Part 8

1251 Words
-----*****---- Oliv pov Dimana ini Tempat apa ini Kenapa sangat sunyi, ya Tuhan sebenarnya tempat apa ini. Aku terus menelusuri rumputan hijau yang seperti tidak ada ujungnya, sepanjang mata melihat hanya hamparan hijau yang indah, sebenarnya tempat ini sangat indah, tapi mengapa tak ada tanda2 kehidupan disini. Banyak pertanyaan diotakku, mengapa aku terdampar ketempat ini, dan bagaimana ada tempat seperti ini didunia ini. Entah sudah berapa lama aku menelusuri hamparan rumput nan hijau ini, akhirnya aku dapat melihat tanda tanda kehidupan disini, beberapa meter dari tempatku berdiri tampak pohon besar nan rindang dan dibawah pohon tersebut tampak sosok laki-laki dewasa yang tengah mengelus lembut sosok lainnya, sepertinya mereka seorang ayah dan anak, kini anak itu tampak turun dari pangkuan sang ayahnya lalu berlarian kecil mengelilingi batang pohon besar tersebut, sang ayah tampak mengejar sang bocah, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang ada di film-film romantis yang tengah kejar-kejaran dibawah pohon, hanya saja ini versi ayah dan anak, ya Tuhan, anak itu tampak bahagia, apakah anakku akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti anak itu kala bersama ayahnya dan Deg Deg "Anakku" "Dimana dia" "Dimana anakku" Kenapa aku baru menyadari jika dari tadi aku hanya berjalan sendirian ditempat ini, mengetahui tak ada malaikatku disisiku membuat air mataku jatuh dengan kasar. "Azy" "Sayang" "Azy" "Nak kamu dimana" "Kamu dimana sayang" "Azy" Teriakku dan kini berlari kearah pohon besar itu, siapa tau mereka bisa menunjukkanku jalan pulang, atau bisa jadi mereka melihat putraku lewat didekat sini. Jarak yang tadinya sangat dekat entah kenapa sekarang terasa sangat jauh, namun aku terus berusaha berlari sekuat tenagaku, dan kini hanya beberapa langkah lagi aku berhenti untuk menarik nafas meski masih segukan. Dari sini terdengar cekikikan anak dan ayah itu, aku memberanikan diri memegang punggung laki-laki yang kini memunggungiku sementara ia tampak tengah mencium gemas mahluk mungil dalam dekapannya tersebut, andai dia sama seperti laki-laki itu, pasti Azy kecilku akan sebahagia anak kecil yang kini tegah dalam dekapan sang ayahnya saat ini. Ya Tuhan kenapa aku malah memikirkan hal itu, padahal anakku yang lebih penting saat ini, perlahan aku melangkah mendekati punggung itu dan memberanikan diri menepuknya pelan. "Maaf mengganggu, aku ingin bertanya. Apakah kalian melihat ada anak kecil lewat dekat sini?"ucapku serak menahan tangisku, memikirkan putra semata wayangku tersesat di hamparan rumput hijau seluas ini membuatku merinding, bagaimana kalau dia ketemu binatang buas, atau kehujanan, atau ketemu orang yang hendak mencelakainya dan banyak lagi atau-atau lainnya yang membuat kepalaku berdenyut. Laki-laki yang ku tepuk punggungnya tadi hanya diam dan terus mendekap putranya yang kini bisa jadi tengah terlelap, karna tak ada lagi cekikikan lucunya. "Aku bertanya padamu tuan" ucapku berteriak, kesal, marah bercampur jadi satu, bagaimana bisa ia hanya diam saat orang lain bertanya, apalagi suaraku yang bergetar menunjukan aku lagi ketakutan, apa dia tidak punya perasaan. "Ssssttt, aku mendengarmu, tapi anakku baru saja terlelap, jangan berteriak, nanti dia terbangun" Deg Deg "Suara itu" Suara yang sudah hampir 5 tahun terakhir tidak pernah lagi aku dengar. "Suara itu" Apa yang tengah ia lakukan disini, perlahan waktu berjalan terasa sangat lama, dan kini laki-laki itu memutar badannya dan Deg Deg Lagi-lagi jantungku berdetak sangat kencang, dia memang orang yang sama, dia laki-laki yang tadi ada dipikiranku, dan apa yang tengah ia lakukan disini. Belum lagi pertanyaanku terjawab, mataku melihat sosok mungil yang kini tengah bergelung manja dalam dekapannya, wajahnya bersinar memancarkan kebahagiaan, kebahagiaan yang selama ini tidak pernah aku lihat diwajah mungil itu, ya Tuhan itu anakku, demi apapun, kenapa ia bisa bersama laki-laki ini. "Jangan berisik, anakku baru saja tidur" ulangnya dan mengelus pelan pipi gembul putraku. Ya!!!! Putraku, dan laki-laki ini adalah ayah dari putraku, aku tidak pernah memungkiri itu namun ia sendiri yang nengatakan bahwa menjijikan jika aku adalah ibu dari anaknya. "Apa yang kau lakukan. Itu anakku" teriakku kencang entah berasal dari mana kekuatan ini aku pun tak mengetahuinya, sementara ia hanya menatapku bingung. "Apa yang kau lakukan kak Jav. Dia anakku" "Kembalikan padaku" ucapku berusaha merebutnya karna ia hanya berdiam seperti orang bodoh, atau dia yang menganggap orang bodoh saat ini aku tak peduli. "Hey apa yang kau lakukan? Ini putraku" ucapnya berusaha menjauhkanku dari sosok kecil itu "Tidak, kau sudah menolaknya" "Dia anakku" teriakku kali ini kembali berusaha menggapai tubuh putraku yang ada dalam dekapannya "Hey nona" "Kau ini kenapa" "Kenapa datang-datang lalu mengaku Bahwa anakku adalah anakmu" kali ini terdengar geraman dari suaranya "Kau yang melakukan itu!Kenapa kau datang dan mengaku-ngaku dia adalah anakmu" "Bukankah kau sendiri tak menginginkannya"teriakku meluapkan emosi diiringi dengan rasa takut luar biasa mulai menggerogoti tubuhku. "Aku bukan manusia yang tidak punya otak yang tidak menginginkan darah dagingku sendiri nona"ucapnya kembali mengelus pucuk kepala putraku yang sepertinya tergaggu dengan teriakkanku dan ia melakukan itu dengan sangat lembut seolah anakku adalah barang berharga membuatku semakin bergetar. "Tolong jangan teriak-teriak lagi, anakku sedikit tak enak badan, dia baru saja terlelap" ucapnya kali ini terdengar sangat lembut membuat tubuhku membeku. -----****----- Javi pov Azy Nak Azy Sayang Itulah yang sedari tadi ia teriakkan, seolah sedang mengalami hal buruk dalam alam bawah sadarnya ia terus meneriakkan itu diiringi air mata yang membasahi pipinya. Jujur saja aku tak tau apa yang kini tengah ia alami, namun melihatnya seperti ini ada rasa lain disudut diriku yang merasa ini semua karnaku. "Opa, unda tanapa, Unda angis?" "Unda tanapa ndak mangun-mangun cih pa, ma" ucapnya sigembul dengan linangan air mata, tampak ia sangat dekat dengan bundanya, setelah menyelesaikan sesi makannya, ia langsung duduk di samping bundanya, sesekali tampak merebahkan dirinya diatas sang bunda, Oliv juga sudah diperiksa dokter, dan dokter bilang ia akan sadar dalam beberapa jam, ia mengalami syok tinggi, dan aku tau pasti apa penyebabnya adalah aku. "Bentar lagi sayang, bentar lagi bunda bangun" ucap tuan Atmaja menenangkan sang cucu "Opa tanapa cih unda nyi patek acala pingcang-pingcang cadala, tan aji akut" protesnya pada sang opa, jujur saja jika tidak disituasi seperti ini, baik aku ataupun tuan Atmaja dan yang lainnya, pasti sudah terbahak mendengar protes lucunya tersebut. ----****---- Hampir jam 7 malam Oliv baru terlihat membuka matanya, dan ia langsung berteriak mencari-mencari sikecilnya, setelah menyadari sang anak tengah terlelap disampingnya ia pun langsung mencium dan memeluk tubuh mungil itu seolah mengatakan takkan ada yang mampu memisahkan keduanya, jangan heran aku masih disini, aku sendiri tak tau mengapa sedari tadi kakiku enggan melangkah keluar dari kamar ini, jujur saja aku terlihat seperti orang tak tahu aturan, persetan dengan itu, bahkan nyonya Atmaja pun memadangku dengan pandangan sulit kuartikan, bisa jadi ia kebingungan, namun sepertinya tuan Atmaja bisa mengerti akan perasaan istrinya dan mereka keluar setengah jam yang lalu, sebelum keluar tuan Atmaja berpesan jangan macam-macam pada putri dan cucunya, cih!!! Aku bukan manusia yang terlahir dengan sifat patuh, aku akan melakukan apa yang ada di pikiranku, jika bukan Tuhan, aku pastikan takkan ada manusia yang mampu menghentikan apa yang ingin aku lakukan termasuk Atmaja didalamnya, apa yang aku lakukan selanjutnya tergantung dari bagaimana sikap Oliv, jika ia menerimaku maka aku pastikan ia akan bahagia, jika sebaliknya, katakan selamat tinggal pada putranya, bagaimanapun, mahluk mungil itu juga milikku, aku juga berhak atasnya, dan jika satu sudah digengamanku, satunya pasti akan menyusul, aku percaya itu, karna mereka satu kesatuan yang takkan bisa terpisahkan, aku menyadari hal itu meski baru beberapa jam melihat kedekatan keduanya. Aku egois ?? Jawabnya Amat sangat!! Karna cinta itu egois Aku sudah mencintai keduanya selama 5 tahun meski tak tau apa mereka hidup atau sudah mati, dan saat ini mereka ada dihadapanku, aku hanya orang bodoh jika aku menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan beri padaku, aku akan lakukan apapun agar keduanya menjadi milikku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD