S E M B I L A N B E L A S

1029 Words
"Sal, nanti malem lo sibuk ngga?" Aya menghampiri kubikel Salma ketika perempuan itu tengah sibuk mengetikkan sesuatu di layar komputernya. "Kenapa emang?" Alih-alih menjawab pertanyaan Aya, Salma justru balik bertanya pada gadis itu. "Fable yuk." Salma menaikkan sebelah alisnya mendengar jawaban Aya. Sejak kapan gadis itu pergi ke tempat semacam itu? Setau Salma, di antara ketiga rekannya, hanya Aya yang terlihat suci dan terhindar dari hal-hal kotor semacam itu. "Gue ngga salah denger?" bahkan Raja yang tak sengaja mendengar percakapan mereka ikut terkejut. Pria itu bahkan sampai menghentikan aktivitas mengetiknya dan menarik kursi mendekat ke arah kubikel Salma. "Bener lah! kalian kenapa pada kaget gitu sih! Muka gue ngga bocah-bocah banget kali sampe kalian ngga percaya gitu." "Nggak. Bukan gitu, Ya." Salma tertawa di sela ucapannya. "Aneh aja gitu ngeliat lo tiba-tiba ngajak ke Fable. Setau gue lo bukan orang yang kayak gitu deh." Aya menjawab. "Memang bukan. Ini juga pertama kalinya buat gue pergi ke tempat gituan, makanya gue ngajak lo buat jaga-jaga aja." "Lo kenapa sih? Kalo ada masalah tuh bilang, Ya. Jangan dadakan gini, bikin orang khawatir aja." "Eh, Mbak, Mbak, sini deh." Salma melambaikan tangan ke arah mbak Ana yang baru kembali dari pantri. "Ada apa nih? Dapet gosip baru ya? Kali ini apalagi, anak divisi sebelah yang ketauan selingkuh terus didamprat sama istrinya di kantor?" Salma menggeleng. "Lebih hot dari itu. Pokoknya Mbak Ana harus tau." "Eh, apaan? Spill dong!" "Temen lo udah gede Mbak," ucap Salma yang tak dimengerti mbak Ana. Perempuan itu mengerutkan dahi, tak paham dengan kata-kata Salma. "Gimana maksudnya?" "Ini loh Mbak, masa tiba-tiba si krucil ini ngajak ke Fable, gila banget ngga tuh?!" Aya yang tak terima dipanggil krucil melempar remasan kertas di mejanya ke arah Raja. "Hah? Anjirrrr! Aya, lo masih waras kan?" Mbak Ana reflek memegang dahi Aya membuat Raja tertawa puas "Kalian tuh kenapa sih, biasa aja kali. Apa salahnya dengan mencoba? Gue cuma penasaran doang." Aya mengatakannya sambil memanyunkan bibirnya ke depan membuat Salma dan Raja bergidik. "Anjir muka lo, ngga usah sok gemes-gemes najis gitu, deh. Ngga mempan!" Mbak Ana tertawa melihat tingkah Raja dan Aya yang sekarang tengah berdebat. "Lo jagain deh, Sal, anak satu ini. Malam ini gue ngga bisa ikut karena harus jemput suami gue yang baru pulang dinas di luar kota. Spill aja nanti ceritanya ke gue. Oke?" Salma mengacungkan jempolnya. "Siap Mba. Gue bakal nekanin prinsip pantang pulang sebelum dapetin cogan buat Aya nanti." "Heh! Kenapa disangkut pautin sama cowok segala." Aya memprotes. "Gue tau kok, lo abis diputusin pacar lo, kan? Makanya lo nyari pelampiasan karena belum bisa move on dari dia." "Mana ada!" Aya menyangkal. "Udah, ngga usah bohong. Itu mata lo keliatan banget sembabnya, keliatan banget abis nangis semalaman. Lo mungkin bisa ngelabuin orang lain dengan make up lo, tapi ngga bagi gue. Gue bisa tau meskipun lo nyoba nutupin pake bedak tebal kantung mata di bawah mata lo." "Jadi bener, Ya? Lo abis diputusin pacar lo?" Raja memastikan kembali dugaan Salma. "Ah anjir lah, ga bisa banget gue nyimpen rahasia dari lo Sal! Iya, gue abis diputusin semalem dan gue butuh pelampiasan." "Si anjir, gue bilang juga apa. Dua tahun lo berakhir sia-sia cuma buat habisin waktu sama cowok kayak dia. Mendingan juga gue kemana-mana, malah lo lebih milih orang yang ngga jelas. Mukanya aja mirip buronan gitu, masih aja mau dipacarin." "Dih, lo juga najis anjir! Jangan narsis deh, pake segala bandingin muka lo sama mantannya Aya. Kalo mau nyari perbandingan itu jangan sama mantannya Aya. Tuh bandingin aja muka lo sama Nick Bateman atau Zayn Malik. Itu baru namanya totalitas." Mbak Ana ikut menimpali, mengomentari Raja. "Setidaknya muka gue ngga jelek-jelek amat kalau dibandingin sama mantannya Aya." "Dasar narsis!" "Jadi bisa nggak Sal, malam ini?" "Bisa dong. Tenang aja Ya, sebagai teman yang baik gue bakal nemenin lo dan ngajarin lo betapa nikmatnya dunia malam itu." "Cewek sesat!" Raja memukul pundak Salma menggunakan kertas print out. "Sakit bego!" Salma gantian melempar Raja menggunakan bolpoin yang ada di mejanya. "Eh, tapi gue juga ikut deh, nemenin Aya. Itung-itung perdana nonton seorang Kanaya Atmajaya nyicipin alkohol." Raja berkata sambil menaik-turunkan alisnya, menggoda Aya. "Aish, rese nih, kalo orang satu ini ikut. Awas aja ya, jangan macem-macem lo!" "Tenang aja Dek, nanti di sana gue bakal ajarin lo gimana cara mikat hati cowok, biar lo cepet move on dari mantan lo itu." "Jangan diajarin yang sesat-sesat anjir Ja!" Mbak Ana memprotes Raja. Setelah itu terjadi perdebatan antara Raja dan Mbak Ana yang hanya bisa membuat Salma geleng-geleng kepala. Dia memilih mengecek ponselnya, mendapati ada satu pesan notifikasi dari Ardan. Ardan Pramudya: Pulang kantor aku jemput? Salma mengetikkan balasan di kolom chat mereka. Salma Pangesti: Ngga usah, gue ada janji sama temen nanti. Ardan Pramudya: Oh gitu. Ardan Pramudya: Oke. Salma berniat tak membalas pesan Ardan, tetapi satu notifikasi pesan kembali muncul dari pria itu. Ardan Pramudya: Kalau boleh tau, kemana? Salma tersenyum. Dia tahu kalau Ardan masih agak sungkan menanyakan hal-hal yang menjurus ke arah kepo. Sampai saat ini hubungan mereka masih tidak jelas statusnya. Ardan hanya bilang bahwa dia ingin Salma memanfaatkan dirinya, semau dan sepuas Salma. Pria itu tidak menawarkan komitmen apapun yang membuat Salma merasa bahwa dirinya masih single dan tidak terikat. Salma tidak masalah dengan itu, dirinya justru senang karena tidak perlu melakukan timbal balik selayaknya pasangan. Dia tidak wajib membalas perasaan Ardan seperti cowok itu yang berusaha keras menunjukkan betapa pria itu menyayanginya. Namun, Salma tetap menghargai perjuangan pria itu. Selagi Ardan masih mendekatinya, Salma menolak segala bentuk apapun pendekatan dari pria lain. Itu salah satu cara Salma menghormati Ardan. Salma Pangesti: Ke Fable. Sama anak-anak kantor. Ardan Pramudya: Oke deh. Have fun. Salma Pangesti: Oke. Salma menutup obrolan chat mereka. Kemudian memfokuskan diri dengan pekerjaan di depannya. Dia mulai mengetikkan sesuatu di layar komputernya, mengejar deadline untuk hari ini. Kali ini dia yakin tidak akan lembur, pekerjaannya cukup ringan dan yakin bisa diselesaikan hari ini. Itulah kenapa orang-orang kantornya terkadang memanfaatkan hal itu untuk pergi hangout sepulang kantor. Momen pulang tepat waktu seperti ini tidak bisa dirasakan ketika menjelang masa hectic mereka ketika pengerjaan SPT Tahunan orang pribadi dan badan. Untuk itulah manfaatkan momen sebaik mungkin. Itu prinsipnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD