Pagi itu di Victoria School, sinar matahari menembus awan dan menerangi lapangan olahraga. Suasana menjadi semakin tegang saat Viona dan Lucas bersiap di garis start. Kedua remaja itu terlihat bersemangat, dengan napas yang teratur dan konsentrasi yang tinggi.
"Semangat Viona... "
"Lucas kalahkan dia... "
Sorakan kedua pihak menyemangati Viona dan Lucas yang bergiliran untuk berlari.
"Siap, Viona? Kalau gue menang, lo harus mengabulkan satu keinginanku!" ujar Lucas dengan senyuman percaya diri.
Viona hanya mengangguk, matanya yang tajam terfokus pada jarak yang harus ditempuh.
"Siap kalah, Lucas! lo gabakalan menang dari gue,lo lupa dengan kemarin? " balasnya dengan nada bersaing.
"hemm..... gue hanya berpura-pura kalah lari dari lo, kali ini gue bakalan menang! " sombongnya.
Peluit berbunyi dan kedua kaki mereka mendorong tubuh ke depan dengan cepat. Langkah kaki mereka bergantian menghantam tanah, meninggalkan debu yang berterbangan. Napas mereka terdengar keras, berpacu dengan detak jantung yang semakin kencang.
Lucas berusaha mempercepat langkahnya, tetapi Viona tidak kalah gesit. Gadis itu melaju bagai angin, hampir saja menyusul Lucas yang hanya beberapa langkah di depannya. Sorot matanya yang tajam tidak lepas dari garis finish yang semakin dekat.
Tepat saat mereka hampir mencapai garis akhir, Viona memberikan dorongan terakhir dengan semua kekuatannya. Lucas terkejut saat melihat Viona berhasil menyusul dan bahkan melampauinya hanya beberapa senti sebelum garis finish.
Keduanya menarik napas dalam-dalam, d**a mereka naik turun hebat karena kelelahan. Lucas terlihat kecewa tetapi memberikan senyuman sportif.
"lo menang, Viona. Gue menepati janji sebagai pria, apa keinginan lo?"
Nafas Viona masih terengah-engah, tetapi senyum kemenangan tidak bisa lepas dari wajahnya.
"Gue ingin lo berjanji, tidak akan berbuat masalah lagi selama sebulan,dan kalo lo tidak menepati janjinya maka gue suruh lo traktir gue sebulan. Gue sudah membuktikan bahwa gue bisa mengalahkan lo, Lucas."
Lucas tertawa, mengakui kekalahan dan kegigihan Viona.
"Baiklah, itu mudah. gue berjanji," ucapnya, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan sebagai tanda perjanjian mereka yang sportif.
Setelah berolahraga, Viona dan Lucas memutuskan untuk duduk di kantin, mencoba mengembalikan napas mereka setelah perlombaan yang melelahkan.
Suasana di kantin cukup ramai, tetapi Viona tidak bisa sepenuhnya menikmati momen itu. Tiba-tiba, gadis yang sering menyindirnya muncul lagi, dengan senyum sinis di wajahnya.
"Eh, Viona, lo tahu nggak? Olahraga itu bukan hanya tentang fisik, tapi juga penampilan. Mungkin lo sepertinya perlu sedikit perhatian lebih pada diri lo," sindir gadis itu sambil tertawa kecil.
Viona memutar matanya, merasa jengah dengan komentar yang tidak perlu itu.
"Suka-suka gue lah, kok lo ngatur hidup gue? " balasnya dengan nada datar, berusaha untuk tidak terpengaruh oleh kata-kata gadis itu.
Lucas, yang melihat situasi itu, merasa tidak nyaman. Dia tahu betapa kerasnya Viona berusaha dan betapa tidak adilnya sindiran itu.
"Gue mau beli minuman. Lo ingin minum sesuatu Viona?" tanyanya, berusaha mengalihkan perhatian Viona dari gadis itu.
"Air mineral saja," jawab Viona, berusaha untuk tetap tenang meskipun hatinya sedikit terbakar oleh sindiran itu.
Lucas berdiri dan berjalan menuju kios minuman, meninggalkan Viona sejenak. Dia berharap Viona bisa merasa lebih baik setelah mendapatkan minuman yang menyegarkan. Sementara itu, gadis itu masih berdiri di dekat mereka, tampak tidak puas dengan reaksi Viona.
"Jangan terlalu baper, Viona. Hidup ini bukan hanya tentang menang atau kalah, tapi juga tentang bagaimana lo terlihat di depan orang" ujarnya lagi, mencoba untuk memancing reaksi lebih lanjut.
Viona hanya menghela napas, berusaha untuk tidak membiarkan kata-kata gadis itu mempengaruhi dirinya. Dia tahu bahwa penampilan bukanlah segalanya, dan yang terpenting adalah bagaimana dia merasa tentang dirinya sendiri. Ketika Lucas kembali dengan minuman, Viona tersenyum padanya, berterima kasih atas perhatian yang diberikan.
"Terima kasih, Lucas." katanya, sambil mengambil botol air mineral dari tangannya.
Lucas tersenyum, merasa senang bisa membantu Viona.
"Sama-sama, Viona. Kita harus fokus pada hal-hal yang lebih penting daripada omongan orang lain yang hanya iri kepada kita" nasihat Lucas.
Viona setuju dengan nasihat Lucas, ia lebih fokus dengan diri sendiri daripada mendengarkan apa yang orang lain lihat.
Gadis itupun merasa kesal karena Lucas membela Viona, Ia memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka dengan raut wajah kesal.
"Gue akan balas lo Viona, Lucas hanya akan menjadi milik gue bukan lo" batinnya smirik.
Setelah mengistirahatkan diri, Viona dan Lucas menuju ke kelas masing masing.
skip.....
Kringgg
bel istirahat
Saat ini Viona sedang berada di perpustakaan sekolah untuk tugas kelompoknya. Cindy, sahabat Viona menggerutu kesal dengan tugas kelompok yang diterimanya membuatnya pusing. Cindy sekelompok dengan Viona dan 2 orang lainnya.
"Arghhh gue kesel banget dengan tugas pak botak ini, kenapa kita harus mencari materi untuk bab selanjutnya sih mana ga dikasih tau apa aja" protes Cindy.
"Iya sih walaupun pak Dodi itu ga ngasih tau, tapi sepertinya dia ingin menguji untuk tugas kelompok ini karena jarang jarang pak Dodi buat tugas kelompok" pikir Viona membaca buku.
"Iya sih, terakhir dia bikin kerja kelompok buat meneliti pertumbuhan bunga yang mana harus sebulan penuh nelitinya" ucap Cindy.
"Vi, disini ada tentang beberapa cara kerja otak bekerja" ucap salah satu teman sekelompok Viona.
"Boleh tuh ditulis soalnya kita akan mempresentasikan materi tentang cara kerja tubuh manusia" ucap Viona setuju.
"Kenapa juga kita harus presentasi sih? " keluh Cindy frustasi.
Viona hanya terkekeh mendengar keluhan Cindy, lalu Viona melihat Lucas datang menghampiri. Cindy pun melihat kedatangan Lucas.
"Pacar lo tuh kayaknya minta tolong deh" goda Cindy.
"Mau gue jahit tuh mulut" ucap Viona tersenyum.
Cindy pun hanya memutar matanya malas.
"Ada apa Lucas? lo kayaknya sedang butuh bantuan" tebak Viona.
"Begini lo bisa bantuin gue ga jadi pemeran putri di drama kelas gue, soalnya ga ada yang mau jadi putri nanti pas gue tampil" mohon Lucas.
Viona terkejut mendengar permohonan Lucas. Dia tahu bahwa Lucas adalah sahabatnya yang sering kali ceroboh, tetapi dia juga tahu bahwa dia memiliki bakat dalam berakting. Viona melihat teman-temannya yang lain, dan mereka semua tampak penasaran dengan situasi ini.
"Lucas, kamu yakin ingin gue jadi putri?" tanya Viona sambil mengangkat alisnya.
"Lo tahu kan, gue bukan tipe orang yang suka tampil di depan umum."
Lucas mengangguk dengan penuh harapan.
"Tapi Viona, gue sudah mencoba mencari orang lain, dan tidak ada yang mau. Gue benar-benar butuh bantuan lo. Kita hanya perlu berlatih sedikit, dan gue yakin lo bisa melakukannya dengan baik."
Viona merasa sedikit ragu, tetapi melihat ketulusan di mata Lucas membuatnya berpikir dua kali. Dia ingat betapa menyenangkannya berakting di depan teman-teman saat mereka bermain drama di kelas sebelumnya. Mungkin ini bisa menjadi kesempatan yang baik untuk bersenang-senang.
"Baiklah, gue akan melakukannya," kata Viona akhirnya.
"Tapi kita harus berlatih dengan serius. Aku tidak ingin mengecewakanmu." lanjut Viona.
Lucas tersenyum lebar, dan teman-teman Viona bersorak gembira.
"Terima kasih, Viona! Kita akan membuat pertunjukan ini luar biasa!" senang Lucas.
Mereka pun mulai merencanakan latihan dan membahas karakter yang akan dimainkan. Viona merasa semangat dan sedikit gugup, tetapi dia tahu bahwa dengan dukungan teman-temannya, dia bisa melakukannya. Saat mereka mulai berlatih, Viona merasakan kebahagiaan dan kepercayaan diri yang tumbuh dalam dirinya. Ini akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan!