T U J U H B E L A S

999 Words
"Hai Sal. Apa kabar? Seneng banget akhirnya bisa ketemu lo di sini." Alex menyapa, memulai perbincangan di antara mereka yang awalnya sepi. Salma mengambil segelas minuman dari salah satu pelayan yang membawa nampan berisi gelas minuman untuk para tamu. "Baik. Sayangnya gue ngga punya waktu buat basa-basi sama lo." "Whoaaaaa, penyambutan macam apa ini. Gue sangat kecewa dengan ini." Salma memutar bola matanya malas, menanggapi setiap drama yang dilakukan oleh Alex secara berlebihan. Salma bukannya membenci Alex karena dia mantan Salma. Big no! Salma bahkan akan bersikap lebih ramah lagi kalau yang di depannya ini mantan dia yang lain, bukan Alex. Sepanjang berbincang dengan pria itu, bertatap muka satu sama lain, melihat dengan jelas muka Alex di depannya, yang terlintas di memori Salma hanyalah sebuah kejadian di mana Alex memaksanya, bahkan mengatai dirinya sok jual mahal, kemudian dengan tidak sopannya menanyakan berapa 'harga' tubuh Salma agar bisa dinikmati oleh dia. b******n! Setiap mengingat hal itu perasaan benci dalam diri Salma terus bertumbuh. Pria seperti Alex bahkan tidak pantas menampakkan muka di depan Salma. "To the point aja deh, apa yang mau lo bilang ke gue." "Selow Sal, kita masih punya banyak waktu. Nyokap lo bahkan udah nitipin lo ke gue. Santai aja, kita nikmatin aja dulu momen ini sama-sama. Barangkali lo mau nostalgia sama gue, mengingat masa-masa kita pacaran dulu." Cih! Salma tidak sudi bahkan tidak mau mengingat masa-masa bersama Alex. Jika bisa memutar ulang waktu, Salma tidak akan pernah mau menerima Alex menjadi pacarnya dulu. "Ngga ada yang perlu diinget dari masa-masa kita pacaran dulu." "Siapa bilang gaada. Banyak. Banyak banget malahan. Lo tau ngga Sal, setelah putus dari lo, gue ngga bisa berhenti mikirin lo. Setiap ada perempuan yang deketin gue, yang terbayang di otak gue cuma muka lo. Gue bener-bener ngga bisa ilangin lo dari hidup gue Sal." "Itu urusan lo. Bukan urusan gue." Salma menjawab tak acuh. Alex tertawa hambar mendengar respon Salma. "Lo udah terima bunga dari gue?" Alex bertanya. Salma yang mengerti maksud bunga yang dimaksud Alex mulai memahami situasinya. "Oh, jadi elo yang ngirim bunga itu." Alex mengangguk. "Iya, lo suka nggak?" Salma tidak menjawab. Awalnya Salma memang ragu kalau Alex adalah dalang di balik pengirim buket mawar merah di apartemen dan kantornya. Namun, ternyata tebakannya selama ini benar. Alex adalah orang yang mengirimkan buket mawar merah padanya. Namun, ada satu pertanyaan mengganjal di benak Salma saat tahu tentang kenyataan ini. "Lo tau apartemen sama kantor baru gue dari mana?" Alex tertawa. "Lo yakin nanyain itu ke gue?" "Tinggal jawab aja." "Informan gue banyak Sal. Bagi gue mudah mendapatkan informasi sekecil apapun, apalagi cuma alamat kantor apartemen dan kantor lo. To easy bagi gue." "Terserah lo. Intinya gue mau setelah ini lo ngga ngirim apa-apa lagi ke apartemen atau kantor gue." "Lo kenapa dari dulu sok jual mahal banget sama gue sih, Sal. Bikin gue tambah penasaran. Gue tau lo tipikal cewek kayak apa. Udah berapa cowok setelah gue? Gue yakin lo cuma pura-pura sok ngga mau, padahal dalem hati pengen juga. Tenang aja, sama gue rahasia lo aman Sal. Jadi berhenti sok jual mahal di depan gue." Amarah Salma sudah berada di puncak ubun-ubun ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut b*****t si Alex! Rasanya Salma ingin sekali menumpahkan minuman ke wajah pria itu atau menampar wajah sok kegantengannya hingga menimbulkan bekas merah di pipinya. Namun, yang Salma lakukan hanyalah diam. Dia hanya bisa mengepalkan tangan untuk menyalurkan kemarahan yang sudah memuncak. Salma tidak bisa membalas perkataan Alex dengan hal-hal yang sudah terencana di otaknya, setidaknya bukan di sini. Salma tidak ingin mengacaukan acara papanya dengan membuat keributan yang akan menarik perhatian banyak orang. "Diem mulut lo, b******k!" "Jangan galak-galak gitu dong, Sal. Lo tambah seksi kalo lagi marah-marah gitu." "Gue bilang diem b*****t! Sekali lagi lo ngomong, mulut lo bisa gue robek sekarang!" Salma memilih meninggalkan Alex, merasa kepanasan dengan tingkah laku mantannya yang sudah tidak waras. Kalau ada opsi membakar mulut Alex, Salma sudah melakukan itu dari tadi. Salma terus berjalan keluar dari gedung pesta. Dia sudah tidak betah ada di ruangan yang sama dengan si b******k itu! Bisa-bisanya mulut kotornya itu lagi-lagi mengeluarkan kalimat pelecehan pada Salma. Sepertinya setelah tendangan pada titik sensitifnya menggunakan heels, juga tamparan pada pipinya dulu tidak cukup bagi Alex hingga pria itu masih punya keberanian menampakkan diri di depan Salma bahkan berbicara aneh-aneh dengan mulut kotornya itu. Entah apa yang ada dipikiran Salma. Satu-satunya orang yang ingin ditemuinya sekarang adalah Ardan. Nama itu terlintas begitu saja di otaknya membuat Salma otomatis menghubungi pria itu, memintanya untuk menjemputnya sekarang juga. Dua puluh menit kemudian mobil Ardan terlihat dari ujung jalan. Salma melambaikan tangan, memberi kode tentang keberadaannya agar mobil pria itu mendekat ke arahnya. Tanpa basa-basi Salma langsung masuk ke mobil Ardan sedetik setelah mobil pria itu berhenti di depannya. "Anterin gue ke bar," ucap Salma tanpa basa-basi. Ardan yang masih belum tau keadaannya hanya memandang bingung ke arah Salma. Pria itu langsung mengerti ketika melihat raut tidak mengenakan yang terpatri di wajah Salma. "Kamu boleh cerita ke aku kalo ada masalah. Bar ngga selamanya jadi solusi kalau kamu ada masalah. Tempat itu cuma jadi pelampiasan sementara atas masalah kamu, yang sebenernya adalah kamu harus menghadapi masalah itu, bukan lari." "Gue ngga butuh denger bacotan lo. Mending lo diem dan anterin gue ke bar sekarang." Ardan menghela napas panjang. Mobilnya memang sudah meninggalkan pelataran gedung tempat Salma menghadiri sebuah acara, tetapi Ardan tidak mengarahkan kemudinya ke arah bar seperti yang diperintahkan oleh perempuan itu. Ardan tidak tahu apa yang terjadi pada Salma sebelum dia datang hingga membuat perempuan itu sekesal sekarang. Namun, yang Ardan tau, dirinya ingin mengubah perempuan itu. Dia tidak ingin Salma terus terjerumus ke dalam hal yang salah. Dia ingin menjauhkan Salma dari tempat-tempat yang tidak seharusnya perempuan itu datangi. Ardan ingin membawa Salma jauh dari masalahnya, tapi bukan di bar. Dia ingin menjadikan dirinya sebagai rumah tinggal bagi perempuan itu. Tempat berkeluh kesah, tempat berbagi masalah, tempat ternyaman untuk bersandar. Ya, Ardan ingin menjadi tempat pulang bagi Salma. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD