Pertolongan

1920 Words
Bima mengaduh kuat, tubuh bagian belakangnya terasa sakit ketika tertancap pecahan kaca. Sosok Dayu kemudian berubah menjadi Mahaputra yang menertawainya dari jauh. “Lemah. Mudah tertipu hanya karena pesona wanita.” “Kau bawa kemana istriku?” Bima berdiri, ia masih bisa menahan luka akibat serpihan kaca walau mengalirkan darah. Luka-luka dulu semasa peperangan juga tak kalah menyakitkan dibandingkan yang sekarang. “Sudah terlalu lama kau meninggalkan istrimu. Kau pikir semudah itu meninggalkan wilayah gaib kekuasaanku.” Mahaputra membuat api dari telapak tangannya, ia melemparnya ke sekeliling kamar Bima. Benda-benda di dalam sana terbakar lalu menjadi abu dan berubah menjadi hutan tempat mereka bertarung. Mahaputra duduk di batang pohon tempatnya berkuasa. Tak lama kemudian, sosok-sosok makhluk cantik lainnya duduk di dekatnya. Mereka berpakaian serba panjang dan tembus pandang. Siluman yang berhasil ditaklukkan Mahaputra selama ia moksa dan berkelana ke sana kemari. “Kuberikan tawaran menggiurkan padamu, Panglimaku.” Sang pangeran culas menyentuh pipi halus sang gundik yang duduk di pangkuannya. “Aku tak butuh apa pun,” jawab Bima. “Aku punya banyak gundik dan peliharaan yang kujadikan pelampiasan setiap hari. Aku bisa memberikan sebanyak yang kau inginkan, bahkan jauh lebih cantik daripada Ayu. Sebagai gantinya kau berikan istrimu padaku. Maka, akan kujadikan dia ratu di kerajaanku ini. Aku berjanji akan bersikap baik dengannya. Hartaku jauh lebih banyak dibandingkan hartamu. Dan di sini dia tak akan menua seperti manusia biasa lainnya. Tawaran yang menggiurkan bukan. Kau bisa berganti-ganti wanita setiap malam. Kau pasti puas!” Mahaputra menenggak secangkir arak yang disodorkan sang gundik padanya. Bima menyentakkan kakinya ke tanah, membuat sekitar singgasana sang pangeran bergetar. Ia merapalkan mantra, lalu muncul sebilah pedang di tangan kanan. Lelaki itu kembali menyerang Mahaputra dengan bertubi-tubi. Namun, dengan mudah sang pangeran culas menghilang dari hadapannya. Bima bagai membelah angin hingga membuat beberapa pohon tumbang. Lelaki itu berputar di sekitar hutan, mencari jalan keluar. Beberapa kali merapal mantra, lalu kabut tipis datang menghalangi pandangannya. Perlahan-lahan dan tetap waspada ia berjalan sembari memikirkan Dayu. “Pikirkanlah aku sekali saja, agar aku bisa kembali,” gumam Bima diantara kepulan asap tipis. Ia melayangkan pedangnya beberapa kali ketika ada tangan-tangan dingin yang menyentuh kulitnya. Selendang-selendang halus, wangi dan tipis mengenai matanya, ia kemudian bagai melihat sosok wanita cantik dengan rambut terurai indah di hadapannya. Bima menggeleng kuat beberapa kali, terlebih lagi wangi yang ia cium bukan berasal dari wewangian yang biasa ia gunakan di dunia biasa. Ia tahu Mahaputra sedang memainkan kembali ilusinya. “Tuan, lupakan istrimu. Bersenang-senanglah bersamaku. Tubuhku dingin, perlu kehangatan.” Wanita bertubuh indah itu memeluk Bima dari belakang. Gegas lelaki itu menarik dua tangan yang membelenggunya, menarik dan hendak melemparnya ke pepohonan, tetapi dengan cepat pula sosok itu menghilang sebelum ia beri pelajaran. “Hadapi aku jika kau memang jantan, Mahaputra!” Sekelebat bayangan wanita kembali melintas berulang-ulang di hadapan Bima berkali-kali. Kepala lelaki itu mulai pusing, ragam bisikan ia dengar di telinganya, mulai dari rintihan, tangisan bahkan berubah menjadi jeritan Dayu. Bekas panglima perang itu berlari mengikuti arah suara istrinya. Ia melihat Ayu terikat di pohon dan dijaga dengan dua sosok wanita lain. “Ini tipuan atau nyata. Lalu kenapa di sana Ayu bukan Dayu.” Bayangan itu kembali pudar ketika ia sadar ilusi Mahaputra kembali mempermainkannya. “Ini tak benar. Bisa-bisa aku tak kembali jika terus-menerus terjebak di sini.” Bima menyarungkan pedangnya. Ia mencoba berjalan dengan tenang dan mengabaikan bisikan-bisikan yang terus menghantuinya. Waktu terus berjalan, dari matahari masih tinggi sampai matahari telah terbenam, terbit lagi lalu terbenam lagi. Namun, ia tak juga menemukan jalan keluar. Lelah, lelaki itu kemudian duduk di batang pohong besar. Ia mengeluarkan perisai dari tenaga dalam demi melindungi diri dari gangguan makhluk lainnya. Bima menyandarkan kepalanya, ia mencoba terpejam beberapa saat. Baru beberapa waktu ia terlena, bisikan suara Dayu kembali menyapanya. Bima kemudian berjalan menelusuri asal suara. Kabut tipis-tipis perlahan kembali menghalangi pandangannya. Disertai akar pohon yang menggantung dan berkumpul membentuk satu wujud, Dayu. Gadis itu berdiri di sana, mengenakan pakaian sekolah, sedang kebingungan menyadari dirinya ada di mana. “Dayu,” ujar Bima dengan sedikit rasa heran. Bagaimana caranya gadis itu ada di sana, sedangkan ia manusia biasa yang tak bisa masuk kecuali dengan mantra atau diculik oleh Mahaputra. “Kanda,” panggil Dayu sembari berlari merentangkan kedua tangannya. Senyum Bima sirna ketika merasakan keanehan pada Dayu. Tak pernah selama mereka bersama di dunia yang baru gadis itu memanggilnya dengan sebutan kanda seperti ketika mereka masih bersama di masa lampau. Gadis itu terus berlari, Bima mencabut kembali pedangnya, dan ketika Dayu semakin dekat, pedangnya ia hunuskan tepat di perut Dayu. Sosok itu terdiam di tempat, berubah menjadi rimbunan akar dan kembali ke pohon yang menciptakan ilusi bagi Bima. Gegas lelaki itu melayangkan pedangnya ke sana kemari. Ia dengan seluruh kekuatannya menebang berbagai pohon tua agar bisa mencari jalan keluar, begitu terus hingga matahari kembali terbenam dan ia tak juga berhasil ke luar dari sana. *** “Hmmm, udah masuk tiga bulan Pak Bima sad boy menghilang,” gumam Dayu ketika menyelesaikan ujian nasionalnya. Ia telah menyelesaikan seluruh pelajaran, hanya tinggal menunggu hasil. Selama beberapa bulan ia terus menanti Bima, terkadang ia kembali ke rumah lelaki itu memastikan bahwa penantiannya tak sia-sia. Ia sempat berpikir bahwa lelaki bertubuh tinggi itu hanya membual saja tentang kebahagiaan mereka di zaman dahulu. Namun, sekali lagi ia mengikuti kata hatinya, mencoba menunggu, sebab menurut pengakuan Bima, penantiannya jauh lebih panjang hampir seribu tahun. Gadis itu berjalan kaki pulang sekolah. Ia tak menaiki ojeg, bus, atau menerima tawaran dari teman-temannya. Sepanjang perjalanan ia terus memikirkan Bima, tak hanya hari itu, tapi setiap hari. Biasanya lelaki itu akan datang jika ia memikirkannya walau hanya sedikit. Namun, tak ada yang muncul, semuanya terasa hampa, hatinya merasa sepi. Ia yang tak memiliki orang tua, teman atau sahabat, merasa kehilangan ketika satu-satunya tempatnya mencurahkan perasaannya raib tanpa jejak. Motor besar Arkan melintas melewati Dayu, ia tak menawarkan apa-apa pada Dayu. Usai Mahaputra lepas dari tubuhnya, Arkan bersikap biasa saja pada gadis itu. Dayu memperhatikan Arkan dari kejauhan. Ia mengingat-ingat, motor besar yang pernah menabrak Bima sama persis dengan milik temannya itu. Kepala gadis itu terasa sakit, ia duduk di kursi tepi jalan. Termenung sesaat di sana, merangkai kepingan puzzle yang sempat hilang dari kepalanya. Semakin sakit kepalanya semakin banyak puzzle yang ia susun. Dayu kembali mengingat peristiwa ia hampir jatuh di jurang, sebelum kejadian itu ia pergi bersama Arkan ke Candi Brahu. “Sial! Anak sok pinter itu, pura-pura lupa.” Dayu memberhentikan taxi lalu kembali ke kosannya. Sampai di sana, ia menerobos masuk ke kamar Arkan. Anak SMU itu tak tahu apa-apa lagi, sebab yang menguasai tubuhnya dulu telah pergi. Terkejut Arkan melihat Dayu masuk begitu saja ke kamarnya sedangkan dirinya hanya mengenakan handuk. Beberapa anak lelaki lain datang melihat keributan yang tengah berlangsung. Dayu mencekik leher Arkan hingga tubuh anak itu terangkat beberapa senti ke atas lantai. “Wowowow, tenang dulu, Yu.” Arkan menepuk tangan Dayu, napasnya serasa tercekat. “Sial. Kamu, ya.” Tangan Dayu terkepal ingin menghantam wajahnya, tetapi terlebih dahulu beberapa anak kos lain menariknya hingga Arkan jatuh dan terbatuk di lantai. “Kenapa? Kita bisa bicara baik-baik. Di kelas tadi aku nggak bisa ngasih contekan, pengawasnya serem.” “Peduli setan aku sama ujian. Dayu menarik tangannya yang digenggam beberapa anak kos lain. Kamu pura-pura nggak ingat pergi sama aku ke Candi Brahu. Siapa kamu sebenarnya, ha?” jerit Dayu di kamar Arkan. “Ow, ini kayaknya kamu salah orang. Kita nggak pernah pergi ke tempat yang kamu bilang tadi. Suer!” “Tinggalin kami. Aku bisa bicara baik-baik sama dia.” Dayu menarik napas dan menenangkan diri, menunggu di luar sampai Arkan selesai berganti baju. Beberapa menit menunggu, anak itu ke luar juga dengan sedikit rasa takut. Baru kali itu selama tiga tahun berteman, ia melihat Dayu semarah itu, biasanya Dayu selalu bersikap baik pada yang lain. Arkan kemudian duduk di sebelah temannya, dan saat itu juga sebelah tangan Dayu memegang lengan Arkan dengan sangat kuat. “Sa-sakit, Yu, lepas,” ujar Arkan dengan tangan memerah. “Kita pergi ke Candi Brahu sekarang, kalau nggak, aku ubah kamu dari lelaki sejati jadi perempuan cantik.” “Iya, iya, sakit, please, lepas.” Keduanya kemudian bersiap dengan seadanya menuju suatu tempat yang menjadi kunci kembalinya Bima. Belasan jam berkendara dan beberapa kali beristirahat telah mereka lakoni untuk kali kedua. Keesokan harinya Dayu pergi berdua bersama Arkan, sebelumnya ia mengancam jika temannya berani pergi tanpa izin, ia akan membuktikan ucapannya yang kemaren. Benar saja, Arkan hanya duduk sembari menunggu Dayu di dekat motornya. Gadis itu berlari ke dalam Candi, di sana ia ingat pernah berjumpa dengan sosok dengan makhkota di atas kepalanya. Pangeran culas yang disebut oleh Bima. Di dalam candi itu, Dayu menempelkan dahinya, ada patung dewi terukir di sana. Ia teringat lagi dengan wanita cantik yang dikelilingi kupu-kupu biru. Gegas gadis itu berdoa. “Tolong, kalau memang dewa dan dewi itu ada, buktikan. Bawa Bima kembali ke hadapanku. Aku khawatir.” Air mata Dayu mengalir dan mengenai ukiran dewi di candi. Seketika denting waktu di sekitar candi berhenti, begitu juga dengan air mata gadis itu tak jadi terjatuh di tanah. Kupu-kupu biru yang ada di bahu Dayu menampakkan wujud aslinya, serangga cantik pesuruh sang dewi itu kemudian terus terbang, menuju jurang terus turun ke ngarai dan menembus air terjun, pintu alam gaib tempat sang pangeran moksa. *** Bima mulai kelelahan, bibirnya kering sebab beberapa hari telah tak minum. Ia berlutut dan menempelkan dahinya ke tanah. Tangannya tergenggam menghantam bumi beberapa kali. Lelaki itu mulai dilanda keresahan pada jiwanya. Hingga sebuah cahaya biru menyilaukan datang dan membuat Bima mendongak. Ia melihat kupu-kupu biru yang sama dengan wujud sukma Ayu dulu. Serangga itu terdiam, lalu terbang kembali, diikuti dengan Bima di belakangnya. Tak ada yang berani mengganggu suruhan sang dewi di alam itu. Mereka bukanlah tandingan Jagad Btari yang melindungi Ayu. Berbagai macam ilusi telah terpatahkan, pohon besar, kabut, suara panggilan, hilang seketika terkena pancaran sinar hangat dari kupu-kupu itu. berbagai macam makhluk lain juga turut sembunyi ke tempatnya, tak ingin terkena murka hingga tubuh mereka luruh menjadi debu. Terkecuali Mahaputra, ia hanya memperhatikannya dari atas tanpa ada niat memberi hormat sedikit pun pada sang dewi. “Tunggulah. Aku pasti akan menuntut balas,” gumamnya sembari mengepalkan kedua tangan. Ia menghilang demi mengumpulkan bala pasukan gaibnya, melawan Bima walau harus menentang kehendak dewi yang dahulu disembah Ayu. Kupu-kupu itu menghilang di balik air terjun. Bima terus berjalan dan terjun ke kedalam sungai tempat air terjun itu mengalir. Ia berenang sekuat tenaga hingga sampai di tepi. Lelaki itu berdiri dan memusatkan pikirannya, ia melompat dari satu pijakan ke pijakan lainnya. Perlahan demi perlahan, suara Dayu mulai terdengar. Ia berlari secepatnya, sebab rasa rindu telah begitu dalam tertancap dalam sanubarinya. *** Waktu di sekitar Candi Brahu masih terus berhenti. Mata Dayu masih terpejam, hingga ia merasakan sebuah sentuhan di bahunya, dan ketika ia berbalik, Bima telah muncul dengan mengenakan pakaian dari masa lalunya. Dua orang itu saling memandang sejenak, kemudian mereka saling memeluk satu sama lain dengan sangat erat. Sang dewi masih berbelas kasihan, waktu masih dihentikan sampai mereka melepas pelukan. Tak ada kata yang terucap, hanya air mata yang mengalir di pipi Dayu. Gegas Bima menghapus dengan ibu jarinya. “Maaf, aku lengah sampai tak sadar tersesat di alam lain begitu lama.” Bima memandang wajah Dayu dengan begitu mendalam. Dayu terdiam beberapa saat, ia memandang lelaki itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, hingga dari bibirnya terlontar sebuah kata yang membuat jantung Bima nyaris lompat dari tulang rusuknya. “Pak, kita nikah aja, yuk. Sekolahku sebentar lagi selesai.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD