Sejak hari mereka resmi HTS, hidup Rachel terasa lebih… ramai.
Ponselnya hampir tak pernah sepi.
Pagi, siang, sore, malam semua tentang Brian.
Rachel:
Pagi sayanggg ☀️
Brian:
Pagi.
Singkat. Selalu singkat.
Namun anehnya, Rachel tidak kapok.
Ia tetap mengirim pesan panjang, stiker lucu, hingga foto selfie dengan berbagai ekspresi imut. Kadang, foto itu hanya wajah polosnya dengan senyum manis. Kadang… sedikit lebih berani. Bahu terbuka, tatapan nakal masih sopan, tapi cukup membuat jantung pria normal berdegup lebih kencang.
Brian membaca semuanya.
Satu per satu.
Namun balasannya tetap dingin.
Bukan karena tidak tertarik.
Justru sebaliknya.
Ia terlalu gengsi untuk mengakui bahwa setiap notifikasi dari Rachel membuatnya tersenyum sendiri.
---
Beberapa hari kemudian, Brian mendadak jarang terlihat di perusahaan kecil tempat ia menyamar.
Rachel menatap kursi kosong di seberang mejanya.
“Kok akhir-akhir ini jarang ya?” gumamnya.
Saat akhirnya Brian muncul, wajah pria itu tampak lebih serius dari biasanya.
“Aku dipindah sementara,” ucap Brian pelan. “Ke perusahaan ketiga. Lebih besar.”
Rachel terdiam.
“Oh…”
Sedikit kecewa, tapi ia tersenyum. “Bagus dong. Buat masa depan kamu.”
Brian menatapnya lama.
“Maaf… aku bakal sibuk banget sebulan ke depan.”
Rachel mengangguk, meski hatinya terasa diremas.
---
Hari-hari berlalu.
Mereka jarang bertemu.
Rachel masih setia mengirim pesan.
Brian masih membaca… dan membalas seperlunya.
Ia sibuk dengan proyek besar yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun. Satu-satunya orang yang tahu hanyalah Bima, asisten setia yang sudah dianggapnya keluarga.
Karena alasan itu pula, Brian mengaku pada Rachel bahwa ia tinggal sementara di apartemen kecil milik bima.
Rachel menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya mengetik.
Rachel:
Kita kan udah HTS…
Aku cuma pengen kenal kamu lebih dekat.
Boleh nggak aku main ke rumah kamu? Pengen silaturahmi sama keluarga kamu juga.
Biar aku nggak ngerasa sendirian kenal kamu doang.
Pesan itu terkirim.
Brian membaca, lalu terdiam cukup lama.
Ia ragu.
Namun akhirnya membalas.
Brian:
Boleh. Tapi rumahku sederhana.
Rachel:
Gapapa. Aku juga orang sederhana kok 😊
Brian menatap layar ponsel itu lama.
Apartemen kecil milik Bima… satu-satunya tempat yang aman.
“Oke,” gumamnya pelan.
Hari itu, Rachel datang ke apartemen Brian dengan gaun pink imut. Rambutnya tergerai, dihiasi bando senada. Cardigan tipis menutup dadanya dengan sopan manis, tidak berlebihan.
Brian terpaku sesaat saat membukakan pintu.
“Masuk,” ucapnya, berusaha terdengar santai.
Di dalam, sudah ada Bima dan adiknya, Iky.
Brian berdehem kecil.
“Ini… keluarga aku. Bima, sama adiknya, Iky.”
Rachel tersenyum ramah.
“Senang ketemu kalian.”
Obrolan berlangsung hangat. Rachel dengan mudah mencairkan suasana, membuat apartemen kecil itu terasa hidup.
Tak lama kemudian, Iky pamit keluar untuk membeli jajanan.
Beberapa menit berselang, ponsel Bima berdering.
“Gue keluar bentar ya,” katanya singkat.
Pintu apartemen tertutup.
Dan kini…
tinggal Rachel dan Brian berdua.
Sunyi.
Rachel bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
Brian duduk tegak, sok tenang.
Padahal dadanya bergejolak.
Rachel menatapnya.
Lalu… matanya turun ke bibir Brian.
Tanpa sadar, ia mendekat.
Brian menahan napas.
“Rachel…” suaranya serak.
Namun Rachel sudah terlalu dekat.
Jari-jarinya menyentuh lengan Brian.
Cukup.
Brian menyerah.
Ia menarik Rachel perlahan. Bibir mereka bertemu awal yang ragu, lalu berubah dalam. Hangat. Membakar.
Rachel terkejut… tapi tidak menolak.
Ciuman itu turun ke leher, membuat napas mereka tak beraturan. Brian menahan diri sekuat tenaga.
Namun sebelum segalanya melangkah terlalu jauh
Klik.
Pintu terbuka.
“Mbak Rachel! Aku beli jajanan!” seru Iky ceria.
Mereka langsung menjauh. Duduk rapi.
Jantung Brian hampir copot.
Rachel pura-pura tersenyum, wajahnya memerah.
---
Malam itu, Brian pulang ke rumah megahnya.
Di kamar mandi, ia berdiri lama di bawah pancuran air.
“Rachel…” gumamnya lirih.
“Kamu bikin aku setengah gila.”
---
Di sisi lain, Rachel menutup wajahnya dengan bantal.
“Aduh, Rachel… kamu m***m!” gumamnya sambil menepuk pipi sendiri.
Ia ingin mengirim pesan… tapi urung.
Malu.
---
Hari berikutnya, Brian bekerja tanpa fokus.
“Lu kenapa?” tanya Bima curiga.
“Gak apa-apa.”
Namun saat ponselnya berbunyi, senyumnya muncul tanpa sadar.
Rachel:
Pagi cintakuu sayangggg 💕
Bima melihat sekilas.
“Wah… akhirnya.”
Brian berdehem, lalu kembali sok dingin.
Namun beberapa hari kemudian, ia mulai menjauh.
Meeting. Klien. Proyek.
Dan itu… nyata.
Namun Rachel lelah.
Ngapain sih ngejar cowok yang cuek?
Ia berhenti.
Menghilang.
Hari berlalu.
Lalu minggu.
Brian gelisah.
Akhirnya ia mengirim pesan.
Brian:
Kamu kenapa?
Rachel:
Lagi sibuk. Mau ke mall sama temen.
Dadanya mengencang.
Sore itu, di Grand City, Brian melihatnya dari jauh.
Rachel tertawa bersama temannya.
Seorang pria asing tinggi, tampan mendekat. Terlalu dekat.
Brian mengepalkan tangan.
Apa… dia punya yang lain?
Dan untuk pertama kalinya,
Brian sadar
Ia tidak siap kehilangan Rachel.