bab 2

1104 Words
2. PERNIKAHAN DINI Namaku Dicoret di Sekolah Penulis: Lusia Sudarti part2 "Itulah pak saya sedang menunggu Bapaknya kerja merantau didaerah lain," terang Ibu. Wajah Ibu berubah sendu melihatku terbaring tak berdaya begitu pun dengan Pak Haryono. sedangkan aku hanya bisa meneteskan air mata. Setelah orang tua ngobrol panjang lebar, akhirnya Pak Guru mohon pamit untuk kembali kesekolahan. "Lita, Bapak pulang dulu ya, semoga cepat sembuh, dan kembali sekolah seperti sedia kala, sayang prestasi kamu, yang menonjol," beliau menasihati Lita. "Iya Pak, terimakasih atas waktunya untuk menjenguk saya," Lita tersenyum dan menjabat tangan Pak Haryono. "Sama-sama Lita, Bu saya pamit pulang dulu, terima kasih jamuannya," ujarnya kemudian kepada Ibu. "Sama-sama Pak," Ibu menjawab lalu mengantarkan Pak Haryono sampai halaman depan. Setelah beliau pamit. ??? POV AUTHOR Maria termenung dan berfikir, bagaimana ini?" lirihnya. Maria melangkah masuk dan melanjutkan pekerjaannya didapur yang sempat tertunda. Diruang depan Maria dengan aktivitasnya seperti biasa. Setelah pelanggan yang lain pulang, datang lagi dua Anak abg seusia Lita. Siang ini warung Maria masih ramai seperti biasa. "Bu, beli es oya sama bakso," ujar Elsa dan Diah, anak kepala desa. "Aku es sama pecel ya Budhe," sambung Diah. "Dimakan sini atau dibungkus Nak?" tanya Maria kepada mereka berdua "Di makan sini bakso sama esnya Budhe, kalau pecel dibungkus," jawab Elsa. "Aku juga Budhe, pecelnya dua dibungkus." sambung Diah lagi. "Iya tunggu dulu ya," Maria menyiapkan bakso dan es yang untuk dimakan, lalu membungkus pecel yang dibungkus. "Berapa semua dhe," tanya Elsa, setelah selesai makan bokso bersama Diah. "Semuanya masing-masing dua belas ribu," jawab Maria. "Ini dhe," Elsa dan Diah memyodorkan uang sebesar dua puluh ribuan, Maria memberikan kembalian kepada mereka. "Makasih dhe, gimana keadaan Mbak Lita dhe?" Elsa bertanya karena penasaran. "Belum sehat," Maria tersenyum menjawab pertanyaan mereka. Lalu mereka pamit pulang, setelah selesai berbasa-basi sejenak. Maria kembali disibukkan dengan pekerjaan rumah yang tertunda lagi. Ia sedang menyapu lantai dan mengepel, pelanggannya selalu ramai, jadi pekerjaan selalu tertunda. Maria memasuki kamar Lita untuk membersihkannya. Ceklek! terdengar daun pintu terbuka, aku menoleh untuk melihat siapa yang masuk "Bu, Bapak belum pulang??" aku bertanya pada Ibu. "Belum Nak!" jawab Ibu lirih. "Lama sekali ya Bu, Bapak pulang? Udah tiga bulan Bapak belum pulang Bu, aku kangen Bapak Bu," sambungku. "Iya Nak, sabar lah dulu, Bapakkan cari uang untuk sekolahmu, pakai dulu baju Bapak Nak, taruh bawah bantal ya," Ibu memberi saran padaku. kulihat Ibu menghela nafas sambil memelukku dan mencium pucuk rambutku, terasa nyaman dipelukan Ibu.. Saat itu belum ada yang punya telepon atau Hp istilah orang-orang desa, surat pun jarang. Selama tiga bulan aku terbaring dan surat panggilan kesekolah yang kedua pun aku belum sembuh... "Aduh gimanalah ini ya? Bapak belum juga pulang, tubuh Lita semakin kurus, semakin lemah," Ibu memijit-mijit kepalanya disisiku. ??? Tiga bulan berlalu... Hingga surat panggilan yang ketiga datang tapi tidak sampai ketanganku. Saat itu Bapak sudah pulang, dan aku pun telah membaik. Siang itu aku mendengar suara yang aku kenal. "Assalamualaikum Bu," Bapak pulang. Aku yang mendengar suara Bapak, langsung ambil langkah seribu. "Waalaikumsalam, Bu Bapak pulang," aku melompat-lompat bahagia melihat Bapak diambang pintu, tanpa fikir panjang, aku menghambur memeluk Bapak. Beliau pun mengangkat kudalam gendongan, walau sudah SMP, tapi tubuhku kecil, seperti anak SD. Sedang Ibu tersenyum melihatku seperti anak kecil. "Bapak lama banget sih kerjanya," aku cemberut saat duduk disamping Bapak yang sedang mengobrol sama Ibu. "Heem, Bapak kan cari uang untuk bayar sekolah kamu sama Adek," ia membelai rambutku dengan penuh kasih sayang. "Mana Tomi dan Dedi," Bapak celingukan mencari keberadaan Adikku dan Kakakku. "Lagi bermain ditempat temannya Pak, kalau Dedi kerja," sahut Ibu yang datang dari dapur membawa dua gelas kopi untuk mereka berdua. Bapak mengangguk, lalu meraih kopi dan disesapnya perlahan karena masih panas. "Bapak mau makan apa? Pecel apa nasi?" Ibu bertanya. "Nanti aja Bu, tadi waktu mau pulang Bapak makan nasi goreng," tolaknya halus. "Oh iya Pak," Ibu membahas masalah sekolahku, juga tentang kedatangan Pak Haryono kerumah. Mereka pun berencana untuk mendatangi sekolahku. Besok paginya mereka mendatangi ke sekolahan. Sore ini aku dibawa berobat kerumah sakit, menjalani rawat jalan, aku menolak untuk dirawat inap. Karena aku ingin cepat-cepat kesekolah. Kerinduanku akan bangku sekolah, bertemu dengan teman-teman sekolahku begitu membuncah didadaku. Aku menyiapkan segala keperluanku untuk besok. Dan aku tak sabar menunggu kepulangan orang tuaku. Aku bersemangat sekali hari ini. Aku membantu pekerjaan Ibu, memasak, mencuci piring, mencuci pakaian, menyapu, ngepel dan menyapu halaman. Tak lupa lemari kususun kembali agar rapi. Semua itu kulakukan dengan semangat. Supaya orang tuaku juga senang. Hingga waktu mereka pulang dan membawa kabar buruk untuk aku. Aku menyambut dengan bahagia karna aku besok akan menuntut ilmu untuk meraih cita-citaku menjadi seorang pengacara. Tapi tunggu kenapa mereka seperti tidak bersemangat? Setelah mereka beristirahat dan kuambilkan air minum. Aku memberanikan diri untuk bertanya. "Pak, Bu! Bagaimana? Apa aku besok bisa langsung masuk sekolah apa diskors?" tanyaku tak sabar. "Maaf Nak namamu sudah dicoret." lirih Ibu dengan wajah sendu. "A-apaa?" aku tak kuasa menahan air mataku. Begitu pedih kurasakan. Tanpa sepatah kata aku beranjak. Aku berlari menuju kamar dan menghempaskan tubuhku kutumpahkan tangisku diatas bantalku. Hingga menjelang mahgrib aku baru keluar untuk membersihkan tubuh dan mengambil wudu' untuk shalat. Menumpahkan semua dalam doa-doaku.. "Nak dari siang kamu belum makan," Ibuku masuk ke kamarku ketika aku selesai shalat. "Nanti saja Bu, aku belum lapar." sahutku. "Jangan begitu Nak. Kamu harus menjaga kesehatanmu, apa lagi kamu baru sembuh. Sambil dibelai rambutku yang panjang. "Sabar Nak mungkin Allah punya rencana lain." kata Ibu menghiburku. "Sini Ibu peluk, besok Ibu ajak pergi ke pasar ya? Kita beli baju sama celana panjang, juga sendal atau sepatu, terserah kamu mau pilih apa," Ibu mencoba untuk menghibur aku. Aku terdiam sesaat mendengar ucapan Ibu. Dan berfikir, iya ya, dari pada aku strees, mending aku ikut ajakan Ibu." lirih bathinku. "Iya Bu, Lita mau, tapi besok beli roti tawar sama agar-agar walet ya?" tukasku, aku menatap wajah sendu Ibu yang melahirkan aku. Beliau membalas tatapanku dan mengangguk. Mereka, Ibu dan Anak saling berpelukan, saling mengasihi, saling menyayangi, hubungan antara seorang Ibu dan seorang Anak yang tak akan lekang oleh waktu. "Terima kasih Bu," bisikku. "Iya Nak, maafin Ibu ya?" "Lita yang minta maaf Bu," "Seharusnya Ibu bisa memberikan yang terbaik buatmu dan saudara-saudaramu yang lain, bisa melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Agar kelak tak seperti Ibu." ujarnya kemudian. "Bu...Bagaimana dengan cita-citaku Bu? Aku ingin menjadi Pengacara hebat. Agar Ibu dan Bapak bisa bangga mempunyai Anak seperti aku!" potongku dengan cepat air mata yang mengalir deras. "Ibu, tiga bulan lagi aku naik kelas dua Bu!" lirihku disela isak tangis. Kembali direngkuhnya didalam dekapan Ibu, di usap air mataku ... bersambung Seperti nya memang nggak akan kesampaian cita-cita mu Lita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD