Kuluruhkan tubuhku yang kelelahan di sofa sambil mengusap keringatku di dahi. Aku membulatkan mulutku, mengatur nafas. Luna tak ada di rumah. "Sia-sia," gumamku sendirian. Saat bunga yang kubawa ingin kugeletakkan begitu saja tiba-tiba terdengar suara dari dalam kamarku. "Mas? Kok cepat sekali pulang? Aku pinjam kamar mandimu. Air di kamar mandiku ti ...." Belum selesai Luna berbicara, aku sudah lebih dulu melangkah cepat ke arahnya lalu mencium bibirnya. Aku tak peduli ia mengizinkanku atau tidak. Yang kutahu saat ini, aku suaminya dan dia istriku. Tak peduli siapapun dia, dia milikku. Kunikmati dingin bibir dan mulutnya, membuat hatiku basah. Aku terus memeluknya, erat sekali. Luna hanya pasrah saat aku mengelus seluruh sisi tubuhnya. Kubisikkan padanya, "Aku mencintaimu," des

