Happy Reading!!
Warning: Banyak Typo
Tubuhku terpental cukup jauh hingga mengenai Tembok setelah dipastikan Nadi Ibu Mertua tidak Berdenyut. Kini aku tahu kenapa alasan Jonathan menangis histeris, pasti ia sangat terpukul karena sudah kehilangan Ibu tercinta.
Keringat dingin mulai bercucuran membasahi kulit, menghujani tubuh ini yang tadinya kering. Aku sangat schock sekali dengan hal ini, aku sangat merasa bersalah atas kalimat yang kemarin aku lontarkan kepada Ibu Mertua.
Aku paksa tangan yang bergetar ini untuk mengambil Ponsel yang terselip di Saku celana. Namun hanya untuk membuka Pola Kunci saja tangan ini tidak mampu. Ponsel itu malah jatuh tergeletak di Lantai. Bagaimana ini? Kasihan sekali Jonathan.
Jonathan masih dengan kondisi yang sama sedari tadi, air matanya terus membasahi kain yang menutup tubuh Ibu mertua. Jonathan tidak bisa melepaskan pelukannya dari Sang Ibunda.
"Ibu, Ibu, bangun! Ibu kan masih mau menimbang cucu kan? Ibu masih belum meninggalkan aku kan? Ibu! ibu!" Isak tangis Jonathan.
Rasa kehilangan membuatnya seperti tertindih oleh bebatuan tajam, tangisan histeris itu terus berlangsung lama. Aku menghampiri Jonathan untuk membuatnya lebih tenang, aku pegang kedua pipinya membuat ia menatap kepadaku. Aku hapuskan air mata yang membasahi pipinya.
"Mas, Relakan Ibu Mas! Ini sudah takdir Alloh SWT mas. Kita jangan sedih, kita harus do'akan semoga amal ibadahnya di Terima disisinya."
Aku memeluk erat tubuh itu, Menenangkan dia bahwa semuanya memang tidak ada yang abadi di dunia ini. Semua yang ada di dunia ini hanyalah sementara dan akan di ambil sama sang pemilik. Jonathan menumpahkan segala kesedihannya kepadaku, air mata kesedihan itu jatuh dan terserap di baju yang sedang aku pakai.
Aku bukanlah Monster, aku juga ditimpa kesedihan ketika Ibu mertua meninggalkan dunia ini. Aku pandang wajah Ibu mertua, aku usapkan tangan ke wajahnya. Aku juga menyesal kenapa pertemuan terakhir kita di warnai sama Pertengkaran.
"Ibu maafkan aku yah bu, Ibu semoga tenang yah disana?" Aku menangis
"Bi Bi Bi, tolong Hubungi Pak RT. Ibu sudah meninggal Bi"
"Baiklah Non"
*
*
*
*
Apakah ini jawaban dari seseorang yang di Dzalimi? Rasanya aku diperlakukan seperti Manusia Hina oleh Ibu Mertua. Aku sangat menyayangkan diriku sendiri, kenapa Kalimat penuh kebencian itu jadi kalimat terakhir yang aku lontarkan kepada Ibu? Kini aku menyesal begitu mendalam karena ucapanku kemarin.
Kalimat buruk waktu itu terlepas begitu saja dari mulutku tanpa memikirkan hasilnya. Jika Jarum Jam bisa mengembalikan waktu, maka aku akan kembali le masa lalu dan tidak akan mengengucapkan kalimat buruk seperti itu lagi. Aku menyesal sekali, aku tidak ada niatan berbicara seperti itu.
Air mata ini terus menetes melihat Tubuh Ibu Yang dilapisi kain kafan, rasanya tidak tega sekali. Beberapa orang membantu proses pemakaman Ibu, Jonathan beserta yang lainnya dengan berat hati memasukan Jasad Ibu ke Liang Lahat. Terlihat sekali Jonathan sangat terpukul dengan kenyataan ini. Seluruh wajahnya memerah menahan Jutaan Liter air mata.
Mereka mulai mencangkul untuk menutupi Kuburan Ibu Mertua, Tanah bewarna merah itu sekarang jadi tempat tinggal baru Ibu Mertua. Sebuah Batu Nisan bertuliskan " Lisa Bin Supardi"ditancapkan di tanah bewarna merah itu.
"Selamat jalan ibu!"
Dipimpin oleh Pak Ustad, Ayat Suci Al-Quran mulai dilantukan untuk mengantarkan Ibu ke Alam Kubur. Semuanya mengiri Do'a berharap ada cahaya yang bisa menerangi Kuburan Ibu. Ibu maafkan aku Ibu, maaf pertemuan terakhir kita sangat menyakitkan.
Satu persatu orang mulai menghilang dari pandanganku, meninggalkan kami berdua yang masih tidak merelakan kepergian Ibu mertua. Air mata Jonathan membasahi Batu Nisan, tangannya tidak dapat berhenti memeluk batu Nisan bewarna hitam. Aku yang lebih kesakitan lagi melihat Jonathan sedih.
Aku menaburkan Bunga Cantigi yang di campur bunga lainnya di atas Kuburan. Berharap Bunga ini dapat melindungi Kuburan Ibu. Aku memandangi Jonathan yang masih memeluk Batu Nisan itu. Aku peluk Jonathan dari belakang, meyakinkan dia kalau semua baik-baik saja.
Pelukanku perlahan membuat Jonathan melepaskan Batu Nisan Ibu. Jonathan menatapku sambil bersimbah air mata, terlihat jelas sekali ia berusaha keras untuk menutupi kesedihannya. Aku semakin erat memeluk tubuhnya untuk membuat dia mengikhlaskan kepergian Ibu.
Kaki Jonathan terasa berat untuk melangkahkan kakinya pergi dari Pemakaman. Aku mempapah tubuh Jonathan membantunya berjalan. Disela-sela langkah kami, sesekali Jonathan melirik ke belakang melihat makam sang Ibunda.
Aku terus mempapah Jonathan, Supir membuka pintu Mobil untuk Kami berdua. Kami mulai meninggalkan Area pemakaman, aku biarkan Jonathan bersandar ditubuhku supaya dia bisa lebih tenang lagi.
Akan ku maafkan atas segala perbuatan kasar Ibu kepadaku, maka dari itu Maafkan juga Perbuatan Kasarku . Setiap malam Jum'at akan aku lantunkan Surah Yasin untuk memberikan Ibu Hadiah. Ibu semoga tenang yah di Sana.
*
*
*
*
Keadaan Jonathan masih sama seperti tadi, tubuhnya retak karena dilanda kesedihan yang tidak bisa ia terima. Jonathan bersandar ditubuhku, wajahnya menggambar berbagai rasa kekecewaan yang tidak mudah hilang begitu saja. Aku sungguh tidak tega kalau terus menerus melihat Jonathan sedih seperti ini. Rasanya langit menindih diriku Langit menindih tubuh kami berdua.
Perlahan aku melepaskan tangan Jonathan yang melingkar di perutku. Sebuah suara berdering dari perut kami berdua, pertanda aku harus segera memasak untuk menghancurkan alarm di perut ini. Pegangan tangan Jonathan menghentikan langkahku, sepertinya rasa trauma kehilangan Ibu membuatnya tidak mau sendirian.
"Rose, mau ke mana? Jangan tingggalkan aku!"
Aku melirik ke belakang, tersenyum lebar untuk memastikan kalau semuanya akan berakhir baik-baik saja. Aku mulai bergegas menuju dapur untuk masak nasi Goreng, besar harapan semoga dengan nasi goreng ini sedikit bisa membuat Jonathan melepaskan Kepergian Ibu mertua.
Aku taruh Temflon diatas wajan, kemudian menyalakan Kompor untuk memanaskannya. Aku masukan sisa Nasi di Rice Cooker kedalam temflon, tidak lupa minyaknya. Spatula bewarna kuning ini terus membolak-balikan Nasinya biar Matang merata.
Hanya untuk tambahan penikmat Nasi Goreng biar rasanya tambah nikmat lagi, Pisau tajam ini aku gunakan untuk memutilasi Tubuh Udang Segar. Dengan kejam aku Potong-potong hingga kecil. Aku masukan Potongan udang kecil itu ke Temflon. Aku aduk-aduk kembali untuk membuatnya merata.
Aku mematikan Kompor dan mulai menghidangkan Nasi Goreng itu ke dalam piring. Harumnya benar-benar, sepertinya ini akan ampuh untuk merusak alarm yang terpasang di perut.
"Bi, tolong ke sini. Bantu aku bawa ini makanan!" Teriaku kepada Pembantu.
Jonathan membuka mulutnya saat ujung sendok meyentuh Bibirnya, aku suapi Jonathan memastikan dia makan banyak untuk asupan Hari ini. Meski Jonathan tidak berselera makan, aku memaksa dia untuk menghabiskan satu piring Nasi Goreng yang sudah ku masak.
Jonathan tersenyum kecil menyipitkan kedua matanya, Hatiku lega saat melihatnya sudah mulai tersenyum. Rasa lapar tidak membohongi perutnya. Nasi Goreng miliku terpaksa aku berikan kepada Jonathan, dia menghabiskan 2 Piring Nasi Goreng.
*
*
*
*
Sinar fajar menebarkan cahaya ke berbagai penjuru alam. Cahaya pagi memberikan aku secerah harapan untuk menghadapi betapa kejamnya dunia ini. Ini adalah Hari ke Tigaku sebagai pemilik Toko Buku Eunice, kemarin aku tutup tokonya karena dilanda kesedihan.
Aku buka Gembok yang melindungi toko dari tangan-tangan laknat para pencuri. Dengan tenaga seadanya, aku gser gerbong membuatnya terbuka. Aku menyalakan lampu untuk mengisi Ruangan ini dengan Cahaya. Mungkinkah Aku sudah menemukan Cahaya setelah Perjalanan begitu panjang di Lorong kegelapan?.
"Permisi! Sudah buka belum?"
Salah seorang pembeli datang untuk membeli Buku, bisakah dia disebut pelanggan tetap? Soalnya di Hari pertama juga ia membeli Buku juga. Dia adalah Candra, tetangga baruku yang belum lama ini menempati Rumah di sampingku.
"Ehh ada Mas Candra, mau beli buku lagi?"
"Iya nih Mbak, Kemarin-kemarin saya beli bukunya kurang banyak."
"Kemarin kenapa Toko tutup Mbak?"
"Kemarin Ibu saya meninggal Mas."
"Ohh Maaf, maafkan saya tidak datang ke pemakaman."
"Oh gak papa mas."
"Saya terlalu sibuk ngurusin Restoran, di rumah saja jarang. Jadi saya tidak tahu menahu kabar sedih itu."
*
*
*
*
15:30 WIB
"Clekk" Suaranya beriringan saat aku membuka Pintu Ruang Tamu. Kondisi Jonathan masih sama, perasaanya masih diselimuti rasa ketidakrelaan akan kepergian Ibu Mertua, ia memeluk Photo Ibu Mertua sambil bersimbah air mata.
"Mas! Aku pulang!" Sapaku kepada Jonathan.
Bibir Jonathan terkunci rapat, dia tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk menanggapiku. Jonathan melotot ke arahku, menatapku dipenuhi amarah kebencian terhadapku. Aku melangkahkan berjalan pelan ke arahnya.
"Mas? Mas? Ada apa mas?"
"Hari itu, Kau mengucapkan apa kepada Ibu?" tanya murka Jonathan
"Maaf Mas, semuanya salah paham! Aku bisa jelaskan."
Penuturan Jonathan membuatku mematung seperti tidak bisa menggerakkan tubuh ini, Tas yang di pegang bahkan jatuh ke lantai saking kagetnya. Aku memundurkan langkahku untuk menghindari Jonathan yang semakin mendekat. Satu tetes air mata mengalir membasahi pipi ini.
"Rose, apa yang kau katakan kepada Ibu? Kau membunuh Ibu Rose!" Bentak Jonathan kepadaku.
"Tidak, mas. Biar aku jelaskan semuanya!"
Dia yang menggila semakin mendekat ke arahku, sebuah tamparan keras mendarat dipipiku. Tamparan itu membuat Tubuhku terdorong jatuh menyentuh lantai . Ke Lima jarinya melingkar di leherku, mencekik dengan keras membuatku kesulitan bernafas. Dia mencekiku tanpa ampun hingga membuat tubuhku terdorong sampai ke tembok. Jonathan benar-benar gila hari ini, seketika aku merasakan takut lagi kepada Jonathan.
"Aku akan membunuhmu Rose, aku akan kirim kau ke Sisi Ibuku!"
"Kau Benar-benar Gila Jonathan," Suara seraku terpotong-potong
Dia benar-benar mencekikku dengan keras, sehingga memblokir Oksigen untuk aku hirup. aku benar-benar kesulitan mengambil nafas, dia benar-benar akan membunuhku

.....Bersambung....
Lanjut baca part selanjutnya, maaf kalau mash banyak kurang, yang baca sehat selalu yahhh