Part 6

1098 Words
Skipp Setelah menyembrang kini Javi sudah menginjak pasir putih nan halus itu menandakan ia sudah sampai pada tempat tujuannya, di sebelahnya mengekor kembaran beda usianya yang setia menggenggam telunjuknya menggunakan jari mungilnya, perasaan hangat, cuma itu yang bisa ia deskripsikan, entah apa yang terjadi dengan perasaannya itu, ia sendiri sulit mengartikannya, genggaman tangan mungil itu membuatnya seolah telah menemukan apa yang sudah lama hilang, bak gayung bersambut, mahluk kecil itu juga saperti menemukan apa yang ia cari, terbukti sedari tadi ia tak pernah melepas genggaman Javi yang notabene baru ia kenal, menurut Leo bahkan teman dekat bundanya pun sangat sulit untuk mendekati mahluk mungil yang kini tengah mengenggem erat telunjuknya tersebut, ya!!! Javi juga sudah mengetahui jika mahluk mungil menggemaskan ini tidak mengenal sosok ayahnya, entah mengapa perasaan sakit seketika menjalar ditubuhnya kala mengetahui apa yang harus dialami anak sekecil itu, ia pun seperti tau seperti apa perasaan anaknya mungkin sama seperti mahluk mungil yang kini tengah ia tatap lembut . "Aji uja tampai oom. Matasih" ucapnya dan menyalam tangan Javi kala sampai didepan gerbang rumahnya "Sama-sama"lain kali kita main bareng ya ucap Javi gemas dan mengunyel pipi gembul mahluk mungil tersebut sebelum ia berlari kebeberapa orang yang ada di gerbang tersebut Javi masih setia melihat tubuh mungil yang perlahan menjauh, entahlah!! Ia seperti telah melepas sesuatu yang berharga, padahal itu hanya anak kecil Yang beru saja ia kenal beberapa jam lalu. "Mari tuan. Saya antar kekediaman yang sudah disiapkan tuan Atmata" ucap Leo membuyarkan lamunannya "Mari" jawab Javi singkat dan berlalu. -----------*****---------- Pagi ini, ralat ini sudah hampir jam 10 pagi Javi baru terbangun, entah apa yang terjadi dengan tubuhnya, setelah hampir 5 tahun ini, tadi malam adalah tidur ternyenyak yang ia punya, karna setelah kebodoh saat itu, ia selalu terjaga dimalam harinya dan tidak akan tertidur memikirkan wanitanya yang tengah berada entah dimana dengan sang buah hati. Setelah bermalas malasan kini ia berdiri di balkon kamarnya, disini ia dapat melihat secara langsung betapa indahnya ciptaan Tuhan, laut terbentang luas, dibawah biru langit dan pasir putih nan halus, menambah kecantikan tempat ini. Sedang asik menikmati paginya, mata javi kini tertuju pada mahluk mungil yang semalam dipikirannya tengah berlari kecil kearah karang yang tak jauh dari kediaman atmaja. "Ya Tuhan dia kenapa berani sekali" "Apa orang ibunya sudah gila membiarkan anak sekecil itu bermain sendirian" umapatnya dan menyambar jaket yang tergantung digantungan lalu berlarian kebawah mengingat kamarnya terletak di lantai 2. "Hey, ngapain sendirian disini" sapa Javi dengan mudah menemukan mahluk kecil yang bersembunyi dibalik karang tersebut "Uuuzzztzz "ucapnya mengintruksikan untuk diam "Jiam oom. Anti katauan unda" "Bica balabek alo katauan" ocehnya membuat Javi terkekeh, walau hanya sekali bertemu namun entah mengapa tidak sulit bagi Javi untuk mengartikan bahasa planet sang bocah menggemaskan itu, pasti menggemaskan bukan, karna seorang Javi sudah tak terhitung terkekeh sejak bertemu dengannya, bahkan dia kadang terbahak hanya mendengar ocehan mulut mungil tersebut. Terkekeh, bahkan terbahak adalah hal yang sangat mustahil orang lihat sekitar 5 tahun belakangan dalam hidup Javi. "Memang Azy nakal" tanya Javi dan ikut duduk disamping kembaran beda usianya tersebut, Azy, ia sudah tau nama panggilan anak itu meski belum tau nama panjangnnya "Butan oom, Aji tan toleh natal, ental doca" jawabnya membuat Javi membeku. "Dosa" beo Javi "Hm'mp"gumannya sembari menyendok escream coklat yang ada ditangannya "Emang tau dosa apaan?"pertanyaan bodoh sepanjang masa, Javi membenarkan itu, ia tau sikecil itu pasti akal-akalan orang tuanya yang mengingatkan anaknya agar jangan membuat buruk nantinya akan mendapatkan dosa, namun jawaban sikecil berikutnya mematahkan fikirannya tersebut. "Tauk"ucap sikecil mantap " Tuhan toleh buat dosa, nanti Tuhan malah. Jadi tita toleh buat natal, bica kena malah Tuhan"ocehnya membuat Javi terpana "Lalu kenapa main sendirian disini?"ucap Javi mencoba menanyakan apa yang ada diotaknya "Ni"ucapnya menunjukkan escream ditangannya "Bunda toleh mamam ecim, dadi Aji mamamnya numpat, bial tak tau unda"ucap membuat Javi terbahak, namun tawanya berhenti kala mendapat timpukan kecil dikepala "Kenapa melempar oom, dosa lempar- orang tua"ucap Javi pura-pura meringis "Oom tu anan tawa-tawa" Omelnya "Anti dengel unda, tan balabe"ucapnya mengerucutkan bibirnya malah membuat tawa Javi semakin membahana. "Memang kalo ketauan bunda kenapa" ucap Javi kini sudah mampu mengendalikan dirinya "Ental balabek ata olang"sungut sikecil tak suka "Mang balabek apaan"tanya Javi, jangan tanya kenapa ia jadi begini, entah lah!!! Dia sendiri tak tau apa yang membuatnya menjadi seperti orang bodoh seperti saat ini. "Nanti diomeng oom iii oom niyy, lewel tayak unda. Tak kawanlah sama oom niyy"ucapnya kali ini terdengar seperti orang kesal namun tetap saja wajah imutnya tak berubah, kesal dengan Javi yang masih setia dengan kekehannya ia pun mengangkat p****t gempalnya dan hendak berlalu, namun dengan cepat Javi membawanya kepangkuannya "Ya dech, oom minta maaf. Anak ganteng, temeni oom dulu ya" ucap Javi gemas dan mencium pipi gembul yang sejak kemarin membuatnya membayangkan akan melakukan hal itu. "Api dandi ya, toleh biyan unda talo Aji disini" Ucapnya seperti sedang bernegosiasi "Anti aji tacih ecim yang dilumah dech, talo ang inyi toleh tasih om, acih padi, anti om hacim hacim" ucapnya membuat Javi melongo "Bocah, bukannya dia yang harus dinasehati kayak gitu, eh malah dia nasehatin orang"batin Javi terkekeh geli sendiri mendengar ocehan sikecil kriting tersebut. -------------******--------------- Entah sudah berapa lama mereka duduk di karang besar tersebut, kini Javi merasakan nafas mahluk mungil tersebut mulai teratur dan benar saja saat Javi melihat kebawah mahluk menggemaskan itu tengah terlelap dengan damainya di pangkuan Javi. Javi yang tak tega dengan posisinya memutar badan mungil itu layaknya seorang bayi ia makin jatuh dalam mimpi indahnya dalam dekapan Javi yang saat ini mendekapnya layaknya bayi kecil yang baru lahir. Lama Javi memandangi wajah tersebut kini tangannya terulur menghapus bekas es yang menempel di pipi gembul sikecilnya. "Andai kalian orang yang sama nak. Pasti aku orang yang paling bahagia saat ini" batinnya dan terus memperhatikan mahluk mungil tersebut. "Nak" "Sayang bunda" "Hey jangan becanda sayang" "Bunda ngak marah kok kalo kamu mau esnya" "Tapi jangan main umpat2n gini" "Bunda takut hiks" "Tuan casa" "Pangeran opa" "Pangeran oma" "Aduh kemana sayang" "Nak, tuan pangeran" Panggilan sayup-sayup tersebut sekarang semakin jelas membuat Javi terbangun dari lamunananya. "Ya Tuhan anak ini sudah bikin rusuh sepulau" batinnya dan menggedong sikecil di pangkuannya keluar dari balik karang tersebut "Dia ada di" Ucapnya menggantung dan langkah terhenti seketika melihat wanita yang hanya berjarak sekitar 10 meter darinya dengan mata sembabnya, sama seperti 5 tahun silam sesaat sebelum ia menghilang bak ditelan bumi sekarang ia ada disini, dihadapannya, tangan wanita itu bergetar dan matanya menatap rakut tubuh mungil yang kini bergelung manja di dalam dekapan Javi, Javi mengikuti arah pandang tersebut. Deg Deg "Akhirnya kalian kembali kegenggamanku" batinnya dan tersenyum misterius membuat tubuh wanitanya di depannya semakin mengigil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD