Takashi tengah berdiri di depan jendela kaca kamarnya dengan melihat lurus ke depan, seakan sedang memandangi bulir-bulir putih yang berjatuhan dari langit. Namun, dirinya hanya sedang mengarahkan tatapan kosong. Ia tak sedang memperhatikan salju yang jatuh seperti butiran gabus itu. Bukan. Kedua mata Takashi memang tertuju pada benda kecil nan dingin tersebut, tetapi pikirannya melayang ke tempat lain. Kenangan saat ia menemani Fitri membuat yukidaruma, menari-nari di kepalanya. Kerinduan terasa mencabik-cabik perasaan. Terlebih saat menyadari kenyataan yang terjadi saat ini. Ia sudah mengkhianati wanita yang sangat dirindukannya. Pemuda yang saat itu masih mengenakan pakaian yang digunakannya saat ijab kabul tadi, berjalan meninggalkan jendela, menuju kamar dan mengambil kamera dari d

