Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam. (RA Kartini) “Rea, bangun!” terdengar ketukan di pintuku. Aku sudah bangun sejak tadi, hanya saja aku sibukkan diri membuat catatan harian sambil menatap foto keluarga yang kubawa dalam bingkai logam. Merasa dingin, aku masih mengenakan jaket. Agar tidak mencurigakan siapapun yang memanggil, kuselipkan buku harian ke saku dalam jaket dan foto kuselipkan di saku d**a. Kubuka pintu. Jiz di sana, dengan wajah panik. “Rea, kami memulangkan kamu lebih cepat. Situasi berubah. Erland berhianat.” Aku segera paham situasi gawat yang dimaksudnya. Kuambil ransel yang memang siap angkut. Jiz segera menarikku

