Max POV
“Apa kau mendapatkan data-data mengenai mereka, Ryu?"
Aku menatap ke arah Ryu yang masih sibuk dengan komputer di depannya. Lalu menatap Li Wei yang mendekati Ryu. Sebelum tangan lelaki tua itu menyentuh Ryu, aku lebih dulu menahan tangannya.
“Jangan membuat hal yang membuatku marah, Li Wei. Kau sudah kelebihan batas, semenjak kami kembali. Ryu benar-benar kehilangan rasa kemanusiaannya, apa yang sedang kau rencanakan ini?”
Li Wei tersenyum miring, aku menepis tangannya. Alan yang baru maruk ke dalam ruangan kami sedikit terkejut mendapati Li Wei. Dia memang tiba-tiba ada di ruangan ini, dan mengontrol pekerjaan Ryu. Satu hal, Ryu sepertinya sudah menjadi alat mereka.
“Max, jangan biarkan aku memberitahu pada Toby, perbuatanmu ini. Sekarang, menyingkirlah, karena Ryu sudah tidak sama-seperti kalian. Ini atas perintah Toby, dia tidak lagi bisa menunggu lama untuk mendapatkan Emilio kembali.”
Kursi Ryu tiba-tiba bergeser, membuatku mengalihkan perhatian. Dia menatapku dengan lurus, tanpa ada ekspresi di wajahnya. Aku mengepalkan tangan, Alan lebih dulu menahan tanganku yang hendak melayangkan tinju pada wajah sialan yang ada di depanku.
“Tuan, ini adalah data dari Jakson. Aku menemukan keberadaannya akhir-akhir ini!”
Li Wei tersenyum, lalu mengambil data itu dari Ryu yang bahkan tidak mengalihkan perhatiannya padaku. Dia lekas duduk, tangannya sedikit kaku, dan hanya tertuju pada komputer. Sialan, jika Ryu terus seperti itu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.
Tubuhnya tidak bisa bertahan terus menerus jika berada di depan komputer, sekalipun kemampuannya ada di sana. Tapi dia juga punya batasan.
Kertas itu tertuju padaku, aku menatap Li Wei dengan kening berkerut.
“Bunuh dia, sebab dia bisa menjadi penghalang bagi kita untuk mendapatkan Emilio!”
Li Wei lekas menuju ke arah pintu keluar begitu mengatakan hal tadi, “Kau tidak bisa membuat Ryu menjadi seperti ini, Li Wei. Dia tidak akan bertahan dalam keadaan seperti ini, aku akan membicarakan hal ini pada Toby!”
Badan Li Wei menghalangi pintu keluar, aku mengepalkan tinjuku dengan keras, berharap aku masih bisa bertahan untuk tidak membuatnya berdarah kali ini.
“Inilah alasan kenapa Toby ingin cepat mendapatkan Emilio kembali, karena sekalipun dia sudah sempurna. Sisi kemanusiannya bisa bertahan lama, dan tidak terpengaruh dengan kekuatannya. Hanya saja, tubuhnya menjadi lemah dan butuh Toby. Dia tidak akan bisa selamanya berada di luar dengan kemampuan itu!”
“Sialan kau Li Wei, ini sama saja dengan membuat Ryu sebagai bahan percobaan. Aku…!”
“Toby sedang melakukan penelitian lagi, jangan membuat dia marah karena mengganggunya. Kau tahu jelas seperti apa sifatnya. Lagipula...” Li Wei berjalan memutariku, seolah menilai diriku untuk saat ini, “Lagipula dia tidak akan menghentikan apa yang sudah dia lakukan, jadi…jangan mencoba-coba diri masuk dalam sebuah kesalahan!”
Pintu tertutup, bruk—kertas itu aku banting ke meja. Tanganku terkepal, lalu menatap Ryu yang bahkan tidak memberi respon saat Karin berulang kali mencoba menghentikannya untuk berada di depan komputer.
Hal ini benar-benar membuat amarahku naik, ini semua karena ulah si bajingàn itu. Jika dia menyerahkan dirinya dengan cepat, mungkin Ryu masih bisa bercanda di tengah keadaan kami saat ini.
“Ryu…” ujarku tertahan, memegang bahunya yang sama-sekali tidak ada respon.
“Si bajinagn itu benar-benar sudah mengubahnya menjadi seperti binatang, Ryu hanya akan patuh pada perintah Toby dan Li Wei. Sebaiknya kita lekas mencari keberadaan Jakson, Toby ingin kepalanya malam ini!”
“Kita…” Karin mengepalkan tangannya, “Kita harus cepat menemukan Emilio. Jika tidak, maka kita semua akan berakhir seperti Ryu. Aku tidak ingin kesadaranku sepenuhnya berada di dalam kendalinya!”
“Baiklah!” ujarku dengan nada kesal. Lalu memperbaiki jubah Ryu yang terjatuh.
Kami hendak keluar, sebelum suara benda jatuh mengalihkan perhatianku. Aku terkejut mendapati Ryu yang terjatuh dari kursinya, melihat itu kami lekas berlari dan menatap Ryu.
“Dia kenapa? Apa yang terjadi dengannya?” panik Alan, menyentuh lehernya.
“BLAAA…”
“ARGHH!” teriak Karin saat Ryu tiba-tiba membuka matanya dan tertawa terpingkal-pingkal. Aku berhenti memegangi Ryu, lalu menatapnya.
“Apa yang terjadi?”
“Hahahah…lihat wajahmu, Karin. Kau benar-benar terlihat menggemaskan saat ini, aku ingin menggigit wajahmu!”
Plak—tamparan Karin benar-benar kuat, aku dan Alan bahkan sampai saling menatap. Ryu lekas menatap Karin dengan tatapan tidak percaya. Hidungnya bahkan sampai mengeluarkan darah.
“Ya Gosh, kenapa kau begitu kasar, Rin? Aku hanya bercanda, apa yang dikatakan oleh Li Wei memang benar, tapi Toby hanya membuat efek padaku selama 5 jam. Dan ini…”
Ucapan Ryu terhenti karena tiba-tiba Karin memeluknya dengan erat, “Aku pikir dia benar-benar membuatmu menjadi alatnya!”seru Karin setelah melepas pelukannya.
Ryu masih diam, wajahnya sedikit memerah. Aku terkekeh, sepertinya dia benar-benar mengatakan hal sesungguhnya.
***
Tanpa menunggu waktu lama, kami sudah tiba di kediaman Jakson. Sebelum memasuki rumahnya, aku memperhatikan Alan yang baru saja menggunakan kemampuannya.
“Tidak ada seorangpun di sana, kecuali Jakson. Sepertinya keluarganya sedang berlibur atau tidak berada sini!”
“Bagus, kita bisa mencabut nyawanya lebih mudah!”
Kami lekas turun, namun tidak langsung menuju rumahnya. Kami mengelilingi rumah Jakson, banyak sekali obat-obatan herbal dan tanaman yang juga banyak kami temukan di laboratorium dulu. Seorang penjaga hendak berteriak, namun Karin lebih dulu memukul lehernya.
Bruk—lelaki tadi terjatuh, Alan membantu Karin membawa mayatnya, sembari kami terus berjalan. Aku terkekeh, sepertinya Jakson memang memiliki kebun tanaman sendiri.
“Dia bahkan menumbuhkan berbagai macam tanaman di rumahnya, aromanya sama dengan kita!” kekeh Alan
“Dia juga membunuh seorang gadis di klub, dan juga memberikan tanda-tanda yang sama dengan tanda Toby. Sepertinya Jakson memang memiliki niat untuk menjebak Toby, sayangnya aku lebih dulu membaca pergerakan lelaki licik satu ini!” ujar Ryu
“Apa kita akan bersenang-senang dengan tamannya ini dulu? Dia bahkan menumbuhkan beberapa tanaman yang cukup sulit kita dapatkan untuk menjadi pil itu!”
Bruk—aku menatap lurus ke depan, di sana, tepat di pintu greenhouse itu, sosok lelaki paruh baya berdiri dengan tatapan terkejut. Sepertinya Alan ada sedikit kesalahan, Jakson tidak berada di rumahnya. Tapi di luar rumahnya.
Alan yang juga baru menyadari itu hanya terkekeh sembari menggaruk belakang kepalanya. “Maaf, sepertinya ada kesalahan tadi!”
“Tidak masalah!” ujarku
“Biarkan dia di sini dulu, kita akan mengurus lelaki itu dulu!” kekeh Karin
Alan lekas membuang tubuh lelaki tadi sembarangan. Aku berjalan ke arah Jakson, dia sudah menutup pintu greenhousenya dan menjatuhkan tanaman yang tadi ada di tangannya. Aku terkekeh, sepertinya dia masih mengenal kami dengan baik.
“Kau tidak ingin masuk dan membuka pintu itu lebih dulu, Karin?” kekehku, menatap Karin yang juga tersenyum.
“Well, itu pekerjaanku!”
Sttt…Karin menyentuh pintu itu, tangannya menembus pintu itu. Klik—pintu terbuka, dan kami lekas masuk. Menatap Jakson yang berusaha untuk keluar dari ruangan ini. Aku semakin bersemangat, ingin sekali aku mengambil alih permainan ini.
“A…apa yang kalian inginkan? Ak..aku…”
Bruk—tubuh Jakson melayang, aku menatap Karin yang baru saja melayangkan tendangannya. Sepertinya kemampuannya makin terlihat meningkat. Alan masih berdiri di tempat semula, sembari memperhatikan beberapa tumbuhan yang ada di tempat Jakson.
“Apa kau menemukan yang menarik?”
Alan mengangguk “Ada jenis tumbuhan di sini yang tidak pernah aku jumpai sebelumnya. Lihat…dia bahkan membuat beberapa tanaman langka itu di sini.”
“Sepertinya di rumah itu ada sesuatu yang menarik!” sambungku, sembari memperhatikan rumah besar itu.
“Arghhh…”
Erangan itu membuatku dan Alan memperhatikan Jakson yang berusaha untuk bangkit. Karin masih berdiri di depannya.
“Jadi…apa kau tidak ingin mengatakan dimana rumah Emilio? Aku butuh jawabanmu, karena kemungkinan dia masih bertahan hingga kini berhubungan denganmu, Profesor!”Ryu berbicara pelan, menarik wajah Jakson untuk mendekat ke arahku.
“Dia tidak ada di sini, kalian benar-benar biadáb. Toby, lelaki íblis itu hanya ingin mempermainkan kalian. Dia hanya ingin memanfaatkan kalian.”
"Bagaimana jika kami tidak peduli?" kekeh Karin, menginjak tangan Jakson. Teriakannya membuatku terhibur, dan maish ingin mendengarnya lama. Tapi sepertinya ada yang mengetuk pintu. Aku lekas memberi perintah pada Karin untuk berhenti dan menutup mulut Jakson.
Ryu menatapku, aku menggeleng. “Bawa dia ke rumahnya, kakiku sedikit sakit jika berdiri cukup lama!”
Sembari menunggu mereka tiba, aku dan Alan lebih dulu memasuki rumah besar itu. Dugaanku benar, memang ada yang datang. Karena masuk dari pintu belakang, jadi aku berkesempatan untuk membuka pintu. Seorang lelaki terkejut menatapku.
“Apa yang bisa saya bantu?”
“S…saya mencari doktor Jakson, untuk meminta obat! Kalian siapa?”
Obat? Alan juga menatapku dengan senyuman miring, “Kami keluarga jauh profesor. Dia sedang ada urusan, jadi, obat jenis apa yang biasa dia berikan padamu?”
“Aku tidak terlalu tahu, tapi dia selalu membuatnya dalam bentuk pil dan cairan berwarna biru. Temanku sedang membutuhkan obat itu!”
“Temanmu?” tanyaku, menatap lelaki itu lebih pasti.
“Ah, jika aku mengatakannya mungkin kalian tidak akan mengerti. Tapi bisakah kalian mengambilkan obatnya segera? Doktor Jakson berkata jika obatnya sudah selesai!”
“Bisa kau beritahu atas nama siapa obatnya?” teriak Alan, dia akhirnya menemukan ruangan dimana ada banyak jenis obat yang ada di sana.
“Emillio, atas nama detektif Emillio. Doktor Jakson selalu menuliskan nama itu di dalam kotanya!” seru lelaki tadi.
Tanganku gemetar, Emilio? Apa mungkin itu adalah si bajingán yang kami cari selama ini? Aku mempersilahkan lelaki itu untuk duduk lebih dulu. “Apa dia sudah lama menjual obat itu pada temanmu?”
“Ahh…aku Yuwen, tidak lengkap rasanya jika kalian masih tidak tahu namaku. Mengenai pertanyaanmu tadi, sebenarnya aku juga tidak terlalu tahu. Tapi selama aku mengenal temanku itu, dia memang sudah mengkonsumsi obat itu. Dan baru beberapa bulan terakhir aku mengenal doktor Jakson ketika bertamu kesini untuk mengambil obat itu!”
Dugaanku benar, sepertinya Emillio yang dimaksud lelaki bernama Yuwen ini juga adalah Emillio yang aku kenal. Suara gelas jatuh membuatku menatap ke belakang, sepertinya Karin tidak sengaja menjatuhkannya.
“Ada seseorang selain kalian berdua?” tanya Yuwen dengan sedikit curiga.
“Ahh…maaf membuat percakapan kalian terganggu, aku sedang membersihkan rak ini. Maaf…aku juga keluarga profesor, maafkan aku sekali lagi!”
Karin berteriak dari belakang, membuat Yuwen kembali duduk. Aku menatap Karin, dia bahkan sengaja mengambil sapu di tangannya, dan bahkan mengenakan celemek yang entah darimana dia dapatkan.
“Maaf atas hal itu, temanku juga akan segera mengambil obatnya!”
Yuwen mengangguk, tapi mulai terlihat curiga dengan kami. “Jika boleh aku tahu, kenapa kalian memanggil doktor Jakson dengan sebutan profesor?”
“Dia adalah pengajar juga sebelum berpindah ke sini, dia orangnya tertutup. Wajah jika kalian tidak tahu. Selain itu, dia sangat berjasa pada kami. Jika bukan karena bantuan dan juga karena ilmunya, mana mungkin kami bisa menjadi seorang lulusan sarjana?”
Alan menjawab sembari mengambil kotak bertuliskan nama Emilio, “Jadi, kalian ini bukan keluarga doktor Jakson? Dan jika boleh tahu, kemana doktor Jakson pergi? Aku akan menghubunginya lebih dulu, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan secara langsung padanya!”
Lelaki bernama Yuwen itu lebih dulu mengambil ponselnya, aku dan Alan saling menatap. Sepertinya kami akan ketahuan. Alan lebih dulu mengambil pisau dari balik jaketnya, namun Yuwen lebih dulu menghela nafas sembari memasukkan kembali ponselnya.
“Nomornya tidak bisa dihubungi, mungkin aku akan berkunjung lain kali saja. Terima kasih atas bantuan kalian, sampai bertemu kembali!”
Alan langsung memasukkan pisaunya ke dalam jaketnya, dan menyerahkan kotak itu pada Yuwen. Lelaki itu pamit tanpa banyak bertanya lagi. Kami saling menatap, lalu lekas menatap ke arah Ryu yang baru saja memunculkan dirinya dengan ponsel yang sudah tidak berbentuk itu.
“Maaf, aku terlalu mencintaimu teknologi. Jadi aku menghancurkan ponsel ini lebih dulu, sebelum dia mencintai kita!”
“Kau menyelamatkan kita, jika tidak, mungkin kita juga harus membunuh lelaki itu dan kehilangan jejak!” seru Karin yang datang dengan menarik kaki Jakson yang berkeringat dingin.
Aku membuka lakban yang menutup mulutnya, “Tanpa kau beritahu, kami mendapatkan sumber informan yang terpercaya. Kalian urus dia, entah apa yang akan kalian lakukan padanya, itu terserah kalian saja. Aku dan Ryu akan mengikuti lelaki tadi!”
“Jangan kecewakan kami, Max.” Ujar Alan
Aku mengangguk, lalu lekas memasuki mobil dan menjauh dari lokasi perumahan Jakson. Mengikuti mobil hitam itu yang terus melaju membelah kerumunan. Hingga saat mobil itu memasuki sebuah rumah mewah yang ada di tengah kota, membuatku langsung menyeringai.
"Bajingán itu benar-benar licik, dia sengaja memilih tempat di keramaian. Orang-orang tidak akan peduli dengan apapun yang mereka lakukan di sini!" kekeh Ryu.
"Mereka saling mengenal bukan?"
"Si bajingán itu dengan....tentu saja benar, mungkin kabar kemarian Jakson akan membawanya pada sesuatu yang tidak dia inginkan. Mari kita lihat, apa reaksinya jika tahu sumber kehidupannya selama ini sudah mati!"
"Dia tidak akan bertahan lebih lama, tapi, aku juga ingin Toby menunggu. Dia terlalu semena-mena, jadi aku juga akna mengulur waktu untuk membawa Emillio padanya!"
TBC