Bab 12

3386 Words
Saat fajar menjelang di Williamsburg, suasana pagi hari membawa kesan seperti berada di ambang pertempuran besar yang siap pecah kapan saja. Pada jam 5 pagi yang masih gelap dan sepi, namun restoran Rasa Rumah sudah penuh aktivitas dan gemerlap cahaya. Dapur berdenyut layaknya pusat komando militer yang terorganisir dengan baik, di mana Rizwan berperan sebagai sang jenderal utama yang mengarahkan pasukannya. Di meja persiapan, tampak penuh dengan stok gudeg brisket yang telah divakum untuk siap dikirimkan ke Queens, sementara panci besar berisi santan tengah mendidih, disiapkan untuk membuat sajian rijsttafel megah dengan tujuan akhir ke Gedung Putih. Cooler penuh dengan sate lilit wagyu, yang sudah menunggu giliran untuk dipresentasikan dalam demo masakan. Udara di dapur pun dipenuhi aroma yang begitu menggugah selera—kombinasi antara harumnya nangka muda, manisnya gula aren yang menjadi karamel, dan pedas menggigit dari cabai rawit yang telah disangrai, membentuk sebuah simfoni rasa yang harus sempurna di tengah kesibukan 48 jam ke depan. Rizwan berdiri tegak di tengah dapur yang sibuk, mengenakan celemek hitam yang telah basah oleh keringat, sambil mengarahkan suara tegas kepada timnya, "Miguel, bagaimana status pengiriman ke Queens? Gudeg 100 porsi harus berada di truk jam 8 pagi—pastikan brisket di suhu 75°C melalui sous-vide dan recheck kuah santan agar tak pecah!" Miguel, dengan mata yang tampak lelah karena bergadang, mengangkat jempol sembari terus mengaduk adonan dalam panci raksasa. "Semuanya sesuai jadwal, Chef! Aldi saat ini sedang mempersiapkan kotak bambu, dan Raka sudah memberikan label QR code untuk cerita resep Dita. Truk FedEx sudah siap dan akan tiba di Flushing jam 10 pagi untuk rehearsal pembukaan yang lembut." Bahkan Aldi, dengan tangan yang gemetar karena berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna, bertanya dengan nada cepat. "Om, bagaimana dengan gudeg VIP untuk Gedung Putih? Ada 20 porsi yang premium—daging brisketnya A5 dari Jepang, nangka organik asli Jogja dikirim lewat pesawat kemarin." Rizwan mengangguk dengan percaya diri. "VIP adalah prioritas utama. Pastikan plating menggunakan nampan perak sesuai spesifikasi Secret Service: brisket diiris setebal 0.8 cm, kuah glossy hasil reduksi santan dua kali lipat, krecek diinfuskan dengan truffle lalu double-fry pada suhu 175°C, telur rebus disous-vide pada 63°C selama 45 menit agar kuningnya sempurna. Taburi dengan garnish tempura daun jeruk emas—ini bukan hanya sekedar makanan, ini adalah sebuah pernyataan kuliner!" Kemudian, Emma keluar dari kantor belakang dengan membawa laptop dan menyampaikan pesan dari Secret Service yang bergaung di seluruh speaker. "Riz, ada konfirmasi dari DC: demo rijsttafel dijadwalkan pada hari Senin jam 6 sore di East Wing. Presiden Trump sendiri yang meminta cita rasa rempah Indonesia yang berani. Akan tetapi, Reza mengirimkan email—dia menawarkan kerja sama dengan chef dari Paris sebagai cadangan jika kita merasa kewalahan." Rizwan menancapkan pisaunya ke talenan dengan emosi. "Kerja sama sebagai cadangan? Ini penghinaan! Katakan pada Reza: Rasa Rumah bisa berdiri sendiri. Kami akan mengirimkan gudeg VIP pada pagi hari Senin via private jet cargo—tidak ada kompromi sedikit pun." Namun, pada jam 7 pagi, drama dimulai: pemasok nangka mengalami keterlambatan dua jam akibat badai di Jakarta! Rizwan langsung menghubungi Dita untuk mencari solusi cepat. "Dit, ini keadaan darurat! Nangka untuk gudeg VIP terjebak! Ada stok cadangan yang bisa kita gunakan?" Dita terdengar panik tetapi tetap tanggap. "Riz! Gudeg spesial milik Ibu ada sebanyak 50 kg di kulkas gudang—nangka muda dengan puncak keasaman, santan buatan sendiri. Saya akan mengirimkannya melalui penerbangan express pagi ini via Garuda cargo. Akan sampai di JFK besok pagi jam 6. Salam dari Ibu, dia mendoakan kalian!" Rizwan tersenyum lega dan mengungkapkan rasa terima kasihnya. "Kalian adalah pahlawan! Cintaku untuk Nusantara." Sementara itu, kabar terkini dari Queens datang dari Miguel melalui walkie-talkie: "Chef, rehearsal pembukaan berjalan kacau! AC tidak berfungsi, pelanggan uji coba mengeluh kepanasan. Namun, gudeg terjual habis sebanyak 50 porsi hanya dalam satu jam—review di Yelp sudah mencapai 4.8 bintang!" Emma segera mengambil alih. "Miguel, segerakan untuk sewa AC portabel. Promosikan 'Queens Heatwave Gudeg'—beli 2 dapat es serai gratis. Aldi, ambil foto plating untuk membuatnya viral di t****k!" Lompatan kejam terjadi pada jam 10 pagi: panggilan telepon dari Adam mengantarkan berita mengejutkan. "Rizwan, ada berita buruk—pemilik tempat di Queens tiba-tiba menaikkan harga sewa sebanyak 20%! Mereka mengklaim karena traffic di Queens melonjak drastis akibat buzz Michelin dari kalian. Bayar atau tinggalkan bulan depan." Rizwan memandang ke arah Emma dengan kemarahan yang membara. "Scam! Kontrak jelas menyebut 13 ribu sebagai harga tetap. Kita nego ulang atau cari lokasi baru?" Emma berpikir cepat. "Kita bernegosiasi secara paksa. Ancam dengan review negatif di Yelp dan menarik semua promosi diaspora. Rencana cadangan: food truck mobile di Flushing malam ini—uji pasar tanpa harus berkomitmen harga sewa." Rizwan mengangguk setuju. "Sungguh ide brilian. Miguel, siapkan menu truk: gudeg box seharga 15 dolar, sate lilit seharga 8 dolar. Lokasi di tempat parkir Golden Mall malam ini." Hari yang panjang terus bergulir menjadi maraton. Tim melakukan rotasi shift: Raka sibuk merebus sayuran sebanyak 200 kg untuk rijsttafel (kacang panjang dalam air garam selama 40 detik, dan langsung di-shock dengan es agar tetap hijau vibrant), Aldi menggiling sambal matah sebanyak 50 kg secara manual (bawang diiris 2 mm, cabai dicincang kasar, serai hingga halus, dan jeruk limau diperas), sementara Miguel merebus rendang escargot (siput Prancis lokal sous-vide dengan kuah rendang suhu 82°C selama 6 jam, pastry puff dipanggang hingga karamel pada suhu 200°C). Pada jam 3 sore, Reza muncul tiba-tiba di restoran dengan membawa sekotak pastry dari Paris. "Rizwan, aku dengar berita chaos di Queens. Pastry ini gratis—kelas Michelin sebagai backup untuk Gedung Putih. Mau kolaborasi, kan? Paris akan mendukung kalian." Rizwan menatapnya dengan dingin. "Terima kasih, Reza. Namun kami bisa menangani ini sendiri. Ini bukan sekadar untuk kompetisi—ini adalah sebuah bukti nyata." Reza mengangkat bahu. "Baiklah sesuai pilihanmu. Namun, bila kalian gagal, hubungi aku." Jam 6 malam, food truck debut di Queens berhasil memikat perhatian warga: antrean mencapai 100 orang! Tempat parkir Golden Mall penuh, dan aroma gudeg menarik massa dari kalangan diaspora. Aldi dengan cekatan menyajikan hidangan: "Gudeg box segar langsung dari Williamsburg—brisket yang lembut, nangka dengan rasa asam yang menggoda!" Review langsung di Yelp: "Rasa Rumah truck lebih baik dari fine dining! 5 bintang!" Malam harinya, kembali di Williamsburg, tim runtuh karena kelelahan setelah seharian penuh tantangan. Emma memeluk Rizwan dengan bangga. "Kita bertahan melalui hari yang gila. Gedung Putih besok—apakah semuanya siap?" Rizwan menatap nampan perak berkilap berisikan gudeg VIP dengan rasa puas. "Siap. Namun, besok ada sesuatu yang lebih besar menunggu... dari kabar Pak Budi: Trump ingin makan malam pribadi dengan chef favoritnya." Emma mengejapkan mata takjub. "Makan malam pribadi?!" Pintu restoran terdengar diketuk oleh anggota Secret Service yang mengenakan setelan hitam. "Chef Rizwan? Kami datang untuk briefing final Gedung Putih. Ada permintaan khusus dari Oval Office." Apa sebenarnya permintaan misterius dari Trump tersebut? Apakah Reza memiliki rencana lain di belakang layar? Apakah operasional di Queens akan stabil atau malah berakhir dengan tragedi? *** Pukul empat pagi di Williamsburg, di sebuah sudut yang tenang namun penuh ketegangan, restoran Rasa Rumah beroperasi seperti markas rahasia sebuah operasi militer berskala internasional. Para staf dengan cekatan mempersiapkan aneka hidangan yang diproduksi dengan cermat, memastikan semua elemen siap sempurna untuk acara besar, sebuah jamuan mewah di salah satu tempat paling berpengaruh di dunia—White House. Hidangan unggulan gudeg tersaji dalam tray perak VIP yang telah disegel dengan vakum, dan komponen rijsttafel—sate lilit wagyu sejumlah 200 tusuk, rendang escargot 50 porsi, serta sambal matah dalam jar seberat 20 kilogram—telah dimuat dengan hati-hati ke dalam van berpendingin. Kendaraan ini merupakan bagian dari layanan khusus FedEx yang ditugaskan untuk mengangkut barang-barang penting ke White House. Rizwan memeriksa ulang manifest pengiriman dengan penuh konsentrasi. “Brisket A5 Jepang dikonfirmasi kembali, dimasak sous-vide pada suhu 75°C, nangka dari Jogja dipasok oleh Dita, dan pastry puff karamel tanpa retakan,” Rizwan mengeluarkan daftar persiapan dengan teliti. Udara pagi yang dingin di Brooklyn bercampur aduk dengan uap napas para tim yang telah bekerja lembur selama 18 jam tanpa henti. Di ruang komando, Emma mengendalikan komunikasi menggunakan headset yang terhubung langsung dengan pihak Secret Service. "Agent Harris, perkiraan waktu tiba di JFK untuk kargo jet adalah pukul 06:00 pagi. Gudeg VIP diperkirakan tiba di DC pada pukul 10:00 siang, dan dijadwalkan untuk demonstrasi live rijsttafel di East Wing pada pukul 18:00 sore. Apakah permintaan khusus telah dikonfirmasi?" Dengan suara tegas dari DC, Agent Harris menanggapi, “Affirmative, Mrs. Rizwan. Presiden Amerika Serikat telah meminta kejutan bumbu khas Indonesia—tanpa bocoran. Ada 50 tamu VIP: diplomat dari Asia, perwakilan media, hingga keluarga Trump. Semuanya telah mendapatkan clearance keamanan. Sebagai langkah antisipasi, ada menu cadangan yang disiapkan oleh chef Prancis yang siap jika diperlukan.” Mendengar informasi tersebut, darah Rizwan terasa mendidih, memunculkan semangat juang yang membakar hatinya. "Chef cadangan Prancis? Katakan pada Harris: Rasa Rumah tidak membutuhkan cadangan. Kami mengantar atau mati dalam berusaha." Sementara itu, Miguel memuat van terakhir dengan tangan cekatan. “Chef, update dari Queens: food truck tadi malam terjual habis 300 porsi! Rating Yelp mencapai 4.9 bintang, pemilik Golden Mall meminta kontrak tetap. Biaya sewa kembali ke 13 ribu per bulan.” Aldi melompat kegirangan, "Om, ada review viral: 'Truk Gudeg melelehkan Chinatown!' Foto plating dari Raka menggunakan kotak bambu telah menjadi viral di t****k dengan 500 ribu tayangan!" Raka menambahkan informasi baru, "Tapi Reza muncul tadi malam di Queens, mengambil foto secara diam-diam. Terlihat mencurigakan, seperti mata-mata." Emma mengernyitkan dahi dengan was-was. "Reza lagi? Kita harus hati-hati. Fokus kita sekarang adalah White House dulu." Tepat pukul lima pagi, van mulai bergerak dengan iring-iringan pengawal polisi menuju JFK. Rizwan dan Emma bersiap menaiki penerbangan komersial ke DC dengan tas jinjing yang berisi seragam chef spesifikasi Secret Service yang serba hitam matte, bebas logam, serta name tag yang disulam. Di pesawat, Emma menggenggam tangan Rizwan dengan erat. "Gugup?" Rizwan menatap keluar jendela, ke arah awan yang membentang di langit. "Ini bukan sekadar memasak untuk Trump—ini adalah sebuah pembuktian bahwa kuliner Nusantara bisa berdiri di panggung global. Satu kesalahan dalam penyajian, satu rasa yang melenceng, headline besok pagi bisa berbunyi 'Kegagalan Indonesia'." Dengan tegas, Emma meyakinkan, "Kamu terlahir untuk ini. Ingatlah pesan dari Pak Joko: 'Rasa dari hati, tidak dapat dibeli.'" Setibanya di DC pada pukul 11 siang, SUV hitam Secret Service sudah siap menjemput mereka langsung ke area persiapan dapur East Wing—sebuah fasilitas rahasia yang dilengkapi dengan oven komersial Vulcan, sistem ventilasi berstandar militer, dan cooler bersuhu -4°C. Agent Harris memberikan instruksi singkat, "Chef, pukul 6 petang demo live selama 90 menit. Presiden akan masuk pada pukul 6:30. Urutan menu adalah: sate lilit sebagai appetizer, hidangan utama gudeg brisket rijsttafel, dan dessert klepon truffle. Tidak ada foto yang boleh diambil sebelum persetujuan. Jika ada kegagalan, kita akan evakuasi." Rizwan mengangguk mengerti. "Dimengerti. Gudeg VIP sudah tiba?" "Diperkirakan tiba 10 menit lagi." Gudeg VIP tiba tepat waktu dengan tray perak yang berkilau, dengan aroma nangka yang asam dan santan yang kental menyebar memenuhi dapur. Rizwan membuka segel dan mengecek kondisinya: brisket leleh sempurna, kretek truffle renyah, dan telur dengan kuning yang mengalir keemasan. "Tidak ada cacat. Tim, siap di posisi!" Maraton persiapan dimulai: sate lilit dipanggang di atas arang portable pada suhu 200°C (oles minyak serai setiap 2 menit), rendang escargot dipanaskan kembali menggunakan sous-vide pada suhu 82°C (pastry puff dioven pada suhu 190°C selama 12 menit hingga berwarna keemasan), sambal matah digosok segar tanpa dimasak. Emma menangani bagian depan dengan penuh semangat, mempersiapkan meja dengan linen putih sepanjang 20 kaki, dihiasi dengan runner batik dan playlist gamelan yang diputarkan rendah. Pukul 5:45 sore, pintu East Wing terbuka. Trump masuk pertama kali, diikuti oleh Melania, Ivanka, sejumlah diplomat dari Cina, Jepang, dan Korea, serta kru CNN. "Bau yang luar biasa!" Trump menyatakan dengan antusias. "Indonesia? Pilihan yang berani!" Rizwan maju, memberikan salam hormat. "Tuan Presiden, selamat datang di Rasa Rumah. Ini adalah Rijsttafel Nusantara—20 cita rasa dalam satu cerita." Trump menjabat tangan Rizwan dengan kuat. "Sudah mendengar dari buzz Michelin tentang Anda. Buatlah pedas—saya suka pemenang!" Penyajian langsung: Rizwan memanggang sate di depan mata para tamu, Emma menuangkan sambal secara teatrikal di samping meja. Ivanka mengambil foto story yang telah disetujui oleh Secret Service. Seorang diplomat Cina memuji, "Gudeg ini memiliki twist autentik dari Jogja!" Namun, pukul 6:45 sore terjadi kekacauan! Oven pastry puff berbunyi karena terlalu banyak beban! Pastry cadangan dari Reza muncul di cooler (??). Agent Harris segera waspada. "Siapa yang menaruh pastry Prancis ini? Ada pelanggaran keamanan?" Rizwan terkejut, sedangkan Emma berbisik, "Apakah Reza berbuat sabotase?" Trump melihat langsung. "Ada masalah?" Rizwan cepat berimprovisasi dengan jenius: "Tuan Presiden, ujian sebenarnya bagi seorang chef adalah beradaptasi!" Dengan sigap, ia menyalakan flambé untuk sate lilit tambahan dengan arak Bali dalam botol mini, menjadikan puff rendang menjadi crepe tipis melalui grill instan, dan menghidangkan dessert klepon truffle dengan flambé secara langsung. Para tamu bertepuk tangan, sementara Trump berujar, "Sekarang ITU baru berani! Fusion terbaik yang pernah ada!" Siaran langsung dari CNN: "Rasa Rumah menyelamatkan makan malam di White House!" Setelah acara, Reza menelepon. "Selamat... pastry itu adalah 'hadiah'. Bukan sabotase—sekadar jaminan." Rizwan merespons dengan dingin. "Lain kali, minta izin dulu." Setelah kembali ke Queens malam itu, pesta food truck kembali terjadi: terjual habis lagi! Miguel memeluk Aldi dan Raka dengan bangga, "Kalian adalah pahlawan!" Namun, ada sebuah kejadian: sebuah email anonim yang berbunyi, "Sukses di White House? Reza memiliki hubungan dengan pemilik tanah di Queens. Permainan baru saja dimulai." Siapa musuh misterius di balik email ini? Apakah Reza adalah sekutu atau lawan? Apakah Rasa Rumah sedang naik ke level baru atau sedang terperangkap dalam jebakan baru? *** Kemenangan White House masih terasa dan bergema seperti suara gamelan yang menggema di seluruh penjuru dapur restoran Rasa Rumah di Williamsburg. Namun, pada pagi hari berikutnya, suasana berubah drastis ketika masalah baru yang lebih ganas dari yang pernah dibayangkan oleh Rizwan tiba-tiba muncul. Sekitar pukul enam pagi, telepon tak berhenti berdering—pertama kali dari Miguel yang berada di Queens: "Chef! Cabang kita di Queens kena serangan vandal malam tadi! Lampu neon 'Rasa Rumah' di depan dicongkel, mural batik kita dicoret dengan tulisan kasar 'Go Home Indo Scum', dan semua stok gudeg di dalam pendingin dibuang ke selokan! Polisi sudah berada di tempat kejadian, CCTV menunjukkan dua orang bertopeng yang melakukan aksi tersebut!" Rizwan segera melompat dari tempat tidur dengan kecepatan kilat, membuat Emma ikut terbangun, terlihat sangat panik. "Apa yang terjadi?! Miguel, jangan bersihkan atau menyentuh tempat kejadian dulu! Aku dan Emma akan segera ke sana. Hubungi pengacara kita, perusahaan asuransi, dan juga Adam!" Sementara itu, Emma sudah memegang laptopnya, sibuk memeriksa email anonim yang diterima malam sebelumnya. "Riz, lihat ini, ada koordinat GPS lokasi kejadian vandal—dekat dengan Golden Mall. Dan... ada lampiran foto menunjukkan Reza berada di depan pemilik tanah Queens malam sebelum acara pembukaan. Ini bukan sekadar kebencian acak—ini merupakan serangan yang sudah direncanakan dan ditargetkan!" Di dalam mobil menuju Flushing, Rizwan segera menelepon Pak Budi dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia. "Pak, cabang kita di Queens diserang! Tampaknya ini adalah jenis kejahatan berbasis kebencian, namun terfokus. Apakah proyek buzz White House membuat kita menjadi target?" Pak Budi berbicara dengan suara yang penuh ketegangan. "Rizwan, saya sedang berkoordinasi dengan unit kejahatan kebencian NYPD. Kemungkinan ini berhubungan dengan persaingan kuliner Asia—Reza memiliki hubungan dengan pemilik tanah yang besar dari China di Flushing. Saya akan mengirimkan tim diplomatik untuk mendukung. Tetaplah aman!" Keadaan di Flushing telah banyak kekacauan: area tersebut ditutup dengan pita polisi berwarna kuning, orang-orang dari komunitas diaspora berkumpul untuk mengambil foto grafiti vandal. Miguel menunjukkan rekaman CCTV yang berkualitas rendah: terlihat dua sosok bertopeng, salah satunya membawa tongkat bisbol dengan tulisan "Paris Elite". Aldi dan Raka membantu tim membersihkan pecahan lampu neon, dengan mata yang merah menahan haru. "Om, kita kehilangan stok gudeg sebanyak 500 porsi! Pembukaan besok bagaimana?" Rizwan memeluk mereka dengan erat. "Kita akan membangun kembali lebih kuat dari sebelumnya. Miguel, pindahkan operasional sepenuhnya ke truk makanan darurat—parkir di depan Golden Mall sebagai bentuk protes damai. Hari ini, kita akan memberikan makanan gratis untuk komunitas diaspora, dan selipkan hashtag #RasaRumahResilient!" Emma sibuk mengoordinasikan pemberitaan dengan berbagai media: CNN lokal, Eater NY, bahkan Fox News mulai menghubungi karena adanya kaitan dengan proyek di White House. "Riz, kita harus memutar isu jadi positif: 'Serangan tidak bisa membunuh rasa'. Kita bisa menciptakan gelombang simpatik yang viral!" Namun terdapat hal baru yang mendebarkan: pemilik tanah Queens tiba-tiba muncul dengan membawa pengacara, mengenakan jas mahal, dan berbicara dengan suara dingin. "Mr. Rizwan, kontrak sewa dianggap batal. Sewanya akan naik menjadi 25 ribu atau Anda harus hengkang dari sini. 'Kerusakan' ini adalah tanggung jawab penyewa." Rizwan menatapnya tajam. "Omong kosong! CCTV jelas menunjukkan perbuatan vandal eksternal. Kami memiliki saksi, klaim asuransi, dan laporan dari NYPD. Apakah Anda ingin berperang di meja hijau? Baiklah—kami siap mengekspos sindikat pemilik tanah nakal di Queens!" Pemilik tanah itu perlahan mundur. "Kita... akan bernegosiasi." Ketika polisi sedang melakukan interogasi, Reza secara mengejutkan menelepon langsung. "Rizwan, saya mendengar kabar tentang Queens. Ini sangat tragis. Apakah Anda ingin saya menghubungi teman pemilik tanah? Solidaritas antar chef Paris." Rizwan diam-diam merekam pembicaraan tersebut. "Reza, berhenti berpura-pura. Meskipun rekaman CCTV kami buruk, namun logo Paris Elite terlihat jelas di tongkat itu. Apakah Anda mau membuat pengakuan atau lebih memilih menunggu subpoena tindak kejahatan kebencian dari FBI?" Reza diam selama tiga detik, kemudian tertawa dengan dingin. "Paranoid. Semoga berhasil membangun kembali. White House mungkin satu-satunya kesempatan—kekuatan sebenarnya berada pada bintang Michelin yang permanen." Setelah telepon terputus, Emma menunjukkan email baru yang masuk: "Sumber anonim: Reza melakukan penawaran dukungan dari Michelin Paris untuk mengambil alih pemilik tanah Queens. Targetnya: akuisisi paksa Rasa Rumah melalui penjualan darurat." Pada siang hari itu, terjadi aksi unjuk rasa spontan dari komunitas diaspora di sekitar Golden Mall: sekitar 200 orang datang membawa spanduk bertuliskan "Save Rasa Rumah", diiringi dengan siaran langsung melalui t****k yang mencapai 1 juta penonton, bahkan walikota Adams mengirimkan tweet berisi dukungan "NY berdiri bersama ketahanan Indonesia". Truk makanan darurat pun berhasil menjual habis 1.000 porsi gudeg gratis hanya dalam waktu tiga jam—antrian panjang mengular di sepanjang blok! Pada malam harinya, tim berkumpul di ruang krisis darurat di Williamsburg. Miguel berbicara dengan semangat: "Chef, truk makanan kita di Queens menjadi viral hingga 5 juta penonton. Tetapi ancaman vandal kedua pada malam ini bagaimana?" Rizwan menatap tim dengan penuh keyakinan: Aldi dan Raka terlihat tegang, Emma memegang berkas data dari pengacara, Miguel merasa mantap dengan pisau di tangan seperti memegang pedang. "Kita akan melawan dengan cerdas. Besok: akan ada konferensi pers dari KJRI, tuntutan hukum terhadap pemilik tanah nakal, dan... serangan balasan." Emma bertanya, "Serangan balasan apa?" Rizwan tersenyum misterius sambil membuka laptopnya yang menampilkan cetak biru "Rasa Rumah Empire"—terdiri dari 5 lokasi di NY, akademi pelatihan untuk diaspora, dan roadmap waralaba global. "Kita tidak akan membangun kembali Queens. Kita akan menaklukkan seluruh Flushing. Membeli lahan parkir Golden Mall dan merubahnya menjadi pusat makanan Nusantara. Kita akan berkolaborasi dengan diaspora China lokal, kita akan membalikkan keadaan." Namun hal yang fantastis muncul: pintu ruangan diketuk oleh agen Secret Service yang kembali. Agen Harris masuk dengan membawa koper hitam di tangan. "Chef Rizwan. Ada penghargaan khusus dari POTUS... dan penawaran kontrak pribadi. Inisiatif Kuliner Trump: Rasa Rumah ditunjuk menjadi pemasok resmi untuk hidangan kenegaraan Indonesia. Tetapi ada syarat: Anda harus bersaksi mengenai sindikat Reza dalam sidang Senat sebagai bentuk ancaman bisnis imigrasi." Rizwan menatap Emma dan timnya yang terdiam membeku. Bersaksi berarti berperang total melawan kerajaan Reza. Menerima tawaran Trump berarti bermain dengan politik yang panas. Tidak menerimanya? Maka cetak biru kerajaan akan hancur. Emma berbisik, "Jalan mana yang akan kamu pilih?" Rizwan menatap baki VIP gudeg yang tersisa dari White House—simbol kemenangan. "Kita akan mengambil semuanya. Sidang Senat, kerajaan, dan tawaran Trump. Tapi besok... ada sesuatu yang lebih besar dari semua itu yang menunggu." Pintu kembali terbuka: Dita muncul langsung dari Jakarta, membawa koper di tangannya. "Kejutan! Aku mendengar tentang kekacauan di Queens. Apakah kamu siap membantu pasukan gudeg untuk membangun kembali? Dan... aku membawa s*****a rahasia dari Ibu." Mungkinkah s*****a rahasia yang dibawa Dita bisa membangkitkan dari keterpurukan? Akankah perang di Senat atau jebakan dari Trump? Balas dendam Reza atau sekutu yang tak diduga? Apakah Rasa Rumah akan jatuh atau bangkit kembali seperti burung phoenix?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD