74. Ayah Raihanah

1308 Words

"Sudah matang?" Affan menghampiri istrinya sambil menggosok rambutnya yang masih basah. Raihanah menoleh dia menganggukan kepalanya. "Sudah, Mas. Duduk dulu nanti aku sajikan," jawabnya. Affan duduk di kursinya. "Nanti tolong kasih minyak rambut ini, sambil pijat kepalaku ya!" Pria itu meletakan sebuah botol di meja makan. "Oh, iya Mas," jawab Raihanah. Setelah menyajikan makanan untuk suaminya. Raihanah meminta izin untuk mandi dulu. "Ya," jawab Affan. Affan menatap heran pada pintu kamar tempat Raihanah masuk tadi. "Dia tidak senyum sama sekali, dia marah?" gumamnya. "Dia marah karena aku telat jemput, atau marah soal pria di warung tadi?" Affan pun kembali kesal. "Harusnya aku yang marah, berani-beraninya dia dekat-dekat dengan pria lain, cih ... dia pikir aku akan cemburu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD