Bani cukup banyak mendapat hadiah perpisahan dari adik kelas, terutama dari tim badminton. Lisa yang selesai memberikan surat segera ke kelasnya, mengambil sebuah kado yang sedari tadi disimpan dalam tasnya. Ia segera mencari Bani yang saat itu berada di halaman sekolah sedang bercengkerama dengan teman-teman dan beberapa adik kelas. Lisa menghampiri dan menyerahkan kado tersebut. Lisa memeprhatikan beberapa kado yang dipegang Bani ukurannya memang lebih besar dari miliknya. Lisa sempat berkecil hati, namun menurutnya itu yang terbaik yang bsia dia berikan. Bani menerima bingkisan tersebut dengan senyum mengembang dan mengucapkan terima kasih. Lisa membalas senyum itu dan mereka lanjut bercengkerama hingga Bani dan beberapa temannya berpamitan.
...
Tak terasa kini Lisa sudah berada di kelas tiga SMP. Lisa menjalani kegiatan sekolahnya dengan baik, ia masih mempertahankan kemampuan akademisnya dengan selalu berada di peringkat satu di kelas. Hingga memasuki semester dua , di suatu hari Lisa dan Hana terkejut ketika selesai ibadah di gereja, Bani menghampiri mereka. Kakak kelas mereka yang mereka ketahui sudah melanjutkan sekolah di kota saat ini berada di hadapan mereka. Meskipun terkejut, mereka sangat senang bisa bertemu dengan kakak kelas mereka itu. Bani mengatakan dia pulang kampung untuk menemani bapaknya yang beberapa hari lalu dirawat di rumah sakit.
Keesokan harinya, Bani menunggu Lisa di depan gapura sekolah. Bani mengajak Lisa untuk mengobrol sebentar di sebuah warung bakso yang tidak jauh dari sekolah. Kesempatan itu Bani manfaatkan dengan sebaik mungkin untuk menyampaikan rasa suka yang sudah dia pendam sejak lama. Ia dengan perlahan menyampaikan jika sejak pertama kali melihat Lisa di sekolah ia sudah menyukai gadis itu, ia tidak memiliki keberanian untuk menyatakan rasa sukanya. Ia juga tahu bahwa Jimi, teman kelasnya mengirimkan surat pada Lisa, ia senang ketika mengetahui bahwa perasaan Jimi bertepuk sebelah tangan. Ketika sedang memupuk keberanian untuk mengungkapkan perasaannya, ia mendapat kabar jika Lisa sudah memiliki pacar. Ya, murid baru di kelasnya. Bani kembali mengurungkan niatnya. Bani menyampaikan dengan sedikit bergetar jika ia sering melihat Lisa dan mantan pacarnya mengobrol dan bercanda ria. Meskipun ada rasa cemburu, ia tetap menjaga perasaan itu. Hingga suatu saat ia mengetahui bahwa Lisa memiliki bakat badminton, Bani menggunakan kesempatan itu untuk mengenal lebih dekat gadis yang disukainya. Hingga hari ia mengajak Lisa, ia sangat senang ketika adik kelasnya itu setuju masuk dalam tim olahraga bersamanya.
Lisa yang mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan Bani hanya terdiam, ia mencoba mencerna setiap kalimat, sambil kembali mengenang kenangan lama di setiap kalimat yang ia dengar. Lisa tidak menyela, ia menuggu waktu di diberi kesempatan berbicara. Bani melanjutkan jika ia juga tahu kedekatan Yosa dan Kartika bahkan saat status Yosa masih berpacaran dengan Lisa, namun ia tidak berani menyampaikan kenyataan itu. Ia tidak mau ikut campir dalam hubungan keduanya. Sampai ketika ia tahu bahwa Lisa memutuskan hubungannya dengan Yosa di perpustakaan sekolah, Bani seperti merasa bahagia dan lega. Bani lalu terdiam, menatap Lisa yang sedari tadi hanya menatap pepohonan yang ada di samping warung. Lisa menarik nafas panjang " Kakak ada di perpusatakaan saat itu?" Bani mengangguk dan meminta maaf jika saat itu ia menguping perbincangan Lisa dan Yosa. Lisa tertawa mendengar permintaan maaf itu, ia menggelengkan kepala dan mengatakan bahwa itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan saat ini. Kini Lisa memberanikan diri memandang wajah Bani, yang membuat wajah Bani memerah. Gadis itu menyampaikan terima kasih dan saat itu juga menyampaikan jika selama ini memang dia sudah kagum pada Bani.