kakak masih ngantuk. ya udah lanjut tidur lagi aja kak... bay... "
" ya udah... ntar kalau di sini udah siang kakak yang telfon adek... bay adek cantik... "
sambungan telfon pun terputus. niat nya untuk bercerita malah di sana masih terlalu pagi. karena lelah menangis Alin pun tertidur dengan masih mengenakan seragam sekolah nya.