------****------
Ayip
Aba
Ata
Aca
Aja
Aha
Ao
Day
Jai
Ko
Jai
"Ngak pake a sayang" suara lembut Oliv mengoreksi kesalahan sang anak
Alif
Ba
Ta
Ca
Dim
Ha
O
Beney tan nda, ucap suara imut itu antusias
"Bener donk. Anak siapa dulu"
"Anyak aya cama unda tan" celoteh sikecil sembari menepuk tangan mungilnya, sementara sang bunda mematung mendengar pernyataan sang anak, namun secepat mungkin ia mengendalikan dirinya dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Ya udah sekarang do'a dulu yuk"
"Mauk bobok kan" ucap oliv lembut
"Bicmika Allah huma aya wa bicmika amut" lafal sikecil dengan suara imutnya membuat sang bunda gemas dan mencium bibir sikecilnya gemas
"Umur udah 4 tahun lebih"
"Tapi cadel ngak ilang-ilang" kekehnya karna sampai saat ini sang anak masih cadel, namun Oliv tak pernah ambil pusing akan hal itu, malah sebaliknya sering kali orang disekeliling sikecil terbahak kala mendengar omongan dari mulut mungil tersebut, bukan mentertawakan namun lebih kepada gemas akan bahasa sang anak.
*****
Oliv pov
"Wajahnya memang copyan kamu"
"Tidak ada aku sama sekali"
"Katanya jika seorang anak mirip dengan ayahnya berarti sang ayah amat mencintai sang ibu"
"Apa ia begitu? Aku rasa perkataan itu salah! Bahkan salah besar"
"Karna apa? Lihat malaikat kecilku ini! Sepertinya aku hanya perentara untuknya lahir kedunia, karna tak ada mirip sama sekali denganku"
"Semua yang ada pada dirinya menyerupai ayahnya. Hanya matanya yang mewarisiku"
Jika benar katanya jika seorang anak yang menyerupai sang ayah, berarti sang ayah amat mencintai ibunya, sudah dapat dipastikan ini akan aku alami karna anakku adalah duplikat ayahnya, tapi apa nyatanya, bahkan ia tak menginginkan kami sama sekali dan kata-kata terakhir yang keluar dari mulutnya dulu amat sangat menyakitiku sampai saat ini.
"amit-amit punya anak dari wanita kayak dia"
"Iii pasti menggelikan"
Itu hanya sebagian kata yang ia ucapkan dan masih banyak lagi.
Tapi kenapa anakku seperti sangat terikat dengan ayahnya, apakah ayahnya saat ini juga mengingatnya, atau dia sudah melupakan kami dan bahagia dengan pilihannya, apapun itu aku harap ia selalu baik-baik saja, walau bagaimanapun juga aku tak pernah mengingkari bahwa dulu aku sempat mencintainya meski hanya sakit yang kudapatkan, namun sakit itu perlahan sudah sembuh seiring berjalannya waktu ditambah lagi dengan adanya malaikatku disini.
Aku tidak bisa bilang jika sudah memaafkannya, hanya saja sejak kelahiran sikecil, perlahan aku mulai menerima apapun yang terjadi didalam hidupku, mencintai namun hanya dijadikan bahan olokan, sakit, aku akui itu, namun apa yang bisa aku lakukan!! Berharap semuanya tak terjadi, itu mustahil, dan aku berusaha menerima masalaluku, meski masalaluku sangat menyakitkan untuk dikenang, lugu dan polos, itulah aku dimasalalu, hingga tak bisa membedakan mana orang yang tulus dan mana orang yang hanya memanfaatkan kepolosan seseorang saja.
Aku yang polos sangat mudah di permainkan hingga aku melanggar apa yang seharusnya tak boleh aku lakukan, lebih menyakitkan ternyata hanya aku yang melakukannya dengan cinta, sementara ia hanya dengan nafsu semata, iman yang kurang ditambah lagi tak ada orang yang mengawasi membuatku lalai, dan melakukan hal terlarang sebelum waktunya dengan orang yang aku cintai namun sebaliknya aku hanya bahan olokan baginya, dan dari itulah adanya sikecil, meski sikecil ada karna hubungan terlarang namun ia tetap tak berdosa, yang berdosa adalah aku, karna sebagai wanita terlalu mudah termakan rayuan, tapi bagimanapun kejadian sampai terlahir ia kedunia aku tak mau memikirnya lagi, bagiku hanya dia hidupku saat ini dan selamanya, dia bayiku, karna selamanya ia akan selalu bayi polos dimataku, ia anakku, meski seluruh dunia tak menginginkannya namun artinya bagiku lebih dari dunia dan seisinya, apapun akan aku lakukan demi kebahagiaannya.
*****
"Jadi aku yang akan berangkat kesana" ucap Javi tak suka
"Kau tau aku sangat sibuk" timpalnya lagi
"Aku tau tuan. Tapi tolonglah mengerti keadaanku"
"Kembaranku itu, kau tau sendiri bagaimana, apalagi ini menyangkut hidup dan matinya" keluh aslan gusar
"Dia hanya melahirkan bodoh. Mau mati apanya"
"Kau tau siapa yang kita temui disana?" ucap Javi mengertakan giginya, bagaimana tidak, Aslan tiba-tiba mengatakan tidak bisa menghadiri pertemuan penting yang sudah direncanakan jauh-juah hari dengan salah satu pembisnis berpengaruh di negeri, namun hanya beberapa hari menuju hari H dia malah mengatakan tak bisa hadir, pantas saja hal itu membuat Javi geram, pertanyaannya kenapa bukan dia saja, semua juga tau kesibukannya, ditambah lagi tempat pertemuannya cukup jauh untuk ditempuh sekalipun melalui perjalanan udara.
"Aku tau dia mau melahirkan. Tolonglah kali ini saja"
"Dulu aku bisa menghindar amukannya karna tak menghadiri pernikahannya. Tapi kali ini. Mohon pengertiannya sedikit tuan" ucapnya memelas
"Tuan, tuan" cibir Javi malas
Setelahnya hanya keheningan yang menyelimuti dua pria dewasa tersebut
"Baiklah, aku yang akan pergi" ucapnya malas, setelah dipikir, saat pernikahan kembaran Aslan, ialah yang jadi alasan Aslan tak bisa menghadiri pernikahan sang adik kembarnya dikarnakan dimalam sebelum pernikahan adiknya Aslan, Javi mengalami kecelakaan, dan semua tugas Javi diambil alih oleh Aslan dibantun yang lainnya.