Merida tersenyum saat membuka pintu ruangan Sathir mendapati ketiga anak dan menantunya yang masih lelap dalam tidurnya. Wanita paruh baya itu mendekat ke ranjang, duduk di sisi Shifkha lalu mengelus pelan kening Sathir yang berkerut. Perlahan laki-laki itu membuka matanya. Dia sudah hafal dengan cara orang-orang yang membangunkan dirinya pelan-pelan begini. "Morning, Sayang. Bagaimana tidurnya, nyenyak?" tanyanya dengan hangat dan perhatian. "Morning too, Bunda," balasnya tanpa menjelaskan lebih rinci. Laki-laki itu menunduk saat merasakan tubuh di dalam dekapannya menggeliat pelan mencari posisi nyaman. Merida dan Sathir terkekeh bersamaan lalu wanita itu bangkit menyibak gorden membuat cahaya mentari berlomba-lomba masuk. "Cuma mau bangunin kamu. Olahraga?" tawar wanita itu. "Bo

