Aruna gelagapan menerima kerlingan mata dari majikannya. Awalnya ia mengira bahwa sang majikan sedang menggodanya. Namun seketika Aruna sadar bahwa Batara tidak akan melakukan hal segila itu di depan anak laki-lakinya. Jadi buru-buru Aruna tersenyum kikuk menanggapi pertanyaan Batara. “Betul, Tuan Jingga. Hadiah yang sudah saya persiapkan untuk Tuan Jingga atas permintaan Tuan Batara, kok.” Jingga mencibir. “Dad pasti lagi ngancam Aruna, kan? Supaya dia jawab begitu?” “Anak tampan ini mau lihat hadiahnya, nggak?” tanya Aruna mengalihkan pertanyaan bernada menyindir Batara tersebut. “Mau… mau…” jawab Jingga penuh semangat. Anak laki-laki kecil itu lalu melompat turun dari pangkuan Batara. Sebelum meninggalkan Batara, Jingga menghadiahi pipi ayahnya itu dengan sebuah kecupan. “Thank you,

