Episode 2 - Gengsi oh Gengsi

1404 Words
Senin pagi dengan awan cerah berwarna biru muda, matahari pun ikut merona menyambut hari penuh gelora. Jiwa muda yang sedang membara, mengiringi dengan senantiasa. Maria yang cantik dengan rambut panjangnya yang berwarna coklat digerai lurus, siap meluncur ke kantor. Tidak lupa menggendong tas ransel yang setia menemaninya, bahkan Rey pun kalah telak dibandingkan dengan tas ransel kesayangannya itu. Iya dong, pasti lah, karena Rey yang jauh di luar kota jarang bertemu denganya. Banter-banter satu bulan sekali mereka bertemu. Belum lagi kalau mereka sedang lembur di hari sabtu atau minggu, cukup di telepon saja untuk memastikan kabar mereka masing-masing. Tidak ada baper diantara mereka, saling percaya satu sama lain. Grung.. Grung.. Grung.. Sebuah sepeda motor dengan bodi besar menghampiri Maria yang sudah siap menanti di pinggir gang, dekat rumah kost yang dia tinggali. Terdengar suara ajakan dari seseorang yang mengendarai sepeda motor itu, "Hayu cuy!" sambil mengasongkan sebuah helm kecil berwarna hijau toska. Dia adalah, Pongky, sosok yang menjemput Maria pagi ini. "Thanks Ky, lu udah jemput gue," ucapan Maria berterima kasih pada Pongky. Dengan tas ransel di punggungnya dan memakai helm hijau toska, Maria dengan segera naik ke atas sepeda motor. Dengan mesin yang masih menyala, Pongky langsung tancap gas ketika Maria sudah duduk manis diatas motor itu. Selama dalam perjalanan, mereka berbincang seperti biasa. Tidak lain dan tidak lebih dari seputaran pekerjaan. Bagi mereka tidak ada bosannya untuk menceritakan berbagai hal tentang pekerjaannya. Suka dan duka menjadi seorang karyawan dari perusahaan nasional yang cukup terkenal. Berbagai situasi dan kondisi di saat mereka bekerja, bahkan hal sepele pun mereka selalu ceritakan. Bagi mereka, menceritakan hal yang sudah dilalui dari setiap harinya itu, buat mereka sangat menyenangkan. Kadang menceritakan kesialan atau keapesan hari kemarin di kantor dan di lapangan. Atau bahkan, menceritakan slip gaji yang selalu telat terbit. Hal receh sekalipun selalu jadi andalan untuk mereka ceritakan. Tentang percintaan pun, pasti tidak terlewatkan untuk diceritakan. Para bujangan yang bukan pujangga, selalu tertatih dalam urusan hati. "Turun cuy!" suara Pongky mengakhiri perbincangan mereka. Pertanda mereka sudah sampai di kantor, dengan perjalan sepuluh menit saja. "Ok, thanks cuy," ucap Maria sambil mengembalikan helm hijau toska itu pada Pongky. "Nanti gue balik jam 5, tenggo," sambung Maria dengan mengerlingkan sebelah matanya, pertanda ingin pulang bareng sama Pongky lagi. "Iyeeeehhhhhh, " jawab singkat Pongky, sambil memarkirkan sepeda motornya di tempat biasa. Maria pun berjalan menuju pintu depan lobi kantor dengan terburu-buru meninggalkan Pongky yang masih di parkiran. Kejam memang, bukannya jalan barengan malah meninggalkan Pongky. Tetapi hal tersebut sangat dimaklumi Pongky, bukan tidak sopan atau tidak tahu terima kasih, namun ruangan mereka berbeda arah. Angin sepoy menyapu rambut coklat Maria, dengan sigap mengeluarkan jurus singkatnya untuk merapikan rambut adalah mengikatnya ala buntut kuda. Maria yang tidak suka keribetan tetapi suka keributan. Apalagi keributan tentang rival kerjanya di kantor. Nusa, sang rival sekaligus sahabatnya juga. Persahabatan mereka memang aneh, tetapi tidak ada cinta diantara mereka. Bukan rival sekaligus sahabat seperti di sinetron ftv atau drama Korea, yang ujungnya akan menjadi cinta. Tidak, mereka tidak begitu. Yang ada, Nusa telah menjatuhkan hatinya hanya untuk Sara seorang. Meskipun, Sara telah menolaknya beberapa kali. Sara sangat yakin dengan hatinya, kalau Nusa hanya cukup untuk menjadi sahabatnya saja. Sedih memang, Nusa yang terlalu menggilai Sara secara terang-terangan dan Sara pun menolaknya dengan terang-terangan pula. Ironis memang. Tetapi demi apapun itu, Nusa tetap setia menjadi sahabat dan pemuja hati Sara. Bersahabat dengan banyak kepala dan lawan jenis memang menciptakan kericuhan masalah hati. Hati yang menjadi korban dari segala kericuhan. Tetapi mereka selalu berkomitmen, persahabatan tetap dijaga secara bersih dari segala bentuk kericuhan hati. Kembali pada Maria, dia yang sudah sampai di ruangannya dengan tepat waktu. Nusa, si rival yang satu ruangan dengannya masih belum datang juga. Dengan senyum menyeringai penuh kelicikan, jiwa jahil Maria meronta-ronta. Dia segera mengunci pintu ruangan agar Nusa tidak bisa masuk. Beberapa menit kemudian, Nusa pun datang. Dia mencoba membuka pintu namun tidak terbuka. Pintu yang sudah dikunci oleh Maria, dengan malu hati Nusa berteriak meminta pintu dibuka. Dengan licik Maria pun menjawab, "pintu ruangan ini sudah ditutup. Mohon kembali pada saat jam istirahat." Nusa semakin teriak, tidak lupa menggedor pintu dengan kencang. Maria yang berada di dalam ruangan malah tambah cuek, dan tetap menjawab seperti tadi seolah sedang di bioskop. Iya, bioskop khayalannya. Nusa semakin geram, akhirnya dia mengeluarkan kartu As yang paling mujarab. "Ok, gue traktir lu makan siang, gue traktir mie ayam," bujuk Nusa dengan memelas. "Silahkan masuk Bapak Nusa yang ganteng," jawab Maria yang seketika langsung membuka pintunya. Dengan imut, Maria mempersilakan Nusa masuk ke dalam ruangan. "Deal ya, lu traktir gue makan mie ayam nanti siang," sambung Maria menagih janjinya. "Iyeeeee. Anjirr lu ya, kebiasaan banget sih lu. Pake kunci pintu segala buat minta jatah traktir. Lu kagak punya uang apa, buat nanti makan siang?" tanya Nusa dengan kesal. "Iyeeehhh cuy, duit gue sekarat hampir koid. Udeh setitik lagi ini, koid deh asli. Tadi aja gue minta jemput si Pongky beangakat ke kantor, " jawab Maria tersipu malu harus jujur. "Beuh, pantesan. Gue nunggu dia kagak nongol aja. Asal lu tahu aja nih ya, gue kesiangan gara-gara nunggu dia yg gak ada kabar. Padahal gue udah janjian sama dia mau berangkat bareng. Lah, ini malah gue ditikung ama lu. Ah asem lu!" protes Nusa menggebu, menyalahkan Maria karena kesiangan "Idih pake nyalahin gue. Hey, lu sadar dong, lu yang kesiangan malah gue yang disalahin. Hellow?? Si Pongky lah yang salah. Gue kan gak tahu kalau lu pada udah janjian. Lagian sih ya, si Pongky lebih memilih gue kali daripada lu. Sudah terbukti kan?!” jawab Maria dengan sombong. "Iye Kampret! Tapi gile lu ya, si Erik mau lu taruh dimana emang, dasar Ceu Marrrr, Rakus lu! " ledek Nusa. "Loh, kok lu bawa-bawa si Erik sih? Hermannn guee. Yang ada tuh, si Rey kali. Yang jadi pacar gue tuh si Rey, bukan si Erik, suka ngarang lu," semprot Maria, tiba-tiba menjadi kesal. Muka kecutnya muncul seketika. "Hahahaha, lu lagi berantem ya ama si Erik?" tanya Nusa penasaran. Menaikkan alisnya ke atas beberapa kali, menggoda Maria. "Kagak!" jawab Maria singkat. "Bohong lu, halah paling juga lu marahan ama dia kan ya. Iya kan?" tanya Nusa makin penasaran, menggoda Maria. Situasi berubah, sekarang giliran kejahilan Nusa yang meronta, menggoda Maria. Dengan mata penasarannya, Nusa memojokkan Maria sampai kikuk perihal Erik. Pertanyaan dan Pernyataan terlontar dari mulut Nusa membuat Maria semakin kesal. Tangtingtung.. Tangtingtung.. Terdengar suara handphone Nusa berdering yang mengakhiri perbincangan kikuk diantara mereka, Maria bergegas ke mejanya untuk menyelesaikan pekerjaannya di depan komputer. Alih-alih, mengalihkan pembicaraan tentang Erik. Nusa pun mencibir Maria, "ah lu menghindar Ceu Mar." Maria hanya tertawa mendengar cibiran Nusa. “Kerja lu, kampret!” ucapan Maria mengakhiri. Jam istirahat pun telah tiba, Maria dengan sumringah mengajak Nusa makan siang. Memasang wajah imut dan menggandeng tangan Nusa, mengajaknya pergi ke kantin. Masalah Erik pun, sudah terlupakan. Mereka berjalan berdua menuju kantin kantor. Maria sangat senang karena dapat traktiran dari Nusa, meski jalannya harus licik dulu. Haha Suasana kantin sudah ramai pengunjung. Semua meja hampir penuh terisi dengan karyawan yang sedang makan siang. Nusa dan Maria celingukan mencari meja yang kosong. Dan terlihatlah sebuah meja di pojokan dengan penghuni yang familiar. Ya, Erik. Betul sekali. Seperti di drama Korea. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Masih ada tiga kursi kosong di meja Erik. Nusa mengajak Maria untuk bergabung disana. Maria pun tidak bisa menolak, bagaimana pun tidak ingin terlihat sedang marahan dengan Erik, dan juga Maria sangat kelaparan. Mau bagaimana pun, Maria butuh makan. Sarapan pagi telah dia lewatkan karena uangnya tinggal setitik menuju habis. Dengan menghela nafas panjang, Maria menghampiri Erik. Nusa hanya senyum-senyum saja melihat tingkah mereka. "Rik, gue gabung disini ya. Kagak ada meja yang kosong lagi euy," pinta Maria, membuka obrolan pertama sambil menyapanya. "Silahkan, gue bentar lagi beres kok makannya," jawab Erik dengan ketus. "Loh.. Loh.. Kalian ada apa? Kenapa? Lagi marahan kah? Lagi perang kah?" tanya usil Nusa. "Kagak!!" jawaban kompak dari Maria dan Erik. Nusa semakin usil dan tertawa melihat tingkah mereka. Maria dan Erik pun hanya diam saja, sedangkan Nusa ngoceh dengan rasa usil dan penasarannya tentang hubungan Maria dan Erik. Berteman atau bersahabat itu ada kalanya berantem, diem-dieman dan tidak saling sapa. Meski begitu, mereka masih peduli satu sama lain. Buktinya, Maria dipersilahkan duduk bareng di meja Erik walau Erik terdengar sangat ketus. Namanya juga sahabat, tidak akan membiarkan sahabatnya menderita. Dan satu hal lagi, yang namanya bersahabat, pasti akan cepat berbaikan dan memaafkan. Lihat saja nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD