Mencari Petunjuk

1664 Words
Dayu membuka chat di WA-nya ketika jam pelajaran sedang istirahat. Ia membaca pesan singkat dari Bima, bahwa lelaki itu sedang tak bisa menjemputnya. Ada beberapa pekerjaan yang harus bekas panglima perang tersebut selesaikan sendiri. Bima berhenti mengajar olahraga di sekolah Dayu semenjak gadis itu mengajaknya untuk menjalin hubungan perlahan-lahan secara alami. Hanya kata ok saja yang dikirim Dayu, pikirannya sedang tak tertuju pada lelaki dewasa yang secara pikiran manusia terlihat berusia 30 tahun lebih. Gadis berambut panjang itu ingin mencuri waktu menuju tempat-tempat yang kini kerap hadir dalam mimpinya. “Semoga besok Bapak ini masih sibuk, biar aku bisa kabur bentar aja.” Dayu memperhatikan balasan lanjutan dari Bima, di ponselnya tertulis bahwa lelaki itu tak ada di rumah sampai besok, ingin menjemput sebuah benda yang berkaitan dengan masa lalu mereka. “Yes.” Dayu melonjak riang dan menjadi perhatian siswa lainnya. *** Sore hari ketika jam pelajaran telah usai, gadis itu ingin berjalan kaki untuk kembali ke kos-kosannya. Meski Bima meninggalkan banyak lembaran rupiah untuknya. Namun, ia merasa kakinya kuat untuk berjalan jauh, sama seperti di kehidupannya dahulu, yang selalu keluar masuk hutan, naik turun gunung demi menempuh ilmu sebagai seorang tabib yang mumpuni. Di tengah perjalanan gadis bertubuh ramping itu bertemu dengan Arkan. Lelaki muda yang tubuhnya dikuasai oleh Mahaputra itu menghentikan laju motornya, ia menawarkan diri untuk pulang bersama. Merasa tak ada yang aneh Dayu menerima ajakan itu begitu saja. “Besok libur dua hari, ada rencana liburan nggak, Yu?” “Ehm, mau pergi bentar, agak jauh, sih, sekalian jalan-jalan menjelang ujian nasional.” Gadis itu mengembalikan helm pada Arkan. “Sendirian aja?” “Iya, rencananya gitu. Yaudah aku masuk duluan, ya. Makasih, nanti kita hitung aja uang bensinnya.” *** Pagi harinya Dayu telah berkemas dengan memakain jeans dan baju kaus lengan panjang. Rambut panjangnya ia ikat dan sanggul rapi dan tertutup dengan topi berwarna hitam. Ia tak mau tertangkap basah oleh Bima yang sedang mencari tahu yang tak ia beritahukan pada lelaki itu. sebelum pergi ia memeriksa chat di ponselnya. Nomor kekasihnya belum juga aktif dari kemaren. Ia pun bisa pergi dengan bebas tanpa ada yang mengekang. Namun, satu teguran suara membuatnya terlonjak kaget dan menoleh ke belakang. “Pakai motor lebih cepat, Yu. Aku juga lagi nggak ada rencana apa-apa hari ini. Mending kita jalan berdua aja,” ucap Arkan dengan senyuman yang manis. Lesung pipitnya tercetak jelas walau ia hanya berbicara saja. “Tapi jauh loh, nanti kamu capek di jalan.” “Ah, nggak masalah, lakik biasa jalan jauh. Yuk.” Arkan memberikan lagi helmnya pada Dayu. Gadis bermata indah itu mengambilnya dan ia pun menuruti kata hatinya untuk pergi berdua, sebab jika sendirian belum tentu ia mengenal area yang akan ia kunjungi. Dua orang itu saling bertukar cerita dengan santainya di atas motor. Menembus angin ibu kota yang begitu dipenuhi dengan asap kendaraan, lalu setelahnya mereka masuk ke area di mana banyak pepohonan di sebelah kanan kiri dan rasa dingin mulai menyapa. Dayu bahkan mulai tertidur di bahu Arkan ketika embun masih bisa segarnya ia rasakan. Akan tetapi, ucapan Bima yang menyatakan hanya dirinya lelaki yang boleh dekat dengan Dayu membuat gadis itu tersentak dan nyawanya terkumpul kembali. “Tidur aja, Yu, kita lama baru sampainya, berjam-jam, belasan malah. Lokasi Candi Brahu itu jaaauh banget. Mending istirahat!” jerit Arkan dari atas motor. “Oh, gitu, yaudah tiap bentar istiarahat aja di tepi jalan hilangin capek sama ngantuk, takutnya kenapa-kenapa.” Mendengar penolakan Dayu, Arkan semakin menambah kecepatan laju motor besarnya. Sukma yang menghuni tubuhnya kini begitu membenci setiap penolakan Ayu, sama seperti dahulu. Dan benar saja, ketika motornya melaju bak pembalap di jalan besar, gadis itu mau tak mau memeluk Arkan sebab sensasi rasa takut yang muncul. Berangkat pagi sampai malam, begitulah yang dua anak muda itu lakoni. Mereka menyewar kamar yang berbeda di sebuah penginapan sederhana menjelang perjalanan besok ke Candi Brahu di wilayah situs arkeologi Trowulan, yang dahulunya merupakan ibu kota Majapahit. Ketika Dayu ingin tertidur lelap karena lelah seharian menempuh perjalanan jauh, panggilan masuk berasal dari nama yang ia simpan sebagai bapak sad boy. Namun, gadis itu enggan menjawab bahkan tak ingin memikirkannya sedikit pun. Sebab Dayu sangat ingat, bagaimana lelaki itu berulang kali muncul di hadapannya ketika gadis itu tanpa alasan yang jelas memikirkannya. Satu buah pesan kemudian masuk, di sana tertulis bahwa Bima masih perlu waktu beberapa hari lagi sampai urusannya selesai. Ia meminta Dayu jaga diri baik-baik dan jika sangat merindu, cukup hanya memikirkannya dan ia pun akan langsung tiba di hadapan gadis itu. “Ugh, pikiranku, ayo jangan overthinking. Kita harus cari bukti apa benar aku berasal dari masa lalu. Jangan pikiran bapak itu sekarang, bisa-bisa dia berubah ke wujudnya di masa lalu lengkap menggunakan pakaian panglima dan pedangnya. Parno aku dibuatnya.” Tanpa berusaha keras, gadis itu telah tertidur lelap tanpa memikirkan Bima sedikit pun. *** Pagi harinya ia telah bersiap bersama Arkan. Lelaki dengan lesung pipi itu terlebih dahulu menawarkannya sarapan khas Jawa Timur yang banyak dijual di pinggir jalan. Selesai makan mereka terus membelah jalan memasuki Dukuh Jambu Mente di Desa Bejijong, Trowulan. Candi Brahu diduga berasal dari kata wanaru atau warahu. Nama itu didapat dari sebutan sebuah bangunan suci yang disebut dalam Prasasti Alasantan. Prasasti tersebut ditemukan tak jauh dari Candi Brahu. “Oh, jadi ini situs peninggalan Kerajaan Majapahit.” Dayu mengambil ponselnya, mengabadikan beberapa potret sembari tak lupa untuk selfie. Arkan memperhatikannya dari kejauhan. “Di tempat tak jauh dari sinilah dahulu aku menghabisi suamimu. Sayangnya, karena keberanianmu dia pun tak jadi mati. Dan aku masih tak terima dengan keabadiaan dirinya, aku akan terus mengikut dan bergentayangan di sekitar kalian. Mustahil dan tak akan mungkin bagi kalian untuk hidup bahagia. Jangan pernah bermimpi.” Wujud Asli Mahaputra terlihat ketika ia memperhatikan Dayu dari jauh. Sayangnya gadis itu belum bisa mengingat apa pun meski lintasan kenangan senatiasa datang sedikit demi sedikit. Berbeda dengan Bima yang tahu jika Arkan bukanlah orang sembarangan, dan Bima pun menjaga jarak darinya, sebab tujuan hidup bekas panglima perang itu hanya ingin hidup bahagia dengan istrinya. Dayu memanggil Arkan agar ikut dengannya, tetapi tak lelaki itu hiraukan, ia lebih memilih duduk di dekat pohon, mengamati semua kenangannya dulu yang kini kembali berlarian di kepalanya. Putra Makhkota yang memilih moksa ke alam lain itu rupanya tak menemukan kebahagiaan di alam gaib, hatinya terlanjur sakit akibat penolakan Ayu dan tikungan tajam Bima di zaman dahulu. Sekali pun ia adalah calon raja di masa itu, tetapi kedudukan dan jasa besar Bima juga tak bisa dipandang sebelah mata, hingga ia pun harus merelakan Ayu lepas dari hatinya, meski ia telah memiliki beberapa wanita di sisinya, tetapi hatinya telah terpaut dengan kecantikan dan bakat pengobatan yang dimiliki gadis itu. Cinta Mahaputra perlahan-lahan berubah menjadi kebencian dan dendam. Ia benci melihat Bima bisa membuat Ayu tersenyum, lalu ia pun mendendam dan berujung pada fitnah keji yang ia lontarkan pada pasangan suami istri itu, dan akibatnya mereka bertiga pun terlunta-lunta jiwa dan raganya selama hampir seribu tahun. Bukan waktu yang sebentar. Bima yang harus berganti nama dan pekerjaan agar tak ada yang curiga mengapa ia tak menua. Ayu yang terkurung dalam wujud kupu-kupu biru dan lelah terbang ke sana kemari demi mencari tubuh yang cocok, dan Mahaputra yang melepaskan takhtanya demi mengikuti mereka berdua. Rumit, begitulah kisah cinta segititiga diantara para petinggi di zaman Kerajaan Majapahit hingga sekarang. Pangeran Mahaputra keluar dari tubuh kasar Arkan. Sukmanya yang masih mengenakan pakaian kebesaran seorang penerus lengkap dengan perhiasan dan makhkota dan juga sebilah keris, memandang Dayu yang masih melakukan tindakan yang ia rasa membuang-buang waktu, berfoto dari satu tempat ke tempat lainnya. Sang pangeran memandang wilayah Candi Brahu di sekelilingnya, dulu tempat itu merupakan tempat ritual suci di kerajannya. Acara pernikahan besar dan berkat dari seorang pendeta dilakukan di sana. Begitu juga ketika ia menikah dengan putri yang dijodohkan oleh ayahnya. Pernikahan yang harus ia lakukan demi memperkuat hubungan dengan kerajaan lain. Meski tanpa ada rasa cinta, tetap ia harus jalani, sampai ia ingin mengambil lagi seorang selir, dan Mahaputra berniat memilih sendiri langsung dari kalangan rakyat jelata. Dan ia dengar dari orang kepercayaannya bahwa seorang lurah memiliki anak kembar, salah satunya seorang perempuan dengan wajah cantik dan kemampuan sebagai seorang tabib yang sangat mumpuni. Mahaputra menarik napas panjang. Kenangan itu membuat hatinya kembali nyeri. Ia dengan kekuatannya menghentakkan kaki di tanah, hingga tanah di sekitar Candi Brahu bergetar kuat sampai di tempat Dayu mengambil beberapa foto. “Gempa?” tanya Dayu pada angin yang melintas. Gegas saja gadis itu berlari demi menyelamatkan diri, dan ia terjatuh sebab kakinya tersandung batu. Guncangan semakin kuat dan membuat kapala Dayu pusing luar biasa, ia merasa berputar-putar hingga nyaris muntah dan sebisa mungkin ia tahan. Gadis itu mendengar suara ringkikan kuda tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia mengerjapkan mata berkali-kali memastikan penglihatannya. Masih bisa ia lihat pengunjung lain yang menggunakan pakaian sama dengannya. Dan di saat yang sama ia melihat seorang dengan kain menutupi kepala menunggang kuda ke arahnya. Tubuh dayu ditembus begitu saja oleh penunggang kuda itu. Sang penunggang berhenti sembari menarik tali kekang kuda, ia kemudian menoleh ke arah Dayu, angin kencang menerbangkan kain panjang yang menutupi wajahnya. Terlihat wajah Ayu di sana dengan rambut panjang terurai indah. “Dia, kan, gadis di dalam kolam. Yang ada di dalam foto si bapak sad boy.” Ayu yang berada di atas kuda, kembali mengenakan tutup kepalanya, di sisi tunggangannya terdapat beberapa tumbuhan, akan pohon dan kulit kayu yang ia bawa. Sembari menghentak kuda wanita mengatakan sesuatu pada Dayu. “Cepatlah ingatanmu kembali. Aku sudah lelah berlarian ke sana kemari selama ratusan tahun,” ucapnya, lalu bayangan itu menghilang dari hadapannya. Kemudian berganti dengan kilasan adegan demi adegan di masa lalu yang berlarian cepat di kepala Dayu. Ada pengobatan, penyamaran, latihan, peperangan, adegan mesra lainnya, pernikahan, perpisahan dan luruhnya tubuh Ayu menjadi debu. Dayu memegang kepalanya kuat-kuat, ia merasakan nyeri hebat bagai dihantam ribuan palu. Namun, sebisa mungkin gadis itu tak memikirkan apalagi meminta tolong pada Bima. Biarlah ia kesakitan asalkan sedikit ingatan tentang dirinya bisa ia temukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD