Ipar Tak Tahu Diri

892 Words
Sukma menatap Yudi yang terbaring lemah di kursi, wajah suaminya tampak pucat, keringat dingin mengalir di pelipis. Termometer menunjukkan angka 39 derajat. Sukma menahan diri untuk tidak menangis. Bukan hanya karena kondisi fisik Yudi yang membuatnya khawatir, tetapi juga beban yang terus menumpuk di pundak pria itu. Dengan tangan cekatan, dia menggosokkan minyak kayu putih ke hidung dan leher Yudi. Tak lama, lelaki itu mulai siuman. Matanya membuka perlahan, dia meng3rang. "Mas, ayo kita ke dokter," pinta Sukma lembut. Dia mengambil kain kompres di dahi Yudi. Yudi menggeleng pelan. "Nggak usah. Aku cuma butuh istirahat, tolong ambilkan paracetamol." "Mas, kamu demam tinggi. Ini bukan main-main," desak Sukma. Dia kesal, setiap sakit Yudi tidak pernah mau diajak berobat. Bagaimana kalau ada penyakit lain di tubuhnya? "Aku demam biasa. Sudah, percaya sama aku," ujar Yudi sambil mencoba duduk, meski tubuhnya masih terasa lemas. Sukma berdecak kesal, tapi akhirnya menuruti permintaan Yudi. Dia bangkit ke dapur untuk mengambilkan obat sekaligus makan malam untuk pria itu. Saat hendak menuangkan air ke gelas, terdengar ponsel Yudi berdering dari ruang tamu. Sukma mengintip sekilas dan melihat Yudi menjawab sambil menyalakan speaker. "Halo, Mas Yudi. Ini aku, Rani," suara dari ponsel membuat Sukma langsung siaga. Rani saudara ketiga Yudi, perempuan satu-satunya. Untuk sifat, sebelas dua belas dengan Romi. "Rani? Ada apa?" Yudi bertanya lemah. "Mas, aku minta tolong. Aku butuh uang satu juta buat bayar studi tour anakku." "Kamu minta suamimu, Mas lagi nggak ada u4ng." "Nggak ada, Mas. Suamiku baru beli motor, jadi uang kami habis. Bisa bantu, kan? Ini ponakanmu lho." Sukma yang mendengar percakapan itu langsung menghentikan gerakannya. Tangannya terkepal menahan emosi. Dia meletakkan teko ke meja makan lalu melangkah cepat ke ruang tamu. Tanpa pikir panjang, Sukma merebut ponsel dari tangan Yudi. "Rani, dengar ya! Sampai kapan kamu terus-terusan minta uang sama suamiku? Kamu punya suami, kan? Suruh dia yang bayar! Jangan seenaknya minta ini itu ke Mas Yudi!" "Apa maksudmu, Mbak?" suara Rani terdengar meninggi. "Aku ini adiknya Mas Yudi. Wajar kalau aku minta bantuan. Lagian, kamu juga cuma parasit. Makan dari hasil keringat Mas Yudi, kan?" Kata-kata Rani merem4s jantung Sukma. Dia mengepalkan tangan, menahan diri untuk tidak membalas dengan hinaan yang lebih tajam. Namun, am4rahnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Belum selesai masalah Romi sekarang adik yang lain menggerogoti. "Dengar baik-baik, Rani," Suara Sukma terdengar dingin. "Sejak aku menikah dengan Yudi tiga tahun lalu, aku yang lebih banyak menutupi kebutuhan rumah tangga kami. Aku punya penghasilan sendiri dari jualan online, jadi jangan pernah bilang aku numpang makan. Kamu tidak tahu apa-apa tentang perjuanganku!" Rani tertawa sinis. "Hallah, jualan kecil-kecilan. Mana cukup buat hidup kalian? Jangan sok merasa berjasa, Sukma. Kakakku itu baik hati, beda jauh sama kamu yang cuma bisa marah-marah. Bilang saja kamu iri karena belum punya an4k, jadi Mas Yudi lebih sayang ke keponakannya. Dasar mandul!" "Baik hati?" Sukma hampir berteriak. "Kamu bilang baik hati. Bukan baik hati, tapi terpaksa! Mas Yudi sudah habis-habisan membantu kamu dan Romi. Semua utang kalian dia yang lunasi. Apa itu nggak cukup? Kamu yang nggak tahu diri!" Yudi tidak tahan mendengar perdebatan itu berusaha bangkit untuk merebut ponselnya. Dengan susah payah, dia berhasil mengambilnya dari tangan Sukma. "Rani, nanti aku telepon lagi. Sudah dulu, ya," katanya sebelum memutuskan panggilan. Sukma memandang Yudi dengan tatapan tajam, rasa kesalnya semakin menggunung, seperti b0m at0m yang siapa meledak. "Mas, kenapa kamu nggak pernah bisa tegas sama mereka? Lihat apa yang mereka lakukan padamu. Mereka terus memanfaatkanmu! Dia bahkan menghinaku m4ndul!" Yudi terduduk kembali, dia menatap sayu ke arah Sukma, terpancar lelah di sinar matanya. "Sukma, aku tahu kamu kesal, tapi mereka adik-adikku. Aku nggak bisa biarkan mereka kesusahan." "Tapi mereka sampai hati bikin kamu susah! Mereka itu bukan anak kecil lagi, Mas! Rani punya suami, Romi sudah dewasa, dan Ibu pun bukan orang yang nggak punya akal. Mereka bisanya minta aja. Mereka tahunya kamu nggak pernah bisa bilang 'tidak,' makanya terus memanfaatkanmu!" "Aku cuma ingin membantu keluarga, Sukma," suara Yudi melemah. "Aku nggak mau dibilang anak durhaka." "Membantu ada batasannya, Mas. Dulu kamu sakit apa peduli sama kamu? Jangankan nengok, nanya kondisi kamu enggak! Keluarga macam apa yang nggak pernah peduli sama kondisimu, Mas? Mereka cuma tahu minta, minta, dan minta!" Sukma meradang, dia memuntahkan bara yang mengungun dad4nya. Yudi menghela napas panjang, mencoba tidak terpancing kemarahan Sukma. "Aku cuma minta kamu sabar. Semua ini akan selesai. Aku cuma butuh waktu untuk membereskan semuanya." Sukma memandang Yudi dengan tatapan putus asa. "Mas, apa aku kurang sabar selama ini? Aku diam saat kamu jarang kasih nafkah. Aku tutup mulut waktu kamu lebih memprioritaskan adik-adikmu. Sekarang aku sudah nggak bisa lagi. Mereka sudah keterlaluan!" Yudi menunduk, tidak bisa membalas. Dia tahu Sukma benar, tapi dia juga terjebak dalam situasi yang sulit. Sukma melangkah mundur, menahan air matanya yang hampir jatuh. "Mas, kalau kamu nggak bisa memilih, aku yang akan memilih. Kalau memang keluargamu lebih penting daripada aku, lebih baik kita bercerai saja. Biar kamu bisa mengabdi ke mereka sampai mati." "Sayang, jangan bicara seperti itu, nggak baik." Yudi mencoba memadamkan amarah Sukma, tetapi wanita itu sudah habis kesabaran. "Aku capek, Mas! Aku lelah selalu dinomor sekiankan. Padahal setelah menikah harusnya kau tahu mana yang jadi prioritas. Kalau kamu apa-apa berat ke Ibu lebih baik jangan pernah menikah!" Kata-kata itu menggema di ruangan, membuat Yudi terdiam. Sukma berbalik dan masuk ke kamar, meninggalkan Yudi yang masih duduk terpaku di kursi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD