Episode 14 - Ada Hati Yang Terluka

1736 Words
Mereka pun dengan membawa perasaan yang bimbang. Baik Pongky, maupun juga dengan Erik. Bimbang dengan hatinya masing-masing, merebutkan hati seorang wanita bar-bar, Maria. Bar-bar sih bar-bar, namun Maria sangat ramah dan penyayang banget. Orangnya cantik, supel, hatinya juga baik. Oleh karena itu banyak yang terpikat olehnya, karena keramahan dan kebaikannya. Kalau cantiknya sih, bonus ya. Jadi, setelah sampai di depan gang rumah kost Maria tadi malam, Erik menyatakan cinta dengan serius pada Maria. "Mar, gue cinta ama lu, gue sayang ama lu. Gue rela lamar lu kalau perlu. Gue benar-benar serius Mar," ucap Erik dengan jelas. Sontak membuat Maria kaget dan menghentikan langkahnya. "Maksud lu? Serius apa yang lu bilang? Tapi, gini loh, masalahnya sekarang, lu udah masih pacaran ama Dinda. Terus sekarang lu bilang cinta gue? Sayang ama gue? Terus mau lamar gue sekarang juga? Jujur Rik, gue gak ngerti ama jalan pikiran lu sekarang. Lu pikir gue bakal nerima lu gitu?" jawab Maria dengan jelas. "Terus ya, lu kemana kemarin saat gue butuh orang buat nenangin gue? Lu malah sibuk ama dunia lu sendiri tanpa peduli apa yang terjadi ama gue. Emang sih bukan kewajiban lu buat nenangin gue, setidaknya sebagai sahabat lu ada di samping gue saat kemarin gue butuh. Lu tiba-tiba menghilang, tidak peduli sama gue," sambung Maria. "Gue sakit hati beneran deh saat itu. Asal lu tau ya, gue minta waktu ama Rey itu, hanya karena gue pengen tau perasaan lu gimana ama gue. Lah, lu malah menghilang gitu aja. Gue pikir nih ya, lu tau perasaan gue ama lu gimana. Dan saat itu juga, gue sangat sadar sesadar-sadarnya. Lu gak ada perasaan apa pun ama gue. Dan gue udah yakinin itu ama hati gue sendiri. Lu sekarang statusnya masih pacar orang lain. Dan sekarang lu menyatakan perasaan cinta saat yang tidak tepat. Inget loh, Dinda juga wanita, hey. Gimana perasaanya dia saat tau lu mengkhianatinya?" ucap Maria dengan murka. Keluar semua unek-unek yang selama ini dia jaga. Maria marah dan kesal sehingga tidak sadar mengeluarkan air mata, alias menangis. "Gak adil Rik ini semua. Gak adil buat gue, buat Dinda dan juga buat Rey. Gue udah ngambil keputusan dengan yakin, meski gue cinta sama lu, tapi gue akan anggap aja sebagai sahabat aja, gak lebih," sambungnya sambil masih menangis. Erik hanya diam membisu, terpana akan jawaban Maria yang membuatnya menjadi patung. Erik tidak dapat berkata-kata. Hanya penyesalan yang sekarang dia rasakan. "Oiya satu lagi, sorry gue bilang gini. Tapi ini demi kebaikan lu ama Dinda. Gue bakal jauhin lu mulai sekarang. Gue gak mau menjadi penghalang hubungan orang lain. Dan gue gak mau menyakiti banyak orang lagi. Cukup gue yang sakit, kali ini. Dan gue berharap kita bahagia dengan cara masing-masing." jelas Maria yang masih menangis, benar-benar meninggalkan Erik sendiri. Maria pergi ke dalam rumah kost. Erik tidak bisa berbuat apa-apa, meratapi jalan yang salah dia ambil. Nasib sudah baik padanya, hanya saja Eriknya sendiri yang salah ambil. Salah arah karena hilang arah tujuan. Buta karena cinta yang terpendam. Sesal yang pada akhirnya menghampiri. Pada malam itu menjadi hari yang sendu penuh penyesalan. Cinta berakhir dengan tragis tanpa kesempatan. Dalam hidup selalu ada jalan yang tidak pernah terduga. Dengan getir, Maria mengeluarkan semua unek-unek hatinya pada Erik. Tanpa menoleh ke belakang, dia pergi meninggalkan Erik. "Cukup sampai detik ini, gue harus menahan beban yang memang tak bertuan. Gue harus bangkit dan kuat. Gak boleh lemah hanya gara-gara masalah cinta." Batin Maria saat hendak memutuskan untuk menolak Erik dan pergi meninggalkannya. Sepanjang jalan menuju kamarnya, dia merenungkan apa yang sudah dia pilih adalah jalan yang terbaik untuk semuanya. Tidak ada penyesalan untuknya, karena hidup harus memilih dan mencari tujuan yang lebih baik. Setelah menangis dan mengeluarkan unek-unek, Maria nampaknya jauh lebih tenang sekarang. Dia harus bisa move on untuk melanjutkan hidupnya kembali. Banyak hal yang harus dia kerjakan dan selesaikan dengan semestinya, setelah semua terhambat oleh masalah percintaannya. Berbanding terbalik dengan Erik. Dia masih melongo memikirkan pernyataan dari Maria, yang membuatnya sangat terpukul. Masih belum percaya apa yang terjadi padanya, bahwa dia telah ditolak secara mentah-mentah oleh Maria. Erik terus memikirkan pernyataan Maria, sampai pada akhirnya dia menangis menyesali apa yang sudah dia lakukan dan abaikan selama ini. Dia terlalu mengedepankan gengsi untuk menyadari rasa cintanya. Kalau sudah begini ya repot sendiri. Cinta yang sebenarnya dia inginkan sudah pergi dengan nyata di depan mata, tetapi dia juga harus bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat untuk cinta yang lain dengan wanita yang menjadi pacarnya. Erik sudah melakukan kesalahan yang fatal, sekarang harus menanggung dengan besar hati. Apa yang sudah Maria nyatakan padanya, seakan telah menyadarkannya dari kesalahan dan keserakahan yang dia lakukan. Bagaimana tidak, dia berusaha keras untuk menyatakan cinta pada Maria, sedangkan Dinda yang masih menjadi pacarnya dia abaikan. Cinta segitiga yang rumit membuat pikiran menjadi sempit. Malam itu menjadi awal hidup Maria sebagai wanita yang tidak akan pernah mengabaikan perasaannya lagi. Dia akan bergerak ke depan untuk meraih apa yang dia impikan. Tidak akan lagi ada kericuhan hati yang akan menghampiri dia dan sahabatnya. Esok harinya Maria pergi bekerja seperti biasanya, dengan rambut masih basah yang digerai panjang berlari menuju lobi kantor karena sudah kesiangan. Tanpa menoleh kanan dan kiri, berlari melesat ke ruangannya karena takut kena omel atasannya. Bruukkk.. Pintu ruangan terbuka dengan suara yang kencang, menimbulkan kegaduhan yang lumayan menganggu. “Bussetttttt dah, ketuk dulu kek, permisi dulu kek. Main dobrak aja sih, lu!!” protes Nusa yang sedang bekerja di dalam ruangan. “Sorry, gue telat,” jawab Maria singkat. Kringg.. Kringg.. Telepon di meja kerja Maria berdering. Masih ngos-ngosan, Maria hanya menatap telepon tersebut. “Tadi bos lu telpon, gue bilang lu lagi di kamar mandi karena diare keracunan s**u basi,” terang Nusa. “Thanks, gue harus acting berarti,” ucap Maria tanpa menoleh pada Nusa. “Hallo…….,” jawab Maria dengan suara lembut menjawab telepon tersebut. “Baik Pak, siap. Maaf saya tadi lagi di kamar mandi. Dengan segera saya siapkan tiketnya. Pagi juga Pak,” ucap Maria kemudian menutup telepon dengan segera. “Haduh selamat gue, makasih loh cuy. Untung si bos mau pesan tiket aja,” ucap Maria pada Nusa. “Tumben kesiangan parah gini lu?” tanya balik Nusa. “Iya nih, gue bangun sangat-sangat telat dong,” jawabnya polos. “Yaelah lu, ya pasti itu mah. Jadi, cuman gara-gara lu telat bangun ampe kesiangan segininya?” “Iya. Mimpi buruk gue, sampe malas bangun,” “Haha. Dasar lu!! Lah tapi, semalam bukannya lu bersenang-senang ya sama doi? Kok bisa ya, mimpi buruk,,,” “Lah itu, makanya gue jadi mimpi buruk. Dah ah gue mau pesan dulu tiket buat si bos udah ditunggu,” “Yaaaa….” Mereka pun kembali bekerja sesuai job desk nya masing-masing sampai waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, tanda sudah waktu istirahat. “Mar, lu mau ke kantin gak?” tanya Nusa. “Duluan aja, gue masih ada kerjaan,” jawab Maria. “Tumben lu?” “Iya nih, dadakan dari si bos. Duluan aja, nanti gue nyusul,” “Oks,” Saat tiba di kantin, dari kejauhan Nusa melihat Aline yang sedang makan sendiria. Alhasil, dia menengok kanan-kiri mencari yang tidak ada. Sara. Iya dong, dimana ada Aline disitu ada Sara, biasanya begitu. "Line, sendirian aja lu, tumben, " sapa Nusa menghampiri. “Tumben gak ama Sara, maksud lu?” jawabnya ketus. “Iya lah, siapa lagi. Masa si pongky sih?!” “Ya kali. Mereka pada sibuk deh, gue juga udah chat Maria, katanya masih ada kerjaan juga,” “Iya sih emang, dia ada kerjaan dadakan dari bosnya,” “Hoy, asyik bener kalian berdua kencannya. Wah gawat nih si bang bro satu ini sudah pindah ke lain hati. Sahabatnya sendiri pula,” celetuk Pongky dari belakang Nusa. “Bangke lu!! Dia ngajak ngobrol gue itu karena mencari yayang bebebnya kali,” jawab Aline jutek. “Jutek amat sih Bu Aline ini, kenapa, lagi dapet?” ledek Nusa. “Kurang asem lu emang ya,” jawab Aline. “Santai dong, selow,” ledek Nusa. “Loh, gue datang malah jadi ribut. Kirain lagi kencan,” ucap Pongky lempeng. “Ogah gue,” jawab Aline. “Lah, apalagi gue dong. Gue mah tetep setia ama yayang Sara,” ucap Nusa dengan percaya diri. “Wkwkwkw… Sudah ah, malah jadi ribet jadinya. Maria ama Sara kemana emang?” pungkas Pongky. “Mereka lagi sibuk dengan kerjaannya,” jawab Nusa. “Oh pantes, tadi pagi gue liat si Maria lari-lari, kesiangan sepertinya,” “Iya emang, si bar-bar kesiangan parah dia. Gak biasanya loh,” “Kenapa katanya, sampe dia kesiangan?” “Mimpi buruk sampe males bangun, jadinya kesiangan. Koplak pan?!” “Lu yang koplak!!!!” Maria menyamber sambil memukul lengan Nusa. HAHAHAHA… Semua pun tertawa, termasuk Aline yang nampaknya sedang kesal dari tadi. Mereka berempat asik makan sembari ngobrol. “Kenapa lu kesiangan?” tanya Aline. “Semalam gue gak bisa tidur terus nonton drama korea, jadi subuh deh bisa tidurnya. Itu pun lebih tepatnya ketiduran, ya sudah deh kesiangan gue,” jawabnya berbohong. “Idih parah amat lu, demi drama Korea sampe kesiangan,” ujar Nusa. Pongky hanya menyimak obrolan mereka sambil makan mie ayam. Maria pun memesan menu yang sama dengan Pongky. “Sini buat gue sayurnya,” ucap Maria sambil mengambil sayuran di mangkuk Pongky yang sudah disisihkan. Karena Maria sangat tahu bahwa Pongky tidak suka dengan sayuran yang ada di mie ayam. “Nih, tadi si masnya lupa kayaknya,” pungkasnya sambil menyodorkan mangkuk. “Cieeeeee….” usil Aline. “Uhuyyyyyy dahh…” sambung Nusa. “Apaan sih,” jawab Maria. “Cuman gara-gara sayur doang bisa cie-cie, heran gue,” ucap Pongky yang ternyata berdebar hatinya. “Jadi lu tuh mau yang mana dong, si Erik atau si Pongky?” tanya iseng Nusa. “Gak dua-duanya! Masa iya gara-gara sayur doang bisa dibilang suka orangnya. Gak masuk akal sih. Gue mah sayang aja sama sayurnya, kagak dimakan. Lagian lu sih Ky, gak doyan sayur segala,” omel Maria. “Lah, kenapa jadi gue yang salah. Si masnya yang salah. Lagian sih lu, Sa, kalau ngomong tuh dipikir kali,” semprot Pongky. “HAHA, udah makan aja, gak usah bahas sayur lagi. Malah jadi ribut, sorry,” kata Aline mengakhiri perdebatan. Di sisi lain, Erik sangat murung di ruangannya. Masih belum bisa menerima pernyataan dari Maria. Erik sedang menggalau di ruangannya ditemani secangkir kopi hitam dengan lagu sendu yang membuatnya semakin baper.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD