Suara kumandang azan menarik sadar Sina yang tengah tenggelam di antara tumpukan bunga tidur. Suaranya lain, tak semerdu biasa kali ia mendengarnya selama nyaris empat tahun ini. Namun, jauh lebih halus dan mengusik sanubari, menyadarkan Sina kalau sejak kemarin malam ia sudah kembali setelah tiga tahun udara pagi Maroko menyambutnya setiap kali membuka mata.
Sina bangkit perlahan selepas azan selesai beberapa saat kemudian. Gadis itu melepaskan diri dari belitan selimut tebal merah muda bergambar Hello Kitty milik Jahid. Tiga tahun ditinggal, Sina tidak tahu kalau selera Jahid jadi girly seperti sekarang. Sebab, tak hanya selimutnya saja yang bergambar Hello Kitty, jam dinding yang menempel di ruangan itu pun bergambar serupa.
Sina menguap, menggeliat pelan guna melemaskan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Semangat dalam jiwanya sebenarnya tengah berkobar, tetapi tiap inci tubuhnya mengatakan hal lain. Beruntung Sina tak mengalami jetlag parah setelah nyaris sehari penuh ia mengudara dalam perjalanan pulang.
“Udah bangun?” Jahid berdiri di depan pintu, siap mengetuknya kala Sina turun dari tempat tidur dan membuka pintu itu lebih dulu. Jahid sudah berkoko dan bersarung, bersiap pergi ke masjid saat sadar kalau sejak semalam ada Sina di kosannya. Ia harus membangunkan adiknya itu sebelum menunaikan kewajiban.
Sina menggumam pelan.
“Semalam Umma telepon, katanya kenapa kamu enggak langsung pulang ke Jakarta dan malah ke sini.” Jahid berjalan ke arah pintu dan membukanya. “Abang ke masjid dulu. Kamu jangan lupa nanti telepon Umma.”
Sina mengangguk patuh, sesaat setelahnya tubuh Jahid menghilang di balik pintu yang kembali ditutup.
Pesawat Sina mendarat di bandara Jakarta. Harusnya memang Sina pulang ke rumah, alih-alih kembali melakukan perjalanan dengan bus menuju Bandung, dan terdampar di kosannya Jahid yang butut juga berantakan.
Akan tetapi, selain karena ia harus mengunjungi kampus lamanya di Jatinangor guna menyerahkan beberapa dokumen dan hal lainnya, kabar kalau Muhyi tengah ada di Bandung pun membuat Sina memilih untuk menyelesaikan segala urusannya terlebih dahulu di sini sebelum nanti pulang dan benar-benar beristirahat di rumah.
Ah, kalau boleh jujur, di antara semua hal yang dirindukannya, Muhyi adalah orang pertama yang menempati posisi itu. Alasan yang juga membuat semangat Sina untuk lulus dengan nilai terbaik dan segera pulang tak pernah padam di setiap harinya.
Sina
| Kak Muhyi, aku udah di Bandung sekarang.
|Ayo ketemu di kafe deket kampus kita dulu.
Sina menyimpan kembali ponselnya usai memastikan pesan itu terkirim. Selepas menghubungi Sabrina, ibundanya, dan mengabarkan kalau ia akan pulang setelah urusannya di Bandung selesai, Sina berinisiatif menghubungi Muhyi guna meminta temu.
Selagi menunggu balasan, gadis cantik itu biarkan iris karamelnya menyapu tiap jengkal ruangan. Berantakan.
Sedari dulu, Jahid memang tak pandai menjaga diri, apalagi menjaga rumah.
Faktanya, karakter dan sifat seseorang tak bisa berubah begitu saja seiring bertambahnya usia. Jahid sudah jauh lebih dewasa dari Sina. Usianya nyaris menginjak dua puluh delapan tahun, tetapi sifatnya masih begitu-begitu saja. Cuek, berantakan, dan kurang rapi.
Pantas saja abangya itu masih jomblo.
Sina biarkan udara yang ada terhimpun dalam paru-parunya sebelum kemudian ia embuskan dalam sekali hela. “Abang Jahid ini benar-benar ….” Sejurus kemudian Sina bangkit, menaikkan lengan bajunya hingga siku dan memutuskan untuk membereskan semua kekacauan yang ada.
Kendati pun bukan orang yang sangat peduli dengan kebersihan dan kerapihan, tetapi Sina tidak suka sesuatu yang berantakan. Sina selalu ingat kata-kata Sabrina, nilai plus dalam diri perempuan itu adalah rajin membersihkan rumah, dan pandai memasak.
Setengah jam kemudian, Sina habiskan waktunya untuk membereskan rumah. Dan, ponselnya belum juga berkoar pertanda tiada jawaban atas pesannya.
“Kamu ngapain?” Jahid baru saja kembali. Kaget melihat kosannya sudah setengah rapi.
“Latihan jadi istri yang baik buat Kak Muhyi. Apa lagi emang?” Sina menyimpan lap pel yang baru digunakannya di belakang pintu dapur. Senyum lelahnya berpadu dengan tatap puas. Tempat tinggal Jahid jadi tampak lebih bersih dan tertata.
“Ish ... kerenlah!” Jahid menepuk kepala Sina, bangga.
Sina merengut tak suka. Jahid masih saja melakukan kebiasaan lamanya, padahal mereka kini sudah sama-sama dewasa.
Baru Sina hendak melempar protes kala notifikasi dari ponselnya menyapa indra pendengaran. Sina yakin itu balasan dari Muhyi. Ia menggunakan nada khusus untuk kontak ponsel Muhyi.
***
Sejak siang tadi Bandung dikawani awan mendung. Namun, sejauh ini belum ada setetes pun hujan menjatuhkan diri. Sina berharap hujan benar-benar tak dulu tiba, sebelum manik karamelnya kemudian menangkap objek yang sejak tadi ditunggunya. Berjalan mendekat begitu keberadaannya di meja pojok nomor delapan terlihat.
“Assalamualaikum. Sehat, Sina?”
Hujan belum juga turun, tetapi guntur dalam dada Sina mendadak meledak-ledak. Tatkala sosok tinggi berkulit putih bersih itu berjalan mendekat, tunggakan rindu yang membebani Sina selama tiga tahun ini akhirnya terbayar lunas. Tiada pernah Sina menyangka, pertemuan ini akan terasa canggung dan mendebarkan.
“Wa’alaikum salam. Alhamdulillah baik. Kak Muhyi apa kabar?” Muhyi mengenakan kemeja hitam berpolet merah, dengan celana katun berwarna senada. Kendati matanya menyorot sinar lelah, tetapi tatapnya selalu tampak menawan dalam pandangan Sina.
“Alhamdulillah baik juga.”
Rasanya benar-benar canggung. Sina sampai tidak tahu harus mengemas kata-kata seperti apa agar percakapan ini bisa terasa jadi lebih santai.
“Aku seneng Sina udah balik. Selamat buat kelulusannya. Aku enggak bawa apa-apa sebagai hadiah. Maaf, ya?”
“Enggak apa-apa. Lihat Kak Muhyi aja itu udah jadi hadiah terbaik buat aku.” Sina nyengir. Mengungkap kata-kata manis untuk Muhyi itu hal biasa bagi Sina. Namun, setelah tiga tahun beribu-ribu mil jauhnya jarak terbentang di antara keduanya, membuat lidah Sina terasa lebih kaku.
Senyum tipis Muhyi terpatri. Senyumnya terasa lain dalam pandangan Sina.
“Oya, Kak Muhyi mau pesan apa?” Sina membuka buku menu.
“Enggak. Aku enggak mau pesan apa-apa.”
Sina mengalihkan tatap ke arah Muhyi, tanpa menutup kembali buku menu di tangannya. “Kenapa? Kak Muhyi lagi puasa?” Sina berusaha mengingat barangkali sekarang ada jadwal puasa sunah. Sebab, memang setahu Sina Muhyi sangat rajin berpuasa sunah, seperti kebiasaan lantaran sejak masih mondok di pesantren dulu, puasa sunah diwajibkan dalam aturan pesantren. Namun, ini hari sabtu dan juga bukan salah satu tanggal istimewa dalam kalendar hijriah di mana disunahkan berpuasa.
Cepat, Muhyi menggeleng. “Sebenarnya, ada sesuatu yang mau aku sampaikan. Sebenarnya ....”
“Enggak mau sama Bibi!”
Iris berbeda warna milik Muhyi dan Sina bergulir, melirik cepat ke arah sumber suara. Dua orang anak laki-laki berlari cepat ke arah meja di mana mereka duduk. Keduanya berebut pangkuan Muhyi. Sementara itu seorang perempuan berjilbab army berjalan tergesa menyusul.
Walaupun tak setinggi Sina, tetapi tubuhnya ramping dan bagus.
Perempuan itu memiliki wajah yang cantik. Kulitnya putih bersih, bibir tipisnya terlihat merah natural tanpa lipstik, matanya yang bulat nan indah dilindungi kacamata persegi berbingkai merah marun.
“Ish, merengek terus tuh mereka, pengen turun dan nyusul Aa.” Perempuan itu menggerutu. Menggendong salah satu dari mereka.
Sina baru sadar kedua anak itu kembar selepas menilik lebih rinci keduanya.
“Adik Kak Muhyi?” Sina menatap Muhyi, menuntut jawab.
Sesaat Muhyi melirik perempuan di sampingnya. “Iya, ini Sabhira, adikku.”
Sabhira tersenyum lembut ke arah Sina.
Sina ingat, saat masih kuliah di kampus yang sama, Muhyi pernah beberapa kali menceritakan perihal adiknya, Sabhira dan Agnia. Ia tidak menyangka kalau adik perempuan Muhyi ternyata begitu cantik.
“Terus ...” Mata Sina berputar ke arah kedua anak kembar di hadapannya. “Mereka berdua, adiknya Kak Muhyi juga?”
Sejemang Muhyi terdiam, raut wajahnya mendadak menegang. “Bukan. Ini yang mau aku bicarain sama kamu. Aku sebenarnya ...” Kalimat Muhyi menggantung bersama embus napas lelahnya. Sementara itu Sabhira berusaha membujuk si kembar untuk ikut bersamanya. Agak sulit, tetapi setelah dibujuk akan membeli kinder joy di minimarket seberang, akhirnya mereka menurut.
“Sebenarnya apa?” tanya Sina lumayan tak sabar.
“Sebenarnya, aku udah nikah. Dan mereka, Malik dan Ridwan adalah anakku. Maaf, Sina.”
Saat itu juga, Sina merasa seluruh dunia yang tengah ia bangun, dibombardir. Hancur dalam sekali lemparan rudal. Tanpa aba-aba sebuah panah beracun seperti menembus jauh ke dalam jantungnya. Sesak. Sakit. Tanpa sadar, butiran bening itu mendobrak keluar dari balik pelupuk mata dan bergulir di pipinya yang tak lagi memiliki rona.
Bandung dikawani mendung, tetapi hujan di balik mata Sina jauh lebih dulu jatuh.
Sina sadar, puzzle harapan yang ia susun bertahun-tahun lamanya baru saja hancur. Menyisakan kepingangan tajam yang menusuk sadis relung hati. Rindu baru saja mengucap selamat tinggal, tetapi luka terlalu cepat datang menggantikan.
***
Jahid tahu kalau setiap orang punya jalan cerita hidup masing-masing. Dengan konflik berbeda, dan jalan penyelesaian berbeda pula. Namun, satu hal yang Jahid yakini. Masalah itu indah. Yah, seandainya ia bisa menilik lebih jauh seberapa banyak hikmah di baliknya.
Kendati lahir dan dibesarkan oleh orang tua yang sama. Dikirim doa dari Ibu yang sama, dan didukung oleh Ayah yang sama, tetapi itu tak lantas membuat kehidupan Jahid sama beruntungnya dengan saudara-saudaranya yang lain.
Wahid, kakak sulungnya sudah sukses. Selain bisa menghidupi kehidupan istri dan kedua anaknya, penghasilan berlebihnya sebagai arsitek pun bisa mencukupi segala kebutuhan Ayah dan Ibu mereka, juga membiayai sekolah Sina bahkan hingga tahap akhir. Sementara Jahid, hingga kini masih bingung dengan tujuan hidupnya sendiri. Tak hanya soal pekerjaannya yang belum juga setaraf Wahid, perihal cinta dan perasaan pun Jahid selalu merasa kurang beruntung.
Akan tetapi, ternyata tak hanya dirinya saja yang harus diuji dengan perihal persoalan perasaan. Sina pun demikian.
“Kak Muhyi udah nikah, Bang. Dan ... aku sama sekali enggak tahu. Padahal pas masih di Maroko, kami masih sering kontekan. Tapi … ke-kenapa Kak Muhyi enggak kasih tahu aku soal hal sepenting ini? Abaaang, hati Sina sakit banget!”
Pulang-pulang Sina menangis seperti anak kecil. Memeluknya erat sembari terisak-isak. Meracaukan banyak hal yang perlu lebih lama Jahid pahami—lebih tepatnya, Jahid percayai. Setelah itu si Adik mengurung diri sendiri di kamar hingga pagi ini. Hanya sesekali Jahid mendengar adiknya terisak-isak di dalam sana.
Kekhawatiran yang ada akan kondisi adik perempuan satu-satunya, membuat emosi Jahid mendadak meletup-letup. Tak terima lantaran perempuan yang ia sayangi setelah ibundanya harus disakiti seperti ini. Sebab itu, sulit bagi Jahid untuk menimang keputusan terbaik yang mesti diambilnya. Tanpa berpikir banyak, ia bangkit. Menyambar kunci motor di atas dispenser sebelum kemudian meninggalkan kosannya.
Amarahnya hanya akan tuntas terbayar jika ia menemui Muhyi saat ini.
Bersambung.
Bandung, 26 Januari 2022