2. Golden Eyes

2329 Words
Arion Valdi, itu nama sang Bos Besar yang dilihat Cleo di kafetaria tadi siang. Pria itu adalah founder sekaligus pimpinan dari perusahaan tempat Cleo bekerja sekarang. Cleo memang sudah pernah mendengar nama pria itu, namun momen di kafetaria tadi siang menjadi kali pertama Cleo melihat wajahnya secara langsung. Sosok Arion yang tampannya di atas rata-rata benar-benar telah mematahkan stereotype bos tampan yang digandrungi oleh banyak karyawannya. Karena kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Seperti yang sudah diceritakan oleh Tamara, Arion tidak terlalu disukai oleh para karyawan di sini. Bukan karena masalah orientasinya, tetapi karena sifat Arion yang katanya menyebalkan bukan main. Pria itu sangat perfeksionis sehingga mudah marah dan tutur katanya selalu pedas. Hampir setiap hari, pasti ada saja karyawan yang kena damprat Arion karena masalah ini itu, termasuk masalah yang paling sepele sekali pun. Namun, Cleo masih belum bisa menilai dalam ranah tersebut, sebab ia sendiri belum pernah berinteraksi secara langsung dengan sang Bos Besar. Ini memang terkesan konyol sekali, namun Cleo masih sangat menyayangkan lelaki setampan Arion ternyata gay, alias tidak tertarik sama sekali dengan perempuan, dan dia juga sudah punya pacar yang ternyata...asisten pribadinya sendiri. Dan perlu digaris bawahi, asisten Arion yang bernama Kenzie Martin itu juga tampan dengan tipe wajah sedikit oriental serupa artis-artis Korea. Hubungan mereka itu benar-benar tidak adil, menurut Cleo. Bagaimana bisa dua orang pria tampan menjalin sebuah hubungan? Membuat stok lelaki tampan bagi kaum perempuan jadi berkurang saja! "Emangnya si Bos Besar sama asistennya itu udah pacaran dari kapan sih?" Cleo masih sangat penasaran, bahkan hingga mereka sudah kembali ke ruangan, dan duduk di kubikel masing-masing. Pertanyaan itu dilontarkannya pada Jihan karena memang kubikel mereka bersebelahan. Sementara kubikel Tamara dan Raden berseberangan dengannya. Jihan melongokkan wajah ke kubikel Cleo dan nyengir meledek. "Ya ampun, masih patah hati nih?" Cleo mendengus. "Bukannya gitu. Aku cuma penasaran aja dan agak menyayangkan dua cowok ganteng pacaran, yang mana bikin populasi cewek jomblo di sini jadi bertambah." Jihan terkekeh geli. Menurut pengamatan Cleo, teman barunya ini benar-benar bersifat ceria dan mudah tertawa. "Sebenarnya nggak ada yang tau sih sejak kapan mereka pacaran, dan mereka juga nggak pernah konfirmasi kalau memang pacaran," jelas Cleo. "Tapi, dari awal perusahaan ini ada, Kenzie udah jadi asistennya Bos Besar dan mereka memang kemana-mana berdua mulu. Terus, liat sendiri kan tadi mereka semesra apa? Ya kali, teman doang begitu?" Cleo meringis dan menganggukkan kepala. Ia memang sudah menyaksikan sendiri semesra mereka. Rasa-rasanya, mustahil jika dua orang pria yang hanya berteman, makan suap-suapan di tempat umum, lalu dengan manisnya saling mengelap sudut bibir satu sama lain yang terkena bekas makanan. Jangan kan melakukan itu, kaum pria bahkan merasa enggan untuk sekedar memuji temannya, karena menurut mereka itu aneh. Jihan mengulurkan tangannya dari kubikel untuk menepuk-nepuk bahu Cleo. "Welcome to the club, Cleo. Semoga shock­-nya nggak terlalu lama, dan lo bisa cepat terbiasa melihat dua cowok ganteng pacaran." Mana bisa? Cleo yakin, ia tidak akan pernah terbiasa akan kenyataan itu. Syukurnya, Cleo hanya lah staff biasa yang akan sangat jarang berinteraksi dengan Bos Besar, sehingga ia tidak perlu sering-sering melihat dua orang tampan itu bermesraan. *** Jam lima teng, jam kerja Cleo berakhir. Menuruti kata ibunya di telepon tadi pagi, Cleo akan langsung pulang ke kosnya, dan tidak akan mampir kemana-mana supaya tidak pulang larut malam. Teman sedivisi Cleo juga memutuskan untuk langsung pulang. Bukan hanya Cleo saja yang merasa paranoid dengan berita yang beredar belakangan ini, mereka pun juga begitu. Termasuk Raden, yang katanya doyan dugem sampai larut malam sebelum kasus-kasus ditemukannya mayat misterius di kota ini terjadi. "Gue nggak mau mati konyol jadi mirip jenglot begitu." Raden beralasan. "Terserah dah mau dibilang cupu sama teman-teman gue, yang penting gue selamat." Mereka memang membahas mengenai kasus penemuan mayat misterius yang terjadi akhir-akhir ini sembari berjalan meninggalkan kantor. Mulai dari keluar ruangan, hingga kini sudah berada di lift. "Bukannya yang jadi korban perempuan semua ya?" Tanya Cleo. Ketiga teman barunya itu langsung menggeleng. "Korbannya tuh beragam banget, Cle. Perempuan, laki-laki, orang muda semacam kita, sampai orang tua juga ada!" Tamara menjawab menggebu. "Nggak tau deh kapan berakhirnya kasus yang bikin hidup semua orang jadi nggak aman ini." Cleo mengangguk setuju. "Mamaku juga jadi paranoid banget ngelepas aku merantau ke sini gara-gara kasus itu. Kira-kira udah ada titik terang belum ya siapa pelakunya?" "Belum ada. Tapi, semua orang yakin banget sih kalau pelakunya bukan manusia." Jihan menyahuti pertanyaan Cleo. "Manusia mana coba yang bisa bikin orang mati kering kayak jenglot begitu?" "Nggak ada." Raden menimpali. "Gue sih yakin banget sama teori yang bilang kalau pelakunya vampire." Tamara tertawa. "Dibanding vampire, gue lebih percaya kalau pelakunya orang yang nyari tumbal pesugihan! Ini Indonesia, mana ada vampire? Kalau siluman iya." "Dih, undrestimate banget. Kita mana tau apa aja makhluk yang ada di sini." "Gue setuju sama Raden," ujar Jihan. "Menurut gue, teori kalau pelaku dari kasus itu vampire adalah yang paling masuk akal. Gue percaya vampire ada di sini, dan gue pun percaya kalau vampire ada, berarti werewolf juga ada. Bayangin dong seganteng apa mereka?" Tamara menyentil pelan kening Jihan hingga perempuan itu mengaduh. "Halu aja lo. Dipikir film Twilight apa?" cibirnya. Lalu ia menoleh pada Cleo. "Kalau lo percaya teori yang mana, Cle? Vampire atau tumbal pesugihan?" "Tumbal pesugihan," jawab Cleo realistis. Tamara langsung mengajak Cleo high five, dan Cleo nyengir lebar padanya. Menurut Cleo, teori kalau mayat-mayat tersebut merupakan korban tumbal pesugihan adalah yang paling masuk akal. Sebab semua orang tahu bahwa perdukunan, pesugihan, dan semacamnya, bukan jadi sesuatu yang mengherankan lagi di sini. Cleo bahkan ingat sekali ketika dirinya masih kecil dulu, ada cerita bahwa anak-anak kecil diculik dan diambil kepalanya untuk dijadikan sebagai tumbal proyek. Mulanya, Cleo pikir bahwa cerita itu hanya lah akal-akalan orang tua untuk menakuti anak-anaknya saja. Namun, Cleo pernah membaca pengalaman seseorang di Twitter yang membenarkan kalau hal semacam itu memang kerap terjadi di sini. Lift yang membawa mereka sudah tiba di lantai dasar, dari lantai dua puluh lima. Keempatnya pun segera turun dari lift dan sudah memiliki tujuan yang berbeda-beda. Tamara dan Jihan menuju parkiran mobil, Raden ke parkiran motor, sementara Cleo hanya perlu berjalan ke luar gedung karena ia akan pulang naik ojek online. "Bye, guys! See you tomorrow!" Mereka saling dadah-dadah dan berpamitan di lobi. "Khusus untuk Cleo, semoga besok patah hatinya sembuh ya!" Jihan menambahkan itu untuk Cleo sembari tertawa-tawa, sebelum dirinya, Tamara, dan Raden memisahkan diri menuju tempat parkir. Cleo hanya tertawa tanpa suara dan menggelengkan kepala saja kepada mereka, lalu berjalan keluar sembari membuka aplikasi ojek online di ponselnya. Namun, baru selangkah berada di luar, tiba-tiba saja Cleo teringat dan merasa bahwa ia belum sempat mencabut charger ponsel dari stop kontak yang ada di kubikelnya. Untuk memastikan itu, Cleo pun mengaduk-aduk isi tasnya. Dan benar saja, charger-nya tidak ada di sana. Ia memang lupa mencabutnya. Tentu saja Cleo tidak bisa pulang tanpa charger. Ia pasti akan membutuhkan benda itu nanti. Karena itu, dengan erangan sebal yang ditujukan pada diri sendiri, Cleo memutar tubuhnya dan berjalan kembali ke lift, menuju kantornya yang ada di lantai dua puluh lima. Walau merasa sebal bukan main karena harus bolak-balik, tapi mau tidak mau Cleo tetap harus melakukannya. Begitu tiba di lantai kantornya yang mana memakan waktu cukup lama karena lift sedang ramai di jam kerja seperti ini, Cleo setengah berlari menuju ruangan divisinya yang untung saja belum terkunci, meski sudah kosong. Kantornya bahkan sudah sangat sepi dan Cleo tidak melihat siapa-siapa lagi kecuali petugas bersih-bersih di sini. Cleo berdecak mendapati si charger yang ternyata memang masih terpasang di stop kontak yang ada di kubikelnya. "Nyusahin banget sih," keluhnya. Ia pun cepat-cepat menarik charger tersebut, lalu berderap meninggalkan ruangannya, dan juga kantornya. Cleo tidak mau membuang waktu lama-lama, agar ia bisa tiba di kos sebelum matahari tenggelam. Sialnya, Cleo masih harus menunggu lift yang saat ini masih jauh. Dari dua lift tersebut, satu berada di lantai dasar, satunya lagi berada di lantai lima puluh. Kalau sudah begitu, tentu saja tidak ada yang bisa dilakukan oleh Cleo kecuali menunggu lift tersebut tiba. Karena kondisi kantor yang sudah sepi, Cleo yang memang penakut akan hal-hal mistis pun jadi merasa gusar sendiri selagi menunggu lift. Ia tidak bisa berhenti memandangi angka di samping pintu lift yang entah kenapa terasa bergerak begitu lambat. Ketika tiba-tiba mendengar sayup-sayup langkah kaki juga suara orang mengobrol, Cleo agak tersentak. Namun, ia langsung merasa lega karena tahu bahwa itu adalah suara manusia. Dan menilik dari suaranya yang kian mendekat, sepertinya mereka juga ingin naik lift ini. Cleo menoleh ke belakang, berniat untuk tersenyum sopan pada orang yang baru datang itu, yang ia yakini adalah karyawan di kantornya. Akan tetapi, baru sekali lihat dan sadar siapa yang datang itu, Cleo batal tersenyum dan buru-buru menghadap ke depan lagi. Dalam hati, Cleo jadi panik sendiri. Karena apa? Yang datang itu ternyata bukan karyawan biasa, melainkan Bos Besar dan pacarnya! Gila banget, kan?! Cleo benar-benar jadi salah tingkah. Secara otomatis, Cleo mundur satu langkah dan sedikit menundukkan kepala, membiarkan Bos Besar dan pacarnya itu berdiri menunggu lift dengan posisi selangkah di depannya. Sebisa mungkin, Cleo tidak ingin melihat ke arah mereka. Selain karena tidak berani, Cleo juga tidak ingin merasa miris melihat dua orang tampan pacaran, di saat Cleo sendiri adalah seorang perempuan yang sudah lama single. "Mau makan malam apa?" Itu suara pacarnya Bos Besar yang bernama Kenzie. Tanpa sadar, Cleo jadi bergidik sendiri karena mendengar begitu perhatiannya Kenzie kepada Arion. "Terserah. Tapi kamu yang masak." Cleo bergidik lagi mendengar suara Bos Besar alias Arion yang terdengar sangat berat dan dalam. Suaranya begitu manly, harus Cleo akui itu. Sampai-sampai dirinya tidak bisa membedakan apakah ia bergidik karena suara Arion yang terdengar begitu seksi di telinganya, atau karena ia yang mau tidak mau menguping percakapan mesra ini. Kenzie terdengar berdecak. "Nggak pernah nggak nyusahin." Arion terkekeh. "Nyusahin kamu memang hobiku." Dan Cleo masih mematung dan membisu di tempatnya berdiri. Suara dentingan lift terdengar tidak lama kemudian, dan pintu lift pun terbuka. Cleo membiarkan dua pria di depannya untuk masuk duluan. Dan sebenarnya, Cleo hampir saja memilih untuk naik lift selanjutnya saja, daripada harus terjebak dengan mereka berdua. Namun, karena lift yang datang tadi kosong, Cleo tidak punya alasan untuk naik lift lain. Hal itu justru akan terkesan sangat konyol dan bisa saja dianggap tidak sopan. Karena Cleo tidak mau membuat masalah dengan Bos Besar di hari pertamanya bekerja, ia pun pada akhirnya masuk ke dalam lift itu dan berdiri di paling sudut belakang. Rasanya ia tidak bisa bernapas karena ada dua orang ini di depannya. "Kamu mau ke lantai berapa?" Kenzie yang berdiri di sudut dekat tombol lift pun bertanya pada Cleo. "Lantai dasar," jawab Cleo yang lebih cocok dikategorikan sebagai cicitan. Kenzie hanya mengangguk singkat padanya, lalu menekan tombol yang menuju lantai dasar. Sepertinya, mereka juga mau menuju lantai yang sama. Cleo tidak tahu kenapa udara tiba-tiba terasa begitu panas di dalam lift ini, padahal ada pendingin ruangan. Dan Cleo juga tidak mengerti kenapa ia merasa begitu salah tingkah sehingga hanya bisa berdiri diam seperti patung di sudut lift, dan sebisa mungkin mengambil jarak dari dua orang di depannya yang menguarkan aura penuh wibawa sehingga Cleo jadi begitu segan. Perjalanan dari lantai dua puluh lima menuju lantai dasar benar-benar hening karena tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Arion dan Kenzie sama-sama sibuk dengan ponsel mereka masing-masing, sementara Cleo sibuk berdoa agar lift ini bisa cepat sampai, dan ia bisa segera menjauh dari pasangan ini. Ting! Cleo menghembuskan napas lega saat pintu lift terbuka di lantai dasar, tanpa adanya interupsi di lantai-lantai yang lain. Kenzie berjalan keluar lebih dulu, sementara Arion masih sibuk dengan ponselnya sehingga tidak langsung keluar. Ketika Cleo hendak melangkah keluar, di saat yang bersamaan Arion juga ikut melangkah tanpa benar-benar melihat ke depan. Dan entah bagaimana, mereka bertabrakan. Cleo panik setengah bukan main karena ponsel Arion yang jatuh ke lantai lift dengan suara berdebum cukup keras akibat tabrakan itu. Buru-buru ia menunduk untuk mengambil ponsel tersebut dan menyerahkannya kembali pada Arion. "Ya ampun maaf banget, Pak. Saya betul-betul nggak sengaja," ujar Cleo dengan nada begitu memelas. Ia bahkan sama sekali tidak sanggup untuk mengangkat kepala dan memandang ke arah Arion. Decakan sebal Arion pun terdengar, yang mana semakin membuat Cleo ketakutan. Dia tidak akan dipecat gara-gara ini, kan? Arion menyambar ponselnya dari tangan Cleo. Dan saat melakukan itu, tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan. Cleo mengutuki dirinya sendiri karena bisa-bisanya ia merasakan sensasi aneh di kulitnya ketika itu terjadi. Sungguh, Cleo benci dirinya yang jadi sesalah tingkah ini. Pintu lift sudah tertutup kembali karena mereka yang tidak kunjung keluar. Secara refleks, Cleo langsung bergerak untuk menekan tombol lift agar pintu kembali terbuka, dan Arion pun melakukan hal yang sama. Lagi-lagi, tangan mereka jadi bersentuhan, dan posisi mereka jadi berdekatan dengan cara yang canggung. Tanpa sengaja tatapan keduanya bertemu, dan mereka sama-sama tertegun. Cleo bisa merasakan wajahnya yang seketika menghangat karena menatap pada sepasang mata Bos Besar yang menyorotnya tajam. Seharusnya, Cleo langsung mengalihkan pandangannya dan buru-buru pergi dari sini. Tapi entah kenapa, selama beberapa detik, tatapannya justru hanya terpaku pada sepasang mata Arion yang berwarna cokelat gelap. Cleo seolah tidak sanggup untuk melihat kemana-mana selain kedua mata itu. Dan tiba-tiba saja juga, udara di sekitarnya jadi terasa begitu panas. Sama seperti Cleo, Arion pun seolah terpaku selama beberapa detik. Hingga pada akhirnya, Cleo terkesiap karena melihat sesuatu yang di luar nalarnya terjadi. Sepasang mata Arion yang semula berwarna cokelat gelap, tiba-tiba saja berubah menjadi warna kuning keemasan yang berkilat menatapnya. Cleo pikir dirinya berhalusinasi sehingga ia mengerjapkan mata beberapa kali untuk memastikan jika yang dilihatnya memang nyata. Dan memang nyata. Iris mata Arion berubah jadi warna kuning keemasan, padahal berani sumpah sebelumnya tidak seperti itu. Ketika pada akhirnya pintu lift kembali terbuka, yang pertama kali dilakukan oleh Cleo adalah berlari sekencang mungkin meninggalkan Arion. Tanpa peduli bagaimana nasibnya besok, juga tanpa peduli tatapan aneh orang-orang yang melihatnya. Cleo ketakutan setengah mati dan saat itu juga ia sangat yakin, Arion Valdi atau sang Bos Besar di kantor ini, bukan lah manusia biasa. Bahkan mungkin saja...bukan manusia sama sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD