Ruangan itu benar-benar bersimbah darah ketika Emillio menginjakkan kaki di sana. Kaca jendela pecah, semua isinya bak kapal pecah. Dan, Emillio tidak mendapati Teresa, dan Barbara ada dimana-mana. Nafas Emillio masih memburu setelah berlari tadi. “Aku juga tidak mendapati jejak mereka, selain di rumah ini, sama-sekali tidak ada jejak darah di luar. Anjing-anjing ini juga tidak memberikan petunjuk!” Ujar Alan, menatapku dengan gelengan kepala. Tanganku terkepal, Yuwen yang baru saja masuk ke dalam ruang tengah juga menggelengkan kepapalanya. “Tidak ada jejak di halaman belakang, tapi aku mendapati tanah yang sedikit lecet. Sepertinya itu adalah bekas mobil!” Aku lekas menuju ke arah gerbang, lalu berhenti di bawah pohon. Rumput-rumput di bawah terlihat menyatu dengan lumpur bekas air h

