Dua tahun mengikuti Leo Elbara. Mulai dari bisnis jual beli pakaiannya yang hanya berjalan beberapa bulan dan bangkrut dengan menyedihkan. Lalu tak lama Bosnya itu menjajal bisnis kuliner, yang akhirnya gulung tikar juga karena kelewat sepi pelanggan, bahkan sepinya resto milik Leo melebihi sepinya kuburan dimalam jumat kliwon.
Lalu yang terakhir ini, menggunakan sisa tabungannya yang tersisa. Leo membuka sebuah toko yang ia beri nama Elbara Cell. Toko yang bisa dikatakan cukup besar, menjual kartu perdana, accesories dan sparepart serta menerima jasa service handphone. Bisnis ini berjalan paling lama dibandingkan dua usaha sebelumnya yang sudah keok hanya dalam beberapa bulan saja.
"Giz, lo dimana?" Tanpa salam tanpa basa-basi. Monica langsung menanyakan posisi Gizka saat ini. Bersamaan saat gadis itu baru saja selesai memasang handsfree dikupingnya dan menerima panggilan dari sahabatnya yang soak itu.
"Biasalah lagi jadi babu. Kenapa?" Gizka mengelap keringat yang bercucuran didahinya. Demi menambah pundi-pundi rupiah yang tak seberapa, Gizka mengambil job sebagai babu di rumah Bosnya. Setidaknya ada tambahan untuk mengirim orang tuanya di kampung, demi meringankan beban mereka membiayai sekolah dua adiknya yang masing-masing duduk dibangku SMP dan SMA.
"Ya salam ... ngoyo banget sih lo Giz. Betah banget sih lo kerja sama Bos lo yang katanya gembel itu wkwk." Terdengar suara cablak Monica yang puas sekali sepertinya menertawakan penderitaan hidupnya.
"Diem lo, b*****h! Cariin gue kerjaan, dong. Lo pikir gue mau kerja kaya begini terus. Masa jauh-jauh gue ke Jakarta cuma jadi penjaga counter sama babu." Duh, kalau ingat mimpi-mimpinya dulu kala saat menginjakkan kaki di ibukota nan kejam ini. Gizka merasa konyol pernah berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus hanya dengan mengandalkan ijazah SMA-nya. Sesusah itu ternyata mencari pekerjaan di kota metropolitan ini.
"Gue, kan udah pernah coba masukin lo ke kantornya cowok gue. Tapi lo gagal, bukan salah gue dong." Monica membela diri, masih dengan kekehannya yang terdengar menghina ditelinga Gizka.
"Iya, sih ...." Gizka mendengus pasrah. "Nasib gue sial banget sih, Mon. Nggak dalam percintaan, nggak dalam pekerjaan. Gue nggak memiliki keberuntungan sama sekali," keluhnya lesu
"Udah, sih syukurin aja, Giz. Setidaknya lo sehat dan setiap bulan masih bisa kirim buat ortu lo dikampung. Meski mereka nggak tahu seberapa ngenesnya hidup lo di sini." Disela nasehat bijaknya, Monica masih saja menyelipkan hinaan terselubung yang menyebalkan.
"Jadi ... mau apa lo nyari gue? Gue lagi sibuk, nih." Melihat setrikaannya yang tak kunjung rampung, membuat Gizka menarik nafas lelah. Dia paling malas mengerjakan pekerjaannya satu ini. Menyetrika itu menurutnya membosankan, melelahkan, dan membuatnya kepanasan.
"Gue tadinya mau nraktir lo makan baso di tanggul."
"Cih, dalam rangka apa lo mau nraktir gue?" Bukannya apa-apa. Monica itu sama gembelnya dengan dirinya, pekerjaannya juga nggak jelas. Tapi dia mendapat sokongan dari calon suaminya yang meski nggak tajir-tajir amat. Cuma karyawan biasa sih, setidaknya sudah punya rumah, mobil dan pekerjaan tetap dengan gaji yang bisa mencukupi kebutuhan sendiri juga sang pacar.
"Gue lolos casting, Cuy!" seru Monica riang. Sampai meski Gizka tak melihat secara langsung wujud Monica saat ini. Ia bisa membayangkan seberapa bahagia sahabatnya itu saat ini.
"Serius lo?"
"Yap!. Masa gue bo' ong, sih."
"Emang udah cair?"
"Ya, belomlah. Belum juga syuting gimana, sih lo Giz."
"Lha terus lo mau nraktir gue pake duit apaan?"
"Duit suami guelah."
"Cih, belum juga nikah ngaku-ngaku suami."
"Tapi, kan udah sering kawin ... wkwkwk," ujarnya bangga.
Lo pikir itu prestasi apa, Jubaedah?
Benar-benar, Gizka nggak habis pikir dengan kebobrokan sahabat baiknya itu.
"Gila lo." Otak korengan Gizka seketika membayangkan adegan iya-iya antara Monic dan calon suaminya itu.
Ya salaamm Gizka ... please jangan ikutan m***m kaya si Monic!
"Makanya pacaran dong biar tahu rasanya. Nanti lo juga bakal ketagihan ...." Terdengar tawa Monica terkikik geli. Benar-benar kampret! Monica yang iya-iya malah Gizka yang malu setengah gila.
"Brisiklah! Eh, btw sekali-kali ajak gue casting dong, siapa tahu gue dilirik sutradara, jadi artis. Kan, siapa tahu nasib baik gue di situ." Seketika jiwa halu Gizka yang terpendam meronta-ronta.
"Ya, udah, kebetulan ada, nih. Masalahnya Bos lo ngijinin nggak? Lo nggak masuk sehari aja dia nyamperin ke kosan suruh berangkat. Emang bener-bener ya Bos lo tuh posesif banget."
"Bayarannya gedhe nggak?"
Cih, Posesif? Emang gue siapanya dia coba?
Gizka memilih mengabaikan celotehan Monica yang unfaedah itu.
"Sejuta, lumayan, kan?"
Mata Gizka tiba-tiba berbinar penuh harapan halu. Siapa tahu ya, kan? Dari iseng-iseng ikut casting iklan dia akhirnya jadi bintang ,seperti Amanda Manopo atau Natasha Wilona, misalnya.
Ulala banget kalau nasib gue semujur itu.
"Kenapa kamu, Giz?" Binar harapan halu di mata Gizka langsung memudar, ketika melihat Leo menghampiri dirinya.
"Eh, kebetulan, Bos." Gizka menyisihkan dulu setrika di tangannya, supaya bisa fokus bicara dengan Leo. "Saya mau minta ijin sehari aja, boleh, ya ...," rajuknya dengan sengaja menampilkan wajah sok manis.
"Untuk?" Mata Leo mulai mendelik. Belum juga ngasih alasan, Bosnya itu sudah mengirimkan sinyal-sinyal penolakan. Senyum di bibir Gizka pun langsung meredup seketika.
"Saya mau ikut casting, Bos. Siapa tahu ya, kan nasib baik saya disitu. Kalau saya beneran jadi artis nanti, saya kan, bisa bantu promoin usaha Bos. Saya janji, deh nggak bakal narik bayaran seperserpun ...." Belum apa-apa, kehaluan Gizka sudah setinggi langit menembus awan-awan di atas sana. Bagi Gizka yang penting percaya diri aja dulu, kegagalan diurus belakangan.
"Memang kamu yakin bakal lolos?"
"Kalau nggak dicoba kita nggak akan pernah tahu hasilnya, Le." Gizka melupakan bahwa Monica di seberang sana bisa mendengarkan pembicaraannya dengan Bosnya.
"Seperti biasa ya, kamu selalu semangat sekali," puji Leo dengan dua ekspresi yang bisa Gizka tangkap di sana. Wajah tampan itu disatu sisi memuji semangat juangnya tapi disatu sisi menertawakan ambisinya halunya.
Dasar Bos kampret! Bukannya mendukung anak buahnya malah ... ck ...
"Yah, tentu aja. Itulah saya." Gizka memilih menjawab dengan senyum percaya diri.
"Memangnya kamu mau ikut casting apa?" tanya Leo penasaran.
"Katanya ... buat iklan." Gizka seketika ingat bahwa belum mematikan sambungan telefonnya dengan Monica. Dia melihat layar ponselnya yang masih menyala. Si Monica pasti menguping pembicaraannya di sana.
"Iklan apa?" tanya Leo sembari mengelap dahi Gizka yang penuh buliran-buliran keringat segede jagung.
Oh, ini satu yang tidak bisa diabaikan Gizka. Dibalik kegembelan dan sifat pelit Leo Elbara mengenai waktu kerjanya bahkan gajinya. Laki-laki itu memperlakukannya dengan sangat baik dan kadang perhatiannya membuat Gizka sering halu dan salah paham. Tapi untungnya Gizka selalu berhasil keluar dari dunia halunya dan sadar tepat pada waktunya, sebelum terlalu jauh jatuh dalam khayalan.
Leo Elbara, adalah seorang playboy, deretan kekasih-kekasihnya selain memiliki wajah rupawan, mereka juga super sexy dan kaya raya.
"Ngaca lo, Gizka!"
"Mon, Lo masih di sana, kan?" Gizka mengalihkan debaran jantungnya dengan memastikan sahabatnya itu masih mendengarkannya di ujung sana. Sengaja ia loudspeaker supaya Leo bisa mendengarnya.
"Masihlah. Sialan lu, gue dikacangin." Monica misuh-misuh.
"Sorry ... sorry. Btw, masalah casting iklan tadi gimana? Gue mau diikutin casting iklan apaan?"
"Oh itu ... iklan salep panu sama jamur," jawab Monica lantang. Sementara Gizka mulai menerka-nerka peran apa yang kira-kira akan ia mainkan diiklan tersebut, begitupun dengan Leo.
"Iklan salep jamur?" ulang Gizka. "Terus gue casting buat peran orang yang panuan atau jamuran gitu?"
Leo menahan senyumnya melihat wajah Gizka yang sedikit shock sepertinya.
"Bukanlah, Jubaedah ...."
"Bukan? Terus lo suruh gue casting buat peran apa?" Gizka melirik sebal pada Leo yang diam-diam menertawakannya.
"Ya, lo jadi jamur sama panunyalah," jawab Monica lantang dengan suara tawanya yang meledak tanpa dosa. Jangan lupakan Bos kampretnya, si Leo Elbara yang kali ini tak menahan-nahan diri lagi untuk ikut menertawainya dirinya lelucon hidupnya.
"b*****h lo, Mon." Gizka memutuskan sambungan telefon dengan wajah memerah menahan malu. Ia kira dia akan dapat peran yang-setidaknya mengekspos wajah cantiknya bukannya malah jadi panu atau jamur.
"Leooo!" geram Gizka melihat Bosnya itu masih terpingkal-pingkal sembari memegangi perutnya yang kram karena saking lamanya ia tertawa.
"Semangat Gizka, Sayang." Leo memberikan dukungan dan semangat disela tawanya yang menyebalkan itu. Jangan lupakan wajahnya yang sarat akan hinaan itu.
Dasar Bos kampret!