4. PERNIKAHAN DINI
Menghibur Hati
Penulis:Lusia Sudarti
Part4
***
Dan aku pun menangis, diraihnya pundakku dalam pelukannya.
"Sabar Lit!" katanya.
"Makasih ya Sum," aku menangis dibahunya.
"Sama-sama Lit."
"Nggak usah sungkan ya!" ucapnya dengan diiringi senyuman.
Dengan langkah gontai aku pun melangkah menuju kerumah.
Aku masuk kedalam kamarku, menyiapkan semua materi pelajaran yang akan kujadikan kliping. Ku teliti semua agar tak ada yang salah dan tertukar. Semuanya baru mendapat tiga mata pelajaran. Dan rasanya tubuhku begitu lelah dan penat. Duduk selama berjam-jam berkutat dengan buku-buku. Tak terasa hari beranjak senja.
Setelah merapikan semua, aku bangun dan mandi lalu sholat maghrib.
Aku menuju kedapur untuk makan malam, disana sudah ada semua, rupanya sudah berkumpul untuk makan malam.
"Kamu nggak ngaji Lit," Kakakku heran aku ada dirumah. Baru saja aku menjatuhkan bobot dikursi.
"Enggak Mas, males, lagi datang syetan nya," aku menjawab sekenanya. Mereka semua tertawa.
"Ada-ada aja sih," Bapak ikutan bicara.
Kami makan tanpa suara. Akhirnya aku selesai dan pamit duluan. Aku kembali menyusun klipingan yang belum selesai.
Setelah selesai, aku menuju ruang depan.
Didepan televisi, aku menghampiri Bapak.
"Pak, Bu Lita mau sekolah lagi ya, disekolah Sumi, biar Lita bareng Sumi!" bujukku, perlahan.
Sejenak kutatap Bapak yang terdiam. Setelah mendengar ucapanku.
Ku alihkan tatapanku kepada Ibu, yang juga terdiam dan menghela nafas.
Aku pun demikan. Perlahan air mataku pun menetes mewakili kesedihan hatiku.
"Kita lihat nanti Lit. Apakah Bapak masih sanggup untuk mendapatkan biaya sekolah," ujarnya.
"Iya Pak," jawabku singkat tanpa banyak pertanyaan lagi.
Aku pun bangkit dan berjalan keteras belakang.
menghabiskan waktu sebelum senja berlalu. Mungkinkah mereka tak sanggup lagi membiayai sekolahku?" lirihku sendu.
Aku termenung seorang diri, fikiranku melayang. Hingga tak sadar jika ada yang telah berdiri didekatku.
"Kok ngelamun Lit, ntar kesambet loh?" Tiba-tiba Mas Wahyu berdiri dihadapanku .
Dan langsung kusambut dengan tonjokkan dibahu kirinya karena telah membuatku kaget.
"Aduuh Lit sakit. kira-kira napa?" gerutunya.
"Biarin salah siapa bikin aku kaget, wekk..!" balasku..
"Yuk nyanyi aja, eh iya mana Mas mu?" katanya lagi. "Ada didalam masih ganti baju kali," jawabku.
"Aku lagi pengen sendiri, jangan ganggu kenapa sih," aku pun sewot karena diganggu terus oleh Mas Wahyu.
"Santai bro, nggak usah nyolot," ledeknya kepadaku seraya mengangkat kedua tangan, aku hanya melotot menanggapinya.
Ia malah terkekeh melihat aku marah.
Setiap hari dirumahku selalu ramai.
Selain pada jajan bakso dan Lotek/pecel. Ibu juga punya warung sembako kecil-kecilan..
Tak terasa nih waktu memasuki maghrib, aku pamit dulu untuk sholat. Dan Mas Wahyu masuk kerumah untuk pesan bakso dan es, ia makan dengan lahap. Sementara itu Kakakku keluar dari kamar. Dan asyik mengobrol bersama Mas Wahyu. Begitu selesai aku ikut bergabung bersama mereka. Wahyu membayar bakso dan es, dan kembaliannya Ia membeli katom garuda juga kacang garuda untuk kita ngobrol. Mereka berdua begitu heboh deh, apalagi Mas Wahyu memang humoris, apa pun yang menjadi ceritanya mengundang gelak tawa.
Aku menyela pembicaraan mereka.
"Jadi nggak nih nyanyinya," akhirnya aku mengalah, setelah lelah tertawa.
"Nyanyi lagu Malaysia ya Mas?" kataku.
"Iya ..lagu apa ?" tanya Mas Wahyu.
"Gerimis mengundang ya?" jawabku.
"Oke siip!" ucapnya sembari mengacungkan jempol.
Mas Wahyu mengambil gitar dikamar Kakakku dibawa keteras samping dimana aku menunggu. Ia memainkan petikan klasik atau akustik.
"Ku sangkakan panaas, berpanjangan,
rupanya gerimis, rupanya gerimis mengundang, ha a a
Pernah juga kau pinta perpisahan, aku sangka kan itu hanyalah gurauan ha a
Nyata kau serius dalam senyuman....
Bukan sekejap denganmu, bukan mainan hasratku, engkau pun tau niatku tulus dan suciii...
Di balas mas wahyu.
senang benar kau ucapkan kau anggap itu suratan.
Tak sedikitpun rias wajahmu.. tiada terkira.
ku jawab...
Hanya aku separuh nyawa menahan sebab di dada
Sedangkan kau bersahaja berlalu tanpa kata,
Terasa diri amat terhina kau lakukan...
REFF
"Sia-sia ku korban slama ini, jika hatiku
Jika kasihku kau guris ha a a
Dalam tak sedarku menangis..
Plok...plok...plok,"
Tak sadar ternyata sudah pada datang sahabat-sahabat Masku .
"Wah tambah merdu suara mu Lit..!" ujar Bayu. seraya ngedipin mata genitnya.
"karena aku tomboy laluku toyor jidatnya.
huuu."
"Jaga mata, kalo nggak mau aku cokel," Kataku. kedua mataku melotot kearahnya.
"waduuh Adikmu sadis amat sih.," sergahnya ia melirik Masku.
"haruus..," kata Masku sambil tersenyum kearahku.
"Horeee wek wek, kasian deh kamu...," ejekku lagi.
Bayu pun cuma tersenyum kikuk menatap kepadaku.
Aku hanya menoleh sekilas kepadanya.
Aku melihat ada Kak Mario, Kakaknya Sumi pun ikut bergabung bersama teman-teman Kakak. "Halo bro, tumben ikut gabung, biasanya nggak pernah nih mau gabung bersama kami." ujar Mas Wahyu menyapa Kak Mario.
Tak sengaja aku bersitatap dengannya, ia tersenyum kepadaku. Aku pun membalas senyumnya. "Hai Kak," aku menyapanya.
"Iya nih, Yu. Lagi ingin gabung sama kalian," ia tersenyum simpul melirikku.
"Hai Lit, lagi ikut nyanyi ya," ia beranjak mendekatiku dan menjatuhkan bobot disampingku.
"Iya Kak, Sumi lagi ngapain Kak, kok nggak ikut main kesini?" Aku menoleh sekilas kepadanya.
"Lagi belajar kalau tadi,"
"Oh iya, enak Sumi masih bisa sekolah, sedang aku," aku terdiam menunduk menghitung rumput yang tumbuh menghijau. "Sabar, mungkin esok bisa melanjutkan lagi." Sahutnya.
Hening sejenak
Sementara teman-teman Kakak asyik bernyanyi-nyanyi, bersenda gurau. Tertawa-tawa jika sedang bercerita yang lucu-lucu.
Aku pun asyik ngobrol bersama Kak Mario.
"Mario, sini gabung ma kita-kita," seru Bayu disela-sela kegiatan mereka. Bernyanyi, becanda dan lain-lainnya. "Sirik aja sih Mas," aku yang jawab sedikit teriak. Sedang Kak Mario tersenyum menatapku mendengar ajakan mereka. "Iya terimakasih Bayu," jawabnya.
"Kak masih ikut kerja harian?" aku mengingat kala SD jika hari libur aku ikut kerja di PT, tiga ribu sehari, banyak teman-temanku, tapi bukan satu kelas. Mereka tidak sekolah lagi, kebanyakan berhenti karena nggak sanggup membayar iuran sekolah.
"Masih Lit, sekarang bertambah banyak karyawan nya!" tukasnya kemudian. Aku mengangguk. "Pantas Kakak jarang kelihatan," ujarku.
"Iya Lit," ia selalu mengulas senyum manis.
"Kapan-kapan Lita mau ikut kerja lagi Kak, dari pada nggak sekolah," ucapku serius."
"Boleh-boleh Lit, bilang aja kalau mau ikut ya?" jawabnya dengan binar dikedua netranya.
"Iya Kak," aku termangu mengenang masa aku bekerja saat liburan sekolah, banyak kenangan. Keseruan bersama teman-teman membuatku rindu. Naik mobil truck karyawan, naik menara penjaga setinggi lima belas meter. Yang serunya, ngintip orang pacaran he he he."
Bersambung
Ikuti ya temen"setelah ini akan semakin seru?