“Tidak, tolong jangan lakukan ini, Lio. Mereka bukanlah orang yang bisa di percaya, tolong jangan termakan dengan perkataan mereka!” Yuwen menahanku untuk tidak pergi.
Aku tersenyum tipis, wajahnya sudah dilumuri oleh darah, kakinya sebelah tidak bisa digerakkan. Luka tusukan itu cukup dalam, dan selamanya dia mungkin tidak akan berhasil sembuh. Karena tusukan itu bukanlah tusukan yang biasa.
“Pindahlah dari sana. Juga…menghilanglah sejauh yang kau bisa, mungkin Desa Hill bisa menjadi tempat ter-amanmu. Sebelum kau menemui Oliver, berilah dia kabar agar dia bisa menjemputmu di peron.”
“Lio, apa kau benar-benar ingin mengikuti mereka?”
Jendela dilempari batu dari luar, aku menatap 4 orang yang berada di bawah itu. Lalu kembali menatap Yuwen, aku memberikan beberapa lembar cek padanya. Setidaknya, dia bisa bertahan hidup dengan cek itu.
“Ada beberapa lembar cek lagi di lemariku, tapi biarkan lah itu. Aku rasa angka ini cukup untukmu dan juga ibumu, aku tidak lagi bisa memberimu upah. Katakan juga pada ibumu untuk meningkatkan kemauannya untuk hidup. Alasan dia terus menjadi lemah adalah tingkat kemauan hidupnya yang rendah. Itu akan sangat mempengaruhi keberadaannya!”
“Kau tidak menjawab pertanyaanku tadi!”
Menarik nafas lagi, aku hanya bisa mengangguk, “Tidak ada jalan lain, karena aku juga ingin tahu kenapa mereka selalu mengincarku. Aku ingin tahu, apa memori yang aku lupakan. Terkait hal apa yang nantinya mereka lakukan padaku, aku akan menerimanya. Karena aku sudah memutuskan untuk mengikuti mereka!”
“Tapi, Lio. Aku masih tidak mengerti, kau seolah-olah berada di dalam keadaan tahu sebenarnya apa yang kau lakukan, apa kau memang merahasiakan sesuatu dariku?”
“Tidak banyak waktu lagi, aku harus pergi, dan ingatlah pesanku. Jika ada orang lain yang bertanya mengenaiku, katakanlah bahwa kau tidak mengenaliku. Aku tidak ingin kau berada dalam masalah, sekarang, aku akan pergi!”
Dengan segera, aku bangkit berdiri dan turun kebawah. Menghiraukan teriakan Yuwen di atas anak tangga, kakiku menginjak tubuh tidak bernyawa yang menghalangi jalanku.
Mereka sudah menungguku di luar, begitu aku berada di depan mobil mereka. Sosok bernama Max itu menarik jubahku dengan paksa, dan menutup pintu.
“Mari lihat, siapa dirimu yang sebenarnya. Apa kau sudah menghubungi Toby, Max?”
“Sudah, lagipula kita tidak perlu mengabarinya. Bukanlah si bájingan Li Wei selalu mengawasi keberadaan kita? Dia tidak pernah melepaskan 1 menit dari waktunya untuk berpaling dari kita, sekarang adalah waktunya!” seru Karin, aku masih mengingat nama itu dari pembicaraan mereka.
“Arghh…itu sakit sialan, kenapa kau menarik rambutku?” tatapanku tertuju pada lelaki yang duduk di belakang. Dia Ryu, aku masih mengingatnya, dia menarik rambutku semakin keras.
“Jangan membuat dia kesakitan, Ryu. Atau Li Wei akan menghentikan mobil kita saat ini juga!”
“Biarkan saja, aku hanya masih tidak percaya. Jika si brengsèk ini akhirnya memilih untuk menyerahkan dirinya semudah ini. Apa kau pikir, ini terlalu mudah?”
Nafas Max menyapu kulit leherku, dia terlalu dekat, membuatku memundurkan badanku, “Menurutku juga begitu. Tapi itu tidak menjadi masalah, aku tidak bisa terus-terusan mengulur waktu untuk menghentikan si bájingan satu ini!”
“YAK…Apa kau benar-benar tidak mengingat siapa aku? Apa kau lupa kejadian malam itu? Dimana kau berubah menjadi seperti monster, kabur dari tempat penelitian dan meninggalkanku seorang diri seperti orang bodoh?” sambung Max, kali ini berteriak di depanku.
“Tolong jangan berteriak di depan wajahku, aisshh, air liurmu bahkan muncrat. Lagipula, harus berapa kali aku mengatakan padamu, bahwa aku tidak tahu siapa kalian? Kenapa harus banyak bertanya lagi, apa otakmu tidak mencernanya dengan baik?”
“Aish…Bedebáh satu ini…rasakan ini bájingan!”
Leherku terasa sakit, udara disekitarku mulai terasa sedikit. Tangan Max dengan sekuat tenaga mencekikku. Tidak ada yang menghentikan, 3 orang lainnya bahwa tertawa saat melihatku hampir kehilangan kesadaran.
Tanganku berusaha untuk meraih sesuatu, sebelum tiba-tiba aku merasakan guncangan hebat, bersamaan dengan tangan Max yang lepas dariku.
Pintu terbuka, dan tubuh Max ditarik dari dalam mobil. Bruk…badannya terpental, aku mengambil nafas banyak-banyak. Hidungku bahkan kembali mengeluarkan darah, dan badanku sedikit lemas. Sialan, lelaki bájingan itu sepertinya ingin bermain-main denganku.
Getaran di ponselku membuat perhatianku teralihkan dari sosok lelaki yang sedang menghajar Max. Pesan dari Teresa, aku membalasnya secepat kilat, sebelum ada yang menyadari keberadaanku. Aku juga dengan segera mengambil kartuku, membelahnya menjadi dua dan membuangnya.
Tepat waktu, sebelum Max di lempar ke dalam mobil lagi. Sosok tadi menatapku, lalu menatap ke arah ponselku. Tangannya dengan kasar mencekik leher Max lagi.
“Toby pasti akan melakukan hal yang lebih dari ini, jika tahu kau ingin mencoba membunuh, Emilio. Kalian dengan itu?”
“M…maafkan saya, dia hanya membuatku marah, dan aku tidak sabar untuk memukulnya!”
“Itu bukan hakmu, Max. Jangan membuatku kecewa dengan hal ini, jika tidak, maka aku akan membunuhmu detik ini juga!”
Max langsung mengambil nafas banyak-banyak saat lelaki tadi melepaskan cekikan di lehernya. Dia juga mengambil kasar ponselku, menghancurkannya dengan tangannya sendiri. “Jangan coba-coba untuk kabur lagi, Lio. Kau tidak tahu seberapa lama Toby menunggumu?”
“Aku tidak tahu dan tidak mau tahu!”
Sosok itu tersenyum miring, lalu menatapku, “Tidak apa, mungkin karena kau tidak ingat siapa kami. Sehingga kau berani untuk mengatakan hal itu, Toby akan membantumu mengembalikan ingatanmu!”
“Jalankan mobilnya, Alan. Tolong jangan membuatku marah, jika dia terluka, maka nyawa kalian sebagai taruhannya!”
Detik dimulai perjalanan, tidak ada lagi yang berbicara. Max sejak tadi mengepalkan tangannya, dan sudah berpindah tempat, dia duduk di depan. Aku menaikkan bahuku, perutku mulai terasa lapar.
“Apa kita tidak akan berhenti dulu? Perutku sudah sangat lapar, tidak baik untuk membuat cacing-cacing di perutku kelaparan!”
Tidak ada yang menjawab pertanyaanku, tapi mobil berhenti di salah satu gerai makan yang berada di pinggir jalan. Aku menatap gerai sepi itu, terlihat tidak menarik. Tapi hanya ada ini, dan aku tidak bisa memilih makanan.
“Apa yang kau mau? Karin akan turun membelikannya, jangan harap kau bisa melakukan rencana busukmu itu!”
“Well, Kari ayam terlihat lezat di bawah guyuran hujan seperti ini!”
“Kari ayam?” tanya Karin, mengerutkan keningnya
Aku mengangguk, “Ya, aku ingin kari ayam, dengan sosis mie yang hangat. Jangan lupa membungkus kerupuknya juga, aku sudah sangat kelaparan saat ini!”
Sosok gadis itu lekas keluar, dan kembali dengan pesananku. Ternyata gerai itu tidak sepi, beberapa menit tetap menunggu di dalam mobil, gerai itu mulai ramai. Bahkan subuh-subuh tetap buka.
Aroma Kari ayam dan sosis mie ku mengisi setiap isi mobil, aku tidak menawarkannya pada siapapun. Karena aku butuh mengisi asupan energi ku sendiri, lagipula itu salah mereka, kenapa tidak memesan?!
***
Badanku kembali di dorong dari dalam mobil begitu berhenti di salah satu bangunan yang cukup sepi. Lokasinya sangat jauh dari kota yang ramai, bahkan aku tidak pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya.
Max berhenti mendorongku, begitu lelaki tadi juga turun dari mobilnya. “Aku Li Wei, mungkin kau tidak mengenalku. Tapi kau pernah memberikan kepercayaanmu padaku!”
Aku diam, tidak menjawab ocehan tidak bergunanya. Mulutnya bau, dan aku tidak suka dengan tatapan sok friendly-nya itu. Sedikit membuat tanganku gatal ingin menarik lidahnya. Perhatianku tertuju pada gedung di atas, sedikit aneh dan terkesan menyeramkan?
Ini benar-benar tempat yang buruk, aku bahkan tidak pernah melihat gedung yang luarnya ditutupi oleh tumbuhan menjalar sepenuhnya. Pernah beberapa, saat menjumpai kasus di gedung lama. Tapi tidak seperti ini.
“Bawa dia pada Toby, dan jangan mencoba-coba untuk melakukan apa-apa padanya. Aku akan menyusul sebentar lagi, masih ada beberapa urusan yang perlu aku selesaikan!”
Mobil yang di tumpangi Li Wei menjauh, dan mereka kembali mendorongku lebih kasar daripada sebelumnya. Sampai kakiku harus mencium lantai kasar saat tidak siap dengan dorongan mereka di atas anak tangga.
“Jangan merasa senang dulu karena dia membelamu tadi, bájingan. Kau akan segera merasakan penyiksaan yang luar biasa. Dan kami pastikan, bahwa kau akan mendapatkan kembali ingatamu yang kau lupakan!”
Pintu terbuka, Karin dan Ryu berjalan di depan. Lalu di susul olehku, dan Max. Yang terakhir masuk adalah lelaki bernama Alan itu. Dia mengunci pintu itu dengan sangat rapat.
Mataku terperangah dengan isi ruangan ini, benar-benar sesuatu yang tidak aku bayangkan akan berada di sini. Ruangan putih, dimana berbagai macam alat laboratorium bisa aku dapatkan dengan mudah. Dari yang mahal sampai yang murah.
Sayangnya, tidak ada orang sama-sekali, tidak ada kehidupan di ruangan ini. Tapi mataku bisa menangkap beberapa bercak noda darah di masing-masing sudut meja. Aku menelan ludahku kasar saat menatap potongan kaki yang menghalangi langkahku.
“Itu adalah ulah Toby, sepertinya dia marah semalam, karena para profesor itu tidak mampu memberikan yang dia inginkan!” ujar Alan, yang berjalan di sebelahku.
“Atau mungkin, karena dia berpikir bahwa manusia-manusia bodoh itu tidak penting lagi, karena kita memberinya kabar menemukan si brengsèk ini?” nada sinis Karin tertuju padaku. Aku mengabaikannya, dan tetap melangkah karena dorongan Max dari belakang.
Lorong mulai merendah, dan berjalan 2 langkah lagi, anak tangga menurun membawa kami pada anak tangga menaik setelah anak tangga menurun tadi. Ada banyak lorong-lorong gelap di masing-masing jalan utama yang kami lewati saat ini.
Serpihan kaca juga terdapat dimana-mana, sepertinya gedung ini memang tempat percobaan.
“Cepat masuk, bedebàh. Kau tidak akan mendapatkan jalan keluar dari gedung ini, karena semua gedung ini memang hanya memiliki satu jalan keluar. Sayangnya, jalan keluar itu juga diawasi oleh para penjaga!”
Kemungkinan apa yang Alan katakan itu adalah 50% benar dan 50% salah. Badanku kembali di dorong dengan paksa ke dalam, tanganku di borgol, dan dimasukkan ke dalam ruangan putih.
“Sialan, apa yang kalian lakukan. Kenapa seperti ini?” panikku, saat Alan mendudukkanku dengan paksa di sebuah kursi.
“Kau ingin ingatanmu terpenuhi, bukan? Jadi jangan membuat kekacauan di sini, dan duduklah dengan tenang!”
“Sialan, lepaskan aku bájingan. Aku akan membunuhmu, tidak…!”
Aku berhenti berteriak saat sosok di belakangku menyuntikkan cairan dari leherku. Itu sangat sakit, jarumnya terlalu besar, cairan itu memasuki tubuhku dengan cepat. Aku bisa merasakan alirannya.
Tes...aku menatap tanganku yang terkena tetesan dari darah yang mengalir dari hidungku. Aku merasakan kepalaku semakin terasa berat. Beberapa bayangan seolah mendekat padaku, memasuki otakku dengan sesuka hati mereka.
Tapi itu tidak lama, ketika sosok tadi kembali menarik leherku dengan keras, dan menyuntikkan sebuah cairan. Kesadaranku pulih, tapi sayangnya tubuhku sangat lemas. Aku menatap lurus kedepan, kaca di di depanku mulai menunjukkan siapa sosok yang ada di baliknya.
Lelaki tua, wajah berkerut dan senyuman di wajahnya menghiasiku. Itu pasti Toby, bájingan itu pasti Toby, dan mengetahui hal itu. Membuatku marah dan ingin memukul wajahnya.
“Selamat datang, Emilio. Akhirnya, setelah 14 tahun menunggumu, kau muncul di hadapanku. Aku bahkan tidak menyangka kau masih bisa bertahan. Betapa bahagianya aku melihatmu kembali!”
“Siapa kau sialan, kenapa kau melakukan ini padaku. KENAPA KAU MEMBUATKU SEPERTI INI!” teriakku, tanganku berusaha untuk melepaskan ikatan di tanganku. Berteriak dengan keras, dan menyumpah serapahi lelaki tadi.
Wajah tua itu tidak berubah, dia masih tersenyum sembari menatapku. Pintu di sebelahnya terbuka, dan ternyata Li Wei yang memasuki ruangannya.
“Jadi, kau benar-benar kehilangan ingatanmu. Apa kau tidak mengingat wajahku sebelumnya?”
“Kau bájingan, lepaskan aku…lepaskan aku!” teriakku, berusaha untuk melepaskan tanganku.
“Bedebáh itu…!” Max mengumpat, dan hendak memasuki ruangan dimana Emilio sedang ditahan.
“Biarkan dia seperti itu, Max. Dia tidak mengingatku, wajar saja dia tidak tahu siapa aku!”
Aku menatap sosok bernama Toby itu yang sedang berbicara dengan Max. Tidak ada gunanya berteriak, mereka juga tidak akan melepaskanku dari sini. Aku menatap penjaga, dia juga sedang menatapku.
“Tolong, lepaskan aku dari tempat ini. Aku tidak tahu apa yang lelaki tua itu katakan, mereka membawa ku kemari. Aku mohon, lepaskan aku, jika…”
“Dia tidak akan mendengarkanmu, Lio.” suara dari speaker suara yang ada di masing-masing sudut membuatku mengalihkan perhatian ke depan. Apa mereka memasang sesuatu di sini?
“Apapun yang kau bicarakan di ruangan itu, akan terdengar olehku. Rasanya senang bisa melihatmu kembali, tapi aku sedikit kecewa ketika kau meneriakiku seperti itu. Padahal, dulu kau adalah orang yang sangat sopan, sama-sekali tidak pernah menolak apa yang aku perintahkan padamu!”
“Bullshit, lepaskan aku dari sini, bedebáh!”
“Tidak masalah, mungkin kau memang tidak bisa mengingatku. 14 tahun lepas dan hidup di luar membuatku sadar, bahwa kau memang yang paling sempurna di antara semuanya. Aku juga tidak akan menyalahkanmu, karena memberontak saat itu dan membunuh beberapa profesor yang bekerja untukku saat itu!”
“Sialan, aku benar-benar tidak tahu apa yang kau bicarakan. Lepaskan aku dari sini, bájingan!”
“Well, aku akan membantumu mengingat siapa dirimu yang sebenarnya, Lio!”
BERSAMBUNG...