"Hidup saja tidak cukup. Seseorang harus memiliki sinar matahari, kebebasan, dan sedikit bunga." - Hans Christian Andersen.
“Kami mendapat hujan. Tetapi karena atmosfer begitu buruk, hujan itu menjadi hujan asam. Kena kulit saja bisa merusak, apalagi diminum. Oleh karena itu pemerintah membuat sistem pengelolaan cuaca, sehingga tidak pernah terjadi hujan, bahkan angin. Sudah berlangsung bertahun-tahun. Energi, kami memaksimalkan sel surya.”
“Aku membayangkan hidup kalian pasti sangat membosankan,” gurauku.
Todd tertawa pelan.
“Kalau hanya hidup seperti ini yang kamu tahu, kamu tidak akan banyak protes, Rea. Masalahnya, Tristaz dan sebagian dari kami kaum muda melihat kehidupan di dunia kalian yang begitu bermakna. Kami yakin alam dan hidup di negeri ini bisa lebih baik.”
Aku termenung.
“Tidakkah masih ada tempat atau bagian dari tempat tinggal kalian ini yang masih memiliki sumber daya alam yang baik?”
“Tempat ini terdiri dari banyak pulau. Kita berada di pulau yang terbesar. Beberapa pulau lain setahuku masih memiliki alam yang baik. Mereka masih bisa menanam dan hidup dari alam.”
Aku menatapnya.
“Mengapa tidak mengambil seseorang dari sana untuk mengajari kalian tentang ekologi?”
Todd menatapku cukup lama. Ia menarik nafas dalam-dalam.
“Mereka sudah nyaris punah. Tinggal menunggu waktu sampai Erland menguasai wilayah itu.”
Aku terdiam.
“Setidaknya, ada harapan tempat itu masih memiliki sumber daya yang bisa kalian kembangkan di sini. Jika mereka bisa menanam, kondisi tanahnya tentu baik. Aku memikirkan sejenis kerjasama dengan mereka, sehingga dengan bahan dari sana kalian bisa mengembangkan sesuatu di sini.”
Todd meletakkan genggaman tangannya di bawah hidung. Rahangnya kembali mengeras. Ia sedang berpikir.
“Aku akan pertimbangkan itu. Tetapi yakinlah mendatangkan kamu adalah pilihan terbaik yang bisa kami ambil saat ini.”
Aku menunduk. Kata-kata Todd menusuk hatiku.
“Itu pilihan terbaik kalian. Tidakkah kalian memikirkan pilihanku? Kalian mengatakan diri bermoral, tetapi sopankah menculik seseorang lalu membawanya ke antah berantah seperti ini? Oke. Fasilitas kalian memang luar biasa, tetapi tidakkah kalian menyadari ini bukan duniaku?”
Nafasku kembang kempis menahan emosi.
Todd menatapku dengan wajah penuh penyesalan.
“Maafkan aku, Rea. Aku berjanji akan mengantarmu pulang saat tugas kita sudah selesai. Tristaz hanya menginginkan setitik harapan dari hadirmu.”
Aku mengusap air mata yang tanpa kusadari sudah mengalir di pipiku.
Todd berdiam sambil terus menatapku. Seolah ia sengaja memberiku waktu cukup lama untuk meluapkan emosi. Mungkin juga ia sedang mempelajari sisi psikologisku.
Entah berapa menit kemudian, tangisku mereda.
“Kamu merasa lebih baik? Kamu boleh memarahiku atau memukulku atas apa yang kulakukan padamu. Aku tidak berpikir sejauh ini, Re.”
Aku gigit bibir bawahku.
“Baiklah, Todd. Aku mengerti. Inilah yang kamu tahu. Sudahlah. Aku memarahimu juga percuma saja. Bagaimanapun kalian telah berusaha merawatku dan membantuku tetap bertahan hidup. Aku akan berusaha. Semoga upayaku tidak mengecewakan kalian.”
Todd masih terus menatapku. Mengapa tatapannya itu terasa begitu lembut? Mengapa jantungku berdebar lebih cepat?
Kualihkan pandangan pada benda-benda di atas tempat tidurku. HP.
Kucoba menyalakan HP. Kupikir, dengan mengaktifkan HP dan data, bisa saja aku menemukan lokasiku. Atau bahkan meminta tolong kepada seseorang. Tetapi aku boleh kecewa.
Entah berapa lama aku berada di klinik. HPku mati total. Lagipula di antah berantah ini, bagaimana mungkin ada sinyal.
“Perjalanan yang kamu lakukan bersama anak-anak muda lainnya saat kamu diambil, apa itu?”
“Kami sedang mendaki gunung.”
“Mengapa harus didaki?”
“Agar dekat dengan alam. Gunung yang masih asri, udaranya segar, airnya bersih alami. Kami yang sudah mendaki beberapa gunung, akan bisa mendeteksi kerusakan karena berbagai sebab. Kalau mengetahui hal itu, kami bisa memulai sebuah gerakan agar kondisi rusak itu bisa segera diperbaiki. Kalau bisa hingga sumber kerusakan terbasmi.”
Todd menatapku.
“Jangan bilang di sini tidak ada gunung, ya.”
“Ada. Tetapi lebih sebagai gundukan tanah. Erland memilih menjadikannya sumber bahan baku, setelah itu memakai lahannya untuk pabrik. Saat ini tinggal satu bukit kecil yang tersisa. Lainnya sudah merata.”
Aku menghela nafas.
“Jadi, bagaimana aku memulai, Todd? Apa yang kalian ingin aku bantu?”
“Tujuan besarnya, kami ingin kondisi yang lebih baik bagi alam kami. Path 09 bercita-cita memunculkan air alami yang bersih dan bahan makanan beneran, seperti yang kamu berikan tadi. Sungguh, Rea. Rasanya sangat nikmat.”
“Sebenarnya ada cara sederhana.”
“Apa?”
“Kalian impor dari negaraku.”
Todd tersenyum lalu menggeleng.
“Aku tidak bisa mengatakan kondisi negeri kami sangat baik. Tentu kamu sepakat dengan itu. Tetapi aku bangga bahwa bangsa ini berusaha mandiri mengatasi masalah kami. Kami yakin kerusakan alam ini masih bisa diperbaiki.”
Aku manggut-manggut.
“Kedengarannya Tristaz sangat benci dengan Erland. Di majalah tadi aku melihat Erland begitu dipuja dan dipatuhi oleh rakyat. Apa yang salah?”
“Benci dengan orangnya, mungkin tidak ya. Orang sudah setua itu, logikanya sudah dekat dengan akhir hidup. Tetapi kami semua membenci apa yang dia lakukan kepada negeri ini. Kalau kamu tidak tahu, tablet yang diproduksi oleh Erland mengandung obat yang membuat peminumnya patuh. Itu yang membuat Erland bisa mengendalikan mereka semua. Bisa dibilang, mereka berbuat sesuatu tanpa menyadari apa yang mereka lakukan. Jadi apa yang disajikan majalah dan siaran dari Erland sedikit sekali mengandung kebenaran.”
Aku menatapnya. Ini lebih terdengar seperti kisah-kisah dalam sci fi.
“Bagaimana mungkin sekumpulan anak muda bisa terbebas dari obat patuh itu?”
“Tristaz bekerja pada pabrik tablet di lingkungan Erland. Suatu hari, ada kesalahan proses produksi, sehingga dihasilkan tablet tanpa obat. Tristaz mengonsumsi tablet salah produk itu. Ia mulai sadar dan menyadari apa yang dilakukan Erland. Setelah satu minggu, ia menyadari pola hidup seperti robot pada orang-orang di sekitarnya. Secara sembunyi-sembunyi, Tristaz menyelidiki bagian demi bagian yang dikerjakan Erland.”
Todd berhenti sejenak.
“Suatu hari Tristaz tiba pada bagian pelenyapan bayi yang tidak lolos standar. Ia melihat apa yang terjadi. Nuraninya tergerak. Kami yang bersamanya di markas Path 09 adalah anak-anak yang diselamatkan. Itulah mengapa Tristaz membangun tempat rahasia ini. Kami telah mengembangkan teknologi yang bisa mengungguli teknologi milik Erland. Dengan peralatannya, Erland tidak pernah bisa menemukan lokasi, bahkan keberadaan kami. Saat ini, kami seperti sebuah keluarga mandiri.”
“Tidakkah itu cukup?”
“Rea, kami menyadari ada yang salah dengan kehidupan seperti ini.”
Kuanggukkan kepala.
Sedikit demi sedikit aku mulai mengerti mengapa sedari tadi yang kulihat adalah anak-anak seumuran Todd dan yang lebih muda. Tristaz adalah satu-satunya orang dewasa di sini.
Kutatap mata Todd yang masih tetap teduh seperti tadi. Baru teramati warna matanya hijau tua. Rambut dan alisnya hitam kecokelatan. Kulitnya sawo matang, tetapi pucat. Melihat lingkungan hidup mereka, itu tidak mengherankan. Bandingkan dengan kulit gelapku karena sering berjemur tanpa pakai pelindung apapun.
“Kamu ingin kita memulai darimana?”
Ia tersenyum.
“Kamu ingin melihat peralatan dan pabrik kami dulu? Atau langsung meninjau lingkungan?”
Sejenak aku menimbang-nimbang.
“Kupikir, aku ingin melihat kehidupan normal masyarakat kalian, yang kamu sebut seperti robot itu. Aku ingin melihat tanah kalian. Aku ingin mengambil sampel tanah bagian dalam. Mungkin hingga kedalaman 4 meter. Jika kalian punya teknologi pendeteksi air tanah, aku ingin melihat hasil analisanya.”
“Oke. Akan kukabari hasilnya sore nanti. Sekarang kamu bisa istirahat dulu.”