Aku segera lari mengejar Intan yang lari ke jalan. Tentu aku khawatir terjadi apa-apa padanya dan aku tak ingin dia salah paham disaat aku menyadari jika cinta ini ada untuknya. Aku tak dapat mengejar saat Intan sudah menaiki taxi. Gegas aku juga mencari taxi untuk menyusul dia ke Hotel. Dengan gegas aku menuju kamar. Terlihat Intan tengah menangis tergugu dengan mengemasi pakaiannya. "Kamu mau kemana? ini bukan di Indonesia! kamu tak bisa pulang dengan seenaknya saja!" Aku sedikit emosi melihat dia yang berkemas. Dia pikir Jakarta atau Surabaya yang bisa langsung pulang! Dia menatapku tajam. Aku tahu dia diliputi amarah. "Pergilah! nikmati kebersamaanmu dengan kekasihmu! tak perlu lagi kamu khawatirkan aku. Aku bukan anak kecil yang tak tahu baca dan tulis!" gumamnya. Memang benar.

