Istri ABG 12

1274 Words
Setiap hari Ardi selalu memberi kabar pada Nila entah itu pagi siang maupun malam, perhatian-perhatian kecil dari Nila membuat ia semakin menyayangi dan mencintai gadis abg itu. Nila dan Prilly tengah duduk santai ditepi kolam renang sambil menikmati teh hangatnya. Sudah beberapa hari ini Nila menginap di rumah Prilly. "Lo kenapa sih dari tadi diam aja" ucap Prilly. "Gapapa" ucap Nila yang sebenarnya sangat merindukan kekasihnya itu. "Lo punya masalah cerita aja Nil gue siap ko dengerin" ucap Prilly yang sangat ingin tahu. "Udah ah gue cape, gue mau istirahat dulu" ucap Nila, ia berjalan masuk ke kamar Prilly. Nila duduk di sofa kamar Prilly sambil memainkan handphonenya. "Kamu kenapa sih ko dari tadi malam gak bisa dihubungi" gumam Nila yang mencoba menghubungi Ardi. Prilly menghampiri Nila yang tengah melamun. "Nil... woy.... ngelamun aja sih" ucap Prilly yang menghampiri Nila. "Eh iya Prill ada apa" ucap Nila kaget. "Gue tinggal pergi gapapa ya nemenin Ali ke toko buku sekalian cuci mata" ucap Prilly sambil memakai tasnya. "Oh iya gapapa ko" ucap Nila. Prilly segera keluar dari kamarnya dan menghampiri Ali yang telah menunggunya di luar. Nila berdiri dibalkon kamarnya dan sepasang tangan kokoh melingkar indah diperutnya. "Aku kangen banget" ucap Ardi. "Sayangggg......" Nila membalik badannya dan memeluk tubuh kekar Ardi. "Tunggu... ko kamu bisa ada di sini bukannya kamu bilang mau pergi dua minggu dan ini baru sepuluh hari loh sayang" ucap Nila menatap Ardi. "Kerjaannya udah selesai dan aku tau pacar aku yang cantik ini lagi galau karena ditinggal pergi" ucap Ardi lalu mengecup bibir Nila. "Keluar aja yuk takut Prilly datang" ucap Nila menarik tangan Ardi. "Oh iya Prilly ke mana sih" tanya Ardi yang tak melihat keberadaan putrinya. "Jalan sama Ali" ucap Nila. "Oh... ke kamar ku yuk sayang aku punya sesuatu buat kamu" ucap Ardi. Pria itu menarik Nila menuju kamarnya dan tak lupa mengunci pintunya. "Ko dikunci sih" ucap Nila. "Biar aman sayang, udah kamu duduk dulu" ucap Ardi, ia membuka kopernya dan mengambil sebuah kotak kecil dari dalam koper tersebut. "Nih buat kamu" ucap Ardi yang kini duduk disamping Nila, ia memberikan kotak tersebut untuk Nila. "Apa ini" ucap Nila, ia duduk ditepi ranjang Ardi. "Buat kamu sayang, buka aja" ucap Ardi tangannya merangkul pinggang Nila. "Sayang ini...." ucap Nila, ia terperangah ketika membuka kotak itu yang isinya sebuah jam tangan mewah dengan merk ternama. "Kenapa kamu gak suka" ucap Ardi. "Bukan begitu aku suka kok, cuma apa ini gak terlalu mahal buat aku" ucap Nila tak enak hati. "Apa sih yang enggak buat kamu, pake aja sayang nih aku juga pake" Ardi memperlihatkan jam tangan yang dipakainya, jam tangan couple dengan yang diberikannya pada Nila. "Terima kasih ya sayang" ucap Nila. "Oh iya aku juga beli buat ayah kamu" ucap Ardi, ia kembali mengeluarkan sebuah jam tangan mewah yang tak kalah bagusnya dengan yang ia pakai. "Sayang apa gak berlebihan kamu membelikan aku dan ayah jam tangan ini, ini mahal lho" ucap Nila. "Gapapa sekali-sekali" ucap Ardi sambil memeluk Nila. Nila menatap Ardi. "Emmhhh.. sayang aku gak enak kesannya kaya aku morotin kamu" ucap Nila. "Kamu ngomong apa sih sayang, aku gak ngerasa kamu porotin, udah kamu terima aja" ucap Ardi, ia mengambil kembali jam tangan di tangan Nila dan diletakkannya di atas nakas, lalu dengan cepat mendorong dan menindih gadisnya itu. "Kamu mau ngapain" ucap Nila gelagapan. "Aku kangen...." bisik Ardi melumat bibir Nila dengan sangat lembut, Nila yang mulai terbawa suasana mengimbangi ciuman Ardi. "Cukup sayang nanti aku kebablasan" ucap Ardi menyudahi ciumannya. "Maaf ya aku belum bisa memberikannya untukmu" ucap Nila. "Iya gapapa sayang aku ngerti ko" ucap Ardi sambil menyalakan rokoknya. "Kurangi ngerokoknya" tegur Nila mengingatkan Ardi. "Iya ini juga udah dikurangi ko, udah sana mandi kita jalan yuk" ucap Ardi sambil memberikan handuk pada Nila. "Baju aku di kamar Prilly sayang" ucap Nila. "Iya nanti aku ambilin, sana mandi dulu" ucap Ardi. Nila kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi yang ada di kamar Ardi. Ardi memakai pakaiannya dan ia segera berjalan menuju kamar Prilly mengambilkan pakaian Nila beserta pakaian dalamnya. "Sayang nih baju kamu" Ardi mengetuk pintu kamar mandi. Nila menerima pakaiannya dengan sedikit memunculkan kepalanya dipintu kamar mandi. Tak lama Nila keluar dengan pakaiannya yang sudah rapi. "Aku dandan sebentar ya sayang" ucap Nila, Nila berjalan menuju kamar Prilly dan merias wajahnya. "Udah cantik jangan terlalu tebal make up nya aku takut kamu diambil orang" ucap Ardi sambil memeluk Nila dari belakang lalu mengecup lehernya dan menatap pantulannya di cermin. "Apaan sih kamu, sayang udah dong yang tadi apa belum cukup" ucap Nila karena Ardi terus menciumi lehernya. "Aku masih kangen tau, sepuluh hari loh" ucap Ardi. "Udah ah ayo jadi jalan gak nih" ucap Nila. "Ayo jadilah sayang" ucap Ardi. Ardi dan Nila turun dari kamar. "Bi nanti kalau Prilly nanya bilang saya keluat sebentar sama Nila" ucap Ardi pada ARTnya. "Baik tuan" ucap ARTnya. Ardi memacu mobilnya dengan kencang membuat Nila bergidik ngeri. "Sayang jangan ngebut aku takut" ucap Nila. "Maaf sayang kalau membuatmu takut" ucap Ardi. Ardi membawa Nila menuju sebuah butik. "Butik, ngapain ke sini" ucap Mila. "Turun dulu yuk nanti aku kasih tau" ucap Ardi. Nila melingkarkan tangannya di lengan Ardi memasuki butik yang cukup ternama. "Mba tolong bantu kekasih saya ini memilih gaun yang cocok untuknya" ucap Ardi. "Buat apa sih sayang aku sedang tidak memerlukan gaun" ucap Nila. "Besok malam aku ada undangan acara ulang tahun perusahaan kolegaku dan aku ingin kamu menemaniku" ucap Ardi. "Tapi gaunku yang ada di rumah masih layak pakai sayang" ucap Nila mencoba menolak. Pegawai butik yang sudah sangat mengenal Ardi itu kaget melihat betapa mudanya kekasih Ardi. "Aku gak menerima penolakan, ayo mba bantu kekasih saya ini dan pilihkan model terbaru" ucap Ardi. "Mari mba saya pilihkan model-model terbaru" ucap pegawai butik itu pada Nila. Nila segera mengikuti pegawai butik itu dan ia memilih gaun yang dikeluarkan. Nila terperangah melihat harga gaun yang nominalnya puluhan juta. "Kenapa sayang...." ucap Ardi menghampiri Nila. "Ini mahal banget sayang padahal udah cocok di aku" ucap Nila. "Ya udah gapapa ambil aja" ucap Ardi. "Tapi ini mahal sayang..." ucap Nila. "Udah sini, ini mba tolong dibungkus..." Ardi mengambil gaun ditangan Nila dan memberikannya pada pegawai butik, ia juga memilih sebuah jas mahal untuknya. "Cuma satu aja" tanya Ardi. "Satu juga udah mahal banget" ucap Nila. "Gapapa buat kesayangan aku ini" Ardi memeluk Nila dari belakang dan mencium pipinya. "Sayang jangan gini gak enak dilihat orang" Nila melepaskan pelukan Ardi. "Nih bayar dulu" Ardi mengeluarkan kartu kreditnya dan memberikannya pada Nila. Sementara Nila membayar belanjaan mereka Ardi kembali melihat-lihat jas dibutik itu. "Sayang udah nih" ucap Nila. "Ya udah yuk pulang" ucap Ardi. Setelah selesai makan malam di sebuah restoran Ardi segera mengajak Nila pulang. "Dari mana aja sih ko lama banget" ucap Prilly yang menyambut kedatangan Ardi dan Nila. "Jalan-jalan aja nak" ucap Ardi menyahut. "Ko daddy udah pulang aja" ucap Prilly. "Iya kerjaan daddy udah selesai" ucap Ardi lagi. Sementara Ardi dan Prilly ngobrol di ruang tamu Nila segera menuju dapur dan membuatkan teh hangat untuk Ardi. "Nih om Nila buatin teh" Mila meletakkan teh Ardi diatas meja. "Terima kasih Nil" ucap Ardi. "Elo yah Nil udah kaya istri daddy gue aja deh" ucap Prilly. "Uhhuuuukkk...." Ardi yang sedang minum tehnya tersedak. "Apaan sih lo Prill" ucap Nila sambil mengusap punggung Ardi. "Kalau daddy kawin sama Nila gimana" tanya Ardi ingin tahu reaksi putrinya. "Gak mungkinlah Nila mau sama daddy, daddy kan udah tua ya emang sih gak tua-tua amat" ucap Prilly dengan tawanya. Ardi dan Nila saling tatap menatap mendengar jawaban Prilly. "Ya udahlah daddy mau cape mau istirahat dulu" ucap Ardi. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD