“Apa kau yakin ini ide yang baik, Lio? Urusannya bisa panjang jika dokter Holmes tahu kita menyelinap ke hotelnya ini!”
Aku mengikat tali dengan kuat di perutku, lalu menatap Yuwen yang terlihat ragu dengan ide kami barusan. Tapi tidak ada jalan lain, aku tahu Holmes tidak hanya akan marah jika mengetahui kami menyelinap ke hotelnya yang mirip dengan kamar máyat ini.
“Kita sudah sepakat, jika kau masih ragu, boleh aku tanya apa yang kau ragukan, Yuwen?” tanyaku, “Jika kau ragu, kau bisa mengambil keputusan untuk kembali. Masih ada waktu untuk itu, jika kita sudah masuk, maka kau tidak akan bisa kembali lagi. Jadi….”
“Aku hanya khawatir jika Holmes tahu tentang niat kita ini, dia mungkin sudah menaruh jebakan di dalam hotelnya sebelum pergi.”
“Itu sudah pasti, tapi sejauh pengamatanku. Dia tidak secerdas yang kita pikirkan sebelumnya, aku sempat memasang CCTV di ruang tengah dan lantai 2, dia sama-sekali tidak melakukan apa-apa di sana kecuali tertidur dan memasan banyak makanan. Sedikit tidak normal memang, tapi dia itu memiliki obsesi yang amat teramat besar pada makanan. Kau pikir Sam tidak tahu hal itu?”
“Itu sebabnya Sam membawa Holmes ke rumah makan terenak dan termahal di kota ini?”
“Kau tahu hal itu, sekarang terserah kau saja. Ingin ikut denganku, atau kembali ke rumah Conan!”
Yuwen terlihat berpikir, dan dalam waktu 5 menit yang dia butuhkan untuk berpikir. Aku sudah berhasil mendarat dengan selamat di halaman belakang Holmes. Tidak ada CCTV yang dia letakkan di sini, itu sengaja sekali. Hup—aku menatap Yuwen yang baru saja mendarat di sebelahku.
“Tidak mungkin aku kabur lagi, aku akan ikut denganmu!”
“Pilihan yang bijak!” ucapku, lalu lekas menarik tapi simpul yang tadi aku gunakan untuk membantuku naik ke atas tembok. Lalu menyimpannya di balik saku bajuku.
Kami menatap ke arah parkiran hotel, sama-sekali tidak ada apa-apa di parkiran itu. Aku dan Yuwen lekas mengambil beberapa benda, dan klik—pinset Yuwen berhasil membuka pintu belakang. Kami lekas masuk dan menutupnya dengan rapat, untuk menghindari kecurigaan orang lain. Ruangan belakang benar-benar gelap, tidak ada lampu yang dihidupkan sama-sekali.
“Apa kita harus menyalakan lampu kecil ini, Lio?”
“Tentu saja, kita punya waktu sekitar 3 jam dari sekarang. Sam sudah memberi kabar jika mereka sudah tiba dan memulai memesan. Kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu ini, mari segera menuju lantai dua!”
Yuwen menghidupkan senter kecilnya, lalu menjadi pemanduku di depan. Kami sudah memasuki ruang tengah, tidak ada yang berubah sama-sekali. Berjalan mengendap-endap, akhirnya kami tiba di pertengahan anak tangga. Namun langkahku terhenti saat mendengar bunyi benda jatuh dari arah kamar yang lain. Senter Yuwen lekas mati, kami mendekat ke arah anak tangga untuk bersembunyi.
“Kenapa si lelaki tua bangka itu selalu mematikan lampunya saat malam? Aihss, dasar kikir, dia hanya ingin menguras semua uangku!”
Aku dan Yuwen semakin merapat ke dekat lantai, ternyata suara itu berasal dari seorang lelaki yang aku tebak masih berumur 20-an. Suaranya masih tidak terlalu berat, namun aku tidak melihat wajahnya dengan jelas karena lampu yang tidak menyala. Lelaki itu sepertinya hanya keluar untuk mengambil teh hangat, dan kembali lagi ke kamarnya tanpa mengetahui keberadaan kami. Ternyata satu dari 2 penghuni kamar itu sudah kembali.
“Lio, kita harus lekas naik!”
Klik—pintu kamar berhasil terbuka, tidak ada yang berbeda dengan tadi siang saat kami memasuki kamar wanita ini. Yuwen kembali menghidupkan senternya, memberi penerangan di ruangan ini. Aku menatap ke arah tirai jendela yang tidak tertutup sempurna, sama-seperti yang aku tinggalkan tadi sore.
Sayangnya, ketika aku mendekat ke arah jendela itu, simpul benang merah itu sudah tidak lagi berada di sana.
“Ternyata Holmes sadar dengan simpul itu, aku rasa dia tidak ingin meninggalkan jejak.”
“Tapi, bukankah ini sudah menjadi bukti yang kuat, Yuwen? Tidak ada orang yang memasuki hotel ini, sepertinya dia mengambil simpul itu ketika kita pergi. Aku rasa dia meninggalkan itu, dan baru sadar jika kita melihat simpul tali itu!”
“Apa kau melihat anak tangga itu? Raut wajahnya terlihat terkejut saat kita menatap ke arah langit-langit!”
Yuwen keluar, lalu segera kembali dengan anak tangga yang sempat disembunyikan oleh Holmes. Aku lekas memasang tangga itu menuju ke atap, ternyata Holmes tidak teliti. Simpul benang merah itu masih tertinggal di langit-langit atap. Aku mengambil benda kecil di tanganku, lalu menusuk arah simpul itu. Ada sesuatu di dalam sana ketika aku merasakan sebuah tetesan benda cair mengenai wajahku. Aku lekas turun dan mengambil cairan itu.
“Darah?” seru Yuwen, dia mengambil darah yang menetes dan menciumnya, “Tidak salah lagi, ini memang darah!”
“Sepertinya ada jalan menuju atap, itu bukan jalan satu-satunya menuju ke sana!”
Kami lekas berpencar, tetesan darah itu kembali terjatuh dan mengenai jaketku bagian bawah. Mengalir sedikit ke dalam punggungku. Aku berjalan ke arah bagian pintu, tok…tok…aku mengetuk tembok di sebelahnya. Bunyinya lebih ringan ketimbang aku mengetuk pintu di sebelahnya. Yuwen juga muncul saat aku mengetuk bagian tembok di sebelahnya.
“Aku rasa tembok ini kosong, bisa jadi ada sesuatu di dalamnya!” Yuwen meraba-raba dinding itu, “Dan kau benar, ini sepertinya adalah sebuah pintu!”
Yuwen menunjukkan sebuah gembok di bagian paling bawah dan juga sebuah kode pin. Aku mendekat, lalu mengambil kertas kacaku. Meletakkannya pada tombol tadi, melakukan laser dan, “Aku mendapatkan pinnya!”
Klik—pintu itu berhasil terbuka, dan sesuatu dugaan kami sebelumnya. Pintu itu memang jalan menuju ke arah tembok. Kami lekas memasuki pintu itu, dan menutup pintu ruangan wanita itu. Tentu saja tidak ada orang yang sadar jika ada pintu lagi di sebelah pintu utama. Ini memang trik yang sudah jarang digunakan. Kami memasuki anak tangga yang terbuat dari kayu, jejak kaki tertinggal di antara debu itu sebelum kami beranjak menaikinya.
“Sepertinya jejak kaki ini baru, Holmes sepertinya menyembunyikan banyak benda berharga di sini!”
“Kau benar, sepertinya ini adalah ruangan tersembunyinya!” seruku, mengambil langkah lebih dulu menuju ke atas. Sarang laba-laba hampir memenuhi jalan menuju ke atas, Holmes sepertinya sengaja untuk tidak membersihkan ruangan ini.
Begitu aku tiba lebih dulu, sosok lelaki dengan topi hitam dan sebuah vape—rokok elektrik—terjepit di celah jarinya. Duduk di atas sebuah bangku terbuat dari kayu, yang sudah berjaring-jaring juga. Yuwen yang baru saja tiba ikut terkejut melihat sosok itu.
“Sepertinya, dia tidak hanya mémbunuh wanita itu saja, tapi juga ikut dengan lelaki ini!” Ujarku, berjalan mendekati mayát itu. Aroma tidak sedap menghampiri hidungku ketika baru saja berdiri 3 langkah dari mayát yang duduk di atas kursi itu. Sebuah simpul benang merah juga terikat di lehernya, aku mengambil kamera dan mengambil beberapa gambar.
“Lio, apa kau pikir Holmes juga yang mémbunuh mereka semua ini?”
Aku berhenti mengambil gambar, lalu menatap Yuwen yang kini tengah menatapku dengan keringat dingin yang keluar dari dahinya dan membasahi bajunya. Aku mengangguk, lalu menggeleng, “Bisa jadi dia adalah pelakunya. Atau bisa jadi, dia tidak melakukannya tapi dia tahu sesuatu mengenai hal ini. Sam sudah memberikan informasi, mereka akan kembali kurang lebih 2 jam lagi, kita masih punya cukup waktu untuk mengumpulkan bukti.”
“Baiklah, aku juga berpikiran demikian. Aku rasa ada sedikit celah yang kita lewatkan daripada sekedar mayát ini!”
Bulan bersinar terang malam ini dan menyadari dari atap-atap yang bocor, aku berjalan mendekati mayát yang duduk di tengah-tengah itu lagi. Perhatianku tertuju pada kakinya yang terdapat paku, lalu sebuah tali dari atas terjatuh. Sepertinya pelaku lebih dulu mengikat korban, lalu mencekik lehernya dengan simpul. Membiarkan darah itu mengalir begitu saja, aku berhenti melangkah dan mengetuk lantai dengan kakiku. Aku melihat sebuah lubang, dan tiba-tiba kepikiran dengan darah yang masih melekat di bajuku. Sepertinya mayàt ini terbunuh masih tidak lama. Aku kembali memperhatikan mayát itu, dan mengangkat sedikit kakinya. Dugaanku benar, darah yang menetes padaku adalah darah dari mayát ini. Jika kakinya masih bisa mengeluarkan darah, namun dengan wajah yang sudah hancur.
“Mayát ini dibunuh dengan perlahan, tali ini akan menyerang daerah wajahnya lebih dulu. Itu membuat wajahnya hancur lebih dulu!” Seru Yuwen, “Aku rasa darah tadi berasal dari kakinya, benar dugaanku bukan?”
Aku mengangguk, “Ini kasus yang cukup parah, aku rasa kita tidak pernah menangani kasus seperti ini sebelumnya. Jika Holmes tahu membuat simpul serapi ini, maka besar kemungkinan dia adalah pelakunya. Tapi masalahnya, kita tidak tahu apakah dia tahu caranya membuat simpul atau tidak!”
“Perkiraanmu, sudah berapa lama mayát ini ada di sini?”
“Sekitar 5 hari, jika dilihat dari wajahnya, itu memang sudah termasuk mayát yang sudah berbulan-bulan. Namun darah itu cukup membuatku yakin jika dia masih….”
Bruk—aku berhenti berbicara saat mendengar bunyi benda jatuh dari arah anak tangga. Dengan cepat, Yuwen lebih dulu menatap ke bawah. Sebuah bayangan sempat tertangkap olehku. Aku lekas berlari turun ke bawah dan mengejar sosok itu. Kami berhenti di depan jalan rahasia, nafasku naik turun. Lalu merasakan cairan kental dari hidungku yang kembali keluar. Dengan helaan nafas, aku lekas mengambil sarung tangan dari Yuwen.
“Dia tidak melewati jalur ini, juga tidak terdengar ada bunyi langkah. Apa mungkin bayangan tadi itu bukanlah bayangan manusia?” Tanya Yuwen, sembari menatap ke arah lorong yang gelap dan tidak ada penerangan sama-sekali.
“Tidak, aku yakin itu adalah manusia. Hanya saja, sepertinya ada jalan keluar yang lain. Atau jika tidak….”
Yuwen dan aku lekas berbalik dan menatap pintu di sebelah pintu rahasia menuju atap. Benar, kamar wanita yang terbunuh. Dengan perlahan, aku lebih dulu membuka pintu itu dan memasuki kamar itu. Yuwen mengikutiku dari belakang, senjata kami sudah siap sedia untuk menembus kepala siapapun tadi yang menguping pembicaraan kami.
Bruk—Yuwen membuka pintu kamar mandi, aku memeriksa kolong kamar. Namun tidak ada tanda-tanda sama-sekali. Kami sudah dua kali memeriksa kamar ini, dan benar-benar kosong, tidak ada penghuninya sama-sekali.
“Aku pikir itu adalah benda atau sesuatu yang tidak sengaja terjatuh, bayangan itu mungkin terjadi karena cahaya itu. Sebaiknya kita kembali ke atas, kau perlu melakukan sesuatu di atas sana, jika keadaanmu baik!”
Sekali lagi, aku menatap ruangan ini dengan teliti, aneh, aku juga sudah berusaha untuk menggunakan kemampuanku. Tapi aku sama-sekali tidak mendengarkan suara apa-apa, bahkan suara dari sosok wanita yang terbunuh itu. Sebelum Yuwen bahkan memintaku untuk melakukannya, aku sudah lebih dulu melakukannya. Aku menutup pintu, dan kami kembali berjalan menuju ke atas. Mayát itu masih berada di sana.
“Apa kau bisa mendengar apa yang terjadi?”
“Aku akan mencoba, karena sebelumnya, aku juga sudah mencoba hal ini ketika menyelidiki kasus tadi siang. Tapi itu tidak berhasil, jadi, mari kita lihat saja!”
Tanganku mengambil sarung tangan hitam dan mendobel sarung tanganku yang sebelumnya aku kenakan. Aku bergerak mendekati mayàt itu dan menyentuhnya, berusaha untuk mencari tahu apa yang terjadi sebelum kejadian ini. Mataku terpejam, dan berusaha untuk mengumpulkan dan menyatukan suara-suara itu.
“Jangan…Tidak…Jangan…Tidak…!”
Aku membuka mata, Yuwen menatapku dengan tatapan bertanya, tapi aku menggeleng. “Ini juga tidak berhasil, aku mengkhawatirkan sesuatu.”
“Ada berita buruk, Sam memberi kabar jika Holmes pulang terburu-buru. Bisa jadi dia….”
Krett….sebelum Yuwen menyelesaikan ucapannya, aku dan Yuwen lekas menatap ke arah bawah. Gerbang terbuka, dan mobil khas yang sudah aku kenal itu muncul dari sana. Aku menatap Holmes yang terburu-buru turun dari mobilnya. Kami saling menatap, pintu rahasia tadi tidak sempat kami kunci, begitu juga dengan pintu ruangan lainnya. Aku lekas berlari ke bawa dan mengunci pintu itu dari dalam. Sekarang kami terjebak di atap.
“Apa yang akan kita lakukan? Bagaimana jika Holmes menuju kemari dan sadar jika kita sudah melanggar perjanjiannya?”
Aku menatap ke arah gereja dari kaca, jarak dari atap tidak akan cukup jika kami melompat ke atap. Itu juga termasuk percobaan bunuh diri yang konyol. Aku kembali menatap Yuwen, hendak mengatakan jika Holmes tidak akan kemari. Namun suara di lantai 2 ini terdengar, dan begitu juga dengan suara kunci. Aku menatap sebuah ruangan di balik lemari dan lekas beranjak ke sana.
Klik—seperti di khawatirkan kami tadi, pintu memang terbuka. Tapi itu bukan pintu kamar ini, tapi sepertinya itu adalah pintu kamar di sebelah kami. Aku dan Yuwen menunggu dalam diam, jika saja Holmes masuk kemari dan menyerang kami. Tidak ada jalan lain kecuali balas menyerangnya.
Klik—aku kembali mendengar suara pintu yang tertutup dan suara langkah kaki yang menjauh. Masih dalam posisi yang sama, tidak lama aku mendengar suara bunyi gerbang dan juga suara mobil. Aku berjalan ke arah kaca dan menatap jika Holmes baru saja memasuki mobilnya dan memasuki mobilnya. Pergi meninggalkan hotel ini, bahkan tanpa menutup kembali gerbang itu.
“Apa yang dia lakukan di kamar sebelah?”