Gugup

1081 Words
Aku duduk dengan gelisah. Umi Salamah masih terus memandangi aku dengan sesekali tersenyum. Belum ada aktifitas apapun karena mungkin menunggu Dek Kifa dan Azmi. Tak berselang lama, terlihat Azmi menuruni tangga. Rumah dua lantai ini memang tangganya terletak di ruang tengah yang bersebrangan dengan meja makan. Dia datang dengan tersenyum. Aku menunduk untuk menghindari pandangan. Tak lama suara Dek Kifa juga terdengar. Ia sepertinya manja sekali dengan kakak satu-satunya. "Wah sudah ada Mbak Intan juga?" ujar Kifa yang memilih duduk di sebelah Umi dan sebelahnya lagi Azmi. Aku hanya tersenyum. "Ayo mulai di makan!" perintah Umi. Aku ragu untuk memulainya. Tentu ini kali pertama aku makan di rumah Umi Salamah selain saat ada acara. "Saya ambilkan, Umi?" tanyaku saat Umi mulai menjangkau nasi. Dia tersenyum kemudian mengangguk dan memilih kembali duduk. Aku mengambilkan satu centong nasi. Tak lupa memberikan lauk seperti yang Umi inginkan. "Dek Kifa mau Mbak ambilkan juga?" tanyaku kemudian setelah Umi selesai. Dia menganguk dan menyodorkan piring. Tentu dengan senang hati aku terima. Saat selesai menghidangkan nasi untuk Dek Kifa aku berniat untuk duduk dan mulai mengambil untukku. "Aku mana?" tanya Azmi tiba-tiba. Aku kelimpungan, apalagi saat Umi Salamah juga berhenti untuk makan dan menatap kami bergantian. "Masa yang diambilkan cuma calon Ibu mertua dan Adik ipar? calon suaminya malah di kacangin!" ujarnya yang langsung membuat wajahku seperti udang rebus. Malu. "Idih, Aa manja bener!" protes Kifa kemudian. "Ye ... biarin. Kan memang harusnya begitu. Itung-itung latihan!" gurau Azmi. Aku menatap Umi Salamah. Dia tahu apa yang tengah aku bimbangkan. kemudian dia mengangguk. Dengan hati berdebar dan tangan gemetar, aku mulai mengambil nasi dan lauk pauknya. Azmi tersenyum saat pandangan kami beradu. Manis. Ups! berdosa aku. Acara makan berjalan dengan lancar. Sesekali mengobrol dengan khas kekeluargaan. Aku lebih banyak mendengar dan bersuara ketika di tanya. Itupun kadang masih di sela oleh Azmi. Sebenarnya aku masih bimbang. mengingat jika Azmi laki-laki yang baru kukenal dan kami akan menikah karena perjodohan. Apa benar Azmi menerima aku dengan tulus? Kadang rasa ini berkecambuk. Kegagalan pernikahanku yang pertama dan masih dapat kuingat dengan jelas. Tentu kadang membuat aku Insecure untuk kembali menghadapi mahligai rumah tangga. "Hai, Bu Intan! ngelamun mulu nih! mikirin apa sih?" tanya Shinta membuat lamunanku buyar. "Ngga papa kok. Cuma lagi merasa kurang enak badan aja." Aku menjawab dengan sedikit berbohong. Tentu agar Shinta tak kepo apa yang tengah aku risaukan. "Owh ... pantes tadi aku ngga lihat kamu di kantin. Berarti kamu belum makan? aku beliin makan ya! jangan sampai nanti jadi sakit parah." Shinta berbicara panjang. Mungkin tadi dia mencariku saat makan siang. Aku memang sering bersamanya. "Ngga perlu kok, Shin. Aku udah makan." "Makan dimana? bohong aja kamu! pokoknya aku akan ambilkan kamu makan dan habis itu minum obat. setelah itu istirahat!" Shinta kelabakan. "Siapa yang sakit?" tiba-tiba Azmi sudah berdiri di belakang Shinta. Tentu aku gelagapan. "Ini loh, Pak Ganteng! temenku Intan. Dia ... dia belum makan dan sedang tak enak badan!" Ucapan Shinta tentu membuat aku malu. Aku membuang nafas dan memalingkan wajah dan malu untuk melihat ke arah Azmi. "Benarkah? kenapa tak bilang!" aku kaget saat expresi Azmi justru seolah benar-benar percaya dengan apa yang di ucapkan Shinta. "Bu Shinta!" "Siap, Pak Ganteng!" Shinta menjawab antusias panggilan Azmi. "Cepat carikan obat dan makanan. Saya tak tega melihat salah satu pengajar sakit!" ujar Azmi makin membuat aku kelimpungan. Duh .... "Siap, Pak! saya pamit." Shinta gegas keluar kantor. Aku tertegun. Entah apa yang harus aku katakan padanya. "Se-semua tak seperti ...." "Lain kali kalau makan yang banyak! jadi nggak ngaku belum makan!" Azmi berkata sambil berlalu meninggalkan aku tanpa mendengar penjelasanku. "Ini memalukan!" gumamku sambil menjatuhkan bobot pada kursi dan menutup wajahku dengan tangan. Sumpah! ini benar-benar sebuah kesalahan yang fatal. *** Sidang perceraian kedua di gelar. Sesuai permintaan Doni, akupun mengikuti kemauannya. Tak datang saat sidang dan memilih menyewa pengacara hingga setelah sidang ke dua, tinggal menunggu satu minggu untuk sidang keputusan. Lega? tentu. Karena sudah jelas aku lepas dari status istri Doni secara negara. Semua kejadian yang menimpaku ini, Aku saring hikmah yang terkandung didalam. Tak ada yang kebetulan. Semua sudah di susun rapi oleh pemilik alam semesta. Tak ada yang kebetulan, bahkan daun yang jatuh saja sudah tertulis di takdir hidup si pohon. Membuang jenuh, hari ini aku berniat untuk sekedar melepas penat. Pergi ke taman kota yang jaraknya tak jauh. Hanya butuh waktu tempuh seperempat jam untuk sampai. Disana ada taman baca. Itulah tujuanku. Selain menghilangkan penat dengan menghirup udara segar, juga hobiku membaca buku akan tersalurkan disana. Apalagi ini akhir pekan. Suasana cukup ramai. Banyak pasangan muda mudi yang menghabiskan waktu untuk sekedar bercanda. Fokusku langsung tertuju pada taman baca. Memilah dan memilih buku, setelah itu mencari tempat duduk. "Pak, apa ada buku Hati Suhita?" fokusku teralihkan saat seseorang menyampaikan pertanyaan tentang buku yang sedang saya baca. "Ada tadi satu, Mas. Tapi ... sedang di baca Mbak itu!" ujar penjaga taman baca yang langsung menunjuk padaku. kebetulan aku juga menurunkan buku itu dan menatap Pak penjaga. Azmi? Ternyata yang menayakan buku Hati Suhita ada ...? "Ini!" aku beranjak dan langsung menyerahkan buku yang tengah k****a. Dia menerima dengan ragu. "Ternyata seorang ustad Azmi suka baca novel sisi perempuan juga! Biasanya sih laki-laki seperti itu bisa memahami perempuan tapi ... sepertinya Ustad tak begitu?" kini aku ada kesempatan untuk membalas ejekannya tempo hari. "Eng-enggak, Kok. ini buat Kifa," ujarnya. Aku menelisik. benarkah begitu? Aku memilih kembali duduk dan membaca buku yang lain. Kali ini aku membaca buku tentang hukum fikih. Azmi memilih duduk di sampingku. "Kamu suka membaca di tempat seperti ini?" tanyanya tanpa memandangku. Aku pun menjawab dengan tanpa mengalihkan pandangan dari buku. "Sama." Aku terkejut. Namun tak mengalihkan pandangan padanya. hanya sedikit menurunkan buku. "Benarkah? buku apa yang suka di baca? novel!" aku masih meledeknya. Terdengar dengkusan kesal. Aku merasa menang. "Mau minum?" tanyanya kemudian dengan menyodorkan satu botol minuman. Entah kapan ia membelinya. "Terima kasih, tapi ... aku tidak berani menerima pemberian dari orang luar di tempat umum. Takut kena hipnotis!" ujarku tanpa menerima pemberiannya. "Memangnya aku orang luar? kamu kan kenal aku. bahkan kita akan menikah! masa iya aku hipnotis? yang benar saja!" dia mencebik. Aku sedikit meliriknya. expresinya benar-benar lucu. Dia tetap menyodorkan minuman itu hingga akhirnya aku terima. Benar yang ia katakan. Dia bukan orang lain, apalagi orang jahat. Aku tersenyum dalam hati mengingat ejekannya tadi. Membuka tutup botol dan memasukan sedotan ke dalam minuman. "Hati-hati, minumannya sudah tak kasih obat perangsang!" ucapannya membuat aku langsung menyemburkan minuman itu hingga mengenai bajunya. Salah siapa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD