“Ada apa denganmu ? kau menangis ?” aku sadar akan suaraku yang mungkin terkena atensinya. Dengan cepat aku mengalihkan pembicaraan ini. “masih dikota ini ?” kataku sambil berjalan terus kedepan tanpa arah. Suaraku yang sengau mungkin sudah ketahuan oleh Hisagi. Si bodoh itu memang terkadang terlampau peka pada hal-hal yang tidak perlu. Karena aku membutuhkan kawan bicara pada akhirnya aku malah menghubungi si Hisagi juga. Karena jika aku terus berdiam diri lebih lama, rasa sakitnya malah akan aku resapi. Bedanya dulu rasa sakitnya diciptakan oleh Renji, tapi sekarang justru kurasa akulah penyebab dari munculnya rasa sakit ini. “Oy, jawab dulu pertanyaanku.” “Kau dimana temani aku minum.” Aku mengabaikan protes dari Hisagi. Dan memilih egois terhadap keinginanku sendiri. “Kau baik-ba

