malam semakin larut... udara di malam hari terasa begitu dingin. walau rembulan menyinari malam yang indah ini. tapi... sang angin tak ingin absen dari hadir nya malam hari.
Rio nampak melamun memandang rembulan yang begitu bulat sempurna di atas langit sana. entah mengapa... Rio rasanya enggan buru buru sampai tujuan nya. aneh memang, tapi itulah yang Rio saat ini rasakan. hingga tak terasa Rio sudah berada di depan rumah. dimana rumah megah yang ia sering singgahi. Rio membayar tagihan yang tertera di layar taksi. ia sisihkan sedikit untuk sang pengemudi yang terlihat sudah tak muda lagi.
Rio berjalan memasuki rumah sang ayah lewat pintu samping. ia berjalan pelan... tanpa ingin di dengar oleh penghuni rumah. ia membuat langkah mengendap, tujuan nya agar tak ada yang mendengar. ia tak ingin sang bunda kembali mengomel padanya jika pulang terlalu larut malam.
saat hendak membuka pintu, ia mendengar sayup suara sang ayah berbicara lewat telfon yang berada di atas balkon kamar nya.
karena keadaan sunyi sepi... suara sang ayah pun terdengar dengan jelas di telinga Rio.
" gimana cika, emang dia sudah lulus kuliah?"
" oh... kalau Rio baru saja masuk kuliah, kalau mau tunangan dulu juga tidak apa apa..."
" iya... soal nya saya liat juga Rio belum punya pacar tuh... jadi ngga apa apa lah..."
" iya ngga apa apa... biar dia lebih tanggung jawab lagi. biasanya dia selalu pulang malam... kalau udah berkeluarga mungkin dia akan berubah..."
" gimana kalau minggu depan kita adakan acara makan bersama. sekalian tunangan..."
" oke... iya, sama sama..."
Rio melebarkan mata kala mendengar obrolan sang ayah dengan orang tua cika.
" APA... jadi gue mau di jodohin nih ceritanya. hmmm... ngga bisa di biarin nih. tapi... mau gimana lagi yah, gue mesti cari pacar buru buru nih..."
gumam Rio masih di depan pintu.
" tapi... mana ada orang yang buru buru pacaran. kenal juga belum...?"
" dan yang jadi pertanyaan nya adalah...? siapa yang mau jadi pacar dadakan gue...?"
Rio terlihat frustasi, ia mengacak rambut nya. seketika ide cemerlang terlintas di otak gesrek nya... ia pun masuk dengan raut wajah gembira.
" darimana saja kamu...? kenapa jam 11 baru sampe rumah Rio?"
tanya sang ayah dengan nada tinggi.
" namanya juga cowok yah, kalau di rumah aja ntar cucok gimana? kan ngga lucu..."
ucap Rio sambil senyum meledek sang ayah.
" RIO... ayah nanya, malah di anggap candaan. emang kelewatan kamu yah...?"
papa Rio terlihat murka, karena Rio yang menjawab dengan candaan nya.
" iya yah maaf... tadi Rio abis bantuin temen bawa motor mogok. makanya pulang nya malem..."
" ya udah... masuk sana... kalau mau kemana mana tuh biasakan pamit. paling tidak ngomong kek sama bunda. dan satu lagi... jangan pernah bohongin ayah...sama bunda... denger kan Rio...?"
" iya yah... Rio denger... kalau gitu, Rio naik ke atas dulu ya yah...?"
ucap Rio pada akhirnya, ia tak ingin ayah nya melanjutkan kata katanya mengenai yang ia dengar tadi. mengenai perjodohan nya dengan cika.
*************
keesokan harinya, di rumah Rio terlihat sedikit ramai. karena kedatangan tamu yang tak lain adalah cika. calon untuk Rio, cika sengaja dateng pagi pagi untuk mengambil hati sang calon mertua. ia terlihat membantu bibi di dapur.
melihat cika yang bersungguh sungguh mengerjakan sesuatu di dapur. sang bunda Rio merasa terharu.
" cika... kamu kapan dateng nak...?"
tanya bunda Rio menghampiri cika di meja dapur.
" eh... tante, tadi pagi tan. kira kira jam 6 lewat lah... maaf ya tan. cika ngga ngabarin dulu... cika melihat bibi sendirian di dapur jadi ikut bantuin dikit tan... hihihi..."
ucap cika menjelaskan dengan nyengir sambil menampilkan deretan gigi putih nya yang rapi...
" duh... calon mantu idaman nih kayak nya..."
" ah tante bisa aja..."
terlihat cika malu malu dengan raut wajah merona.
" Rio belum bangun tan...?"
" belum cik, semalem pulang malem kayak nya. mungkin bentar lagi, kenapa...? kamu ada janji sama Rio...?"
sang bunda menjelaskan sambil menata piring di meja makan.
mendengar kata janji, cika hanya menggeleng pelan. sambil menunduk menyembunyikan wajah merona nya.
" emang dari mana? kok pulang nya malem tan...?"
" tante juga ngga tau cik, semalem sama ayah nya. kalau tante sih udah tidur dari jam 10... jadi ngga tau Rio darimana...?"
cika hanya mengangguk anggukan kepalanya sambil berpikir.
" ngga mungkin Rio kencan kan? kan dia belum punya pacar kata ayah nya. tapi darimana yah...?"
ucap cika dalam hati.
semua hidangan sudah tersedia, bibi membuat nasi uduk. tak cuma itu, roti isi pun ada. biasanya Rio enggan makan nasi di pagi hari. persis seperti ayah nya.
yang lebih memilih memakan roti daripada makan nasi. mungkin udah bawaan orang jerman kali yah...?
" kok belum pada turun sih, tumben..."
gumam bunda Rio
bunda Rio akhirnya menyusul ayah dan anak yang masih belum terlihat keluar kamar.
" yah... tumben ngga langsung turun. sarapan udah siap yah...yuk turun... bunda mau panggil Rio dulu..."
terlihat bunda Rio menghampiri suaminya dengan lembut ia berucap sambil mengelus pundak suami tercinta.
" iya bun bentar lagi, kalau bunda mau panggil Rio panggil dulu sana. nanti ayah nyusul..."
ayah Rio berucap sambil menggenggam tangan bunda Rio.
sang bunda mengulas senyum sambil mengangguk pelan. ia beranjak dari kamar nya menuju kamar sang buah hati nya.
tok... tok... tok...
" Rio... kamu udah bangun nak, bunda masuk yah...?"
ceklek...
" Rio..."
sang bunda Rio menyusuri kamar sang anak. karena tak terlihat Rio ada di kamar. lalu ia berjalan menuju balkon yang ada di kamar Rio.
terlihat Rio yang tengah melamun dengan handuk yang masih berada di kepala nya...
" anak bunda mikirin apa sih...? sampe segitunya...bunda panggil juga ngga denger..."
ucap bunda Rio sambil mengelus punggung anak lelakinya yang kini mulai beranjak dewasa.
" ya alloh bunda... kaget bun, Rio lagi ngga mikirin apa apa kok bun...? paling mikirin pelajaran sama kerjaan?"
Rio berkata sambil menatap wajah bundanya.
" oh... kirain mikirin sesuatu gitu, eh... ada cika loh di bawah. yuk kita temuin sekalian sarapan...?"
" hah... cika bun? tumben tuh orang pagi pagi udah di sini...?"
" iya... kirain ada janji sama kamu sayang...?"
" ngga ada bun, Rio malah ada kuliah pagi bun. jadi mana mungkin ada janji...hehehe..."
" ya udah... yuk turun, kamu sisir dulu deh rambut kamu..."
sang bunda berlalu menuju keluar.
" iya bun... nanti Rio nyusul ya bun...? mau beres beres dulu nih..."
ucap Rio
sang bunda hanya mengagguk dengan senyum nya. sang bunda menutup pintu kamar Rio.
" ngapain tuh cewek dateng pagi pagi gini coba...issshhh..."
gumam Rio sambil merapikan rambut nya yang masih basah.
Rio terlihat lebih segar setelah mandi. dia terlihat tampan dengan dandanan nya yang rapi. ia turun melalui tangga. melihat Rio turun, cika memandang nya dengan intens. cika tak bisa berpaling dari pandangan yang Rio tampilkan.
" ekhem... cika, makanan nya kan di meja bukan di tangga cik...?"
ujar bunda Rio dengan candaan nya.
mendengar candaan bunda Rio cika hanya menunduk dan tersenyum malu. karena sudah ketahuan memandang Rio tanpa kedip di depan kedua orang tuanya.
" duh... anak bunda ganteng banget pagi ini. sini duduk... sarapan dulu yah...?"
sang bunda menggeser bangku sebelah cika.
Rio masih dengan mood cool nya di pagi hari. ia sebenarnya tidak suka dengan cika. tapi... ia juga tak ingin menampakkan ketidak sukaan nya di depan kedua orangtua.
" ekhem... sebelum nya ayah mau bicara sama kalian Rio, cika..."
ayah Rio berdehem sebelum mengutarakan apa yang akan di bicarakan.
cika dan Rio sontak mendongak menatap wajah sang ayah. cika yang sudah mendapat bocoran dari papi nya merasa deg degan. tapi tidak dengan Rio, ia memang sudah tau. tapi Rio memilih bungkam, agar sang ayah berkata terlebih dulu.
" jadi gini Rio, papi cika dan ayah berencana menjodohkan kalian. dan acaranya minggu depan. kamu ngga keberatan kan Rio...?"
ucap ayah yang mengungkapkan tentang perjodohan nya.
" APA... kok ayah ngga ngomong dulu sama Rio yah? kan Rio masih muda yah... Rio juga baru tengah semester kuliah nya yah...?"
protes Rio yang pura pura terkejut.
" ayah pikir kamu bakalan setuju dengan pertunangan ini. kamu kan belum punya calon. lagian ini tunangan aja dulu..."
" siapa bilang Rio ngga punya calon? Rio punya kok, Rio ngga ngasih tau ayah bunda karena Rio pikir entar aja nunggu waktu yang tepat..."
Rio mencoba memberi alasan nya.
mendengar Rio sudah punya calon, cika terlihat cemburu. tapi ia pendam rasa itu, karena ia ngga mau kalau calon mertua nya menganggap dia ngga bisa jaga sikap.
" oke... kalau Rio punya calon yang Rio harapkan... ayah minta. malam ini bawa cewek idaman kamu ke rumah. bisa Rio...?"
ucap sungguh sungguh sang ayah dengan senyum devil nya.
" mampus gue, aduh... tadi nya kan cuma buat alasan saja. kenapa jadi rumit... huh..."
batin Rio pun berkata.
" oke... ntar malem Rio bawa ke rumah..."
Rio pun tak kalah sungguh sungguh nya.
sang ayah hanya mengangguk anggukan kepalanya. mereka melanjutkan makan nya yang tertunda gara gara ucapan sang ayah yang dadakan mengatakan tunangan.
cika hanya mendengar tanpa mau berucap sedikit pun. ia tak ingin merusak sarapan pagi bersama dengan calon mertuanya. ia berpikir keras mengenai nanti malam. ia juga ingin hadir di acara makan malam. apa alasan nya yah...?
usai sarapan, Rio beranjak dari duduk nya lalu mengambil tangan bunda untuk ia cium punggung tangan nya. melihat sikap nya yang berubah. sang bunda terharu, ia mengusap rambut anak nya sekilas.
" bunda... kenapa bunda nangis... kan Rio cuma pamit mau kuliah bunda...?"
ucap Rio masih dengan menggenggam tangan sang bunda.
" bunda terharu dengan sikap anak bunda yang berubah dengan baik..."
sang bunda tersenyum dalam tangis haru.
" iya bun... Insyaalloh Rio akan berubah dengan baik... maafin Rio kalau selama ini membuat bunda selalu marah marah..."
Rio memeluk sang bunda, hingga tangis bunda tumpah dengan deras nya. bunda terlihat gembira dengan perubahan Rio.
sang ayah menghampiri Rio dan bundanya yang tengah berpelukan. ayah menepuk bahu Rio... sang ayah rupanya terharu juga. ayah memeluk Rio dari samping.
melihat mereka yang tengah berpelukan cika pun meneteskan air matanya. ia juga rindu dengan mami dan papinya.
" udah yah bun, jangan nangis lagi...Rio pamit mau berangkat kuliah dulu. paling Rio pulang malem yah. sekalian bawa calon untuk ayah bunda..."
Rio mengurai pelukan nya.
ia juga mencium punggung tangan sang ayah. lalu Rio bergegas keluar rumah. ia tak menghiraukan cika yang masih duduk manis di meja makan dengan lamunan nya.
mendengar suara motor yang di kendarai Rio seketika cika tersadar dari lamunan nya.
" eh... tante, Rio mau kemana?"
tanya cika yang kebingungan
" oh... iya ya alloh sampe lupa ada kamu cika. Rio mau kuliah, kamu ngga ada kuliah cik...?"
bunda Rio terlihat kaget seketika melihat cika yang masih berada di meja makan.
" yah... sebenarnya mau bareng tan, tapi Rio udah duluan..."
cika terlihat kecewa
" ya udah, cika ntar di anter sama supir aja yah...?"
cika hanya mengangguk pasrah, ia sebenarnya kecewa. tapi ia juga tidak mau marah marah dengan calon mertua nya.