Tidak mau kecolongan setelah semalam gagal bertemu dengan sang tuan muda karena lelaki itu pulang saat malam sudah larut, pagi itu Yasmin bergegas ke kamar Gagah. Setelah mengetuk-ngetuk pintu beberapa kali tapi yang ingin ditemui tak kunjung membukakan pintu, akhirnya Yasmin memutuskan untuk turun dan kembali ke dapur.
Sesampainya di sana, tampak Rahayu sedang menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi bubuk minuman coklat instan. Melihat Yasmin datang, wanita itu kemudian memanggilnya.
"Kamu lagi sibuk gak?" tanya Rahayu.
"Enggak, Bu, saya belum mulai karena belum sarapan, hehe."
"Kalau gitu tolong antar coklat panas dan bolu pisang ini ke belakang, tuan muda lagi berenang."
Mendengar nama tuan muda disebut, wajah Yasmin semringah kemudian dengan semangat'45 ia mengangkat nampan yang sudah siap ke tempat yang disebutkan.
Bu Rahayu anteng-anteng aja, berarti si tuan muda m***m itu belum bilang apa-apa. Duh semoga setelah gue minta maaf, dia mau maafin gue. Minimal ngasih gue kesempatan terakhir buat gue. Aamiin.
Yasmin melangkah mantap meski jantungnya bertalu cepat, semakin dekat ia merasa tubuhnya panas dingin saking groginya.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Yasmin memasang tampang ingin mengajak damai.
Gagah yang sedang bersandar di tepian kolam, pun langsung melengos dan berpura-pura tak melihatnya.
Yasmin tak patah arang, ia menghampiri si tuan muda lalu duduk didekatnya.
"Tuan, saya mau minta maaf atas insiden jus jeruk kemarin, sumpah demi Tuhan saya gak paham isyarat Tuan. Setelah saya dikasih tahu sama Suci baru saya ngerti, saya salah, saya mohon Tuan mau maafin saya."
"Masa iya kamu gak paham maksudku kemarin?"
"Sumpah, Tuan."
"Kamu itu polos atau bodoh? Gitu aja kok gak tahu."
"Dua-duanya kayaknya, Tuan."
Jawaban Yasmin tak digubris oleh Gagah, si tuan muda kembali nyebur ke dalam kolam dengan gaya bebasnya.
Melihat Gagah yang belum mau berdamai dengannya, Yasmin menghela napas berat, tapi dirinya sudah bertekad akan berjuang sampai titik darah penghabisan.
Yasmin bangkit dan kemudian berjalan kembali ke meja di mana ia menaruh nampan tadi, dengan sabar ia berdiri menanti si tuan muda selesai berolahraga.
Kurang dari setengah jam kemudian, Gagah keluar dari dalam air. Yasmin terpana tak berkedip saat melihat tubuh kekar nan gagah di depan sana, dengan bulir air meluruh sempurna dari atas hingga bawah.
Yasmin menelan salivanya berkali-kali, perawakan Gagah yang tinggi dan atletis terlihat sedap di pandang mata.
Entah apa yang ada di dalam pikirannya, spontan Yasmin menghampiri menawarkan diri apakah sang tuan yang menutup tubuh bawahnya dengan handuk itu butuh orang untuk mengelap punggungnya.
"Heh, Mimin gayung yang sekarang berubah jadi Mimin m***m! Udah mulai lancang kamu, ya, sekarang."
Menyadari dirinya lepas kontrol, Yasmin memukul mulutnya beberapa kali. "M-maafin saya, Tuan. Memang kadang ini mulut suka lancang, Tuan jangan salah paham."
"Jelas salah paham, kamunya kegatelan. Kamu kira aku cowok murahan!"
Yasmin menunduk, merasa malu atas perbuatannya sendiri tadi.
"Ngapain kamu masih di sini?" tanya Gagah sesaat setelah menyeruput coklat panas yang sudah tidak panas.
"Takutnya Tuan butuh sesuatu, saya standby."
"Masa? Bukannya kamu nungguin di sini karena mau minta supaya aku gak ngomong ke Bu Rahayu, iya, 'kan?"
Yasmin tertawa garing, modusnya terendus si tuan muda yang selalu memiliki feeling yang kuat.
"Itu salah satu alasan lain selain standby, Tuan. Saya mohon kesalahpahaman kemarin tolong dilupakan, saya beneran gak paham. Seandainya Tuan bicara waktu di interkom, pasti saya bantu Tuan sebisa saya kalau perlu saya tambah dosisnya itu pencahar biar si Nona Claudia mojrot akut."
Gagah tertawa saat mendengar ucapan terakhir Yasmin.
"Tuan kok ketawa?"
"Kamu mau bikin si Claudia masuk rumah sakit?"
"Kalau perlu, akan saya lakukan."
"Bisa dituntut kamu nanti, Mimiiin."
"Ya jangan sampai, Tuan, amit-amit. Pokoknya yang jelas, saya ini kerja sama Tuan jadi kalau Tuan merasa butuh bantuan saya, saya pasti akan bantu sebisa saya. Kenyamanan dan keamanan Tuan sebagai majikan saya adalah yang utama."
Gagah memperhatikan sang pelayan yang tampak serius dengan ucapannya, kemudian ia berdiri dan berkata, "Aku pegang kata-kata kamu barusan, itu janji yang harus kamu laksanakan."
"Hmm, jadi Tuan maafin saya?"
"Iya, asal—" Gagah tidak menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba kedua matanya terbelalak saat melihat sesuatu di belakang Yasmin.
Gagah menarik tangan Yasmin ke samping.
"Ada apa, Tuan?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Yasmin, Gagah malah mendorong masuk pinggang gadis itu hingga rapat dan tiada jarak dengan tubuhnya.
"Tuan, ada apa?"
"Ssssssst!" Gagah segera menutup mulut Yasmin dengan cara yang tidak terduga. Si tuan muda mencium bibir Yasmin dan menahannya cukup lama.
Yasmin yang sangat terkejut berusaha melepaskan diri, tapi tubuhnya dipeluk rapat oleh Gagah.
"Gagah!" Teriakan seorang wanita yang tidak lain adalah Claudia membuat Gagah melepaskan eratan tangannya di pinggang Yasmin.
"Menjijikan kalian berdua," umpatnya dengan wajah penuh emosi.
Claudia yang kecewa berat kemudian menyeret langkah meninggalkan Gagah dan Yasmin yang tertegun dengan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Sepeninggal Claudia, Gagah menoleh pada Yasmin. "Maaf, gak ada cara lain."
Gagah mengusap puncak kepala Yasmin yang tak mampu berkata-kata, gadis itu sangat syok karena seumur hidupnya baru kali itu bibirnya disentuh oleh lelaki meski ia sudah beberapa kali berpacaran tapi pantang baginya melakukan hal lebih jauh selain berpegangan tangan.
"Saya permisi, Tuan," pamit Yasmin seraya mengusap sudut matanya yang basah.
Yasmin berlari meninggalkan Gagah yang menatapnya penuh dengan rasa bersalah, apa yang dilakukannya memang spontan begitu saja demi bisa menghindari Claudia yang membuatnya muak setengah mati.
"Argh!" Gagah meninju udara.
Memasuki rumah, Yasmin langsung naik ke lantai dua bagian belakang di mana kamarnya berada. Di sana ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, kejadian singkat beberapa saat lalu kembali terbayang.
Tangan Yasmin meremas bagian atas bawah kerah kemeja kerjanya, napasnya tersengal merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya.
Apa yang dilakukan Gagah barusan membuat perasaannya campur aduk tidak menentu, sebenarnya ia ingin marah dengan kelancangan tuan mudanya itu tapi tidak bisa karena dirinya tak munafik bahwa morning kiss tadi sungguh sangat berkesan dan Yasmin menikmati momen tersebut.
?
Bersambung